
Mendengar teriakan Nilaz membuat Moris lebih merinding. Moris merasa diikuti pemburu, saat dia sedang mengitari pulau dia tidak menyangka menemukan sebuah gua dan masuk kedalam untuk bersembunyi. Tidak lupa Moris mengatur mulut gua agar tidak terlihat.
"Gukk.. gukk.." Sick menggonggong ke arah Moris.
"Apa kamu menemukan sesuatu?" Tanya Moris
"Guk.. Guk.." Sick kemudian membimbing menuju kedalaman gua.
Sementara diluar gua, Nilaz kesal karena Moris bersembunyi darinya. Dia menghembuskan napas menenangkan diri. Nilaz memejamkan mata dan berkonsentrasi, perlahan cahaya dari gelang keluar. Nilaz membuka mata dan segera mengikuti cahaya tetsebut pergi.
Nilaz melihat cahaya tersebut memasuki semak belukar. Dia segera mendengus kesal, "Ohh..., kamu bersembunyi disini rupanya. Dasar pria tidak bertanggung jawab." Ucap Nilaz.
Tidak lama setelah mengikuti cahaya tersebut, Nilaz akhirnya bisa melihat sosok Moris yang terdiam terpaku. Bahkan dia tidak menyadari Nilaz yang menerjang ke arahnya. Sedangkan Sick sedang fokus menyerap energi dari kristal-kristal yang tersebar di setiap sudut gua.
Moris terkejut karena dorongan Nilaz yang membuatnya tersungkur. Dia berbalik untuk melihat apa yang terjadi. Namun sosok cantik sudah menekannya dan duduk diatas tubuhnya.
"Bagaimana kamu bisa menemukanku disini?" Ucap Moris terkejut dan berkeringat dingin.
"Heehhh..., Dasar pria kurang ajar. Jadi kamu memang berniat melarikan diri dari tanggung jawab? Dasar suami tidak berguna!" Ucap Nilaz mengumpat.
"Haahh? Siapa yang suami mu? semalam aku tidak melakukan apapun. Kenapa sekarang kamu menyebutku suami?" Ucap Moris semakin bingung.
"Kamu masih menyangkal jika tidak melakukan apa pun? Benar-benar ingin mati." Ucap Nilaz sambil memukul-mukul dada Moriz. Meskipun Nilaz memukulnya, Moris tidak merasakan sakit sedikit pun. Itu lebih kepada pukulan manja pacar atau istri.
"Heii.., sebaiknya kamu jelaskan dahulu kenapa kamu menyebutku suami?" tanya Moris masih bingung.
"Kamu benar-benar tidak tahu?" Tanya Nilaz kesal
"Bagaimana bisa aku tahu? aku tidur sangat nyenyak, bahkan aku tidak tahu apa saja yang kita lakukan?" Ucap Moris tidak menunjukan kebohongan.
"Apa semalam kamu menciumku?" Tanya Nilaz.
"Aku saja tidak sadar. Bagaimana bisa aku tahu apa yang sudah aku perbuat. Memangnya jika tidak sengaja menciummu kenapa? Toh itu tidak akan membuatmu hamil?" Ucap Moris.
"Apa kamu bilang? apa kamu pikir ras ku sama dengan kalian?" Nilaz bertambah emosi. Dia ingin rasanya menghajar wajah Moris yang sok polos itu. Tapi itu juga percuma, dengan adanya kontrak pernikahan yang sudah terjalin, sekuat apapun dia memukul tetap tidak bisa menyakiti suaminya, Moris.
"Aku bukan ras mu, Mana aku tahu aturan dalam ras mu. Kamu harusnya menjelaskan terlebih dahulu agar aku mengerti." Ucap Moris.
"Berciuman merupakan hal sakral untuk kami. Hal itu menandakan pernikahan untuk ras kami." Ucap Nilaz
"Apaaa?" Moris seketika terkejut. Dia seketika berteriak tidak percaya.
"Kamu diam, atau aku akan benar-benar membunuh mu. Dan pagi ini saat aku melihat gelang ini, sudah tertulis nama mu. Jika dugaan ku benar harusnya kamu memiliki tato nama ku di dada mu." Ucap Nilaz menjelaskan.
Moris segera menarik bajunya keatas untuk memastikan. Dan Moris terkejut, karena apa yang dikatakan Nilaz benar.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Moris bingung.
"Apa ada cara untuk bercerai?" tanya Moris
"Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab! beraninya kamu ingin menceraikanku." Nilaz kesal. Bukan tanpa sebab, untuk ras aquator diceraikan artinya tidak bisa memberi kepuasan seksual pada pasanganya. Lagi pula jalan untuk bercerai hanya 1 yaitu bunuh diri. Namun jika pasangan mati maka kekuatan pasanganya akan hilang 50% butuh waktu lama untuk memulihkan kembali. Selain itu, ras aquator hanya bisa melakukan hubungan itu dengan pasanganya. Itu sebabnya banyak ras aquator yang sangat setia.
"Bukannya harusnya kamu senang jika tidak bersamaku? lagi pula pernikahan ini baru saja terja..." Ucapan Moris terhenti saat melihat tatapan kejam Nilaz.
"Kamu bahkan belum mencobanya denganku namun sudah ingin bercerai. Bagaiman jika kamu mencobanya lebih dulu." Ucap Nilaz berbisik di telinga Moris. Nilaz kesal karena Moris ingin menceraikannya. Itu sama saja menghinanya tidak becus dalam melayani suaminya.
Moris yang awalnya tidak ingin, akhirnya larut dalam permainan Nilaz. Dan mereka mulai melanjutkan permainan yang sudah terlanjur mereka mulai.
Alice tiba-tiba membuka mata dan wajahnya memerah. Dia sedang memeriksa apa yang sedang dilakukan semua orang. Tidak menyangka dia mendapati kejadian seperti itu. Untung saja Riki tidak melihatnya, jika tidak dia harus bersiap menerima serangan dari singa lapar.
"Ada apa sayang? Apakah kamu sakit?" Tanya Riki.
"Bukan apa-apa." Ucap Alice
****
Ersen mengamati kolam magma yang panas. Dia merasakan keanehan dari kolam tersebut. Dia merasakan kandungan energi yang sangat kuat. Selain kolam magma yang kental ada juga kolam-kolam air panas di kawasan itu. Merasa penat juga memar akibat pertempuran belum hilang. Ersen segera mandi di salah satu kolam.
Ersen akhirnya paham rupanya kolam-kolam tersebut bisa menguatkan tubuh.
"Semuanya, cepat berendam dan serap energi yang ada di kolam" Ersen segera memberi perintah. Segera semua anggota kelompok mengikuti Ersen.
Mereka bergegas menyarap energi yang terkandung dalam kolam. Perasaan hangat merasuki tubuh, kemudian mulai tersalurkan ke setiap pori-pori kulit, otot, dan tulang. tubuh mereka serasa menjadi lebih keras. Setelah beberapa jam, semua rasa sakit dan memar yang ada di tubuh mereka hilang.
Mreka mulai berburu hewan yang ada di sekitar hutan. banyak hewan yang datang ke area panas hanya untuk mandi di kolam tersebut. Dan yang paling sering terlihat adalah berang-berang.
Namun siapa yang akan menyangka, berang-berang itu memiliki tubuh yang keras. Dia bahkan bisa mengimbangi kekuatan tubuh Ersen dan kawan-kawan. Dan saat terdesak akhirnya berang-berang memilih melarikan diri.
Ersen dan kelompoknya kelelahan setelah bertarung dan mengejar berang-berang. Mereka beristirahat di bawah pohon rindang di tepi hutan.
Tok... "Aduhh..." Kepala salah satu anggota Ersen kejatuhan buah.
"Buah apa ini?"
"Ini mirip apel, namun berwarna hitam"
"Buah ini seperti dilapisi besi."
"Cobaberikan padaku." Ucap Ersen. Dan anggotanya segera melempar buah tersebut pada Ersen.
Ersen mengamati dan berbinar, Ersen pernah membaca buku di ruangan Riki yang menyebutkan tentang apel besi yang mampu meningkatkan tenaga dalam. Ersen segera menggigit apel tersebut dan mulai menyerap kahasiat buah itu. Setelah memakan habis sebuah apel. Ersen mulai duduk untuk menyerap semua khasiat buah.
"Kreekk" seperti sebuah retakan terdengar dari dalam tubuh Ersen. Boomm.. letupan kecil dan energi sisa tersebar keluar. Semua orang bersemangat karena mengetahui Ersen akan menerobos.