Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Tiga Pertemuan



Aku terlalu malas untuk beranjak dari tempat tidurku. Lagipula, akhir pekan adalah waktuku untuk istirahat dan bermalas-malasan di kamar. Hanya saja, karena kebiasaanku yang seperti ini membuatku malas.


Dengan terpaksa, aku beranjak dari tempat tidurku. Pergi menuju kamar mandi yang berada di lantai bawah, kondisi rumahku saat ini kosong sehingga aku dapat melakukan banyak hal di rumah.


Untuk akhir pekan sekarang, aku berniat untuk pergi keluar dari rumah karena nolep di akhir pekan membuat bosan saja. Adikku sedang berada di kota sebelah, aku tidak bisa menjaganya karena dia memiliki keunikan yang hanya dimilikinya seorang diri.


   “Hari ini ... dunia tetap seperti film.”


* * * * *


Mengenakan kaos putih polos dan celana pendek selutut, jangan salah kaprah karena bukan kolor. Penampilan biasaku ini membuatku mirip dengan karakter sampingan dalam sebuah cerita, bodo amatlah.


Menjelang siang hari, berjalan di trotoar pinggir jalan seraya memikirkan tujuan tempat yang akan dituju. Mengecek ponselku, Sakaguchi dan Kifune mengirim pesan padaku bahwa akhir pekan ini mereka berdua mempunyai urusan. Dua teman kelasku memang bisa diandalkan, sedangkan Senke masih molor sampai siang hari.


   “Bosan ... apakah tidak ada kejadian menarik ... ”


Gumamku seraya berjalan menuju jalan yang mengarah ke perpustakaan umum yang berada di kota. Mungkin saja, aku dapat menemukan ketenangan batin di tempat tenang yang dipenuhi buku tersebut. Orang barbar sepertiku cukup tidak pantas, namun apa daya otak tidak memadai kelakuan diri sendiri.


Sungguh beruntung, aku terdiam menatap sosok Kakak kelas yang sedang jalan-jalan sendirian mengenakan seragam sekolah. Kazari Amagase, sosok Kakak kelas dan Ketua Klub Sastra yang memiliki pesona dan kharisma.


Ketika kupanggil dari kejauhan, kusadari bahwa Kazari tengah mendengarkan musik dengan earphone yang terpasang di kedua telinganya. Pantas saja, mau sekeras apapun suaraku tidak akan sampai kepadanya.


Berjalan menghampirinya, aku membiarkan Kazari terfokus pada layar smartphone miliknya terlebih dahulu. Setelah itu, aku berjalan di samping kirinya dengan dua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.


Butuh waktu sepuluh detik agar Kazari menyadari keberadaanku yang ada di samping kirinya. Ia menoleh ke arahku, kutatap balik dirinya dan kami tertawa kecil karena ini adalah kebetulan semata. Tidak pernah kupikirkan bahwa tujuan kami sama yaitu menuju perpustakaan.



Kazari melepas earphone yang terpasang di sepasang telinganya. Ia memasukkan smartphone miliknya ke dalam kantong yang dibawa olehnya. Kenapa aku tidak menawarkan diri untuk membawakan tasnya? Aku penganut gender sama rata, peduli amat sama laki-laki yang harus gentle.


   “Ada urusan apa Tuan Panda yang songong ketika bermain dodge ball dan terpeleset dengan pantat yang mendarat terlebih dahuku?”


   “Bisakah kau lupakan itu? Karena kejadian itu, aku dikenal dengan Panda pantat terbelah. Kazari senpai, apakah di akhir pekan ini kau tidak punya acara satu pun?”


   “Tidak ada, lagipula tidak ada yang mengajakku main. Biasanya kuhabiskan waktu dengan cara pergi menuju sekolah atau pun perpustakaan. Ngomong-ngomong ... kenapa kau bisa ada di sini?”


   “Kulihat kau dari kejauhan, mungkin kita bisa pergi menuju suatu tempat yang ingin kau tuju. Aku akan mengikutimu.”


   “Terima kasih Koala.”


Kami berdua pergi menuju perpustakaan umum di kota ini. Jalan-jalan bersama Kakak kelas cukup menyenangkan, meski aku tahu bahwa keadaannya saat ini cukup menarik.


   “Kazari Senpai, bagaimana dengan telingamu. Apakah masih terasa?"


   “Tidak apa, baru-baru ini mulai berkurang. Terima kasih Koala karena mengkhawatirkanku.”


Jawabnya, kami berdua berjalan dengan santai seraya menikmati angin sepoi-sepoi menyegarkan. Tidak ada pembicaraan di antara kami berdua, tidak bisa kutemukan topik pembicaraan yang ringan.


Ketika kami menuju tempat penyeberangan jalan raya. Pada saat itu juga, terdapat seorang perempuan yang berdiri di seberang. Perempuan tersebut adalah Asuhara Kifune yang mengenakan seragam sekolah, aku mulai bingung karena sebelumnya dia mengirim pesan karena memiliki urusan yang lain.


Kupanggil dirinya dengan suara yang lantang. Memang memalukan tetapi bodo amat, meski Kazari menginjak kakiku yang mengenakan sepatu agar tidak mempermalukan diri sendiri. Namun dengan itu, Kifune menyadari kehadiranku dan dirinya menunggu kedatangan kami.


Rambu lalu lintas berganti warna yang sebelumnya merah menjadi hijau. Kami berdua berjalan menghampirinya, berhenti sejenak di depan Kifune.


   “Koala, aku akan pergi menuju perpustakaan umum.”


Ucap Kazari setelah melihat kami berdua. Ia melangkahkan kaki menjauhi kami berdua, entah kenapa aku mulai mengerti dengan situasinya.


   “Tenang saja Kazari senpai, meski kau cemburu aku akan tetap memperhatikanmu.”


Kugoda sedikit dirinya, Kazari kembali menginjak kaki kiriku dan terasa sedikit sakit. Dirinya pergi meninggalkan kami berdua seraya meninggalkan ekspresi cemberut, Kazari yang tidak jujur terlihat imut ketika ia salah tingkah.


   “Kifune, apakah urusanmu sudah selesai?”


Tanyaku, dirinya mulai menggores coretan pada catatan kecil yang dibawa olehnya ke mana pun dia pergi. Menunjukkan catatannya padaku, tulisannya cukup amburadul namun masih terbaca. Urusannya sudah selesai, ia berniat pulang seraya mampir ke beberapa tempat.


   “Kifune, kakimu terasa sakit?”


Tanyaku, dirinya menggelengkan kepala dua kali seraya terbingungkan akan pertanyaan dariku. Sungguh sangat imut, aku tidak bisa memalingkan pandanganku darinya.


   “Bisa dong kita jalan, kita mau ke mana?”


Tidak boleh, bagaimana jika ada teman sekelas yang melihat kita berdua jalan-jalan bersama? Itulah yang ia tulis pada catatan kecilnya. Menghela napas sejenak, aku mulai menikmati kejahilan ini.


   “Biar saja, mungkin mereka akan membuat gosip tentang kita berdua yang pacaran. Aku sudah terbiasa dengan tatapan laknat para murid pemakan gosip, baku hantam lalu masalah selesai.”


Ucapku seraya menatap wajahnya lalu perlahan-lahan ke dadanya karena aku tidak bisa berpaling begitu saja. Aku tidak akan membohongi diriku, jujur adalah utama sehingga aku akan jujur dengan apa yang kukatakan.


   “Aku ingin, mengenalmu lebih dekat lagi.”


*Plak


Dan akhirnya, aku mendapatkan tamparan dari seorang murid pindahan yang salah paham hanya dengan kejahilanku ini. Sesekali, bukankah ini mewarnai kehidupan sehari-hari yang hambar?


Laki-laki mesum itu bukankah wajar? Karena jika mereka tidak mesum, tidak akan ada laki-laki yang mau dengan seorang perempuan. Lantas, kenapa perempuan menyukai boys love? Itu adalah selera masing-masing, aku tidak akan mencampuri hobi dan selera mereka.


Karena, setiap dari mereka memiliki hak untuk menerima dan menolak. Jika kita memaksakan kehendak tanpa ada keinginan diri sendiri, bukankah itu akan membuat perasaan tidak nyaman? Layaknya kuliah tidak niat lalu menjadi sarjana, tetapi setelah jadi sarjana malah menjadi pengangguran.


Jawabannya hanya satu, pilihan sudah ada di depan mata namun tidak diperhatikan dengan baik. Maka, apa yang sudah dijalani dengan jalan yang salah akan sulit diperbaiki. Jalan pikiran sinetron tidak akan semanis dengan realita, yang ada hanyalah realitas yang tidak akan sesuai dengan harapan.


* * * * *


Matahari sudah berada di atas kepalaku. Karena panas cukup menyengat dan membuat malas, aku berniat pulang ke rumah setelah membeli beberapa buah segar dari toko swalayan dengan para pedagang yang menyebutku Panda.


Berjalan melewati taman kota, kulihat seorang perempuan mengenakan pakaian kasual berupa gaun putih dengan bagian roknya berenda sampai lutut terlihat digoda oleh tiga orang laki-laki kurang kerjaan. Untuk kali ini, aku ingin terlibat dengan perempuan yang kini sedang digoda oleh tiga laki-laki tersebut.


   “Suzurikawa senpai, ini akan sedikit merepotkan.”


Berlari sekuat tenaga ke arahnya, berhenti di antara tengah-tengah tiga orang dan Suzurikawa. Mengerahkan kedua tanganku dengan tangan kanan yang membawa kantong plastik, kutatap balik tajam dengan aura permusuhan.


   “Cewek ini milikku, apakah ada masalah?”


Ma-malu sekali, maafkan aku Ayah Ibu karena sudah membuat kalian berdua malu. Bertindak sok keren dengan kaos dan celana pendek yang terlihat seperti pemuda kurang kerjaan. Namun, niatku untuk melibatkan diri dengan masalah ini karena tatapan Suzurikawa sudah semangat empat lima ingin baku hantam saja.


Karena itu, aku bertindak seperti ini agar tidak terjadi masalah antara tiga orang ini dengan Suzurikawa. Jika terjadi, maka kemungkinan besar mereka akan dihajar habis-habisan oleh Suzurikawa.


   “Enyahlah.”


Malu sekali, namun dengan satu kata yang kuucapkan itu membuat mereka pergi seraya meninggalkan kesan yang cukup membuatku berdebar-debar. Gawat, aku menyukai situasi seperti ini.


Karena masalah selesai, menurunkan kedua tanganku lalu berbalik badan. Terlihat Suzurikawa menundukkan wajahnya sehingga tidak dapat kulihat, perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya disertai pipi merona kemerahan lalu memalingkan wajahnya karena tidak ingin menatapku.


   “Te-terima kasih karena telah menyelamatkanku.”


Tidak kusangka, aku mendapatkan ucapan terima kasih dari seorang senior cantik dan membuat hati pria kepincut. Meski niatku menyelamatkan tiga laki-laki tadi dari masalah yang akan pecah, akhir seperti ini tidaklah buruk.


   “Jika ada masalah datanglah kepadaku. Aku akan setia menunggu Suzurikawa senpai. Karena itu, bisakah kita bertukar nomor telepon? Ini kulakukan agar kita bisa saling menghubungi. Ah! Aku tidak bermaksud yang aneh-aneh kok.”


Ya, ini adalah efek jembatan gantung dan efek sok keren yang dapat dimanfaatkan. Mau tidak mau, Suzurikawa pastinya akan menganggap hal tersebut sebagai balasan dari perbuatanku. Dalam beberapa detik, kudapatkan nomor telepon Suzurikawa dengan mudah.


   “Suzurikawa senpai, apakah kau punya acara kencan dengan seseorang?”


Tanyaku seraya memasukkan ponselku ke dalam saku celana sebelah kiri. Karena tangan kananku sibuk membawa kantong plastik berisi beberapa makanan.


   “Ti-tidak ada, aku hanya berniat jalan-jalan saja. Namun tiga orang tadi mencegahku, lalu Kanari datang.”


   “Begitu ya, ngomong-ngomong ... boleh kulihat telapak tangan kananmu?”


Tanyaku seraya menunjukkan senyum kecil agar tidak terlalu mencurigakan. Perlahan-lahan, Suzurikawa mengangkat tangan kanannya lalu memperlihatkan telapak tangannya yang halus. Meski aku tahu dirinya Androphobia, akan mubazir jika Suzurikawa jalan-jalan seorang diri.


Langsung saja kuraih tangan kanannya menggunakan tangan kiriku lalu menggenggamnya. Berjalan cukup cepat agar langkah kaki kami berdua menjadi selaras. Aku sudah siap jika dihajar habis-habisan, perlahan-lahan menoleh ke belakang dan kutatap wajahnya yang imut karena malu-malu.


Tidak kusangka, Androphobia yang dimilikinya tidak berefek padaku. Tetapi, apakah dia memang mempunyai penyakit mental Androphobia? Bodo amatlah, bukan urusanku.


   “Untuk balasannya, bisakah kita kencan?”


To Be Continue ...


illustrasi Kazari