
“Tu-tunggu! Ki-kita mau ke mana?”
“Love hotel.”
“Tu-tunggu!? Kau serius!?”
Setelah aku menarik lengannya lalu berjalan menuju taman. Kini kami berdua istirahat sebentar lalu duduk di kursi taman kayu yang memanjang. Tidak kusangka, sedari tadi aku tidak merasakan bahaya dari Suzurikawa yang akan memukulku.
Entah kenapa, dia seperti orang yang berbeda dan tidak seperti biasanya. Terutama, saat ini Suzurikawa mengenakan pakaian kasual berupa gaun putih dengan rok berenda selutut. Momen langka seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, aku sungguh terkesan.
“Aku tidak tahu tujuanmu, tetapi ... ini kulakukan untuk membayar hutangku padamu.”
Ucap Suzurikawa yang duduk di sebelah kanan. Aku tidak bisa membalas perkataannya, saking panasnya menyengat membuatku malas melakukan percakapan.
“Suzurikawa senpai, tunggulah di sini. Aku beli beberapa minuman dulu.”
Ucapku seraya beranjak dari tempat dudukku. Suzurikawa menganggukkan kepala lalu mempersilahkanku. Menoleh ke samping kiri, terdapat vending machine yang tidak terlalu jauh dariku. Kuhampiri dengan berjalan santai seraya berjalan di bawah bayangan dahan pohon.
Sesampainya, segera memasukkan beberapa koin sesuai harga dari minuman yang akan kubeli. Vending machine ini dilengkapi dengan pendingin, membeli dua kopi kalengan rasa cappucino yang disukai Suzurikawa.
Setelah selesai, segera kembali menuju tempat Suzurikawa yang tengah duduk termenung. Kupanggil namanya, ia menoleh ke arahku lalu menunjukkan senyuman kecilnya.
Gawat, jangan-jangan aku memasuki zona nyaman Suzurikawa hingga hubungan antara senior dan junior bisa menjadi tingkat lebih tinggi. Ya, yang kumaksud adalah hubungan senior dan junior menjadi pacar.
Meski begitu, aku bukanlah orang berengsek yang seenak jidatnya mempermainkan hati seorang perempuan. Meski melakukan gombal yang membuat mereka salah tingkah, kelakuanku ini hanya agar perempuan yang kukenal lebih akrab dan menganggapku sebagai pemberi harapan palsu.
Ya, aku tidak apa diperlakukan seperti itu. Tetapi, mereka akan menganggap diri kita sebagai orang yang menarik dan perhatian dan sesekali tidak bisa dipercaya. Yakinlah, karena apa yang kita lakukan sesuai dengan apa yang kita inginkan.
“Suzurikawa senpai, ini.”
Ucapku seraya memberinya satu kopi kalengan rasa cappucino. Dia cukup terkejut karena kopi kalengan yang kubeli dingin, aku meminta maaf jika ia tidak suka. Tetapi ... ia memaafkanku seraya menatap kopi kalengan yang dipegang menggunakan kedua tangannya. Saat ini juga, jiwa jombloku langsung bereaksi.
Duduk di samping kirinya, kami berdua membuka penutup kalengnya lalu meminumnya. Kopi dingin memang nikmat diminum ketika siang hari. Rasa kopi cappucino yang jarang kuminum, kini aku tahu rasa yang disukai Suzurikawa akan rasa manis tersembunyi rasa pahit.
“Baiklah, kita pergi ke love hotel.”
Ucapku ketika Suzurikawa meminum kopi kalengan. Ia tersedak karena pernyataan dariku yang tiba-tiba. Aku meminta maaf seraya mengusap-usap punggungnya.
“Kau tidak apa?”
“Ya, Kanari ... kenapa kau selalu menggoda perempuan? Kau seperti play boy.”
“Hanya satu, membahagiakan perempuan lalu menghilangkan kesedihannya. Tujuan yang ironis, mungkin Suzurikawa senpai menganggapku laki-laki berengsek.”
Ucapku seraya merendahkan diriku sendiri dan duduk termenung. Menoleh ke samping kanan, Suzurikawa menunjukkan reaksi yang terbalik. Ia terlihat tertarik dengan apa yang kukatakan, terlihat dari tatapan matanya yang tertuju langsung padaku.
“Kanari berbeda dengan yang lainnya. Kau selalu baik kepada perempuan, bertindak keren, lalu membuat orang lain tertawa. Aku pikir, Kanari lebih hebat dari apa yang kau bayangkan. Jarang sekali ada orang yang sepertimu.”
Woah, tidak kukira dia akan secara gamblang membicarakanku yang jika secara singkat bisa dikatakan seorang play boy. Menghirup napas sebentar lalu menyimpan kopi kalengan di samping kiri. Pandangan kami berdua saling bertemu lalu aku memegang tangan kanannya menggunakan kedua tanganku.
”Terima kasih Senpai, karena telah percaya kepada orang yang sepertiku ini.”
Ucapan dan tingkahku ini mungkin membuatku dihajar habis-habisan. Namun, Suzurikawa menunjukkan wajah yang kebingungan disertai pipi merona kemerahan. Melepaskan tangannya, meraih kopi kalengan yang ada di sampingku lalu meminumnya perlahan-lahan.
“Benar juga, Suzurikawa senpai, apakah hari ini kamu libur? Sepertinya kerja sambilanmu cukup melelahkan. Apakah kau makan dengan teratur?”
“Tentu saja aku makan dengan teratur, aku menyukai pekerjaanku. Sejak kita berdua bertemu di restoran keluarga itu. Dirimu yang bersama Amagase, aku cukup gugup karena kukira kau pacar dari Amagase.”
“Tidak mungkin aku menjadi pacar Kazari senpai. Aku akan cukup tersiksa, meski dia memang cantik dan mempunyai banyak fans. Lagipula, aku yang akrab dengannya hanya karena insiden kecil. Setelah itu, aku menjadi pengemis makanan untuk mengganjal perut ketika istirahat dimulai.”
“Sepertinya, masalah antara kita berdua cukup menyusahkan.”
“Kau benar, kita lanjutkan kencan kita.”
Beranjak dari tempat duduk, mengulurkan tangan kananku seraya menunjukkan senyuman kecilku. Perlahan-lahan, Suzurikawa menunjukkan senyuman kecilnya untuk membalas senyumanku. Ia meraih tangan kananku, kutarik dirinya lalu melanjutkan kencan yang tidak pernah direncanakan ini.
Tujuanku saat ini adalah pergi bersenang-senang bersama Suzurikawa. Karena siang hari ini panas cukup menyengat, kami berdua setuju pergi menuju akuarium besar.
Kami berdua pergi menuju stasiun kereta. Suasana dalam kereta cukup sepi, karena akhir pekan seperti ini pastinya orang-orang menghabiskan waktu di rumah maupun di luar. Berbeda ketika suasana di pagi hari, mau tidak mau berdesakan dengan orang lain yang membuat pengap semata.
Sesampainya menuju akuarium besar, membeli dua tiket untukku dan Suzurikawa. Aku mentraktirnya, lagipula uang yang kubawa saat ini cukup banyak dan tidak pernah terpikirkan olehku akan kesulitan ekonomi. Tahu-tahu, ada beberapa bekas pencuri, pencopet, dan preman yang memberiku uang setelah mereka tobat.
Suasana dingin di dalam area akuarium besar ini membuatku tenang, begitu pula dengan Suzurikawa. Dirinya menikmatinya seraya melihat beberapa ikan yang belum pernah ia lihat, melihatnya bahagia dan melupakan kesedihannya untuk sementara waktu cukup memuaskan.
“Kanari, lihat! Itu kura-kura! Ada kura-kura! Ah!? Ikan itu cantik sekali!”
Suzurikawa terlihat senang sekali. Aku hanya menanggapi setiap ucapannya dengan senyuman kecil. Ia menarik lenganku, kami berdua pergi menuju pertunjukan lumba-lumba yang akan digelar.
Duduk di tengah-tengah, jika terlalu depan pastinya kecipratan air. Karena Suzurikawa tidak menyadarinya, kupilih tempat yang ada di tengah sebagai tempat aman agar dapat melanjutkan acara kencan ini. Jika bajunya basah, itu akan cukup merepotkan.
Cukup menyenangkan melihat atraksi wisata ini. Lumba-lumba itu terlatih, namun membuatku sedih karena mereka tidak bebas di lautan lepas. Dua puluh menit kemudian, kami berdua pergi dari tempat ini lalu berjalan di lorong yang cukup gelap.
“Suzurikawa senpai, aku lapar. Bisakah kita makan siang terlebih dahulu?”
“Benar juga, aku lupa karena baru pertama kali ini ... aku dapat bermain sepenuh hati.”
Ketika dia mengucapkannya seraya menunjukkan senyuman kecilnya. Memalingkan wajahku, aku tidak bisa menatap wajahnya yang imut dan cantik. Untungnya Suzurikawa tidak curiga kepadaku, dirinya kebingungan karena aku tiba-tiba memalingkan wajah karena malu.
*Briggs
Seorang anak kecil laki-laki rambut cepak dengan umurnya sekitar tujuh tahun menabrakku dari belakang. Kulihat tangannya yang memegang es krim, namun es krimnya hilang entah ke mana. Rasa dingin terasa di pantatku, kampret sekali es krim tersebut menempel di celanaku.
Berbalik badan, menatapnya dengan tajam dan ia mulai ketakutan hampir menangis. Mengangkat tangan kananku, menampolnya cukup pelan dan ia mulai menangis.
Melakukan ceramah kecil seraya menghentikan tangisannya. Memberinya uang satu lembar yang memiliki nominal harga tinggi. Aku menyuruhnya untuk menghabiskan uang yang kuberikan, jika tidak akan kutampol kembali.
Untungnya, Ibu dari anak tersebut baru datang seraya menghampiri kami berdua dari belakang.
“Ibu, aku diberi uang oleh Kakak yang sangar ini.”
Ucap anak kecil tersebut lalu menunjukkan uang yang kuberikan. Sontak saja, sang Ibu terkejut akan nominal uang yang kuberikan. Ia meminta maaf karena merepotkanku, aku menolak permintaan maafnya karena di sini tidak ada yang salah.
Ibu dan anak kecil itu pergi. Aku menghela napas cukup panjang, berbalik badan lalu Suzurikawa memperhatikanku dengan seksama.
“Kanari, kau ini orang baik atau jahat?”
“Kedua-duanya, kita pergi dari sini.”
* * * * *
Kami pergi menuju restoran keluarga terdekat di daerah ini sekalian membersihkan noda es krim yang menempel di celanaku. Lagipula, setelah ini kami berniat pulang dengan menggunakan kereta yang sebelumnya.
Makan siang bersama dengan senior cukup menyenangkan. Aku yang traktir, karena uang yang kubawa tidak habis-habis namun malah bertambah. Menghabiskan minuman jus apel yang kupesan, Suzurikawa pamit sebentar untuk pergi ke toilet.
Meletakkan kembali gelas yang kupegang. Menatap ke samping kiri yang merupakan jalan raya, di trotoar terdapat dua orang yang kukenal tengah berjalan seraya membicarakan sesuatu. Tatapan mataku semakin melebar, aku sungguh terkejut dan otakku mulai bingung akan kenyataan.
Mau bagaimana lagi, dua orang yang kulihat adalah Kazari dan Suzurikawa yang mengenakan seragam sekolah. Dengan segera, beranjak dari tempat duduk lalu keluar dari restoran keluarga ini. Mengejar dua senior, kupanggil mereka berdua hingga berhenti menunggu kedatanganku.
“Koala? Apa yang kau lakukan di sini?”
Tanya Kazari ketika aku mengambil napas karena sesak berlari ke tempat mereka berdua. Aku menatap wajah Suzurikawa, ia mulai bingung dan terlihat jelas dari wajahnya.
“Suzurikawa senpai, kukira kau ada di toilet.”
“Toilet? Tunggu sebentar, sejak tadi siang aku bersama Amagase. Memangnya ada apa?”
Pertanyaan dari Suzurikawa membuatku semakin kebingungan. Meraih ponsel pintar milikku, menelepon Suzurikawa yang sebelumnya mengenakan pakaian kasual berupa gaun putih berenda.
Teleponku diangkat, namun Suzurikawa yang ada di depanku terdiam tanpa memegang ponselnya. Suara Suzurikawa sangat jelas terdengar di telingaku, namun ini semakin aneh.
“Lalu ... Suzurikawa senpai yang bersama denganku sejak tadi ... siapa?”
To Be Continue .....
Illustrasi Suzurikawa