
Kami berdua pergi menuju rumahku berada setelah belanja bersama untuk makan malam. Suzurikawa senpai menerima tawaran dariku berupa menginap di rumahku. Berjalan di samping kirinya, beberapa kali Suzurikawa menggosok-gosokkan telapak tangannya agar tangan yang mulai dingin terasa hangat.
“Kanari, apakah aku boleh menginap di rumahmu? Bagaimana jika orang tuamu bertanya-tanya tentang hal ini.”
“Tenang saja, kedua orang tuaku berada di negara sebelah. Yang kutahu, mereka berdua bekerja di suatu Ibukota yang bernama Jakarta.”
“Begitu ya ... berarti hanya ada kita berdua di rumahmu?”
“Ada empat, aku, kau dan kedua kucingku. Asal kau tahu saja. Aku juga seorang pria, waspadalah jika aku menyerangmu dalam artian lain.”
“Hehehe ... tenang saja, aku tahu kau tidak akan melakukan hal tersebut. Karena selama ini ... kau tidak pernah menyerang perempuan yang dekat denganmu. Contohnya si Ketua Klub Sastra itu, kau dikenal sebagai pengemis makanan.”
“Kazari senpai ya ... untuk kali ini sepertinya aku kalah.”
* * * * *
Jika kugambarkan dengan jelas rumahku saat ini, terdapat barang-barang antik yang ditinggalkan orang tuaku. Mereka berdua memiliki hobi yang menarik, setiap dua bulan terdapat kiriman barang dari Jakarta dan tidak lain adalah ulah kedua orang tuaku.
Langsung saja, mengambil kotatsu yang berada di ruang penyimpanan barang-barang kiriman dari Jakarta. Di antara barang-barang tersebut, kuambil kotatsu yang pernah kubeli memakai uang penjualan dari kiriman kedua orang tuaku.
Aku adalah anak yang jahat, menjual barang yang dikirimkan oleh orang tuaku merupakan dosa tersendiri bagiku. Lagipula, barang-barang yang kujual tidak terpakai sama sekali olehku.
Setelah menempatkan kotatsu di ruangan tengah, Suzurikawa melihat-lihat koleksi barang antik dan beberapa foto ketika aku masih kecil bersama keluargaku yang terpampang jelas di dinding mau pun di dalam lemari.
“Entah kenapa ... aku merasa kasihan kepada kedua orang tuamu, mereka pastinya terkejut akan perubahan yang signifikan ini. Dari anak yang sebelumnya polos, kini menjadi berandalan pengemis makanan.”
“Begitukah? Aku memang berniat untuk mengejutkan mereka.”
Jawaban dariku membuat Suzurikawa menunjukkan ekspresi yang kecut. Karena beberapa kali ia bergidik kedinginan, aku menyuruhnya untuk masuk ke dalam kotatsu yang telah disiapkan agar suhu tubuhnya tetap hangat.
“Kau tidak masuk?”
Tanya Suzurikawa dengan posisi bagian bawah badannya memasuki kotatsu yang hangat. Kutanggapi pertanyaannya dengan gelengan kepala, aku menyuruhnya untuk tetap diam dan tidak bergerak selangkah pun dari kotatsu tersebut.
Berjalan menuju pintu yang menyambung ke lorong rumah, dua kucing langsung memasuki ruangan tengah ini lalu mengelus-eluskan kepalanya ke kedua kakiku. Ucapan selamat datang kepada tuan mereka, hal ini merupakan perwujudan dari rasa terima kasih mereka berdua.
Kuberi makan dengan pakan kucing yang tersimpan di lemari, dua mangkuk terisi setengah dengan tujuan agar dua kucingku tidak mengalami kegendutan. Berjongkok di dekat mereka berdua yang sedang makan, mengelus-elus kepala mereka dengan kedua tanganku.
“Aku sungguh tidak mengerti, kenapa orang baik sepertimu menjadi berandalan?”
Pertanyaan dari Suzurikawa membuat kedua tanganku terhenti dan jawabannya langsung muncul di dalam pikiranku. Berdiri lalu berbalik badan menatap sosok dirinya yang tengah duduk dengan kepala menindih kedua tangannya di letakkan di atas meja kotatsu.
“Seharusnya jiwa berandalan ini hilang setelah aku memasuki SMA. Namun tidak demikian, aku sudah seperti siswa biasa namun jiwa berandalan tersebut masih membekas.”
“Begitukah. Dari pada itu, tolong ambilkan buku yang ada di rumah ini. Aku bosan mendengar tentangmu.”
Sialan, perempuan ini benar-benar membuatku kesal. Meredam amarahku dengan mengatur napas adalah hal yang biasa kulakukan, aku segera mengambil buku kepunyaan Ayahku. Kuberikan buku tersebut padanya, Suzurikawa menerima buku yang kuberikan lalu menunjukkan senyum kecilnya padaku.
“Akan kubuat menu makan malam sederhana, Suzurikawa senpai nikmati saja waktumu dalam membaca buku tersebut.”
Ketika aku berniat pergi dari ruangan tengah menuju dapur, langkah kakiku terhenti karena Suzurikawa menarik sebagian celana panjangku. Lagipula aku masih belum mengganti seragam sekolahku sama sekali.
“Temani aku sebentar, biar aku saja yang memasak makan malam.”
Karena ucapan darinya, kuturuti permintaan darinya lalu duduk di samping kirinya dengan tubuh bagian bawah kotatsu yang menghangatkan badanku. Jika seperti ini, aku tidak punya tenaga untuk pergi dari kenikmatan yang hakiki ini.
“Tidak kusangka, kau memiliki buku The Moon Over The Mountain karya Nakajima Atsushi. Selera bacaanmu menarik.”
“Jangan salah sangka, itu hanya koleksi dari Ayahku. Dia juga memaksaku untuk membaca karya-karya dari Dazai Osamu serta Akutagawa Ryunosuke.”
Setelah kusangkal perkataannya, Suzurikawa menyuruhku agar lebih mendekat kepadanya. Karena ia memperbolehkannya, aku merubah posisi dudukku lalu mendekat kepadanya. Ia menyuruhku untuk memegang bagian kiri sisi buku, maka kami berdua membaca buku tersebut bersama-sama.
Setelah tiga menit berlalu dengan keheningan. Suasana sunyi ini membuatku merasa gugup, begitu juga dengan Suzurikawa. Lagipula, buku yang kami berdua pegang cukup bergetar yang disebabkan oleh Suzurikawa.
“Kanari, bolehkah aku bertanya yang menyangkut masalah pribadi.”
“Katakan saja, akan kujawab.”
“Baiklah, Kanari ... apakah kau memiliki seorang pacar?”
Pertanyaan darinya membuatku terdiam, tangan kiriku melepas buku yang kupegang. Sebelum menjawab pertanyaan dari Suzurikawa, kulakukan pernapasan kecil agar tenang terlebih dahulu seraya memikirkan satu orang yang membuatku seperti sekarang ini.
“Ada satu orang yang kusukai dan aku kagumi, aku tidak bisa menganggapnya pacar karena dia tidak menganggapnya seperti itu. Meski begitu, aku tidak akan melupakan dirinya. Ngomong-ngomong, dia juga salah satu orang yang mengalami fenomena supranatural.”
Setelah Suzurikawa mendengar penjelasan dariku, ia menutup buku yang kami baca. Ia kembali bertanya tentang sosok perempuan yang aku sukai dan kukagumi.
“Perempuan itu satu angkatan denganku. Sejak dimulainya sekolah, ia tidak pernah berangkat. Untungnya ia sekelas dengan Senke yang merupakan salah satu temanku.”
“Begitu ya, jika seperti itu maka aku tidak akan bertanya lebih lanjut lagi.”
Setelah ia mengucapkannya, Suzurikawa menunjukkan senyuman kecilnya lalu beranjak dari kotatsu. Ia menyuruhku untuk memandunya menuju dapur, maka kulaksanakan perintahnya karena perutku juga sudah demo minta makan.
* * * * *
Kami berdua tidur di ruangan yang berbeda, Suzurikawa tidur di kasur milikku sedangkan aku sebagai tuan rumah tidur di ruangan tengah. Tidur di bawah kotatsu memang nikmat, sesekali memanjakan diri sendiri memang butuh.
Untuk sekarang, aku sudah mengetahui alasan kenapa Suzurikawa mengalami fenomena supranatural. Malam ini tidak perlu begadang, masih ada beberapa tugas sekolah yang belum kusalin dari jasa contek.
* * * * *
Pagi hari yang damai, terbangun oleh suara dering ponsel milikku. Alarm yang sudah diatur segera kumatikan, beranjak dari kotatsu lalu pergi menuju kamarku. Hanya saja, Suzurikawa sudah tidak ada lagi di rumah ini dan ia meninggalkan catatan kecil di atas kasur.
Aku tidak masalah jika dia mau tinggal di rumahku hingga fenomena supranatural yang membuat dirinya terbelah menjadi dua individu terselesaikan. Yang aku khawatirkan adalah Suzurikawa Sayuki yang bermalam di rumahku pastinya berkeliaran, dia tidak dapat kembali ke rumahnya karena Suzurikawa Sayuki yang lain menempatinya.
Langsung saja, aku segera mandi di pagi hari lalu membuat sarapanku sendiri. Sisa makanan semalam masih tersisa berupa ayam goreng buatan Suzurikawa, aku mengakui keahlian memasaknya melebihiku.
Sarapan sambil menonton acara televisi membuatku melupakan masa-masa kesempitan meskipun aku harus pergi ke sekolah. Acara televisi yang kulihat merupakan berita di mana penduduk kota ini yang berkelamin perempuan hilang, sudah kedua kalinya terjadi namun pihak polisi masih belum menemukan bukti jelas.
“Sepertinya masalah yang serius.”
* * * * *
Berangkat ke sekolah menggunakan sepeda, memasuki ruang kelas seraya menguap lalu Sakaguchi yang duduk di bangkunya menyapaku seraya meminum susu kotak.
“Biar aku tebak Masbro, sarapanmu tadi pastinya ayam goreng sisa semalam.”
Ucap Sakaguchi setelah melewati dirinya lalu aku duduk di bangku milikku.
“Bujangan sepertimu hebat juga bisa menebaknya, bagaimana kau bisa tahu?”
Tanyaku seraya memposisikan posisi dudukku menghadap ke belakang. Sakaguchi terlihat senang karena aku terlihat penasaran di matanya. Ia menyuruhku untuk mendekatkan telingaku, kulakukan perintahnya lalu ia mulai membisikkan sesuatu.
“Aku bisa menebak makanan yang dimakan oleh seseorang sebelumnya. Jika ada orang yang melewatiku, maka dipikiranku langsung muncul menu makanan yang dimakan oleh orang yang melewatiku.”
Setelah penjelasan singkat darinya. Tidak salah lagi, Sakaguchi mengalami fenomena supranatural berupa jenis intuisi yang mendalam. Karena hal tersebut, aku ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang fenomena supranatural yang ia alami.
“Sejak kapan kau bisa melakukannya?”
“Jika tidak salah setelah hari pertama sekolah.”
Setelah berbisik-bisik, menjauhinya lalu berpikir sebentar tentang penyebab fenomena supranatural yang terjadi kepada Sakaguchi. Satu hal yang pasti, hari pertama sekolah di mana lingkungan baru dan orang-orang yang baru.
Dirinya merasa kesepian dan ingin mengetahui lebih dalam tentang orang lain agar dapat berteman. Karena penyebab gejala fisiologis tersebut, maka fenomena supranatural berupa intuisi mendalam dapat dikuasai oleh Sakaguchi.
Sebelum jam pelajaran pertama dimulai, aku segera memfokuskan jasa contek yang belum kuselesaikan sepenuhnya.
* * * * *
Bel sekolah berbunyi setelah beberapa jam pelajaran terlewati, waktunya untuk makan siang. Sakaguchi mengajakku untuk makan siang di kantin sekolah, kuajak Kifune namun ia menolak ajakan dariku karena dirinya membawa bekal makan siang.
Kami berdua bergegas menuju kantin sekolah yang ramai dikunjungi oleh para murid. Sakaguchi memesan beberapa roti, sedangkan aku memesan semangkuk mie cukup pedas. Kami berdua sepakat dalam memilih tempat yang ada di tengah kantin, namun ...
*Brugg *Prang
“Panas njeng!”
Tidak kusengaja, salah satu murid laki-laki yang pernah memukuliku bersama dua temannya tersiram kuah panas yang kutumpahkan. Karena terlanjur, aku merasa kasihan kepada bibi kantin yang sudah membuat mie tersebut demi diriku berupa remahan rengginang ini.
Laki-laki tersebut langsung beranjak dari tempat duduknya seraya melepas seragam sekolahnya. Menarik kerah seragamku menggunakan tangan kiri, ia mengangkat tangan kanannya lalu mengepal dengan tenaga yang terkumpul.
*Brakkk
Beberapa laki-laki yang tengah menikmati makan siangnya langsung beranjak dari tempat duduknya. Mereka langsung menatap tajam ke arah kami berdua serta dua temannya yang kebingungan karena ditatap setidaknya oleh dua belas orang laki-laki.
“A-ada apa!? Apakah kalian menantangku!?”
Tanya dirinya dengan emosi yang diluapkan kepada orang yang tidak bersalah. Peristiwa tidak terduga seperti ini jarang terjadi, terpenting aku tidak ingin memasuki ruang BP.
“Kalem, kalian tidak perlu membantuku. Nikmati saja makan siang kalian.”
Perintah dariku yang ditujukan kepada dua belas laki-laki tersebut dipahami. Mereka kembali duduk lalu melanjutkan makan siang mereka. Alasan mereka menatap tajam ke arah kami karena aku adalah si Panda Pasar Swalayan, sedangkan dua belas orang tadi adalah beberapa anak dari pemilik toko yang ada di pasar swalayan tersebut.
Mereka bersedia membantuku karena aku pernah membantu setiap keluarga mereka yang kesulitan dalam hal perdagangan dan ekonomi. Karena itu, sosok Panda Pasar Swalayan hanya diketahui oleh orang-orang yang ada di pasar swalayan tersebut.
Karena itu, anak-anak yang menjadi bawahanku tidak lain adalah mereka yang Ketuanya adalah Paman Macho. Sedangkan aku bergerak di balik bayangan, sungguh ironis yaitu Panda yang menjadi Robin Hood.
“Bisa kau lepaskan aku? Untuk sekarang lebih baik berdamai. Aku tidak ingin berurusan dengan kalian lagi apalagi tentang Kazari senpai. Satu gerakan tanganku akan membuatmu babak belur, mau coba?”
Pada akhir kataku diakhiri dengan senyuman licik ditambah ancaman. Ia juga tahu bahwa ancaman dariku tidak diragukan lagi, ia melepaskan tangan kirinya dari kerah seragamku lalu pergi bersama dengan dua temannya yang membawa seragam miliknya tersirami kuah mie.
Ketika aku menoleh ke belakang, Sakaguchi mundur cukup jauh dariku karena ia juga sadar agar tidak terlibat masalah. Tidak ada murid yang melaporkan kejadian ini, maka aku tidak perlu menindaklanjuti.
Mengambil smartphone yang ada di saku celana sebelah kananku. Memanggil Paman Macho yang kemungkinan besar dia berada di toko jus buah miliknya di pasar swalayan. Tidak cukup lama, panggilan dariku akhirnya tersambung.
“Paman Macho, bisakah kau selidiki beberapa hal.”
“Tentang apa itu? Akan kusanggupi jika memang mudah.”
“Baiklah, cari informasi tentang kasus dua perempuan hilang yang terjadi di kota ini. Ada hal yang janggal pada kasus tersebut, Paman Macho bisa mencarinya?”
“Baiklah, namun jangan terlalu berharap banyak kepadaku.”
“Terima kasih, akan kuselidiki sisanya. Kutunggu kabar baiknya.”
Setelah itu, kututup panggilan yang kulakukan lalu menghela napas cukup panjang. Sakaguchi menghampiriku lalu ia membagi roti yang ia beli kepadaku.
“Kukang, kau akan berguna suatu saat nanti.”
“Ekh? Apa maksudnya?”
To Be Continue .....