
Kulangkahkan kaki menuju taman kota. Berjalan melintasi lautan manusia yang memiliki kesibukannya masing-masing. Diriku yang kecil ini, hanya sebagian dari remahan rengginang yang ada di kehidupan orang lain.
Duduk di kursi taman, kulirik jam pada ponsel pintar milikku. Jam sembilan tepat, itulah waktu janjian kami berdua saat Kazari mengusulkannya. Lima menit berlalu, terdapat seorang perempuan yang memanggilku koala seraya berjalan melambai-lambaikan tangan kanannya.
Sosoknya terlihat anggun, memang anggun dan memanjakan mata setiap pria yang memperhatikannya. Wujud yang biasanya kusut, kini menjadi sesosok malaikat yang membuatku hampir tidak mengenalinya.
“Maaf, apakah menunggu lama?”
Tanya Senior Kazari dengan napas yang sedikit terengah-engah. Ia mengenakan atasan berupa blouse berwarna putih, sedangkan bagian bawahnya mengenakan rok hitam bergaris putih selutut disertai stocking hitam. Rambut yang selalu kusut, kini rapi dan membuat hatiku tergerak menatap sosoknya.
“Yah ... Senpai telat lima menit.”
“Kejam sekali, seharusnya kau bilang ‘aku juga baru sampai’ seperti itu.”
Kazari mengembungkan pipinya karena merasa kecewa padaku. Ketika aku ingin menyangkalnya, dia semakin membenciku dengan memalingkan muka.
“Mau bagaimana lagi, aku tidak pandai berbohong dan aku juga bukanlah manusia munafik ... mungkin.”
“Tenang saja, aku suka dengan sifatmu itu.”
* * * * *
“Ngomong-ngomong mau ke mana kita?”
“Ikuti saja aku. Anggap saja hari ini Koala adalah penjagaku.”
“Penjaga ... apakah itu pujian?”
“Entahlah, lagipula kau satu-satunya pria yang bisa kuajak bicara santai.”
Perkataannya membuatku senang, mungkin hal itu merupakan masalah sepele. Namun bagi seseorang sepertiku, perkataan itu sudah seperti lembaran kertas kosong yang perlahan-lahan menulis sebuah cerita.
Baru saja kusadari, Kazari menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. Menatapku seraya menunjukkan dua tiket film yang dipegang olehnya. Kulirik lagi tempat sekitar, bukankah ini bioskop?
“Hari ini kita pergi bersenang-senang. Koala, temani aku.”
* * * * *
Duduk dengan santai di kursi bioskop, suasana gelap dan kami berdua menatap layar besar yang memutar sebuah film. Kiseiju, itulah judul film yang kami tonton saat ini. Yah ... film seperti ini hanya membuatku bosan ketika beberapa karakter dimakan oleh para parasit.
“Kya!”
Seolah-olah waktu berhenti. Kazari yang terkejut dan ketakutan, memeluk tangan kananku dengan erat. Dalam hati, aku bahagia dan seperti melayang rasanya. Jika aku tunjukkan ekspresiku saat ini, kemungkinan besar aku akan diperlakukan dengan kejam.
Kulirik wajahnya yang tengah takut akan film yang kami tonton. Wajah takutnya membuat hatiku berdegup tidak karuan, aku ingin membuatnya tenang. Sekali-kali seperti ini ... tidak buruk juga.
* * * * *
“Seru juga, apalagi pas karakter sampingannya dimakan.”
“Begitulah, sekarang mau ke mana kita?”
Tanyaku seraya berjalan di samping kanannya. Di samping jalan raya, Kazari memikirkan langkah selanjutnya. Aku hanya diam memperhatikan dirinya dari samping, apalah aku yang hanya remahan rengginang di kehidupannya.
“Koala, mau ke game center?”
“Game center?”
*Groaaar
Perutku mengaum tanpa melihat kondisi sekitar. Seorang perempuan dewasa yang baru saja melewatiku, terlihat menutupi mulutnya dengan tangan kanan menahan tawa. Ketika kupandang wajah Kazari, ia malah tertawa terbahak-bahak.
“Kalau kau lapar bilang saja. Aku juga lupa untuk makan siang.”
“Maaf, hanya saja perutku terbiasa dengan kondisi lapar.”
Ucapku seraya mengusap-usap perutku yang malang. Tiba-tiba saja, Kazari menarik lengan kiriku dan ia menyuruhku agar mengikutinya. Ketika kutanya kita mau ke mana, ia hanya menanggapinya dengan senyuman kecil namun penuh kebahagiaan.
* * * * *
*Kringg
Kazari langsung saja masuk. Karena itu, aku juga mengikuti apa yang ia lakukan. Pelayan yang ada di restoran keluarga ini telat menyapa kami. Akan tetapi, Kazari melambai-lambaikan tangan kanannya ke arah pelayan tersebut disertai senyuman kecil.
“Apakah dia kenalanmu? Dia terlihat seumuran denganku.”
Tanyaku seraya memilih tempat duduk yang berada di sudut ruangan. Kami berdua duduk berseberangan, Kazari menanggapinya dengan anggukan kepala lalu menunjuk pelayan perempuan yang tadi.
“Dia adalah teman sekelasku. Suzurikawa Sayuki, dia cukup populer sebagai cewek yang ceroboh. Oh! Dia ke sini.”
Kazari melambaikan tangan kanannya seraya menampakkan senyuman kecil. Beberapa langkah kecil terdengar menuju ke meja ini, dari samping kiri datanglah seorang perempuan yang memiliki pekerjaan berupa pelayan.
Seragam pelayan di restoran keluarga ini sederhana. Bagian atasnya mengenakan kemeja putih, sedangkan bagian bawahnya mengenakan rok biru selutut bergaris putih.
Rambut panjang berwarna hitam sedikit keabuan. Jika terkena paparan sinar mentari, warna abunya akan terlihat. Gaya rambut yang bagian belakangnya diikat dan disimpul, bagian ujungnya diikat lagi dengan pita merah.
Kedua tangannya membawa nampan kayu yang membawa dua gelas air bening. Ia meletakkannya di atas meja untuk dua orang, Kazari dan diriku. Dia juga memberiku buku menu makanan, begitu pula dengan Kazari.
“Sayuki, aku pesan yang biasanya.”
Ucap Kazari tanpa menyentuh buku menu yang ada di hadapannya. Sedangkan aku memesan jus lemon dan nasi goreng. Makan enak tidak akan kenyang jika tidak makan nasi. Filosofi yang amat menarik, untukku itu berlaku.
Ucap Kazari, aku harus sopan jika ingin mendapatkan kesan yang bagus. Beranjak dari tempat duduk, kuraih tangan kanan jari-jemarinya yang halus dengan tangan kananku. Kucium punggung tangannya dengan lembut, kedua pandangan kami saling bertemu.
“Kenalkan, namaku adalah—”
Ketika aku hendak mengatakan namaku. Senior Suzurikawa panik dan menarik lengannya dari genggaman tanganku. Ekh? Apakah ada yang salah dengan cara pengenalanku?
Ketika kuperhatikan lagi, memang pipinya merona dan ia terlihat kebingungan dengan tingkahku. Tunggu sebentar, apakah ini memang salahku? Kenapa coba?
“A-aku akan segera kembali.”
Dia pergi begitu saja, Kazari menahan tawanya dengan menutupi mulutnya menggunakan jari-jemarinya yang lembut. Sudah kuduga, apakah ini memang salahku?
“Koala, Sayuki itu gugup ketika ada seorang laki-laki yang dekat dengannya. Bisa dibilang sedikit Androphobia, perkenalanmu yang tadi terlalu agresif. Tapi tak kusangka, kau sampai mencium tangannya.”
“Jadi itu yang membuatnya kebingungan, aku harus lebih agresif lagi padanya.”
“Hei? Kau mendengar perkataanku, kan? Hanya saja sayang sekali.”
Kazari menghela napas, entah dia kecewa atau apa. Karena hal itu mengganggu pikiranku, aku memberanikan diri untuk bertanya kembali dengan sedikit ragu.
“Kenapa sayang?”
“Iya, ada apa sayangku?”
Pada saat Kazari membalikkan pertanyaanku disertai senyuman manisnya. Aku menepuk jidatku ketika menyadari hal ganjil dari perkataannya, sialan. Entah keberapa kalinya aku dipermainkan olehnya.
Kazari tertawa terkekeh setelah melihat reaksiku. Ingin sekali kuberkata kasar, namun kutahan dengan helaan napas yang membuang kebahagiaanku.
* * * * *
Kami berdua menetap sampai sore di restoran keluarga yang dikelola oleh Senior Suzurikawa. Ketika kami pergi meninggalkan tempat ini, suasana sore yang hangat membuatku melupakan masalah walaupun sesaat.
Kazari yang sudah puas bermain di akhir pekan ini. Menyudahinya, namun ia minta diantar sampai ke rumahnya melalui alat transportasi umum berupa kereta. Karena aku luang dan jika Senior Kazari pulang sendirian, itu cukup mengkhawatirkan bagiku.
Berjalan di pinggir jalan bagi pejalan kaki. Melewati pematang sungai, berjalan lurus berupa jembatan gantung di atas aliran sungai. Kazari berjalan di depanku seraya membicarakan topik lain. Sedangkan diriku, menemaninya dan berjalan di belakangnya seraya mendengar semua keluhannya.
Ketika kusadari, Kazari berhenti sejenak di samping jalan dengan kedua tangannya ditempatkan di atas pembatas keselamatan. Ia menatap aliran air sungai yang damai di bawah, aku melakukan hal yang sama di samping kirinya.
“Koala, apakah kau ingat dengan tempat ini?”
Pertanyaan yang membuatku mengingat kejadian masa lalu. Kutatap wajahnya dengan rasa khawatir, kedua matanya memantulkan senja kemerahan melalui aliran air sungai. Aku menghela napas dan mencoba untuk tenang.
“Ya ... ini tempat pertemuanku denganmu. Sekitar setengah bulan yang lalu ... ”
Ketika setengah bulan lalu, entah hari apa. Aku tidak mengingatnya, hari itu turun hujan dan kota ini diselimuti awan hitam. Aku melewati jembatan ini dan tubuhku basah kuyup diguyur hujan.
Ketika sambaran petir terdekat muncul, rasa panikku secara reflek menoleh ke samping kiri. Sesosok perempuan berseragam sekolah yang sama denganku, berdiri di atas pembatas jembatan. Sosok perempuan itu adalah Kazari.
“Hoi!? Apa yang kau lakukan!? Itu bahaya!”
Suaraku tersampaikan, perlahan-lahan ia menoleh ke belakang lalu menunjukkan senyuman kecilnya. Sambaran petir memberi penerangan sekejap, aku terkejut melihat wajahnya yang begitu putus asa.
“Dengarkan aku! Pokoknya jangan lompat, aku akan mendengarkan semua keluhanmu dan penderitaanmu. Karena itu, tetaplah hidup!”
Aku tidak ingin kehilangan lagi untuk kedua kalinya. Perasaanku terkoyak, aku ingin menolongnya meskipun nyawaku taruhannya. Aku akan menolongnya, tidak untuk kegagalan yang pernah kulakukan.
“Maaf, aku ... tidak bisa ... ”
Setelah mengucapkannya, dia menjatuhkan tubuhnya sendiri bagaikan barang yang sudah tidak berguna. Dengan segera disertai putus asa, aku berlari cepat dan kembali menggapai lengan kanannya dengan tangan kananku.
Tangan kiri kugunakan sebagai penahan. Namun tetap saja, air hujan ini membuat genggamanku longgar. Aku mencoba menariknya seraya melihat ke bawah. Pada saat itu, aku melihat keinginan Kazari yang sebenarnya ketika kami saling bertatapan.
“Aku akan menarikmu! Percayalah padaku! Aku tidak menyesali apa yang pernah kulakukan, yang kusesali hanyalah apa yang tidak pernah kulakukan!”
Beri aku kekuatan untuk menyelamatkan orang lain. Beri aku kekuatan meskipun hanya untuk kali ini. Kumohon, biarkan aku menolong dirinya.
Dengan sisa tenaga, aku mengangkat tubuhnya hanya dengan tangan kanan. Meskipun tubuhku sudah dilatih, tetap saja menahan bobot tubuh orang lain disertai hujan yang membuat pakaian basah kuyup akan sulit. Namun persetan dengan semua itu, aku ingin menyelamatkannya.
Jari-jemarinya mulai menggengam erat batas jembatan. Namun sial, keberuntungan tidak berpihak padaku. Kedua kaki yang menahan efek tarikan, terpeleset dan membuatku terlempar melewatinya.
Ketika kusadari, aku terjatuh dan melihat perempuan itu mengulurkan tangannya. Apakah kedua tangan ini sudah menyelamatkan orang lain? Apakah aku akan mati? Tidak, aku tidak akan mati di sini
* * * * *
“Setelah itu, aku menarikmu keluar dari aliran sungai. Untung saja sungai ini cukup dalam, kau bisa bertahan dari semua itu.”
“Terima kasih atas pujiannya.”
Kazari memalingkan wajahnya karena kecewa atas jawabanku. Jika ia marah, ia akan mengembungkan pipinya sampai tingkat tertentu. Namun yang kulihat, dia seperti tupai yang membawa makanan di dalam mulutnya sampai penuh.
“Tetapi, kau tahu ... aku senang. Pada saat itu keadaanku sedang kacau. Tak kusangka kau yang akan muncul dengan wajah yang panik. Karena itu Koala, terima kasih ... atas segalanya.”
Kazari terlihat semakin berwarna dipandanganku. Ya, aku sudah tahu bahwa Kazari menemukan alasan hidupnya kembali. Meskipun begitu, aku senang karena dia mau melanjutkan kembali hidupnya.
Karena semua hal akan indah pada waktunya ...
To Be Continue .....