
Banyak orang yang menunggu waktu keberangkatan ke planet misterius. Diantara mereka ada yang memilih berjalan-jalan dahulu. Dari toilet keluar 4 orang berpakaian militer. Memang terlihat tidak mencurigakan dan mereka berjalan santai menuju rombongan militer lain yang sedang menunggu.
Tidak lama setelahnya, seorang pria berwajah remaja berpakaian militer dengan memegang ketas List di tangannya.
"Black 803, Black 521, Black 762, Black 558. ikut denganku." Ucap pria itu namun setelah beberapa saat tidak ada yang menyahut. "Apa tidak ada diantara kalian dengan code ID yang saya sebutkan?" Tanya pria itu.
"Hei, bagaimana bisa kamu tidak tahu code id milikmu? apa kamu tidak melihat id personil mu?" Kata seorang yang dekat dengan Black 521.
Keempat orang yang sebelumnya baru kembali dari toilet memeriksa id yang ada pada kalung mereka. Dan menyadari jika mereka yang sedang dipanggil. Pasukan lain curiga dengan gelagat 4 orang itu dan ingin mengintrogasi. Namun tiba-tiba mengurungkan niat dan menatap ke arah personil berwajah remaja.
"Ayo ikut denganku menghadap atasan" Ucap personil berwajah remaja.
keempat orang itu segera mengikuti, sambil menunggu saat yang tepat untuk membunuhnya. Saat melewati tempat sepi keempatnya bergerak segera ingin membunuh personil berwajah remaja. Tetapi mereka menyadari jika tiba-tiba mereka membeku di udara. Waktu seakan berjalan sangat lambat.
"Kamu harus belajar selama 2000 tahun untuk melawanku." Ucap pria itu dan menghujamkan jari telunjuknya dengan cepat ke tubuh ke empat orang itu.
Setelah selesai waktu kembali berjalan normal, dan keempat orang itu terbujur kaku di tanah. Setelahnya pria itu segera ingin pergi.
"Tunggu siapa kamu?" Seseorang memanggil membuatnya menghentikan langkah.
"Bagaimana kabarmu Savik?" Timez menyapa.
"Timez?" Savik terkejut mendapati sahabatnya yang dulu menghilang. Namun saat ini dia bertemu lagi tapi wajah sahabatnya itu tidak mengalami perubahan.
Jika kembali mengingat alasan Savik bisa bertemu dengan Riki adalah surat peninggalan Timez. Dia ingat jika Timez sering membual jika dirinya bisa melihat masa depan. Timez menuliskan ramalan sebelum kelulusan SMA.
Kamu akan menjadi sukses. Namun sayang matamu silau akan keindahan dunia. Hingga akhirnya kamu akan jatuh dan terpuruk. Jika itu terjadi, pergilah ke kota Maggir dan bunuh dirilah disana. Setelahnya kamu akan terlahir menjadi dirimu yang baru.
Ramalan itulah yang membuatnya pergi ke kota Maggir untuk bunuh diri. meskipun dia tidak percaya ramalan itu, Tapi saat itu bunuh diri di kota orang mungkin lebih baik bagi Savik. Namun siapa sangka dia akan bertemu Riki kecil dan mengubah hidupnya menjadi orang yang lebih baik.
"Siapa kamu sebenarnya Timez?" Tanya Savik
"Seseorang yang selalu melewati jaman dengan kesepian." Ucap Timez tersenyum. Timez jarang menemukan orang yang mau berteman dengannya setelah mengetahui kata-katanya yang terkesan membual. Dan Savik adalah salah satu orang yang mau berteman dan membela dirinya saat semua orang memandang dirinya gila.
Savik melihat Timez yang menghilang begitu saja, dia mengingat setiap kata yang pernah Timez katakan. Dirinya banyak melihat keserakahan manusia. Timez bahkan penah melewati perang besar ke 2. Dia menceritakan semua tokoh hingga detail. Dia juga pernah menghina seorang pahlawan, kata Timez orang itu hanya mengakui hasil pekerjaan orang lain untuk keuntungan pribadi. Dan yang terpenting tentang sebuah perang besar yang akan terjadi. Dan dia bilang kita akan terlibat di dalamnya.
Setelah melewati semua hal dengan Riki, Savil tahu banyak hal yang tidak mungkin bisa saja terjadi. Mungkin Timez adalah salah satu ketidak mungkinan itu. Manusia yang tidak bisa mati namun juga tidak bisa dewasa, melewati jaman dengan kesepian.
Savik kembali ke tempatnya dan mulai mengirim peserta latihan secara bertahap. Elsa, Seir, Moris, Sick, Nilaz. Memasuki portal teleportasi lalu menghilang. Timez Duduk disebuah dahan pohon sambil memandang ke angkasa.
Di pusat penelitian antariksa, Sebuah pertemuan besar di adakan. Setelah beberapa kata diucapkan panel besar dinyalakan. Tampak waktu berjalan mundur, 30 hari menuju titik tabrakan 4 meteor.
Pihak militer mulai mengangkut kotak-kotak yang bertuliskan Rik-Teknologi. Militer sudah menyiapkan beberapa titik untuk menembak meteor. Pasukan militer menjaga tempat tersebut dengan ketat.
Timez muncul dan mulai membunuh penyudup satu persatu. Hampir setiap devisi terdapat penyusup. Namun Timez bisa berteleportasi jadi samgat mudah baginya menghabisi musuh. Setelah selesai membunuh penyusup Timez menghilang dengan cepat.
"Hehh.... sepertinya yang terakhir sedikit merepotkan. Dasar para hibrid." Ucap Timez yang berdiri di sebuah gedung besar. Dia bisa melihat targetnya sudah waspada. Timez segera berteleportasi kembal, ketika muncul dan langsung melesatkan serangan.
Seperti perkiraan Timez, lawannya sudah waspada. Jadi butuh beberapa serangan untuk menumbangkannya. Serangan kedua di lesatkan. duri-diri melindungi tubuh lawannya.
"Nano" Pastikel nano membentuk sarung tinju. krraaakkk.... duri-duri yang melindungi musuh pecah berkeping-keping.
Musuh terlempar hingga menjebol dinding sebuah gedung. Timez mengamati musuh dengan waspada dan tersenyum licik. Dari dalam kabut debu musuh meluncur cepat menuju Timez. Namun gerakannya terhenti saat akan mendekat.
"Ini gerakan favorit ku dari sejak 1000 tahun lalu." Ucap Timez yang melesatkan jari telunjuknya dengan cepat ke arah musuh.
Saat efek time freeze menghilang, tubuh musuh bergetar seakan dihujani ribuan peluru. Timez melangkah dan menginjak kepala musuh hingga hancur. Dia kemudian melangkah pergi sambil menconteng lembar list yang ada di tangannya.
Di negara York, kepala militer yang bertanggung jawab untuk misi menyusup di negara Nim kesal. Ratusan anggotanya yang bertugas menghilang tanpa jejak setiap kali menginjakan kaki di negara nim. Bahkan orang kepercayaannya yang sudah bertahun-tahun duduk di pemerintahan tiba-tiba dikabarkan meninggal karena berbagai macam musibah.
"Jendral Moze bagaimana misi di negara Nim?"
Jendral Moze langsung berkeringat dingin, jika dia berkata misi gagal bisa dipastikan nyawanya melayang.
"Maaf tuan, sepertinya ada yang mengetahi agen-agen kita di negara Nim."
"Lalu apakah artinya misi gagal?"
Jendral Moze hanya tertunduk diam tidak berani menatap layar hologram di depannya.
"Baik, jika begitu selamat tinggal."
"Tu..tu..tuan mohon ampuni saya. Akk... Ahhhhhaaaaa...." Jendral Moze kesakitan memegang jantungnya. Tubuhnya tiba-tiba bergetar
Scraaatttt.... tubuhnya meledak hingga menjadi cipratan darah kesegala arah. Seisi ruangan dipenuhi darah yang menempel kesetiap sudut ruangan.