
Pagi hari berikutnya Riki ke sekolah seperti buasanya. Saat dia baru turun dari mobil, seseorang mendekatinya.
"Hai Riki?" Nilaz Aquos menyapa dengan senyumnya yang menawan.
Riki berbalik dan melihat Nilaz Aquos."Hai" Riki menyapa Nilaz kemudian melangkah pergi.
Nilaz sangat kesal, Nilas memperhatikan Riki yang pulang pergi ke sekolah menggunakan angkutan umum. Jadi dia sudah menunggu Riki beberapa hari di depan gerbang sekolah agar bisa lebih dekat dengan Riki. Namun kemarin dia melihat Riki pulang dengan menggunakan mobil.
Jadi hari ini dia sengaja menunggu Riki hanya sekedar untuk menyapanya. Tapi Riki hanya menjawab sekedarnya lalu pergi. "Dasar laki-laki tidak peka!" Teriak Nilaz sambil menghentak-hentakan kakinya.
Riki merinding mendengar teriakan Nilaz, Riki tidak ingin terlibat dengan wanita itu. Wanitu sangat keras kepala, jika tidak menuruti keinginannya dia akan mengikutimu sampai ke ujung dunia.
Saat Riki melewati koridor sekolah. Ada tiga murid laki-laki menghadang Riki. Riki mencoba menghindar namun temannya menutup jalan Riki. Riki menatap ketiga orang itu dengan dingin.
"Kamu pikir aku takut sama tatapanmu?" Ucap murid itu.
"Katakan apa yang kalian inginkan?" Tanya Riki
"Kamu itu harusnya sadar, kamu itu sudah punya pacar. Sebaiknya kamu jauhi Alice, paham!"
"Ohh..., Saya ki...." Ucapan Riki terputus karena teriakan seseorang.
"Moley hentikan omong kosong mu. Apa kamu pikir kamu lebih baik darinya?" Ucap Alice
"Alice apa dirimu buta? bagaimana bisa kamu membandingkan diriku dengan sampah sepertinya."
"Aku tidak perduli dengan apa yang kamu pikirkan. Aku kemari karena tidak ingin Paman Riviz kehilangan cucu kesayangannya. Jika kamu berani mengganggu Riki, bahkan paman mu tidak akan berani melindungi mu." Ucap Alice menarik tangan Riki.
Riki menikmati saat Alice merangkul tangannya, apalagi saat benda kenyal itu terasa menempel di tangannya. Alice menariknya ke ruang kelas kosong yang biasa di pakai untuk pelajaran praktek gambar.
"Maaf jika Moley mengganggu mu karena aku. Aku harap kamu tidak memasukannya dalam hati. Aku tahu kamu bisa saja mengalahkan mereka dengan mudah." Alice meminta maaf.
"Apa kamu menyukainya sampai-sampai meminta maaf demi dia?" tanya Riki. Entah kenapa ada rasa tidak suka muncul di hatinya.
"Bukan! aku tidak memiliki perasaan apapun dengan dia. Aku hanya tidak ingin Paman Don bersedih." Alice segera menjelaskan.
Riki lega mendengarnya, dia menarik wajah Alice dan mencium bibirnya. Alice terkejut namun segera dia menikmati ciuman dari Riki. Dan ciuman harus berhenti saat bel masuk berbunyi.
"Itu hukuman untuk mu karena meminta maaf untuk kesalahan orang lain bukan siapa-siapamu." Ucap Riki kemudian bergegas pergi. Di sepanjang jalan Riki mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol diri. Riki merasa dorongan tubuh Yin dan Yang semakin kuat dan semakin lama semakin sulit dikendalikan.
*****
Suasana ruang kelas sangat bersemangat sebab hari ini adalah pelajaran fisika. Riki memikirkan apa reaksi teman-temannya jika tahu guru mereka yang cantik itu sedang berbadan dua.
triingg.... tringgg... tringgg
Bel istirahat berbunyi, Riki hari ini membawa bekal makan siang yang sudah dia letakan di dalam tas. Riki mengeluarkan kotak makan siangnya. Kotak makan siang miliknya adalah alat terbaru yang di produksi oleh Home tehc. Salah satu anak perusahaan di bawah naungan Rik-Tehknologi. Perusahaan tersebut memproduksi alat-alat rumah tangga.
Di bawah box teedapat sebuah battery yang mentenagai system pemanas pada box. Jadi semua makanan yang ada di dalamnya tetap hangat. Riki membuka salah satu box, aroma dari makanan di dalamnya tersebar.
Jelas sekali terdapat mekanan enak di dalamnya. Beberapa teman ingin memaki Riki karena membuat mereka bertambah lapar, sekaligus ingin ikut memakan makanan milik Riki. Namun wajah semua teman sedikit terkejut dan segera mengalihkan pandangan.
Riki segera menutup kembali, karena menurutnya produk tersebut berkualitas sangat baik dan sesuai dengan diskripsi keunggulan produk. Namun Riki merasa adanya keanehan. Riki menatap seseorang yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
"Bu Voiz" ucap Riki sambil nyengir.
"Ibu beli bekal makan mu." Freska Voiz sambil meletakan uang sebesar 10 Ri di meja Riki kemudian membawa kotak makan siang milik Riki.
"Ini bagaimana cara bukanya?" Dia sudah buru-buru makan tapi dia bingung cara buka kotak makan tersebut.
Riki hanya menghembuskan napas dan menjelaskan cara buka dan fungsi tombol yang ada di sekitar kotak tersebut. Ibu Freska bergegas pergi dengan senang setelah mendapat penjelasan. Melihat senyum Ibu Freska membuat Riki memperkuat tekadnya untuk mencegah bencana yang akan terjadi. Jika bencana itu datang, bukan hanya 1 orang yang akan kehilangan senyum melainkan milyaran jiwa yang akan kehilangan senyum itu.
****
Sepulang sekolah Riki menuju Rik-Grup untuk pergi menuju tempat Rudy tinggal ada yang harus dia tanyakan mengenai Vanilla Farmasy. Untuk sampai ke kediaman Rudy hanya membutuhkan waktu 1 menit dengan portal teleportasi.
"Halo Rudy, Bagaimana kabar nona Alin." Tanya Riki
"Dia baik-baik saja, saat ini dia sedang membuat pil di ruang belakang." Ucap Rudy
"Kalau begitu kita masuk dan berbicara, ada yang ingin aku tanyakan prihal Vanilla Farmasy." Ucap Riki
Keduanya kemudian menuju ruang tamu. Riki langsung duduk sedangkan Rudy membawakan secangkir teh dan menyuguhkannya untuk Riki.
"Apa ada yang tidak kamu ceritakan pada ku prihal Vanilla Farmacy?" Riki bertanya langsung ke intinya.
"Tidak ada." jawab Rudy.
"Aku menemukan kristal ini saat merampok barang ilegal keluarga Foxt." Ucap Riki sambil menunjukan kristal siluman.
"Kristal apa ini? Lalu apa hubungannya dengan Vanilla Farmacy?" Rudy tidak mengerti.
"Barang-barang tersebut berasal dari industri keluarga Mozart. Dan kristal ini di kirim oleh Vanilla Farmacy. Kristal ini adalah kristal siluman, jika memakannya akan mengubah manusia menjadi monster tanpa akal sehat. Memang tidak akan menular layaknya virus, namun tetap saja akan berbahaya jika di konsumsi manusia atau pun hewan." Riki menjelaskan.
"Sebenarnya ada 1 hal yang tidak saya ceritakan karena saya sendiri tidak yakin dengan apa yang saya lihat." Ucap Rudy
"Ceitakan, Saya bukan orang bodoh yang langsung mengecapmu sebagai orang gila. Kamu lihat sendirikan banyak hal yang tidak sesuai logika orang-orang pada umumnya." Ucap Riki
"Saya melihat kepala keluarga Mozart berubah menjadi mahluk aneh. Telinga runcing, bertaring, dan kulit berwarna hitam." Ucap Rudy.
"Apakah seperti ini?" tanya Riki sambil menunjukan sebuah gambar.
"Apakah Bos mengetahui tentang mahluk ini?" tanya Rudy.
"Mereka adalah mahluk dari dark planet. Jika keluarga Mozart berhubungan dengan dark planet. berarti apapun yang aku rencanakan mereka akan menemukan cara lain untuk memuluskan rencana mereka." Aku harus segera berkomunikasi dengan pihak militer.
"Tunggu! aku ingin berbicara dengan mu." Alin langsung mendatangi mereka.
"Apa yang ingin nona Alin sampaikan?" Tanya Riki
Saat ini Alin memancarkan aura yang berbeda. Selain itu tercium aroma obat dari tubuhnya. Alin duduk dan mulai menceritakan tentang 5 keluarga magis.
"Apa yang kamu dapatkan saat menyentuh giok warisan?" Tanya Alin.
Riki terkejut dengan pertanyaan Alin, Riki bertanya-tanya apakah Alin mengetahui mengenai system miliknya.
"Benda itu langsung menyatu denganku." Jawab Riki
"Artinya kamu memang orang yang di sebutkan dalam ramalan. Kamu harus secepatnya menemui keluarga Magis lain untuk mengambil barang milikmu. Dan juga pergilah ke keluarga Norton untuk menemui istrimu. Dia adalah salah satu kunci untuk memenangkan pertarungan. Kamu tidak akan bisa menang tanpa dia." Ucap Alin memberi nasehat.
Riki mengingat ramalan pertama yang Alin ceritakan. Tentang orang terpilih, jika ramalan itu tentang dirinya artinya mungkin ada yang dia tidak ketahui dari Alice.
"Apa keputusanku meninggalkannya saat itu salah?" Riki berpikir keras.