
Setelah menyelesaikan urusan dengan Rudy, dan menyuruhnya bekerja sama dengan Alin untuk mencari cara untuk melemahkan pengguna kristal siluman. Riki kembali dan berencana menuju Malik berada.
Malik menyambut kedatangan Riki dan membawanya mengunjungi perkebunan yang saat ini dia kerjakan. Riki kagum dengan perkembangan kebun milik malik. Namun Riki merasakan keberadaan sesuatu di kebun tersebut.
Riki menatap Malik dan mulai bertanya, "Sebenarnya ada hal lain yang ingin saya tanyakan padamu." Tanya Riki
"Apa yang ingin Bos tanyakan?" Tanya Malik.
"Aku ingin melihat warisan leluhur keluarga Junaf." Ucap Malik.
Malik mengerutkan kening, pesan yang dia terima. Hanya keluarga Hanz yang boleh melihat warisan tersebut. Selama ini memang dia sangat menghormati Riki. Namun sampai saat ini identitas Riki belum sepenuhnya dia tahu.
"Bos Riki berasal dari keluarga mana?" Tanya Malik dengan ragu.
"Hanz, Nama Saya Riki Hanz." Jawab Riki.
Ketika Riki menjawab. Dari berbagai sudut muncul cahaya emas keluar dari balik dedaunan di sekitar kebun. Malik langsung bersujud, dia tidak menyangka bahwa Bos yang selama ini dia ikuti ternyata adalah orang terpilih yang di sebutkan ramalan. Cahaya emas berjumlah jutaan bergerak menuju Riki dan mengelilinginya.
"Kree...kreee...kreee..." ras peri kree beruka cita menyuarakan nyanyian merdu. mereka berputar-pitar menari mengelilingi Riki.
Riki pernah bertemu Ras peri kree di kehidupan sebelumnya. Riki hanya membantu sebentar sebelum meninggalkan mereka. Sesaat setelah perang besar, Riki mencoba mencari mereka yang hidup di gunung hampara. Namun Riki menemukan pohon yang menjadi rumah mereka sudah menjadi abu. Ras peri kree juga tidak ada yang selamat.
Riki senang dan ikut menyanyi dengan peri kree. Malik akhirnya yakin jika Riki adalah orang terpilih yang di ceritakan dalam ramalan. Sebab Riki bisa menyanyikan lagu peri kree yang berjudul "kami sang penyubur tanaman" dalam bahasa manusia.
Kami sang penyubur tanaman
Menyiraminya tanpa lelah
Membersihkan semua tanaman
juga memberi mereka makan
Kami sang penyubur tanaman
Menanam semua tanaman
Menghajar para hama
membuatnya tumbuh besar dan berguna
Kami sang penyubur tanaman
Selalu ada setiap saat
Kami sang penyubur tanaman
menjaganya setiap waktu.
"Kree... kree..."
"Senang berkenalan dengan kalian semua." Ucap Riki tersenyum ceria.
Setelah penyambutan Riki selesai Peri kree tua datang membawakan sebuah potongan kayu emas. Sebelumnya kayu emas tersebut selalu mereka simpan di bawah batu besar. Batu yang di pakai untuk meresmikan kepala keluarga Junaf.
Riki menerima kayu emas tersebut dan segera kayu emas berubah menjadi pecahan pixel kemudian menghilang.
[Ding]
[Terdeteksi salah satu pecahan system]
[Misi : Temukan 5 pecahan system untuk upgrade system ke tingkat lanjut.]
Hadiah:
- Misi baru terbuka
- EXP baru terbuka
- Skil baru terbuka
- Item Shoop baru terbuka
- 1.000.000.000 poin
[Selamat menjalankan Misi tuan]
Setelah Riki menerima pecahan system. Riki melakukan makan bersama denga keluarga peri kree. Riki juga memberi tahu rencana Riki untuk membangun peternakan sapi merah. Keluarga peri kree sangat senang jika ada hewan peliharaan yang harus mereka rawat. Mereka adalah tipe pekerja, bekerja perawatan ternak dan tumbuhan itu adalah jalan kultivasi mereka. Peri kree memiliki perbedaan semakin banyak sayap yang mereka miliki, semakin menunjukan kualitas mereka dalam merawat sesuatu.
Contoh pemimpin keluarga peri kree memiliki 5 pasang sayap. Tetua memiliki 4 pasang sayap, pekerja senior memiliki 3 pasang sayap, pekerja junior memiliki 2 pasang sayap, dan pekerja beru memiliki sepasang sayap. Sedangakan bayi memiliki sepasang sayap kecil yang sulit di pakai terbang terbang.
Beberapa tumbuhan dan susu sapi merah bisa membuat pertumbuhan para peri kree semakin cepat. Itu sebabnya mereka sangat bersemangat mendengar akan ada peternakan sapi merah.
Setelah menyelesaikan urusan dengan Malik dan keluarga kree. Riki pamit untuk pulang, tidak lupa Riki memberikan benih yang Riki ambil dari planet misterius.
Setelah kembali hari belum terlalu malam. Di segera mandi mengganti baju kemudian ingin tidur. Namun dia teringat sesuatu, Riki bergegas mengganti bajunya dan turun ke garasi. Riki tidak pernah menggunakan mobil sport miliknya namun saat ini dia harus bergegas. Wajah Riki tampak cemas, dia segera mengganti mode mobilnya menjadi race dan memacu mobil hingga kecepatan tertinggi. Tidak sulit bagi Riki untuk mengendalikan laju mobil sport. Riki sudah memiliki keahlian balap mobil F1 di masa lalu.
Riki terus menerus menyalip mobil yang dalam pandangan Riki sangat lambat. Bahkan Riki sudah menghitung kecepatannya agar tidak terkena lampu lalu linatas.
Tiba-tiba Riki sampai di suatu titik dengan tingkat kemacetan tinggi. Tidak jauh di depannya terlihat cahaya merah. Riki bergegas memasuki komplek perkantoran di depannya dan memarkirkan mobilnya.
****
Beberapa Saat yang lalu Alice, Simi, dan Mila bersama teman-teman sekelasnya. Sedang party karaoke di sebuah tempat hiburan. Mereka sangat menikmati hiburan malam itu. Namun Alice memiliki pemikiran lain. Di masa lalu dia akan terjebak dalam kebakaran hingga di selamatkan oleh seseorang yang tidak dia tahu. Sampai 2 tahun kemudian, dia tidak sengaja mendengar jika orang yang menyelamatkannya adalah Riki.
Dia sangat sedih, kesedihannya sangat berlipat ganda. Karena saat itu Riki baru saja memutuskan pertunangan dengannya dan Riki sudah meninggalkan dirinya lalu pergi entah kemana. Selama 1 tahun Alice mencari keberadaan Riki namun karena Riki sering berpindah-pindah jadi sangat sulit menemukan keberadaannya. Sampai bencana akhirnya menyerang Alice hanya bisa berharap Riki baik-baik saja.
Riki melihat jam tangannya, "Aku ke toilet sebentar ya." Ucap Alice kemudian bergegas pergi.
Teman-teman Alice sedikit merasakan keanehan namun akhirnya mengabaikannya.
"Kok kaya banyak asap ya?" kata Simi
"uhuk... uhuk... Iya aku juga merasa mencium asap." Mila juga menimpali sambil batuk.
Lampu tiba-tiba padam, mereka tidak menyadari terjadinya kebakaran karena alaram peringatan kebakaran mati. Juga system pemadam kebakaran pada ruangan tidak bekerja. Saat mereka keluar ruangan banyak orang sudah berkumpul karena lampu tiba-tiba padam.
"Gawat kebakaran.... kebakaran..." Salah satu pengunjung ingin turun namun Lift sudah tidak berfungsi dan keluar asap.
"Bagaimana ini?"
"Mil aku takut" teman Alice cemas
"Alice kemana lagi?" Simi mencemaskan Alice yang tidak kembali.
Brak... Pintu emergency terbuka. Seorang pria mendobrak pintu di tangannya masih memegang apar.
"Riki... itu Riki..." ucap Mila
"Semuanya, dengarkan aku. Jangan panik, ambil sebanyak mungkin apar yang kalian lihat di ruangan ini." Ucap Riki tegas.
Segera beberapa laki-laki mengambil apar yang ada di ruangan.
Riki melihat beberapa apar sudah di dapat, segera menjalankan rencana. Meskipun Riki bisa saja melewati api tanpa bantuan apar, namun itu terlalu mencolok.
"Siapa yang sudah pernah training menggunakan apar?" Tanya Riki.
"Saya pernah."
"Baik, Kamu pegang 1 dan jaga di belakang. Saya akan membuka jalan di depan. Susanya tetap pegang aparnya. Jika apar yang ada padaku habis, tolong segera berikan apar yang kalian pegang padaku. Mengerti?" Ucap Riki.
"Mengerti"
Riki mulai membawa orang-orang melewati koridor yang semakin panas. Riki membawa mereka melewati tangga darurat. Sampai di lantai pertama, Riki segera memadamkan api untuk membuka jalan. Saat apar di tangannya habis, dua segera meminta apar yang lain. Hingga akhirnya pengunjung di lantai 3 berhasil keluar.
Setelah pengunjung keluar, Riki mengambil lagi apar yang belum terpakai kemudian masuk. Riki bisa merasakan Alice masih berada di dalam. Riki tidak menggunakan apar tersebut. Itu dia gunakan agar Mila dan Simi tidak melarangnya menolong Alice.
Setelah Riki masuk, tidak lama kemudian petugas pemadam baru datang. Sedangkan Riki memasuki kamar mandi tempat Alice berada. Saat Riki memasuki ruangan tersebut, Alice berdiri santai.
"Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggumu dari tadi." Ucap Alice dengan santai.
"Bagaimana kamu tahu aku akan datang?" Riki terkejut, selama ini dia hanya berasumsi jika Alice bisa melihat masa depan.
"Karena aku pernah mengalami hal ini sebelumnya." ucap Alice.
Riki terdiam, tidak tahu harus berkata apa.