
Riki menemui ketiga sahabatnya, Elsa, Seir, dan Moris. Riki merasakan aura yang berbeda dari ketiganya.
"Mana? Bukannya malaikan belum datang menyebarkan cahaya potensi. Bagaimana bisa aku merasakan ada mana di dalam diri mereka?" Riki terkejut merasakan adanya energi mana yang mengalir di dalam diri ketiga temannya.
"Hai Riki!" Elsa dengan cepat menyapa
"Hai Bro!, Dah lama kita gak ketemu ya." Moris dan menyapa Riki.
"Hai semua!" Riki terbangun dari keterkejutannya dan segera menyapa dan memeluk sahabatnya.
"Cuma mereka ajah yang di peluk? aku enggak?" Ucap Elsa cemberut.
"Takut aku nanti jadi musuh netizen." Ucap Riki.
Elsa melihat sekitar dan menyadari banyak pengunjung yang memandang juga membicarakan mereka. Meskipun mereka sudah menggunakan masker, tetap saja banyak fans yang masih bisa mengenali mereka.
Elsa tidak perduli dengan pandangan orang-orang dan segera menggandeng tangan Riki dan membawanya ke privat area yang sudah mereka sewa.
Di privat area terdapat beberapa rumah yang menghadap pantai dengan halaman luas. Di dalam rumah sudah di sediakan kebutuhan apa saja yang bisa di pakai untuk party. Riki menyiapkan menu untuk mereka makan siang.
Sementara Riki menyiapkan makan siang. Savik dan Lisa menemani Hima yang ingin bermain pasir. Mereka sebelumnya membeli beberapa pakaian santai di toko yang berada di dekat pantai. Jadi saat ini ketiganya sudah berganti pakaian. Savik pertama di suruh mengumpulkan pasir pasir hingga membentuk gunung.
"Paman Tapik tambah ladi, Ini masih kulang." Hima mengeluh.
"Hima mau bikin sebesar apa?" Tanya Savik. Pasir di depannya sudah setinggi 1 meter.
"Hima mau bitin yang tindii..., biar tita bisa matuk." Hima menjelaskan.
"Hima, ini sudah cukup. Tidah usah buat yang terlalu besar ya?" Savik mencoba membujuk.
Hima segera memasang wajah sedih sambil menatap Lisa.
"Sudah turutin ajah, Hima jadi sedih nah" Ucap Lisa.
"Emmm.... tayang Bibi isa." ucap Hima sambil memeluk Lisa.
Savik mau tidak mau kembali mengais pasir menuruti permintaan hima. Dia mulai mengumpulkan pasir hingga lebih banyak. Setelah Hima merasa cukup, Hima pelan-pelan membentuk bangunan dengan sangat teliti.
Di tempat Riki saat ini, Elsa mencoba membantu Riki agar bisa lebih dekat denganya. Tapi karena Elsa tidak terbiasa jadi justru memperlambat pekerjaan Riki.
"Hemm..., Baiknya princes duduk ajah ya. Biar saya ajah yang mengurus." Riki
"Ihh..., tapi aku mau bantuin kamu." Elsa mengeluh.
"Emm..., cuci-cuci daun selada ajah kalo begitu." Ucap Riki.
"Ok" Elsa bersemangat. Saat ini dia masih menganggap Riki tunanganya jadi dia senang bisa membantu Riki.
Ring... Ringgg.. Ringgg... telpon Riki berbunyi.
"Halo Ersen, ada apa?" tanya Riki
"Aku ingin mengajakmu ke pantai. apa kamu ada waktu?" Tanya Ersen
"Kapan?" Tanya Riki
"Sekarang. Bagaimana?" tanya Ersen.
"Tunggu sebentar." ucap Riki
"Moris, Seir, apa aku boleh mengajak temanku kemari?" tanya Riki. Bagaimanapun mereka yang merencanakan parti ini.
"Tidak masalah," Ucap Seir
"Ya, lagi pula tempat ini juga terlalu luas untuk kita bertiga." Ucap Moris.
"Halo Ersen, bagaimana kalau kalian gabung dengan kami." Tanya Riki
Beberapa menit kemudian, Ersen dan Alice datang. Morin dan Seir terkejut, meskipun mereka tidak dekat tapi mereka juga kenal dengan gadis tercantik di kota Maggir. Mereka tidak menyangka Riki bisa berteman dengan anggota keluarga Norton.
"Apa aku harus memperkenalkan kalian atau kalian sudah saling kenal." Ucap Riki.
"Hai Seir, Moris, Elsa. Aku tidak menyangka guru bisa mengenal artis terkenal." ucap Ersen tersenyum
"Aku juga tidak menyangka Riki bisa berteman dengan anggota keluarga Norton." Ucap Seir.
Sedangkan Alice terpaku menatap Riki yang juga menatapnya. "Hai Riki, lama tidak bertemu." Sapa Alice dengan senyum yang indah.
"Ya, lama tidak bertemu." Ucap Riki santai mencoba menutupi perasaannya.
Elsa merasa tidak senang, langsung menghampiri Riki dan menggandeng tangannya. "Hai, Aku Elsa tunangan Riki." Ucap Elsa
Riki langsung menatap Elsa tidak mengerti maksud ucapannya. Seir dan Moris terkejut, sejak kapan Elsa bertunangan dengan Riki.
"Wahh..., ternyata guru sudah memiliki tunangan. Salam nona guru." Sapa Ersen.
"Selamat kalau begitu." Ucap Alice. Ada rasa kecewa di hatinya tapi sebisa mungkin dia tidak mengungkapkannya.
Riki langsung menarik tangan Elsa masuk ke dalam kamar. "Elsa apa sih maksudnya tadi? Sejak kapan kita menjadi tunangan?" Riki bertanya.
"Sejak kecil, kakek ku sendiri yang berbicara kalau kamu tunanganku." Ucap Elsa menjelaskan.
Riki menepuk jidatnya. Dia sampai melupakan masalah ini. Riki menghela napas, "Elsa, kamu harus bertanya pada kakekmu prihal ini. Jika memang kita bertunangan, kakek ku pasti akan memberitahukan aku juga." Riki saat ini masih bingung dengan perasaannya. Sebab dia juga memiliki perasaan dengan Elsa. Tapi perasaannya dengan Alice sangat besar. Dia takut Elsa akan kecewa karena dia memiliki perasaan pada wanita lain.
"Aku tidak perlu mengkonfirmasi lagi pada kakek. Karena perasaanku dengan mu jelas. Aku sudah menyukai kamu sejak dulu." ucap Elsa
"Apa??" Riki lebih terkejut lagi.
"Mungkin kamu tidak menyukaiku saat ini, tapi aku akan buat kamu kamu menyukai aku. Jadi urusan kita benar tunangan atau bukan tidak masalah untukku." Ucap Elsa kemudian keluar dari ruangan.
Sementara di tempat Riki sedang sedang terjadi pertempuran hati. Di tempat Hima sedang bermain sedang terjadi kekacauan. Ada 5 orang laki-laki berbadan besar sedang terbaring meringkuk kesakitan. Kelimanya mengalami memar di beberapa bagian tubuh.
Hima menatap kesal istananya yang saat ini terjadi beberapa kerusakan.
"Hima sabar ya, Ayo kita buat lagi." Ucap Savik mulai meletakan pasir-pasir yang sudah dibasahkan dan menyusunnya ke bagian yang rusak terkena bola.
Beberapa saat sebelumnya
Hima sedang mengeruk pasir secara perlahan untuk membentuknya menjadi bangunan. Namun salah satu menara yang sebelumnya sudah berdiri dengan megah tiba-tiba hancur. Sebuah bola volly menabraknya dengan keras.
Seseorang pria datang untuk mengambil bola tersebut. Namun mata pria tersebut menatap mesum ke arah Lisa yang cantik. Jadi niatannya berubah, dia segera berbalik memanggil kelima temannya yang lain. Mereka pikir hanya Savik sendiri yang seorang laki-laki, jadi pasti bisa mengurusnya dengan mudah. Setelah mengurus Savik mereka berencana membawa Lisa ke kawasan pribadi yang telah mereka sewa.
"Hai cantik, bagaimana jika kamu ikut bersenang-senang dengan kami?" salah satu pemuda mencoba merayu. Di belakangnya berdiri 4 pemuda lain dengan tubuh besar berotot
"Benar jika kamu ikut dengan kakak kami, kamu pasti bisa mendapat barang-barang yang lebih baik dari pada bersama pria mikin ini." ucap salah satu teman pemuda itu. Dia memandang keluarga kecil yang memakai pakaian yang jelas di beli dari toko murah di dekat pantai.
Savik menatap para pemuda di depannya. Sedangkan Lisa tidak perduli dengan omongan pemuda itu. Lisa sangat membenci orang sombong seperti mereka. Apalagi mereka ingin membandingkan diri dengan suaminya yang merupakan pengusaha muda terkaya di dunia.
"Apa? kalian pikir kalian bisa memberi istriku barang lebih baik? hahahah.... kalian saja masih meminta uang orang tua mau sok di depanku." Savik mengejek. Orang tua kalian saja tidak akan berani beromong besar jika bertemu denganku pikir Savik.
"Baajiingaaan..., mau cari mati ya?" salah satu teman pemuda itu marah.
Savik sudah siap untuk bertarung, Dia juga sudah berlatih keras semenjak terakhir kali diculik. Melihat Savik yang tidak takut, para pemuda itu segera ingin menghajar Savik. Namun belum sempat sampai pada Savik, pemuda-pemuda tersebut mengerang kesakitan.
Aaakkkkhhhh....
"Kaakkiikuuu...." salah satu pemuda terjatuh dan terkejut karena kakinya patah.
Pemuda yang lain terkejut karena tidak melihat siapa-siapa. Sedangkan Savik menggunakan penglihatan robot nanonya. Savik terkejut karena melihat Hima yang tidak terlihat sedang memukuli para pemuda itu.
Savik bahkan tidak pernah tahu jika robot nano memiliki fitur seperti itu. Lisa lebih bingung lagi karena tidak menemukan keberadaan Hima. Sedangkan orang-orang ketakutan, mengira para pemuda tersebut dipukuli hantu penunggu pantai.