
Keesokan harinya, Team basket SMP Sur Zurxin melaksanakan pertandingan. Para murid wanita SMP Sur Zurxin membawa spanduk mendukung. Namun diantara pendukung dari SMP Sur Zurxin terdapat 3 wanita cantik yang bukan berasal dari SMP Sur Zurxin.
Ketiga wanita cantik itu adalah Alice, Mila, dan Simi. Ketiga wanita itu sedikit kecewa karena Riki hanya mengamati dari pinggir lapangan. Tapi Alice tidak terlalu perduli, baginya bisa melihatnya saja suadah membuatnya sangat senang. Dia bahkan tidak menyadari dirinya tersenyum cerah sambil memandang Riki yang sedang serius mengamati teman-temanya yang sedang bertanding.
Dia kembali mengingat, seharusnya Riki bermain dan menjadi pencetak score terbanyak. Kenapa saat ini tidak sama dengan ingatan masa depannya.
"Apa masa depan akan berubah? apakah Zombie tidak akan menyerang? lalu apakah aku bisa bersama dengan kamu?" Alice berpikir tentang hari-hari menyenangkan jika bersama Riki. Namun hayalannya harus memudar saat dia merasa ada sesuatu yang mendekat.
Alice dengan sigap menahan bola yang meluncur ke arahnya dengan kencang. Riki juga terkejut, sejenak dia bisa merasakan aura kultifator tahap silver body.
"Apakah aku salah melihat? atau ada seseorang yang menolongnya?" pikir Riki sebelum kembali fokus.
Note: Disini saya ingin menjelaskan, System yang dimiliki Riki tidak akan berinisiatif berkomunikasi dengan Riki tanpa perintah. kecuali hal-hal seperti notifikasi misi dan kondisi Riki terancam. Kenapa bisa seperti itu? jawabannya karena System yang Riki miliki masih ada di level dasar. Jadi komunikasi Riki dengan system akan jarang terjadi kerena Riki sudah tidak memiliki misi.
Riki ingin memastikan dengan system namun akhirnya dia urungkan. Riki merasa mungkin itu hanya perasaannya yang merasa cemas, bisa saja sebenarnya bola itu memang pelan.
Team SMP Sur Zurxin menang tanpa harus Riki turun bermain. Meski begitu mereka bisa menang berkat strategi dari Riki. Riki disini berperan sebagai pemain sekaligus pelatih. Sedangkan guru yang mendampingi mereka, hanya sekedar pendamping. Setelah pertandingan usai mereka segera pulang. Seperti biasa ada 2 orang yang akan merekam pertandingan sebagai bahan mempelajari gaya permainan musuh.
"Lohh bos gak barengan kitakah?"
"Saya ada keperluan sebentar, mau belikan titipan adiku." Riki
"Ohh... ok lanjut Bos."
Sebenarnya Riki bukan ingin membeli titipan adiknya. Dikehidupan sebelumnya, Alice akan diganggu preman mabuk tidak jauh dari komplek olahraga ini. Dan saat itu Riki bertarung dengan 3 orang preman, tentu saat itu dia tidak bisa menang namun anggota teamnya yang mengikuti Riki melihat hal itu dan turun membantu.
Dahulu meskipun Riki tidak begitu kuat, namun ketua team saat itu sangat peduli dengan Riki. Jadi saat Riki mengikuti Alice untuk mendekatinya, beberapa anggota lain diperintahkan untuk mengawasi agar bisa melindungi Riki jika terjadi masalah.
Kembali lagi saat ini, suara perdebatan mulai terdengar, Riki mulai mempercepat langkahnya karena khawatir.
"Lepasin... kalo tidak aku akan teriak." Ancam Alice sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Riki. Hatinya sedikit cemas jika Riki tidak datang.
Sedangkan Simi dan Mila sedikit bingung. Pasalnya mereka tahu Alice sekuat apa. Dia bahkan mampu mengalahkan 5 preman yang masih dalam keadaan sadar. Namun saat ini dia bahkan tidak bisa mengalahkan satu pun preman yang sedang mabuk.
"Teriak..., apa ada yang akan perduli jika kamu teriak?" ucap ketua preman itu dengan yakin. Sedangkan anak buahnya yang sedang mencoba menarik tangan Alice mengerutkan kening. Dia sudah mencoba menarik tangan Alice namun tidak mampu membuatnya bergeser.
"Jika bukan karena ingin Riki menjadi pahlawannya, aku sudah mematahkan semua tangan kalian." ucap Alice dalam hati karena geram. Tiba-tiba dia mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Alice yakin itu adalah Riki.
"Tolong.... Tolong.... ada preman mabuk mengganggu!" Alice berteriak nyaring.
Riki yang mendengar teriakan Alice semakin meningkatkan kecepatannya. Dia melihat seorang preman memegang tangan Alice dan ingin menariknya paksa.
Kreekkk....
Aakkkhhhhh....
Riki melesatkan tendangan ke tangan preman yang berani menyakiti Alice. Teriakan kesakitan terdengar, tangan preman yang memegangi tangan Alice terkulai lemas. Jelas sekali preman itu mengalami patah tulang.
Riki kemudian menghajar kedua preman yang masih berdiri terkejut akibat tangan temannya yang patah.
Buukk...
Buukk...
Bukkk...
Bukkk..
"Ampun... ampun... kami gak akan mengganggu orang lagi. Tolong ampuni aku..." Preman itu menangis ketakutan.
Riki tidak perduli, memegang tangan preman yang patah.
Kretekk... Krakkk....
Aaaakkkkhhhh.....
Preman itu berteriak kesakitan, karena Riki menarik lengannya yang patah. Namun setelah itu dia terkejut, karena tangannya yang patah sudah bisa dia gerakan meskipun masih sakit.
"Pergi dari sini, jangan pernah mengganggu orang lagi" Riki mengusir ketiga preman. Sedangkan ketiga preman langsung lari secepatnya.
"Terimakasih ya Sa... Riki, sudah menolong kami. aku gak tahu jadi seperti apa jika kamu tidak datang." Ucap Alice dengan wajah sedikit ketakutan. Alice sengaja memasang wajah ketakutan agar terlihat teraniaya. Dia juga sangat senang ternyata benar Riki masih memikirkannya. Sangking senangnya dia hampir saja menyebut Riki dengan kata Sayang.
Alice berpikir setelah menyelamatkannya Riki akan mengajaknya makan. Dia menanti kapan pemuda di depannya akan memulai pembicaraan. Namun Riki justru berbalik.
"Lain kali lebih berhati-hati." Ucap Riki kemudia melanjutkan langkahnya.
Saat ini jantung Riki masih berdegup kencang, Meskipun dia mencoba untuk tidak terjerat cinta dengan Alice, namun dia tidak bisa memungkiri ada sesuatu yang terus menariknya.
"Riki tunggu! sebagai ucapan terimakasih apa kamu mau makan malam dengan ku?" tanya Alice memberanikan diri.
Riki berhenti sejenak berpikir, "Maaf, aku masih punya urusan. dan juga tidak perlu berterimakasih seperti itu aku takut nanti pacarku salah paham." ucap Riki berbohong. sebenarnya dia takut jika terus seperti ini dirinya tidak tahan dan kembali terjerat cinta dengan Alice.
Trangg...
Seperti kaca yang pecah berkeping-keping, Hati Alice juga merasakan sakit yang menusuk. Hal ini benar-benar jauh dari ingatannya. Dia kesal pada takdir, dia sudah dihidupka kembali ke masa lalu. dia berencana mengubah takdirnya. Tapi kenyataan takdir sudah mempermainkannya.
"Maaf." Alice bergegas pergi sambil terus menahan air matanya yang ingin tumpah. Dia tidak ingin Riki melihat air matanya.
melihat hal itu, Mila dan Simi bergegas mengikuti Alice. Namun langkah kaki Alice sangat cepat, mereka mencoba berteriak memanggil Alice namun Alice tidak juga berhenti. Alice memberhentikan taxi dan pergi meninggalkan Simi dan Mila.
Simi dan Mila bingung, Alice yang dingin dan selalu terlihat tegar. Hari ini mereka akhirnya melihat sisi rapuh sahabatnya itu.
Sementara di dalam mobil taxi, air mata Alice yang ditahan akhirnya mengalir keluar tanpa henti.
"Apa kami memang tidak ditakdirkan bersama?"
"Apa ini hukuman karena aku menyia-nyiakan dia dulu?"
"Kenapa takdir mempermainkanku, di kehidupan sebelumnya aku pikir setelah menemukannya aku bisa bahagia menikmati hidup. Tapi takdir justru memisahkan aku darinya sebelum aku memberitahu perasaanku padanya."
"Sekarang aku sudah kembali ke masa lalu dan ingin memperbaiki kesalahanku, tapi takdir justru membuat dirinya sudah memiliki kekasih. Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?" teriak Alice sambil terus menangis.
Pak supir sebenarnya sedikit takut, bagaimanapun dia merasa kata-kata Alice ngelantur tidak jelas. Apa itu dipermainkan takdir? apa itu dipisahkan darinya? apa itu kembali ke masa lalu?. "Kamu itu masih muda, tahu apa masalah takdir hidup? memangnya kamu itu pacaran dari jaman bocah? Kok anak gadis jaman sekarang terlalu banyak drama?" dalam pikiran pak supir.
Setelah tangisan mereda supir memberanikan diri bertanya. "Dek.., sebenarnya tujuannya mau kemana?"
Alice akhirnya tersadar, dia menyebutkan alamat rumahnya yang ada di kawasan elite.
"Adek tidak usah memikirkan laki-laki yang tidak serius. buat apa buang-buang air mata demi laki-laki seperti itu. Adek itu cantik, masih muda, masih banyak waktu untuk mencari yang lebih baik." Pak supir memberi nasehat.
"Terimakasih pak, Tadi cuma latihan buat syuting film." Jawab Alice tersenyum malu. Alice berpikir kata-katanya tadi pasti kedengaran pak supir.
"???" Pak supir jadi bingung.