System, I Don'T Wanna Be Last Human

System, I Don'T Wanna Be Last Human
Pelatihan di planet misterius



"Riki, kemana kamu sembunyikan giok leluhurku?" Moris bertanya karena penasaran.


Buukkk... "Kenapa kamu memukulku?" Moris bertanya pada Nilaz yang memukul kepala Moris.


"Apa kakek mu tidak menjelaskan untuk apa dia memberikan benda itu?" Tanya Nilaz.


"Untuk di berikan pada orang terpilih" Moris berpikir


"Lalu bagaimana kamu menemukannya?" tanya Nilaz. Nilaz memang di suruh menyelidiki Riki untuk memastikan apakah benar dia orang yang di sebutkan dalam ramalan. Sekarang giok itu sendiri yang memilih, artinya sudah jelas jika Rikilah orang yang dimaksud dalam ramalan.


"Kata kakek giok itu akan bereaksi saat dekat dengan orang terpilih itu." Ucap Moris kemudian terdiam lalu menatap Riki. "Bukankah artinya Riki orang yang terpilih itu?" Ucap Moris


"Haaahh... Kenapa aku harus bertemu orang bodoh sepertinya." Ucap Nilaz kemudian pergi.


"Heeii... kenapa kamu pergi begitu saja?" Moris memanggil Nilaz kemudian mengikutinya.


"Guk..gukk.." Sick mengikuti Moris.


Riki menjadi bingung dengan tingkah Moris. Namun dia harus segera kembali fokus. Kemudian menatap semua peserta.


"Baik, lupakan kejadian tadi. Aku akan menjelaskan proses latihan yang akan kalian jalani selama 1 bulan di dunia nyata. Namun disini, kalian akan jalani hari selama 1 tahun. Apa kalian mengerti?" Ucap Riki menjelaskan dengan Tegas.


"Mengerti"


"Kalian semua akan dikirim kebeberapa pulau di sekitar pulau utama. Ada banyak mahluk kuat yang tidak boleh kalian remehkan. Kalian harus bertahan selama 1 bulan. Sebelum kami mulai melatih kalian. Saya akan mengawasi para penyihir. Dan untuk kultivator akan di latih oleh Alice." Ucap Riki


"Saya harap kalian bisa bekerja sama untuk bertahan hidup. Jika ada salah satu diantara kelompok kalian yang mati kami akan segera mengirim kalian kembali. Jika menjaga kelompok kalian saja tidak mampu, bagaimana kalian akan menjaga orang-orang dari serbuan pasukan kegelapan." Ucap Riki.


"Apakah kalian siap?" tanya Riki.


"Kami siap"


Alice menutup matanya kemudian membukanya. Kabut putih menyapu semua orang. Saat kabut mereda, Tidak ada lagi peserta pelatihan di hadapan mereka.


Moris dan Nilaz sedang berdebat. Namun kabut putih menyapu mereka dan saat kabut mereda tiba-tiba mereka berada ditempat yang asing.


"Dimana ini?" Nilaz bingung saat berada di tepi danau.


"Heii..., Apa kamu melihat semua orang?" Moris menyapa Nilaz dan bertanya.


"Gukk.. gukk.." Sick berlari dan melompat ke arah Moris. Moris segera menangkap dan menggendong Sick.


"Sepertinya kita dipindahkan ke tempat asing." ucap Nilaz.


"Lalu, kemana semua orang?" tanya Moris.


"Kamu bertanya padaku, lalu aku harus tanya siapa? apa aku harus bertanya pada anjing milikmu?" Kata Nilaz kesal.


"Kamu bisa kok bertanya padanya. Sick anjing yang pintar, diq mengerti ucapan manusia." Ucap Moris santai.


"Iya, tapi apa kamu pikir aku mengerti bahasa anjing?" Nilaz kesal.


"Itu salah mu, kenapa tidak kursus bahasa anjing." ucap Moris.


"???" Nilaz masih ingin bicara, namun karena merasa percuma Nilaz memilih berbalik kemudian pergi.


"Aku lapar" Nilaz mengeluh. Dia bisa saja kelaut untuk menangkap ikan, Namun dia tidak bisa memasak.


"Apa kamu mau ini?" Moris menawarkan. Dia mengambil beberapa buah-buahan yang dia lihat di hutan.


"Terimakasih" Ucap Nilaz langsung memakannya karena merasa buah tersebut kelihatan nikmat.


Beberapa menit kemudian,keduanya tergeletak tak bergerak. Sick yang melihat keduanya tergeletak berubah besar dan menyeret ke tempat yang aman. Terlihat keduanya menikmati tidur nyenyaknya dengan berpelukan. Sick duduk untuk menjaga keduanya juga menutup keduanya dengan lenganya agar tidak kedinginan.


Ersen dan beberapa orang terlempar di sebuah pulau dan saat ini terkepung oleh ratusan gorila. Gorila-gorila tersebut bisa berbicara. Mereka menantang jika Ersen dan kelmpoknya bisa mengalahka mereka, maka mereka akan mengizinkan mereka untuk menetap di hutan. Jika tidak mereka harus menetap kawasan dekat kolam magma di kaki bukit. Kedua kelompok akhirnya bentrok adu kekuatan.


Naas kelompok Ersen kalah telak dan menjadi bahan hinaan para gorila. Semua anggota gorila melempar mereka semua ke wilayah panas, tidak lupa mereka mengacungkan jempol terbalik. Pemimpin gorila memberi mereka waktu untuk masuk ke hutan untuk mencari makan selama 1 hari dengan syarat mereka harus perwakilan manusia harus menang melawan perwakilan gorila. Dan pertandingan akan diadakan setiap 3 hari.


Beberapa orang terlempar ke pulau dengan gravitasi yang kuat. di sana mereka harus berjuang mencari makan dengan berburu hewan-hewan kecil. Meski begitu, dengan tekanan gravitasi yang kuat sangat sulit menangkap para hewan yang sudah terbiasa dengan habitat seperti itu.


Elsa dan beberapa penyihir terjebak di hutan dengan hewan-hewan yang memiliki kekuatan elemen. Elsa adalah wanita yang cerdas cerdas, jadi dia mengatur kelompok berburu. Mereka akhirnya bisa makan dengan setelah perburuan yang sengit.


"Emm... apakah kamu merasakannya?"


"Benar, sepertinya jika kita memakan hewan dengan elemen sesuai dengan milik kita, kekutan kita meningkat pesat."


"Benar, aku merasakan mana api miliku meningkat saat memakan daging kelinci api ini"


"Iya, aku juga merasa element angin ku meningkat setelaj makan tupai angin ini."


"Kalau begitu, besok kita akan berburu sesuai elemen yang kelompok kita miliki." Ucap Elsa.


Seluruh peserta pelatihan terlempar kebeberapa pulau dengan karakteristik kekuatan mereka. Kakek Elsa dan para penyihir lain berada di pulau yang sama dengan Elsa, hanya saja mereka tersebar di sisi pulau yang berbeda-beda. Pulau yang menjadi surga para penyihir. Pulau itu sangat besar lebih besar dari pulau Kall tempat mereka tinggal sehingga tidak bisa di jelajahi dalam waktu singkat.


Riki dan Alice kembali ke peternakan. Di dalam rumah sudah duduk Karl yang sedang berbincang dengan Mily yang masih ruduk di kursi roda. Karl membawa resep yang diberikan Riki pada Alin. Alin segera membuat Pil memulih raga dan Pil pemulih tulang.


Dengan mengikuti petunjuk Alin, kaki Mily akhirnya bisa kembali normal. Meski begitu dia tetap harus menjalani terapi untuk bisa berjalan normal.


"Kalian bisa bersantai dulu dan memulai pelatihan beberapa bulan lagi." Ucap Riki


"Terimakasih sudah membantu kami." Ucap Karl


"Kalian adalah keluarga ku, tidak mungkin aku membiarkan keluargaku menderita. Aku akan pergi mencari bahan makanan yang cocok untuk terapi kak Mily." Ucap Riki kemudian pergi.


Malam hari, di pulau terpencil dua insan yang sedang terlelap saling menghangatkan. Tanpa mereka sadari bibir keduanya bersentuhan.


Sebuah energi hangat mengalir menuju tubuh wanita yang saat ini menikmati kecupan tersebut. Gelang di lengan wanita itu bersinar kemudian membentuk sebuah susunan huruf. Setelah susunan huruf itu terbentuk energi lain mengalir dari bibir wanita itu kemudian memasuki tubuh pria itu. Energi mengalir menuju jantung, tepat di dada pria itu terbentuk sebuah tato yang terdiri dari susunan huruf.


Pagi hari kemudian, keduanya membuka mata bersamaan dan menyadari jika mereka sedang berpelukan.


"Apa yang sedang kamu lakukan? beraninya kamu mengambil keuntungan dariku." Ucap Nilaz marah.


"Aku juga tidak tahu, aku tiba-tiba tidak sadar setelah memakan buah ini." Ucap Moris mencoba menjelaskan.


"Dasar bajingann... pergi kamu jangan pernah muncul di hadapanku." Nilaz marah dan mencoba menyerang Moris.


Moris segera melarikan diri untuk menyelamatkan hidupnya. Sedangkan Nilaz duduk dengan kesal, lalu tatapannya tertuju pada gelang di tangannya yang telah berubah warna. Perasaannya menjadi cemas, dia segera melihat gelangnya lebih jelas dan tertulis nama Moris Xern.


"Mooorrrriiiiissssss..... kembali kamu???" Nilaz berteriak.