System, I Don'T Wanna Be Last Human

System, I Don'T Wanna Be Last Human
Dia yang lebih berinisiatif



"Bagaimana kamu tahu aku akan datang?" Riki terkejut, selama ini dia hanya berasumsi jika Alice bisa melihat masa depan.


"Karena aku pernah mengalami hal ini sebelumnya." ucap Alice.


Riki hanya terdiam, masih mencerna kata-kata Alice.


"Aku mengingat kejadian di kehidupan sebelumnya. Apakah kamu menjauhi aku karena kamu juga memiliki ingatan kehidupan sebelumnya? Jika benar kamu memiliki ingatan itu, tolong maaf kan aku. Aku memang bodoh karena selalu mengabaikanmu. Tapi kamu juga tidak pernah peka. Aku sudah berulang kali bilang aku tidak mau pacaran, tapi bukan berarti aku tidak mencintai kamu."


"Saat itu aku sudah berjanji untuk tidak pacaran sampai lulus sekolah. Aku memang menolak jadi pacarmu, tapi kamu harus tahu satu hal. Aku hanya ingin kamu yang menjadi suami ku. Tidak ada pria lain." Alice mencurahkan isi hatinya hingga meneteskan air mata.


Riki mendengar hal itu langsung memeluk Alice, menghapus air matanya dan mencium bibirnya. Keduanya menikmati ciuman penuh cinta. Kali ini semua beban dari kehidupan sebelumnya hilang seketika. Riki dan Alice yang masih menikmati ciuman indahnya harus berhenti saat mendengar suara, petugas kebakaran memanggil-manggil.


Riki kesal, dia masih ingin meluapkan perasaannya. Alice tersenyum bahagia setelah mendapat ciuman dari Riki.


"Sebaiknya kita segera keluar dari sini." Ucap Riki.


"Emm." Alice mengguk setuju.


"Ayo jalan" Riki ingin menarik Alice untuk pergi namun Alice tidak mau jalan.


"Mana bisa seperti itu." ucap Alice menggembungkan pipi.


"Jadi seperti apa?" Tanya Riki bingung.


"Kamu harus menggendong ku seperti di kehidupan sebelumnya." Ucap Alice


Riki menghela napas dan segera menggendong Alice. Alice menyandarkan kepalanya pada Riki, rasanya sangat nyaman bisa bersama dengan Riki. Riki bergegas ingin keluar dari gedung itu dan mencari waktu berdua dengan Alice. Masih banyak hal yang ingin Riki ketahui. Selain itu hal terbesar yang ingin Riki lakukan adalah ingin bermesraan dengan Alice


Segera Riki sampai pada jendela, Riki mengambil sebuah kursi dan melemparkannya pada kaca jendela. Kaca pecah dan kursi terlempar keluar, segera perhatian petugas tertuju pada benda yang jatuh dari lantai 3.


"Arahkan truck snorkle ke lantai 3, jendela nomor 8. Ada 2 orang korban yang masih hidup." perintah komandan.


Riki melihat truck snorkle yang mengarah pada mereka, Segera Riki meletakan Alice kemudian dia menyusul mengikuti petugas. Alice terus merangkul lengan Riki. Mereka berdua menjalani pemeriksaan medis sebelum akhirnya mereka pulang. Alice memberitahu teman-temannya bahwa dia akan pulang dengan Riki.


Riki memandang Alice dan berkata, "Telpon keluargamu. Beritahu mereka jika kamu bersamaku. aku ingin membawamu ke suatu tempat."


Riki tidak membawa Alice pulang ke rumahnya, Riki membawa Alice menuju mobil sport miliknya. Riki bergegas memacu mobilnya ke sebuah tempat sederhana di pinggiran kota.


"Ayo masuk" Riki


"Em.." Ucap Alice mengikuti Riki.


Setelah masuk, Riki menuju sebuah ruangan kecil. Alice juga tidak tahu ruangan apa itu.


"Sabar sebentar." Ucap Riki kemudian menekan sesuatu pada panel du dinding.


Segera Alice merasakan sensasi saat menaiki lift. Tidak lama kemudian Pintu di sebelah kanan terbuka. Riki menggenggam tangan Alice dan membawanya ke ruangan yang belum pernah Alice lihat sebelumnya.


*****


Sementara di kediaman keluarga Foxt, Marez yang masih kesal dengan kejadian perampokan barang ilegal miliknya.


"Apa saja kerjaan kalian, kalian sudah terbiasa merampok. Tapi saat ini kalian justru jadi korban perampokan. Kenapa anak cucuku bisa menjadi tidak berguna seperti ini." Marez memaki anggota keluarganya.


Tringgg.... Tringgg.... Tringgg....


"Halo"


"Marez! apa kamu melupakan perjanjian kita?"


"Tuan! mana mungkin aku berani. Rencana hanya sedikit tertunda, ada orang yang mencuri barang-barang yang tuan kirimjan." Marez memberikan alasan.


"Siapa yang berani mengusik keluarga Foxt di wilayahnya. Apa keluarga Douz yang melakukannya?"


"Bukan tuan, tapi mereka melakukannya dengan bersih hingga tidak ada saksi." Marez menjelaskan.


"Apa kristalnya juga dicuri?"


"Benar, namun hanya paket ketiga sedangkan paket pertama dan kedua berada di tangan kami." Ucap Marez.


"Siap tuan" Ucap Marez. Dia takut dengan orang yang berbicara dengannya. Orang itu jelas memiliki kemampuan untuk meratakan keluarganya dalam semalam. Jadi dia mengikuti apapun perintahnya.


****


Alice sudah tiba di planet misterius, Alice terkejut dan bingung dimana mereka. Tapi Alice tidak takut, sebab dia saat ini bersama dengan Riki.


Riki membawanya berkeliling dan menceritakan tentang hubungan dirinya dan planet misterius ini. Riki membawa Alice ke bongkahan pesawat yang dia ubah menjadi rumah pribadinya. Disana Riki membawa Alice duduk sambil menyaksikan peternakan sapi merah yang saat ini tidak terurus.


"Setelah aku pergi, apa saja yang kamu lakukan?" Tanya Riki yang saat ini sedang memeluk Alice dengan mesra.


Alice melepaskan pelukan Riki dan menatap Riki dengan kesal. "Kamu itu jahat. Kamu tidak memberiku kesempatan sedikitpun untuk menjelaskan. Apa kamu tahu aku mencari kamu selama 1 tahun?" Alice benar-benar kesal mengingat kehidupan sebelumnya.


"Alice, Aku minta maaf. Aku baru sadar saat itu aku orang yang egois." Ucap Riki sambil kembali memeluk Alice. Alice juga sudah memaafkan Riki bagaimanapun dia juga salah karena tidak menjelaskan pada Riki sebelumnya.


"Aku juga sedikit penasaran, Bagaimana tubuh Yin dan Yang bisa ada padamu? Apa kita pernah bertemu lagi sebelumnya?" Tanya Riki.


"Aku sendiri tidak tahu mengenai tubuh Yin dan Yang. Tapi kita memang pernah bertemu lagi." Ucap Alice


"Benarkah? kenapa aku tidak mengingatnya?" Ucap Riki bingung.


"Waktu itu aku melihat pertarungan seseorang dengan salah satu jendral dari dark planet. Setelah pertarungan selesai aku menemukanmu sedang pingsan karena kehabisa energi. Jadi aku membawamu untuk memulihkan energimu." Alice menceritakan.


"Apa yang kamu lakukan untuk memulihkan energiku?" tanya Riki penasaran.


"Em.. itu.." Alice malu dengan wajah memerah. Jika mengingat kejadian itu, dia juga bingung harus menceritakanya dari mana.


"Kenapa? apa ada yang salah?" Tanya Riki


"Aku tidak memiliki pil pemulih saat itu. Tapi aku mengetahui jika aku memiliki tubuh khusus. Jadi aku menyerahkan keperawananku untuk memulihkan energimu. Tapi aku tidak menyangka.." Kata Alice terputus karena Riki.


"Tidak menyangka apa?" Tanya Riki penasaran.


Alice langsung kesal dengan Riki. "Apa kamu tidak mengingat tidakanmu? Kamu yang melakukan itu seperti hewan buas selama 7 hari 7 malam?" Ucap Alice dengan nada tinggi dengan wajah panas memerah.


"Haaaa..., Jad..jadi kejadian itu bukan mimpi?" Riki terkejut. Selama ini dia mengira kejadian itu hanya mimpi karena dia tidak menemukan keberadaan Alice setelahnya. Dia juga berpikir mungkin mimpi itu terjadi karena rasa cintanya.


"Dasar bajjingann mesum..." Alice kesal jika mengingat hal itu. karena bermain dengan Riki selama berhari-hari Alice tertudur selama sehari penuh.


"Lalu kenapa aku tidak menemukan keberadaanmu saat aku pulih?" Tanya Riki.


"Ada jendral dark planet lain yang mencarimu. Kamu masih belum sadar sehingga aku melawannya seorang diri." Jawab Alice.


"Ada di tahap Apa kamu saat itu?" Tanya Riki.


"Saat itu aku berada di tahap diamond body puncak." Ucap Alice.


"Bagaimana kamu bisa mengalahkannya? untuk melawan jendral setidaknya ada di tahap Suci." Riki terkejut Alice melawan jendral untuk melindunginya. Riki menjadi semakin merasa bersalah.


"Aku mengunakan kekuatan Raja naga dan Ratu phoenix yang ada di cincin pertunangan kita." Ucap Alice.


Degg... kata-kata Alice seperti sebuah pukulan keras untuknya. Jika memang begitu, bukankah sama saja dengan bom bunuh diri.


Menyadari ke egoisannya dulu Riki menjadi menyesal karena mencoba menjauhi Alice di kehidupannya yang sekarang. Riki mengeratkan pelukannya dan meminta maaf atas semua tindakannya baik di kehidupan sebelumnya maupun kehidupan saat ini.


Alice menatap matanya dan mengelus wajah Riki. Dia merasa Riki menanggung beban sendirian. Tatapan keduanya bertemu hingga membangkitkan hasrat keduanya. Riki menggendong Alice membawanya kekamar.


Pintu tertutup dan hanya suara-suara kenikmatan yang terdengar keluar. Ruangan tersebut memiliki tingkat kekedapan suara yang tinggi. Namun suara keduanya tertap terdengar walau pun kecil. Setelah seminggu berlalu kamar tersebut menjadi hening. Keduanya terbaring lemah sambil berpelukan dan memejamkan mata.


Keesokan harinya Alice membuka mata, dia menatap sekelilingnya memperhatikan setiap sudut ruangan. Dia menyadari jika dirinya masih masih di kamar tempat dia melakukan kegiatan gila dengan Riki.


Alice mencari Riki namun tidak menemukan keberadaannya. Dia segera memakai selimut untuk menutupi diri. Dan keluar ruangan.


"Pagi sayang, apakah masih ada yang tidak nyaman?" tanya Riki.


Alice sangat malu mengingat kejadian semalam. "Kalau ada yang tidak nyaman itu karena kesalahanmu." kata Alice


Riki hanya menghela napas. "Bukannya saat itu dia yang lebih banyak berinisiatif untuk bergerak dan menyuruhnya bersantai di bawah?" ucap Riki dalam hati.