The Abyssal Dungeon

The Abyssal Dungeon
Chapter 29



Ethan dan timnya bersama Kain bertemu di tengah hutan, di bawah sinar matahari yang terik.


Ethan menarik pedangnya dengan mantap, "Baiklah, mari kita lakukan ini." Sarah mengangguk setuju dan mengeluarkan busur panahnya. "Aku siap," katanya. David menggenggam tombaknya dengan kuat dan menatap kelompok tentara bayaran. "Kalian siap?" Kain mengangguk, dan dengan senyum kecil di wajahnya berkata, "Tentu saja."


Mereka berjalan menuju gua di mana naga itu tinggal, perlahan-lahan dan hati-hati. Setelah mereka sampai di gua itu. Mereka masuk ke dalam gua dengan hati-hati, berjalan dengan hati-hati untuk menghindari jebakan dan perangkap. Mereka melewati lorong-lorong yang gelap dan sempit, dan akhirnya sampai di ruangan besar di mana Divine Dragon ditemukan. Mereka menemukan naga itu yang sedang terbaring di dalamnya, terlihat santai dan tenang. Namun, begitu mereka mendekat, naga itu melihat mereka dan tiba-tiba terbangun dari tidurnya.


"Kita harus bekerja sama untuk mengalahkannya," kata Ethan dengan suara yang serius. "Sekarang, siapkan diri kalian!”


Naga itu memandang mereka dengan tatapan yang tajam dan sinar merah yang membara dari matanya. "Kalian datang kemari untuk mengalahkanku?" tanyanya dengan suara menggelegar. "Aku adalah Divine Dragon, dan kalian tidak akan berhasil mengalahkanku!"


Kelompok pahlawan dan tentara bayaran itu menatap naga itu dengan percaya diri, lalu Ethan melangkah maju dengan pedangnya di tangan. "Kami akan membuktikan bahwa kau salah."


Naga itu tertawa keras dan mengepakan sayapnya. "Kalian seharusnya tidak bersikap begitu sombong. Mari kita lihat apakah kalian bisa menghadapi kekuatanku!"


Naga itu meluncurkan serangannya, Ethan, Kain dan Gwyneth segera mengeluarkan pedang mereka dari sarung dan bersiap-siap untuk melawan. Mata mereka fokus pada naga itu yang semakin mendekat dengan mulut terbuka, memancarkan api dari dalamnya.


Ethan, yang merupakan seorang ahli pedang yang sangat terampil, memimpin serangan mereka. Ia melompat ke udara dengan lincah dan menebas pedangnya ke arah kepala naga. Namun, naga itu dengan cepat memutar tubuhnya dan menangkis serangan Ethan dengan kekuatan ekstra.


Kain dan Gwyneth melihat serangan Ethan digagalkan dan langsung bergerak maju. Kain dengan lincah menghindari serangan naga dan menyerang dengan pedangnya yang panjang. Gwyneth dengan pedangnya yang lebih pendek tetapi lebih tajam bergerak ke arah sisi naga dan menusuk bagian perutnya. Namun, naga itu menahan serangan mereka dengan kekuatan kulit dan sisiknya yang keras.


Sementara itu, David dan Sarah berada di belakang, meluncurkan tombak dan panah mereka. David, dengan tombak panjangnya, melemparkan tombaknya ke arah naga dengan tepat. Sedangkan Sarah, yang berdiri agak jauh, menggunakan panah untuk menyerang naga dari kejauhan. Namun, meskipun serangan mereka cukup efektif, naga masih bisa menahan dan melawan kembali.


Hanzel dan Gregor, yang merupakan dua pahlawan dengan kekuatan luar biasa, juga turut berpartisipasi dalam pertarungan ini. Hanzel dengan ilmu bela dirinya yang hebat, melancarkan serangan-serangan beruntun dengan pukulan dan tendangan ke arah tubuh naga. Sementara Gregor, yang merupakan seorang Titan dengan tubuh besar dan kuat, mampu melawan naga dengan tenaga dan kekuatannya yang luar biasa.


Pertempuran terus berlangsung dengan aksi saling serang dan bertahan dari kedua belah pihak. Naga itu semakin marah dan memancarkan api yang semakin panas dan dahsyat. Ledakan terdengar di sekitar mereka saat serangan-serangan terus menerus diluncurkan oleh kelompok pahlawan dan tentara bayaran.


Namun, meskipun serangan mereka sangat kuat, naga masih belum bisa dikalahkan. Mereka tahu bahwa mereka harus mencari cara baru untuk mengalahkan naga itu. Mereka mulai bekerja sama dan mencoba menemukan kelemahan naga. Setelah beberapa saat, mereka menemukan celah di bawah perisai sisik naga.


Ethan, Kain dan Gwyneth langsung menyerang celah tersebut dengan pedang mereka, sementara David dan Sarah terus menyerang dari kejauhan dengan tombak dan panah. Hanzel dan Gregor juga bergerak maju dan menyerang dengan kekuatan penuh mereka.


"Kalian melihat itu?" tanya Sarah sambil menembakkan panahnya. "Kita mulai membuat kerusakan pada tubuhnya!"


David mengangguk dan meluncurkan tombaknya ke arah naga itu. "Kita harus terus menyerang, jangan biarkan dia bernapas sejenak pun!"


Hanzel melompat ke udara dan mengeluarkan serangan ke arah kepala naga itu dengan gerakan yang cepat dan akurat. "Ini tidak mudah, tapi kita bisa mengalahkannya! Kita harus bersama-sama!"


Sarah tersandung saat dia mencoba menghindari serangan naga itu dan terluka di tangannya. Gwyneth hampir tertimpa oleh kaki naga itu yang besar dan terjatuh ke tanah, dan David hampir terkena serangan api yang kuat.


Tapi, mereka tetap terus berjuang. Gregor dengan kekuatan Titan-nya terus menyerang naga itu dengan pukulan keras, membuat naga itu bergoyang-goyang. Ethan dengan pedangnya terus mengayunkan pedangnya dengan lincah dan cepat. Maria dengan pisau-pisau kecilnya meluncurkan serangan- serangan kecil ke arah naga itu, menambahkan luka-luka kecil pada tubuhnya.


"Kita tidak boleh menyerah! Kita bisa melakukannya!" kata Hanzel. "Jangan menyerah, jangan berhenti menyerang!" kata Sarah.


Setelah pertarungan yang sengit dan berlarut-larut, kelompok pahlawan itu merasa semakin terdesak oleh kekuatan Divine Dragon yang terlalu kuat. Mereka tahu bahwa mereka perlu menggunakan kekuatan terakhir mereka untuk mengalahkan naga itu.


"Mungkin kita harus menggunakan kekuatan roh naga kita," kata Sarah dengan suara rendah.


Maria mengeluarkan pisau esnya dan mengaktifkan kekuatan roh naga es. Hanzel mengeluarkan mantra dan mengaktifkan kekuatan roh naga petir, sementara Gwyneth mengeluarkan dua pedangnya dan mengaktifkan kekuatan roh naga kegelapan. Gregor berdiri tegak dan mengaktifkan kekuatan roh naga tanah.


Kekuatan roh naga mereka bersinar terang dan menghasilkan aura yang kuat di sekitar mereka. Mereka semua merasa lebih kuat dan lebih siap untuk melawan Divine Dragon.


Ethan mengayunkan pedangnya yang berapi-api, memotong naga itu dengan api yang membakar dan membakar kulitnya.


Sarah menembakkan panah cahaya yang menyilaukan, menyerang mata naga yang besar dan membutakan makhluk itu. David berlari ke depan, menyerang dengan kecepatan angin yang melumpuhkan, membuat naga itu kesulitan untuk bernapas dan menghindari serangan mereka.


Maria menyerang dengan es yang mematikan, membekukan kaki naga itu dan membuatnya sulit untuk bergerak. Hanzel menyerang dengan petir yang menggelegar, menimbulkan suara gemuruh yang keras dan menimbulkan luka di kulit naga itu.


Gwyneth menyerang dengan kegelapan yang menghantam naga itu, membuatnya tidak dapat melihat, dan menghambat gerakan makhluk itu. Sementara Gregor menyerang dengan kekuatan tanah yang mematikan, membuat tanah bergetar dan menjatuhkan naga itu ke tanah.


Namun, Divine Dragon terus bertahan. Naga itu meluncurkan napas panas yang membara ke arah mereka, menyebabkan pasukan itu terhuyung-huyung. Namun, kelompok itu tidak mundur. Mereka terus menyerang dengan kekuatan roh naga mereka, memanfaatkan keahlian masing-masing.


Ethan dengan pedangnya yang berapi-api, memotong sayap naga itu, membuatnya kesulitan untuk terbang. Sarah terus menembakkan panah cahaya, mengenai bagian tubuh naga yang lemah. David terus menyerang dengan kecepatan angin yang membuat naga itu kelelahan dan sulit untuk melawan.


Maria mengeluarkan kekuatan es yang lebih kuat lagi, mematikan naga itu dengan serangan terakhirnya. Hanzel menyerang dengan petir yang lebih kuat lagi, membuat naga itu terus tersengat dan tak berdaya. Gwyneth dengan kegelapan yang lebih kuat lagi, melumpuhkan makhluk itu, membuatnya tak bergerak.


Gregor dengan kekuatan tanah yang lebih kuat lagi, membuat naga itu terperosok ke dalam tanah, tidak mampu bangkit lagi. Akhirnya, Divine Dragon merosot ke tanah dan berhenti bergerak.


Kelompok pahlawan itu bernapas lega. Mereka berhasil mengalahkan Divine Dragon. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Tiba-tiba, Kain yang memimpin kelompok tentara bayaran muncul di hadapan mereka. "Terima kasih untuk bantuannya, tapi tugas kami sudah selesai di sini," kata Kain dengan suara dingin.


Ethan dan timnya merasa ada yang tidak beres. Mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Kain. Namun, sebelum mereka sempat bertanya apa-apa, Kain tiba-tiba menyerang mereka dengan pedangnya.


"Mengapa kau melawan kami?" tanya Ethan sambil menghindari serangan pedang Kain.


"Karena batu bercahaya di bola mata Divine Dragon itu adalah milikku!" jawab Kain dengan suara marah.


Ethan dan timnya terkejut. Mereka tidak pernah mengetahui bahwa Kain memiliki motif tersembunyi untuk bergabung dengan mereka. Mereka menyadari bahwa mereka telah dikhianati oleh Kain.


"Kalian tidak akan bisa menghentikanku!" teriak Kain sambil menunjukkan batu bercahaya itu.


Kain lalu melompat ke udara dan kabur meninggalkan Ethan dan timnya. Ethan dan timnya merasa sedih dan kecewa. Mereka merasa telah dikhianati oleh orang yang mereka pikir sebagai sahabat mereka.


"Kita harus mengejar Kain dan mengambil kembali batu itu," kata Sarah dengan suara gemetar.


Ethan mengangguk setuju. Mereka tidak bisa membiarkan Kain mengambil alih kekuatan batu bercahaya itu. Mereka berlari menuju arah Kain dengan kecepatan penuh.


***


Mohon like, komen dan votenya semua! ❤️❤️❤️❤️