
Di pagi hari yang damai, aku sibuk menyalin tugas kimia yang belum dikumpulkan kemarin. Aku lupa, lagipula untuk mengerjakannya juga mustahil. Maka cara tercepat adalah mencari jasa contek, hanya mentraktir minuman maka nilai akan ada di kondisi aman sampai nikmat.
“Koala, ada yang memanggilmu.”
Ucap Sakaguchi seraya memegang pundakku. Tangan kananku berhenti bergerak menggores buku catatan, aku menoleh ke samping kanan belakang. Sosok Senior yang kulihat adalah Suzurikawa Sayuki, dia terlihat gugup ketika murid laki-laki melewatinya.
“Kukang, tolong tulis sisanya.”
“Siap Masbro!”
Aku pergi dari tempat dudukku, kubiarkan Sakaguchi menyalin sisa tugasku yang belum kelar. Menghampiri Suzurikawa yang memanggilku, kutemui dirinya di dekat lorong seraya memandang ke bawah melalui jendela terbuka.
“Ada urusan apa Suzurikawa Senpai denganku?”
Tanyaku seraya menoleh ke samping kiri, para murid laki-laki di kelasku mulai mengintip karena penasaran. Seorang laki-laki tidak guna yang hanya menyalin tugas, kini berbicara dengan Senior cantik pujaan jomblo yang hebat dalam kemampuan judo.
Aku cukup tidak nyaman dengan kebencian mereka yang tertuju padaku. Namun aku menikmati memanasi mereka, bukankah itu imbang? Laki-laki tidak populer sepertiku, hanya cocok sebagai karakter sampingan.
“Kanari, aku minta maaf karena tiba-tiba saja lari tanpa meminta maaf.”
“Bagaimana lagi, Suzurikawa Senpai menderita Androphobia.”
Ucapanku membuat Suzurikawa terlihat cukup terkejut. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi terlihat malu ketika ingin mengungkapkannya. Aku tersenyum kecil, memberinya semangat dari remahan rengginang sepertiku.
“Ekh? A-aku bukannya menderita Androphobia. Hanya saja ... aku—”
“Woi! Pak Gorilla masuk!”
Teriakan dari murid laki-laki di kelasku membuat perhatianku teralihkan. Pak Gorilla adalah guru dari pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga. Mempunyai prinsip hidup ketat, jika terlambat masuk kelas sama saja kena imbasnya.
“Maaf Senpai, aku harus pergi.”
Ucapku seraya berjalan melewatinya, hembusan angin melalui jendela yang terbuka membuat keajaiban. Suzurikawa menahan pergerakanku dengan cara memegang seragam sekolahku. Aku menoleh ke belakang perlahan-lahan, Suzurikawa menunjukkan wajah yang merah padam diselimuti rasa gugup yang menghantui.
“Tu-tunggu Senpai!? Bukankah kau takut laki-laki!?”
Aku heboh sendiri, bisa saja aku dihajar kembali. Segera menyingkirkan tangan kanannya yang memegang seragamku, kusadari bahwa tindakanku cukup kasar apalagi kepada seorang perempuan.
“Maaf Suzurikawa Senpai, apakah kau terluka?”
Tanyaku, namun reaksinya cukup memuaskan. Suzurikawa mulai salah tingkah, ia berlari begitu saja meninggalkanku. Entah kenapa, aku menyukai Senior yang malu-malu seperti Suzurikawa.
“Pelajaran pertama adalah kelas penjas. Aku harus segera bersiap-siap.”
* * * * *
Seperti biasa, para murid laki-laki mengganti seragam mereka di kelas. Sedangkan perempuan di ruangan khusus, aku tidak ada niatan untuk mengintip mereka. Satu hal dariku, tidak ada yang namanya ladies first bagiku.
Aku menganggap gender itu sama rata, bodo amat yang menyebutku kurang gentle. Memangnya jika bertahan hidup di alam liar, kita harus mendahulukan perempuan? Karena itu, aku tidak akan menerima yang namanya ladies first.
Lihatlah di film, di setiap adegan ketakutan pastinya laki-laki atau pun perempuan akan lari terbirit-birit. Sama halnya di dunia, tidak ada yang pasti dengan mendahulukan yang menurutnya wajib. Jika mati, habislah sudah.
“Woi! Kata Gorilla, kita akan bertanding melawan kelas dua dalam dodge ball. Yang ikut pasti Panda, tolong ya.”
Ucap Ketua Kelas yang baru saja mengganti seragamnya. Kutanggapi ucapannya dengan memberikannya jempol, dodge ball adalah olahraga kesukaanku. Gerakan lincah di setiap aksi, membuat perasaanku menggebu-gebu.
Karena itu, aku hanya akan keren di pelajaran olahraga. Untuk pelajaran lainnya akan lemes, aku mah gitu orangnya. Lagipula, tuntutan memahami segala pelajaran yang diajarkan membuatku muak.
Setiap manusia mempunyai kemampuan nalar yang berbeda. Kucontohkan pembelajaran tidak berguna yang membuat sengsara.
Terdapat kera, ikan dalam bejana, rusa, dan buaya. Jika mereka disuruh untuk memanjat pohon, pastinya kera yang unggul. Karena itu, dimohon para guru agar sedikit mengkondisikan setiap pembelajaran pendidikan yang disalurkan kepada para murid. Mereka mendapatkan pembelajaran yang sama, namun penalaran akan berbeda jika kemampuan otak disamaratakan.
“Oh ... lapar ... ”
* * * * *
Kami berangkat menuju gedung serbaguna. Kelas dua sudah menunggu kedatangan kelas kami. Yah ... ini membuatku cukup bersemangat, karena kelas kami akan melawan kelas Kazari dan Suzurikawa.
Dodge ball ini mempunyai peraturan yang dimainkan lima orang. Ketua Kelas dan aku berada dibagian sayap, sedangkan tiga lainnya laki-laki yang pandai olahraga. Untuk kelas dua, lima laki-laki yang pandai dalam bidang olahraga dan terdapat dua orang atlet voli.
Empat orang timku mempercayakan mobilitas kepadaku, aku tidak ingin kalah karena menang dan kalah bukanlah hal yang biasa. Andaikan kita membeli lotre, hadiah utama kita dapat seratus juta dan orang yang baru saja beli lotre tidak mendapatkan hadiah. Jika seperti itu, menang dan kalah akan ada harganya jika diukur melalui perasaan masing-masing yang dimiliki.
*Bukk
Ayolah, kenapa kalian tidak ada yang memanggil namaku dengan nama asli. Kelas dua mulai kebingungan dengan murid yang bernama panda, namun Kazari dan Suzurikawa terlihat menyemangatiku.
Sepertinya, aku harus menunjukkan sisi kerenku. Lemparan musuh kutangkap setelah mengincarku dengan lemparan kuat. Sebelum melempar kembali bola, aku melakukan flip ke depan dengan tangan kiri menahan beban ketika memutar badan.
Penjagaan mereka langsung kendor setelah melempar bola yang mengarah padaku. Dengan segera, kulempar bola menggunakan tangan kanan sekuat tenaga. Orang yang ada di hadapanku setelah melempar bola terkena lemparanku dan kepalanya kena hingga ia terpental.
“Panda!”
Panggil Ketua Kelas, terdapat bola yang melayang ke arahku. Lemparan musuh diposisi tengah mengarah padaku, kutahan laju lemparan tersebut menggunakan bola yang digenggam kuat menggunakan tangan kanan. Yang lain mulai mengincarku karena aku terlihat berbahaya.
Satu bola melayang ke arahku, kulempar dengan arah yang sama. Sehingga, dua bola tersebut kembali memantul dan posisi yang ada di tengah langsung melancarkan lemparan kuat ke musuh. Dengan seperti itu, mobilitas yang disebutkan adalah menghalau serangan musuh hingga aku dapat bertahan seraya membantu tim.
Kelas dua tersisa dua orang, sedangkan kami tersisa empat orang. Berniat untuk melakukan lemparan setelah menghindari lemparan bola yang kuat. Sialnya, lantai sedikit licin hingga aku terpeleset dengan pantat yang mendarat terlebih dahulu.
Sakit memang, namun rasa malu melebihi rasa sakit. Aku berguling-guling di tengah lapangan, malu sekali setelah melakukan gerakan yang terlihat keren. Namun ujungnya malah aku yang kena, aku benci momen ini.
Sialnya lagi, Kazari dan Suzurikawa yang menonton pertandingan ini malah tertawa kecil setelah melihat aksi kocak yang kulakukan. Membuat orang lain tertawa memang baik, namun bukan ini yang kuinginkan.
“Sakit njer.”
* * * * *
Sekolah ditinggalkan oleh para murid. Berlalu lalang para manusia yang berjalan di lorong sekolah. Aku terbangun, menatap ke luar jendela dan pantatku masih sedikit sakit.
Beranjak dari tempat dudukku, mengambil tas milikku lalu segera pergi dari kelas kosong. Berjalan santai menelusuri lorong, menuju lantai dasar dan mampir terlebih dahulu di vending machine.
Membeli satu kopi kalengan rasa moca, meskipun aku haus namun masalah terbesarnya adalah perutku sudah mengaum. Berbalik badan, kulihat Senior Suzurikawa sedang duduk di kursi memanjang di pinggiran jalan kecil menatap kebun bunga kecil.
Teringat dengan minuman yang selalu dibelinya. Membeli kopi kalengan rasa capuccino lalu berjalan menghampirinya. Kupanggil namanya dari samping kiri, memperlihatkan kopi kalengan yang dipegang pada kedua tanganku.
“Bolehkah aku duduk di sampingmu?”
Tanyaku, Suzurikawa menoleh ke arahku lalu menganggukkan kepala pertanda ia memperbolehkanku duduk di sampingnya. Karena dia terlalu dengan di bagian samping kiri, aku malas untuk berjalan ke sebelah samping.
“Suzurikawa Senpai, bisa geser sedikit? Soalnya cantikmu kelewatan.”
Ucapanku membuat wajahnya merah padam. Dia mengangkat tangan kanannya seraya dikepalkan, berniat untuk memukulku. Tetapi, niatnya diurungkan lalu menggeser ke sebelah kanan dan ia menghela napas.
“Ada apa? Kau terlihat lesu?”
Tanyaku setelah duduk seraya memberikan kopi kalengan rasa cappucino yang kubeli tadi. Suzurikawa menerimanya menggunakan kedua tangannya, ia membuka penutupnya lalu meminumnya perlahan-lahan.
“Kanari, kenapa kau bisa tahu dengan minuman yang kusukai?”
“Aku ini junior yang memperhatikan Suzurikawa Senpai, bukankah mengagumi diam-diam seorang Kakak kelas adalah motivasi tersendiri.”
“Sudah kuduga, kau ini berbeda dengan laki-laki yang lainnya. Aku memujimu.”
“Tidak perlu, laki-laki yang menganut persamaan gender sepertiku hanya akan membuat perempuan terpuruk.”
“Tidak kusangka, bukankah kau orang yang perhatian kepada perempuan?”
“Masalah ini dan masalah itu berbeda. Bukankah Suzurikawa Senpai diam di tempat seperti ini karena ada masalah?”
Tanyaku lalu dilanjutkan dengan menengguk kopi kalengan. Suzurikawa terdiam mendengar pertanyaanku, apa yang kutanyakan sangatlah tepat dan tidak akan meleset. Karena apa? Aku memperhatikan dirinya sesuai kondisi dan situasi perasaan yang dialami orang lain.
Boleh dikatakan sebagai orang yang perhatian, namun aku cukup tidak peka dengan hal percintaan. Ini kebutuhanku, karena dengan ini aku bisa akrab dengan perempuan yang kukenal.
“Kanari, jika kau kehilangan tujuan hidupmu. Untuk setelahnya, apa yang akan kau lakukan?”
Tanya Suzurikawa dengan pertanyaan yang memiliki bobot, aku menghela napas sebentar sebelum menjawab pertanyaan darinya.
“Aku tidak memiliki tujuan hidup. Tetapi, kehilangan tujuan hidup berarti kehilangan harapan. Kau tidak boleh putus asa karena tujuan dan harapan akan selalu bergandengan. Jika Suzurikawa Senpai terpuruk, aku akan menjadi pendengar setia untukmu.”
Setelah mengatakannya, aku menengguk habis kopi kalengan dan rasa manis akan pahit membuatku menikmati kenyataan hidup. Menoleh ke samping kanan, kulihat Suzurikawa memandangi kopi kalengan yang digenggam menggunakan kedua tangannya.
Ada satu hal yang membuatku bingung. Suzurikawa tersenyum manis disertai dengan pipi merona kemerahan. Tunggu ... apakah aku salah mengatakan sesuatu? Bodo amat dah.
To Be Continue ....