System, I Don'T Wanna Be Last Human

System, I Don'T Wanna Be Last Human
Ingin menghancurkan keluarga Foxt



Riki memasuki kawasan sekolah, terlihat di depan gerbang sekolah Nilaz Aquos memperhatikan kearah gerbang sekolah. Nilaz sedang menunggu Riki karena ingin mendekati Riki. Wanita itu jelas sudah membucin. Hanya saja sudah hampir bel pelajaran berbunyi Riki tidak terlihat. Dia tidak mengetahui jika Riki datang dengan mengendarai mobil.


Riki sengaja membawa mobil karena dia merasa risih dengan tatapan orang-orang ketika melihatnya. Bahkan suasana di kelas juga tidak senyaman kehidupan sebelumnya. Sekarang teman sekelasnya merasa takut untuk menjadi teman Riki karena bisa jadi Riki adalah orang yang sombong. Karena mereka juga sering melihat orang-orang kaya cenderung tidak menghagai orang miskin.


Disekolahnya saat ini tidak ada teman-teman semasa SMP yang masuk jurusan Listrik. Karena kebanyakan mereka bergabung dengan Ersen di sekolah militer. Hanya ada beberapa orang yang masuk jurusan mesin. selebihnya para wanita akan masuk sekolah menejemen perkantoran. Sehingga tidak ada yang dekat dengan Riki.


Riki duduk dengan Dean Hol salah satu murid pintar yang mendapat beasiswa. Dean terlihat canggung, karena dia tidak biasa bergaul dengan orang kaya. Saat SMP dia selalu mendapat bullyan dari teman-temannya. Di kehidupan sebelumnya pertemuan Riki dan Dean tidak canggung seperti sekarang, karena keduanya adalah golongan miskin. Dean adalah sahabat baik Riki. Dia yang selalu menjadi partner dalam mengerjakan tugas kelompok.


"Hai Dean." Sapa Riki kemudian duduk di sebelahnya.


"Hai Riki" Dean juga menyapa dengan ragu.


"Apa kamu ada kesulitan masalah pekerjaan rumah mu?" tanya Riki.


"Tidak" Dean menjawab singakat.


"Jika kamu memerlukan bantuan katakan saja, aku akan mencoba untuk membantu." Ucap Riki.


Saat ini waktu pelajaran belum mulai, jadi masih ada murid dari kelas lain yang yang sengaja datang sekedar untuk menyapa.


"Riki...!" Terdengar suara wanita memanggil Riki.


Semua murid jurusan listrik adalah laki-laki jadi saat mendengar suara wanita jelas jiwa mereka meronta-ronta ingin tahu.


"Hai..., Mila, Simi, A... lice." Riki terkejut beberapa hari yang lalu dia tidak melihat Alice di hari pertama. Memang di kehidupan sebelumnya Alice berada di jurusan Bisnis. Kelas mereka berada di gedung yang berbeda. Namun saat itu karena Riki sangat tergila-gila dengan Alice, Riki selalu bisa memanfaatkan kesempatan untuk melihat Alice.


Kelas teori Riki ada di gedung A lantai 4, sedangkan kelas Alice ada di lantai 3 gedung B. Riki tidak lelah naik turun tangga dan berpindah gedung untuk sekedar menyapa Alice. Alice memang kesal dengan tingkah Riki, namun setelah dia memikirkan perjuangan Riki dia sangat terharu. Sayangnya Alice tidak pernah mengungkapkan alasan dia menolak Riki. Jika tidak mungkin tidak pernah ada kesalah pahaman diantara mereka.


"Riki, tolong tanda tangani ini." Mila menyodorkan selembar formulir pada Riki. Semua data Riki sudah tertulis lengkap hanya tinggal tandatangan saja.


Riki mengerutkan kening dan memandang ketiga wanita di depannya. Dia ingin tahu bagaimana mereka bisa mengetahui data pribadinya secara rinci. Bahkan lagu, makanan, film, sampai warna yang menjadi favoritnya juga bisa benar.


"Siapa yang mengisi data ini?" tanya Riki


"Apakah ada yang salah?" Tanya Alice cemas, dia merasa ingatannya selalu benar kecuali yang berhubungan dengan Riki.


Riki melihat Mila dan Simi yang menunjukan jarinya pada Alice.


"Tidak ada masalah." ucap Riki santai lalu menandatangani formulir tersebut kemudian 3 wanita itu segera kembali.


Dalam pikiran Riki mulai bertanya-tanya kenapa Alice bisa tahu semua hal tentang dirinya. Dia pun mengingat kembali beberapa hal selama ini. Dari keluarga Norton yang mengetahui prihal zombie, Alice yang bersikap berbeda dari kehidupan sebelumnya, Alice yang tiba-tiba memiliki sebagian tubuh Yin dan Yang juga menjadi kuktivator, Alice yang mengetahui semua yang dia suka dan tidak suka.


"Apa Alice juga memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya?" Riki berpikir keras hingga dia terbayang suaru momen.


Riki bertarung dengan salah satu jendral dari dark planet. Dalam pertempuran itu Riki berhasil menang namun akhirnya kehabisa seluruh tenaganya hingga pingsan. Saat dia pingsan Riki bermimpi jika dia sedang melakukan hubungan badan dengan Alice selama berhari-hari.


Dan saat dia bangun Riki berada dia sebuah ruangan asing tanpa ada orang lain selain dirinya. Dan anehnya setelah itu, kultivasi yang Riki miliki meningkat beberapa tingkatan. Riki berpikir dia bisa bermimpi hal itu karena rasa cintanya yang berlebihan pada Alice.


kletokk....


Lamunan Riki seketika tersadar saat sebuah penghapus papan tulis mengenai kepalanya.


"Ahh... Maaf Bu." Riki segera minta maaf


Saat ini adalah pelajaran Fisika, guru yang mengajar adalah Freska Voiz. Bu Freska adalah guru muda yang cantik dan sexy. Setiap jam pelajaran bu Freska pasti kelas kami bersemangat. Hal itu tidak berubah baik saat ini atau pun di kehidupan sebelumnya.


Riki kemudian mencoba untuk memikirkan masalah Alice nanti. Riki menjalani sekolah dengan lancar dan perlahan membangun hubungan dengan teman-teman sekelasnya agar tidak canggung. Bagaimanapun pemikiran teman sekelasnya tentang Riki adalah orang yang sombong karena kaya juga berpacaran dengan artis terkenal. Riki ingin mengubah pikiran itu.


****


Agust Foxt memandang keduanya dengan bersemangat. Agust bertemu dengan kedua wanita tersebut disebuah club malam kemarin. Dia mengajak mereka berkenalan karena keduanya cantik. Namun karena merasa tampang Agust terlalu mesum, mereka menolak dan pergi dari club.


Agust memerintahkan anak buahnya untuk menculik kedua gadis tersebut yang ternyata seorang mahasiswa baru di salah satu universitas di kota Maggir.


"Kenapa kalian terlihat ketakutan? bersemangatlah! malam ini kita akan melakukan permainan yang menyenangkan. Hahaha..." Agust tertawa keras lalu menatap kedua wanita tersebut sambil menjilat bibirnya.


Agus mulai melangkah perlahan, kedua wanita tersebut semakin ketakutan. Mereka mulai menangis dan meminta tolong.


"Berteriaklah... berteriaklah sesuka hati kalian. Tidak akan ada yang akan perduli dengan kalian." Ucap Agust. Matanya menatap tajam ke arah salah satu wanita.


Agust mulai menyentuh salah satu wanita. Namun tiba-tiba tangannya mengeluarkan darah. Agust mulai mengangkat tangannya yang bergetar. Agust memperhatikan ada sebuah lubang sebesar batang rokok tepat di tangah telapak tangannya.


Agus panik dan mencari ke setiap sudut ruangan namun tidak melihat seorang pun. Dia kemudian teringat pesan yang di sampaikan Riki.


"Jika kamu sudah datang kenapa terus bersembunyi? Apa kamu seorang pengecut?" Agust berteriak.


"Pengecut?? Saya sudah menunggumu dari tadi disini kamu saja yang tidak melihat. Bodohh.." Riki berkata dengan santai.


Agus melihat ke arah jendela kaca, disana terlihat seseorang dengan topeng emas sedang mengambang di udara. Agust sangat terkejut dia segera berlari menuju meja tempat dia meletakkan senjata.


Agust segera meraihnya, berbalik dan mengarahkan moncong senjata menuju tempar Riki berada. Agust terkejut karena tidak ada seorang pun disana.


"Keluar kamu keparraatt...! Jangan bisanya hanya bersembunyi." Agust berteriak


Sreettt... prak... Sebuah senjata jatuh ke lantai beserta telapak tangan yang masih menggenggam pistol tersebut.


"Aaaakkkkhhhhh......" Agust berteriak keras, darah mengalir dari salah satu tangannya yang putus.


"Aku sudah bilang akan datang dan memberikan kamu malam yang indah." Riki mengibaskan tangannya beberapa kali dan tali yang mengikat kedua wanita itu putus. Riki menekan Agust dengan auranya agar tidak bergerak.


"Segera berpakaian dan cepat kemari." ucap Riki


Setelah kedua wanita itu berpakaian segera keduanya menghadap Riki.


"Siapa nama kalian?" tanya Riki


"Nama saya Senia Half." Jawab wanita pertama


"Nama saya Celiara Fond." Jawab wanita ke dua.


"Kenapa kedengaran tidak asing??" pikir Riki tapi dia langsung mengabaikannya. "Kalian berdua anggap kejadian ini tidak terjadi. lupakan yang kalian dengar dan kalian rasakan malam ini" Ucap Riki kemudian menghapus ingatan keduanya. Lalu kedua wanita itu jatuh pingsan.


Agust melihat kemampuan Riki ketakutan. "Penjaga... apa yang kalian lakukan. Penjaga..." Agust berteriak teriak memanggil pengawalnya.


Dari pintu masuk 3 orang yang tangannya berlumuran darah. Ketiganya menggunakan topeng silver.


"Bos, semua penjaga sudah kami bereskan" salah satunya melapor.


"Kerja bagus, Bawa dua wanita ini dan kembalika ke ketempatnya." perintah Riki, 2 orang anggota silver face segera membawa kedua wanita itu pergi.


"Silver face bajingann...., apa kalian berniat berperang melawan keluarga Foxt?" Agust berteriak.


"Kami bukan berniat berperang, tapi kami akan memusnahkan keluarga Foxt. Paham?" kata silver face yang tersisa sambil membuka topeng memperlihatkan wajah aslinya.


"Karl?" Agust terkejut melihat teman SDnya itu ternyata Anggota kelompok Silver Face.