
Di sebuah ruangan di sebuah bar. Harry Douz sedang berunding dengan Hato Potera. Tampak wajah Harry Douz masih kesal. Hato potera sebenarnya adalah salah satu preman kecil di wilayah kota Magir. Entah siapa yang menberikannya keberanian untuk menculik Elsa dan menjadikannya sebagai alat tukar dengan wilayah komersial bisnis di Km 87.
"Tuan Douz sepertinya masih ingin memikirkan lagi? atau aku harus menelpon dan memperdengarkan suara merdu anak tuan tersayang?" Hato Potera.
"Ok.. ok... siapkan berkasnya aku akan tanda tangani." Harry Douz tidak berani mengambil resiko. Saat ini anak buahnya masih mencari lokasi keberadaan komplotan Hato.
Harry Douz sebelumnya sedang berbicara dengan istrinya di acara kelulusan putrinya. Biar pun dia orang yang kasar, dia adalah seorang penyayang keluarga. Itu merupakan didikan keluaga Douz. Dia pikir Elsa masih di belakang panggung setelah menyanyi. Namun Hato tiba-tiba menghubunginya untuk meminta jalan komersial km 87.
Harry Douz sudah bersiap untuk menolak, namun ketika Hato menyebutkan bahwa anaknya berada di tangannya. Harry Douz segera mencari Elsa dan mengetahui bahwa Elsa memang di culik. hal ini juga di konfirmasi oleh Savik yang menerima telpon dari Supirnya bahwa sekarang mereka mengikuti mobil yang menculik Elsa.
Harry Douz saat ini hanya mengulur waktu sampai anak buahnya bisa menyelamatkan Elsa. Tapi Hato tahu rencana Harry dan dia sudah menyiapkan anggotanya untuk menghalangi anak buah Harry.
Saat Harry akan menandatangani berkas serah terima, tiba-tiba anak buahnya masuk.
"Ada apa?" Harry marah.
"Tuan, Tuan muda menelpon."
"Apa yang dia katakan.?" Harry serius. saat ini putrinya di culik, dia tidak ingin terganggu dengan informasi yang tidak penting.
Asistennya segera maju dan membisikan sesuatu ke telinga Harry. Setelah mendengar bisikan dari asistennya, Harry segera meletakan penanya dan menatap Hato dengan tajam.
"Ada apa? apakah Tuan Harry yang terhormat sudah tidak peduli lagi dengan nasip putrinya?" Hato mencoba memanas-manasi.
"Hato... Hato... apakah kamu masih berpikir ingin menekanku?" Harry tersenyum licik kemudian menekan remote TV.
"Apa maksudmu? kalau begitu aku akan meminta anak buahku untuk..."
"Braking News hari ini.
Sebuah pabrik tua mengalami ledakan. Saat polisi memeriksa pabrik tersebut, ditemukan beberapa preman yang menggunakan pabrik tersebut untuk menyembunyikan puluhan wanita yang sedang disekap. Menurut korban, mereka di culik dengan cara diiming-imingi pekerjaa. Besar kemungkinan meraka akan dijual keluar negeri."
"Apa kamu merasa familiar dengan pabrik tersebut?" Harry Douz tersenyum dingin.
"Jika begitu aku akan pergi dahulu. Setelah itu akan aku kirimkan hadiah yang menarik." Ucap Hato santai. Dia tahu kalau rencananya gagal. Jadi dia harus segera melarikan diri.
"Tangkap dia, cabut semua kuku jarinya, kemudian cabut semua giginya sisakan 4 gigi depannya." Ucap Harry Douz.
Anak buah Harry Douz segera menangkap Hato beserta anak buahnya.
"Tapi tuan dia sudah kehilangan semua gigi depannya. Saat ini dia hanya memakai gigi palsu." Anak buah Harry melaporkan.
"Kalau begitu, sisakan gigi palsunya saja." Ucap Harry kemudian meninggalkan ruangan.
Terdengar suara jeritan mengerikan dari dalam ruangan. Sedangkan Harry Douz bergegas pulang karena Seir bilang sedang nenuju rumahnya untuk mengantar Elsa.
*****
Sementara di dalam sebuah mobil, gadis kecil yang sedang tertidur mulai membuka mata. Dia kemudian teringat ada orang yang tiba-tiba menyekapnya. Dia pun langsung panik
"Lepaskan aku kalo tidak aku akan berteriak?" Elsa
"Tuan putri tidur sudah bangun?" Riki tersenyum melihat reaksi Elsa.
"Ri.. Riki, kenapa aku bisa disini?" tanya Elsa.
"Tadi ada orang jahat yang mau menculikmu. Tapi karena terlalu berat dia tidak kuat mengangkat jadi kamu di tinggal di pinggir jalan." Kata Riki santai.
"Hehh... apa kamu mau bilang aku gendut?" Elsa kesal hingga menggembungkan pipinya.
"Gak gendut sih tapi kamu itu lucu, Hihihihi...." Seir menimpali sambil mencubit pipi Elsa yang cubi.
"Ihh... Seir jangan gitu nah, nanti pipiku tambah besar." Elsa risih dengan Seir. "Lalu dimana orang yang menculik aku tadi?" tanya Elsa penasaran.
"Kamu harus berterima kasih sama pak Jian. Dia yang menghajar orang itu dan melaporkan ke polisi." Ucap Riki. Sedangkan Pak Jian terkejut dengan jawaban Riki.
"Terimakasih Pak Jian, sudah menolong Elsa." Elsa berterimakasih.
"Kamu juga harus berterimakasih pada Riki yang menggendongmu samapai pinggangnya mau patah." Moris berucap santai.
"Moriiissss... Kamu juga mau ikutan ya?" Elsa langsung mencubit pinggang Moris.
Setelah mengantarkan Elsa, Seir, dan Moris pulang, Riki Juga pulang. Riki sudah memikirkan rencana kedepannya. Riki sebelumnya berpikir akan melanjutkan sekolah bersama dengan Moris dan Seir di sekolah menengah East Kall, Namun setelah memikirkan kembali, dia memilih mengikuti kehidupan sebelumnya. Yaitu bersekolah di Sekolah menengah Surz Zurxin.
Sekolah menengah Sur Zurxin adalah sekolah dengan predikat buruk. Semua murid berandalan sampai preman sampah berkumpul di tempat itu. Selain berandalan, di situ juga merupakan tempat murid-murid miskin berkumpul. Alasan kenapa Riki sekolah di situ sebelumnya karena Riki akan memiliki adik sementra pendapatan orang tuanya saat itu juga terbatas.
Selain itu, Riki berencana membuat sebuah pasukan. Meskipun banyak berandalan di sekolah Sur Zurxin. Ikatan persaudaraan di sekolah itu sangat kuat. Sekali mereka mengakui kamu sebagai saudara. Mereka tidak takut terluka untuk membantu.
Keesokan harinya Ibu Riki sudah menyiapkan sarapan. Tampak wajahnya yang semakin ceria. Perekonomian keluarganya sudah lebih baik. Ayah Riki sudah menjadi penanggung jawab perusahaan logistik Rik-Group. Kedua kakaknya masih berkuliah tapi pendapatan Ayah Riki sudah cukup untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Ditambah dia sudah mengetahui bahwa dia mengandung bayi perempuan.
Ibu Riki belakangan belajar membuat kue jadi dia sudah menyiapkan beberapa kue yang disukai anak-anaknya.
Saat selesai sarapan Ibu Riki langsung menanyai Riki. "Riki, kamu akan melanjutkan ke sekolah mana?" Ibu Riki.
"Ke SMP Sur Zurxin bu." Riki menjawab santai.
"Bagaimana bisa kamu memilih masuk sekolah anak-anak bandel itu? Pokoknya Ibu tidak setuju. Kamu itu murid terbaik tingkat nasional. Apa kata tetangga kalo kamu masuk sekolah yang tidak bermutu?" Ibu Riki mulai mengomel.
"Tapi Bu, Riki ingin membuktikan kalau sekolah Sur Zurxin itu bukan sekolah yang tidak layak. Riki yakin jika ada yang bisa mengarahkan mereka ke jalan yang lebih baik, pasti mereka juga bisa berkembang sesuai dengan bakatnya." Riki mencoba menjelaskan.
"Tapi kamu kan bisa memilih SMP East Kall, mereka bahkan akan memberikan beasiswa selama 3 tahun. Mereka bahkan akan memberikan asrama yang layak." Ibu Riki berkeras.
"Bu, Riki tidak suka terkekang peraturan. Riki bukan tipe yang belajar dengan serius hingga lupa dengan kehidupan sekitar. Riki suka bebas, suka berpetualang, sukan mencari pengalaman nyata dari pada teori yang ada di sekolah. Tolong Bu biarkan Riki menjalani keinginan Riki." Riki memohon.
"Tapi Ka..." kata ibu Riki terputus.
"Sayang, Biarkan Riki menjalani apa yang dia sukai." Ayah Riki kemudian menatap Riki. "Kamu boleh menjalani pilihan hatimu, tapi ingat kamu memiliki keluarga yang mencemaskan mu. Jangan melakukan hal-hal yang melanggar hukum." Ayah Riki memberi nasehat.
Dua hari kemudian, Riki melakukan acara perpisahan dengan Seir dan Moris di kediaman keluara Douz. Di sana juga ada Elsa yang selalu membanggakan Riki di depan keluarganya. Elsa saat ini masih menganggap serius ucapan kakeknya yang mengatakan Riki adalah tunangannya. Jadi dia sangat bangga bisa bertunangan dengan orang yang pintar seperti Riki.
Diantara rasa senang mereka, terselip rasa kecewa karena Riki memilih untuk bersekolah di SMP Sur Zurxin. Namun mereka juga tidak bisa mengubah pendirian Riki. Elsa adalah yang paling kecewa, sebab dia sangat berharap bisa satu sekolah. Jadi dia bisa lebih dekat lagi dengan Riki. Selain itu dia takut Riki akan dekat dengan wanita lain, dengan kemampuan yang dimiliki Riki wanita mana yang tidak akan tertarik.
Satu bulan kemudian. Riki berdiri menatap gedung besar yang ada di hadapannya. Memang dari luar nampak gedung sekolah ini besar. Nyatanya hanya beberapa gedung saja yang digunakan.
Riki memasuki gedung, namun bukannya masuk menuju kelasnya, Riki berjalan menuju belakang sekolah tempat anak kelas 3 sedang berkumpul.
Para senior menatap tajam ke arah Riki.
"Dia lulusan terbaik nasionalkan? ngapain dia kemari?"
"Apa dia sengaja ingin mencari perlindungan di sini?
"Sepertinya dia memang ingin bergabung dengan geng kita."
Banyak spekulasi dari para anggota gang yang melihat kedatangan Riki.
"Apa kamu yang bernama Karl? Karl Bisop?" tanya Riki
Semua orang tercengang menatap ke arah Riki, Karl adalah pimpinan preman yang baru saja naik menggantikan pimpinan sebelumnya. Sekarang ada murid baru yang datang dan bertanya dengan nada seperti itu. Bisa disebut hal itu sama saja dengan menantangnya.
"Apa yang kamu inginkan? Apa kamu ingin dihajar?" Tanya teman Karl.
"Apa kamu punya suara untuk menggantikan dia?" Riki langsung menunjuk ke arah Karl.
"Bajinggann...," teman Karl marah dan menyerang Riki.
Bukk...
"Akkhhhh...." Teman Karl langsung terlempar hingga membentur meja. Riki hanya menggunakan 2% kekuatannya.
"Apa mau mu?" Tanya Karl.
"Jadilah Anggota gang ku." ucap Riki.
"Baik asal kamu bisa mengalahkan kami." Ucap Karl.
"Kalau begitu maju, kita selesaikan ini dengan cepat." Riki
Semua orang yang tidak ingin terlibat segera menyingkir. Mereka merasa kasihan pada Riki yang sebentar lagi akan menjadi bulan-bulanan Karl dan anggota gangnya.
Bukk... Bakkk... Buuukkk... Crakk...
Aaakkk...., Ampun...., tolong...
Jangan... Buuukkk...
tidak lama kemudian Riki keluar dengan mengelap tanganya yang terkena percikan darah. Semua mata orang yang menyaksikan ketakutan. Anak baru yang mereka kira hanya seorang kutu buku, yang merupakan lulusan terbaik nasional ternyata seorang MOSTER.