Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Aing Kocheng



Pagi hari yang damai. Pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Menikmati kesegaran pagi yang hakiki, tidak terasa waktu berlalu hingga akan berganti musim.


Untuk berjaga-jaga, kugunakan kemampuanku berupa Synesthesia Petals. Dunia langsung berubah warna menjadi hitam putih, namun perasaan orang lain dapat dilihat olehku dengan bentuk kelopak bunga berwarna.


Berdiri di pinggiran jalan, menunggu lampu lalu lintas berwarna merah yang akan berganti menjadi hijau. Di perempatan ini tidak ada yang terjadi apapun, mendengarkan percakapan dua orang pria dewasa tentang pekerjaannya dan itu tidak membuatku tertarik sama sekali.


   “Aku mungkin akan meminta dipindah tugaskan, tempat kerjaku terlalu ketat.”


   “Kau yakin? Mencari tempat lain serta membiasakan diri itu sulit. Tapi jika ada yang bisa kubantu, hubungi saja aku.”


Ketika aku menguap, aku melihat kelopak bunga berwarna hitam yang menyelimuti salah satu pria dewasa tersebut. Tidak salah lagi, kelopak bunga itu pertanda kematian. Ketika aku sedang mencari penyebabnya, terdapat truk yang melintas cepat dan mobil yang akan melintas ditabrak.


Sehingga, truk itu yang kehilangan kendali melaju ke arah kami.


Dengan cepat kuhampiri orang yang diselimuti kelopak bunga berwarna hitam tersebut. Mendekatkan mulutku ke telinganya, membisikkan beberapa kata yang dapat menghancurkan kelopak bunga hitam tersebut.


   “Kau tidak akan pindah tugas.”


Dengan sekejap mata, haluan mobil truk tersebut langsung mengarah ke samping dan membuat kami yang berada di pinggiran jalan ini terhindar. Kecelakaan sekejap mata yang mendadak pastinya terdapat penyebab.


Kekuatan ini sungguh hebat, tapi aku jarang menggunakan kekuatan ini karena kelopak bunga hitam jarang muncul. Ketika semua orang disibukkan melihat-lihat mobil truk yang terguling, dengan santainya aku berjalan melewati zebra cross.


   “Lapar ... ”


* * * * *


   “Masbro, kau dengar kecelakaan tadi pagi? Truk yang terguling karena menabrak mobil kecil yang akan melintas.”


   “Oh ... aku juga ada di sana.”


Kataku setelah menelan daging dari nasi kotak yang dibeli sebelumnya ketika pergi ke sekolah. Sakaguchi terdiam sebentar, ia melihat situs web pada ponselnya lalu terdiam ketika membaca berita tadi pagi di mana ada foto diriku yang sedang melintasi jalan di belakang truk terguling.


   “Kukang, apakah ada hal aneh yang lain ketika kau mengalami fenomena supranatural? Itu loh ketika kau bisa mengetahui apa yang dimakan sebelumnya oleh seseorang.”


   “Tidak ada, tapi aku masih merinding ketika kau dapat menebak pelaku yang memakan daging manusia.”


Sakaguchi terlihat enek ketika mengingat kejadian ketika peristiwa yang menimpa Suzurikawa. Karena merasa kenyang, aku tiduran sebentar di bangku milikku sebelum memasuki waktu jam pelajaran pertama.


Perlahan-lahan memejamkan mataku, mengatur napas hingga membuat tubuhku lemas tidak berdaya. Setelah cukup lama, aku kembali bangun dan menemukan kejanggalan yang baru saja kusadari.


Melihat ke sekelilingku, semua orang diam tanpa ada yang bergerak sama sekali. Aku mencoba untuk memanggil Sakaguchi yang ada di belakangku, namun dia duduk terdiam dengan pandangan lurus ke depan.


Setelah kuperhatikan kembali, aku menyadari bahwa waktu telah berhenti tanpa ada yang menyadari. Dengan dunia yang masih berwarna hitam putih, perasaan para murid yang ada di kelas ini masih memiliki bentuk kelopak bunga yang bergerak di sekeliling tubuh mereka masing-masing.


Baru kali ini aku mengalami waktu yang berhenti. Ini bukanlah fenomena supranatural yang disebabkan oleh Kamine. Besar kemungkinan orang lain, karena itu akan kucari penyebabnya.


Sungguh aneh karena aku masih dapat bergerak di waktu yang berhenti ini. Ketika itu aku mencoba untuk tidur, dengan kata lain kesadaranku ketika proses tidur menghalangi proses fenomena supranatural yang memberhentikan waktu.


Ini seperti Dio melawan Jotaro Kujo, memberhentikan waktu adalah hukum di luar nalar.


Berlari menuju kelas sebelah yang terdapat Senke dan Kamine. Dua orang tersebut diam, Kamine tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Berlari menuju lantai atas, kelas tiga yang di mana terdapat Kazari dan Suzurikawa terdiam ketika mendengar pengumuman dari seorang guru.


Ketika aku kebingungan, secara tidak sadar aku melewati sebuah cermin yang terpasang di lorong yang aku lewati. Aku terdiam melihat pantulan bayanganku sendiri, sekeliling tubuhku terdapat kelopak bunga berwarna hitam.


Dengan kata lain, kematian menghampiriku tanpa aku sadari. Ketika terpaku, suara langkah kaki dari berbagai tempat terdengar. Waktu kembali berjalan, namun kelopak bunga berwarna hitam masih mengelilingiku.


* * * * *


Di taman sekolah siang hari ...


   “Kamine, apakah tadi pagi kau merasa waktu berhenti sebentar?”


   “Waktu berhenti? Apa maksudmu? Aku tidak merasakan apapun.”


Kamine mengelus-elus kepalaku, tangannya terasa lembut ketika ia perlahan-lahan mengelusku. Waktu istirahat seperti ini, aku menghabiskan waktu untuk mencari petunjuk mengenai waktu yang berhenti tadi pagi.


   “Ngomong-ngomong Kamine, kenapa fenomena supranaturalmu kembali terjadi?”


   “Aku tidak tahu, lagipula dengan bentukmu saat ini sangatlah lucu.”


Kamine yang duduk di atas kursi roda, sedangkan aku tengah duduk di atas pangkuannya. Kami berdua saling berpandangan mata, menemukan petunjuk mengenai fenomena ini cukup sulit.


Ngomong-ngomong, Kamine memiliki gejala fenomena supranatural yang dapat mengubah orang lain menjadi kucing. Dan saat ini, wujudku berupa kucing dengan rambut yang berwarna oren dan putih pada keseluruhannya.


   “Sudah lama wujudku tidak berubah menjadi seekor kucing. Ketika pertama kali bertemu denganmu, aku kebingungan karena wujudku berubah.”


   “Hehehe ... pada saat itu aku terkejut karena dapat mendengar seekor kucing yang dapat berbicara. Tetapi Tuan Panda, apakah kau benar-benar dapat bergerak di waktu yang berhenti?”


   “Selamat siang, apa yang kau lakukan di sini sendirian?”


Seseorang bertanya kepada Kamine yang terdengar di belakangnya. Kamine menjawab panggilannya, dua orang datang yang merupakan seniorku yaitu Kazari dan Suzurikawa.


   “Oh? Ada apa dengan kucing oren itu?”


Tanya Kazari seraya melihatku yang kini sedang berwujud kucing. Meskipun aku sudah menjelaskannya, Kazari hanya mendengar suara mengeongku dan hanya Kamine yang mengerti akan ucapanku.


Suzurikawa berjongkok di hadapan Kamine, ia melihatku dengan tatapan yang merasa diriku ini menggemaskan.


   “Bukankah dia terlihat manis.”


Perlahan-lahan Suzurikawa mengulurkan tangan kanannya kepadaku. Biasanya kucing lain langsung menggigitnya, namun aku mengelus-eluskan wajahku ke jari-jemarinya yang terasa lembut.


Ketika melihat wajah Suzurikawa untuk melihat reaksinya. Dia terdiam dengan tatapan kosong yang terlihat kaget seketika seumur hidup.


   “I-ini keajaiban, baru kali ini ada kucing yang tidak menggigitku.”


   “Anzeng! Manusia macam apa yang selalu digigit kucing!”


Meskipun aku mengatakannya dengan suara yang lantang, apa yang mereka dengarkan hanya kucing yang mengeong meskipun Kamine tertawa kecil karena mengerti dengan perkataanku.


Suzurikawa meraih tubuhku, perlahan-lahan ia memelukku dan memendamkan diriku ke dadanya. Inilah salah satu kenikmatan menjadi kucing, tapi ini berbahaya bagi batinku.


   “Kamine, cari Informasi mengenai waktu yang berhenti. Kazari-senpai dan Suzurikawa-senpai merupakan dua orang yang pernah mengalami gejala fenomena supranatural.”


Jelasku sambil meronta-ronta dari pelukan Suzurikawa.


Sebelumnya, Suzurikawa yang terbagi menjadi dua individu adalah salah satu sifat yang tidak ia terima. Setelah melihatnya menerima sifat tersebut, dia lebih terbuka untuk menyukai sesuatu yang imut meskipun dia sangat kuat karena seorang atlet Judo.


Setelah Kamine menjelaskan segala situasinya serta fenomena supranatural yang ia alami. Suzurikawa terdiam seraya menundukkan kepala dengan pipi yang merona kemerahan, ia baru saja sadar telah memeluk diriku meskipun sedang berada di wujud kucing.


   “Jadi kucing oren ini adalah Koala. Mengenai waktu yang berhenti, biasanya meliputi dua faktor lagi. Dalam sejarah, terdapat unsur waktu, ruang, dan tempat. Jika disatukan, berarti menjurus pada peristiwa atau kenangan.”


Setelah Kazari menjelaskannya, aku dapat mengerti beberapa hal. Namun masih belum dapat dipastikan, aku melompat ke bawah dari atas pangkuan Kamine.


Seluruh tubuhku menghasilkan asap kemudian menyebar dengan ledakan kecil. Wujudku kembali seperti semula, perlahan-lahan aku mencoba untuk berdiri dan membiasakan tubuhku yang baru saja berubah wujud.


   “Ajaib.”


Ucap Kazari dan Suzurikawa secara bersamaan. Aku berterima kasih kepada mereka berdua, terutama Suzurikawa karena telah memelukku di pelukan dadanya.


* * * * *


Sore hari, berjalan di bawah senja menuju rumahku. Mengambil jalan memutar, untuk jemuran nanti saja diangkatnya. Jalan ini tidak jauh menuju rumahku, karena hanya memutar sebuah taman yang cukup tersembunyi.


Ketika menelusuri jalan tersebut, aku teringat dengan taman ini yang di mana ketika aku kecil sering bermain di taman ini. Kazari berkata bahwa fenomena supranatural ini berkaitan dengan waktu, ruang dan tempat.


Kenangan adalah hal yang dominan, tapi bagaimana jika ...


Ketika aku hampir mendapatkan jawabannya, pandanganku teralihkan oleh sesosok perempuan yang mengenakan seragam sekolahku. Jika diperhatikan lagi, dia adalah Kifune yang merupakan teman sekelasku.


Karena dia terlihat memikirkan sesuatu apalagi di sekelilingnya terdapat kelopak bunga berwarna kuning yang mengartikan bahwa dirinya tengah bimbang dan mengkhawatirkan sesuatu. Aku menghampirinya yang tengah duduk di ayunan gantung. Dengan niat menghiburnya, waktu interaksi antara diriku dan Kifune cukup sedikit karena hanya di sekolah saja.


   “Apa yang kau lakukan di sini? Putus cinta?”


Tanyaku seraya menghampirinya dari samping kanan. Kifune menoleh ke arahku, ia tersenyum lalu mulai menuliskan sesuatu pada buku catatan kecilnya.


Ia menunjukkannya padaku, Kifune hanya ingin menghabiskan sedikit waktunya seraya mengingat-ingat masa lalunya. Aku tahu, Kifune dan aku pernah bertemu di taman ini. Hanya saja ... Kifune tidak ingat dengan kejadian tersebut.


   “Jika kau punya masalah, ceritakan saja padaku sampai kau puas.”


Ucapanku dibalas dengan senyumannya, aku duduk di ayunan yang satunya lagi seraya menunggu Kifune menyelesaikan tulisannya. Setelah selesai, ia menunjukkannya padaku dan tulisannya cukup panjang hingga memakan beberapa lembar kertas.


Aku kebingungan, ingatanku samar-samar dan aku ingin tahu apa yang terjadi dengan masa laluku. Keluargaku khawatir karena aku terus memikirkan hal tersebut, hanya saja mencari jawabannya sangat sulit. Panda, jika ingatanmu samar-samar dan itu mengenai hal penting. Apakah kau ingin dapat mengingatnya lagi?


Setelah membacanya, aku mulai mengerti dengan masalah yang dialaminya. Aku memberikannya sebuah jawaban yang pendek, padat, dan tidak jelas. Tergantung, hanya itu.


Karena waktu semakin lama semakin larut, aku mengantar Kifune untuk pulang ke rumahnya di distrik pasar swalayan. Lagipula aku juga berniat untuk membeli beberapa barang.


Namun aku belum menyadari, kematianku lebih cepat datang.


To Be Continue ....