
“Ganti parfum sudah. Persiapan sudah, berangkat.”
Mengayuh sepeda dengan santai menuju sekolah yang cukup jauh. Karena waktu masuk masih sedikit lama, aku memutuskan untuk bersantai hari ini. Melewati jalan kemarin, di mana terjadinya penindasan terhadap Sakaguchi.
“Masbro! Tunggu sebentar Masbro!”
Suara yang tidak terasa asing bagiku. Sosok itu mengendarai sepeda di sampingku dengan napas yang terengah-engah kecapean mengejarku. Sakaguchi Shira, itulah nama dari laki-laki yang bersepeda di samping kananku.
“Pagi Masbro!”
“Pagi, semangat sekali kau hari ini.”
“Tentu saja!”
Pembicaraan santai terjadi. Membahas topik yang ringan tanpa menyinggung apapun dan perbedaan. Ketika menempuh jarak yang sudah jauh dari letak rumah, terdapat Senke yang tengah makan roti di sisi jalan sebelah kiri. Aku memanggil namanya, ia bereaksi dengan cepat setelah mendengar suaraku.
Kini, kami bertiga menggunakan sepeda menuju sekolah dengan suatu kebetulan. Entah itu sengaja atau tidak disengaja, yakini saja dan jalani apa yang ada di depan mata.
“Masbro, wangimu hari ini berbeda. Seperti wangi bunga azalea.”
“Oh ... aku menggantinya karena katamu kemarin, bauku seperti seorang jomblo.”
“Kau serius menanggapinya? Padahal aku hanya bercanda.”
*Brakk
Aku menendang bagian belakang sepedanya hingga keseimbangannya tidak stabil. Setelah diperlakukan seperti itu, siapa yang tidak marah setelah disebut dengan jomblo. Sakaguchi meminta maaf kepadaku, aku maafkan namun tingkah yang seperti itu tidak boleh dilakukan kembali.
“Hei, namaku Senke Fukuhara. Jika tidak salah namamu ... Kukang?”
Tanya Senke disertai senyuman kecil tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Sakaguchi terkejut karena ada orang lain yang tahu dengan panggilan barunya yaitu Kukang.
“Masbro!? Rumor apa yang kau sebar dengan namaku!?
Sakaguchi membentakku karena panggilan Kukang menyebar. Kemarin sepulang sekolah, aku bertemu Senke dan tidak sengaja menyebut Sakaguchi dengan Kukang.
“Sudahlah ... kita ha—”
*Teng-teng
Ketika aku berniat untuk mengakhiri perkataanku. Suara bel yang tidak asing terdengar olehku. Suara bel sekolah yang suaranya nyaring, tersampaikan ke telinga kami bertiga.
Menguatkan otot kaki, mengayuh sepeda dengan lebih cepat dan kuat. Mengejar waktu tanpa memikirkan hal lain selain masuk sekolah tanpa terlambat. Dua orang yang ada di kedua sisiku, mengikuti cara yang kulakukan agar lebih cepat sampai ke sekolah.
Dari kejauhan, seorang satpam laki-laki tegas dengan usia kepala tiga perlahan-lahan mendorong gerbang besi sekolah. Kami bertiga semakin cepat mengayuh sepeda dan memasuki gerbang detik-detik terakhir. Satpam itu melongo melihat kami bertiga yang kini menuju ke parkiran.
Sudah tidak ada waktu lagi. Kami segera pergi menuju kelas yang ada di lantai dua gedung lama. Langkah kaki yang berisik pada lorong yang kosong, membuat perhatian para murid yang sudah masuk ke kelas terganggu.
*Sreek
Tangan kiriku yang sedikit gemetaran akan kaki yang berat setelah mengayuh dan berlari. Menggeser pintu kelas dengan tenaga terakhir, napas kami yang berat, terengah-engah memburu setiap oksigen yang ada di dunia. Setelah berulang kali dalam mengatur napas, akhirnya jantungku mulai sedikit tenang
“Maaf ... kami terlambat.”
Kami bertiga membungkukkan badan di depan kelas menghadap sang guru kimia. Baru saja kusadari, Senke ada di kelas sebelah namun malah mengikutiku. Aku menampolnya agar ia sadar dan membisikkan kelas kami berdua yang berbeda.
“Benar juga, pantas saja aku merasa aneh.”
“Sudahlah, cepat sana kembali ke kelas.”
Bisikku, Senke segera kabur dari kelasku dan pergi ke kelas sebelah yang merupakan kelasnya. Guru kimia yang mengajar di jam pertama, mempersilahkan kami berdua agar segera duduk di bangku masing-masing tanpa hukuman.
Pembelajaran berjalan seperti biasa. Kebiasaanku memasang telinga seraya tidur di pelajaran kimia sudah tidak aneh. Ketika guru menulis sesuatu yang tidak kumengerti, maka aku terbangun dan menulisnya di buku catatan.
Dengan seperti ini, tidak perlu belajar di rumah. Berpikirlah secara rasional, rumah bukanlah tempat belajar. Namun, rumah adalah tempat kita berkumpul bersama dengan keluarga kita.
Jika ada seorang guru yang menganggap belajar di rumah itu diharuskan. Niscaya, masa muda guru itu tidak menyenangkan karena selalu ditekan oleh kegiatan belajar. Karena itu, guru tidak sepenuhnya salah namun juga harus sadar diri.
* * * * *
Taman yang di tengahnya terdapat pohon besar yang daunnya menutupi sekitar. Tidak jauh dari tempatku, terdapat Kazari yang tengah bersandar pada sandaran kursi kayu memanjang di bawah pohon itu. Karena melihatnya, langkahku bertujuan ke arahnya dengan langkah kecil tanpa suara.
Tanpa disadari olehnya. Aku duduk di samping kirinya dengan jarak empat sentimeter. Yang kulihat, sepertinya dia tertidur dengan pendengarannya yang memakai headset. Karena itu, lebih baik menunggunya bangun dari pada mengganggunya agar bangun.
Menatap ke atas langit dengan dedaunan rendang yang menghalangi jalur cahaya masuk ke bumi. Angin yang terasa sejuk, akhirnya aku mengetahui kenapa Kazari memilih tempat ini sebagai tempat bersantai. Ketika kulirik wajahnya, terdapat potongan benang kecil berwarna merah yang menempel di bibirnya.
Hal tersebut membuatku terganggu meskipun sepele. Perlahan-lahan tangan kananku mencoba untuk mengambil potongan benang itu. Ketika terambil, Kazari terbangun dengan pandangan kami berdua yang saling menatap.
Yang kulihat adalah pipi yang merona dengan rasa malu menghantuinya. Dia mendorongku dengan dua tangan, segera menjauhiku seraya berpikir akan kondisi yang memungkinkan terjadi saat ini.
“Ko-koala!? A-apa yang kau lakukan di sini!?”
Perkataannya terbata-bata dengan rasa malu yang masih. Aku tersenyum kecil ketika menemukan sisi manis yang baru aku tahu dari Kazari akan dirinya selalu menjahiliku. Aku menyuruhnya agar tenang karena bisa saja Kazari menarik perhatian orang lain.
“Senpai, menurutmu apa yang aku lakukan tadi?”
Tanyaku dengan datar seraya menatap wajah Kazari yang tengah menutupinya dengan lengan kiri. Kazari berpikir keras dengan kejadian yang bisa terjadi saat dia tertidur dan tidak menyadari kehadiranku.
“Jangan-jangan kau!?”
“Tepat, sungguh manis sekali.”
Jawabku dengan menampakkan senyuman kecil. Aku mengerti dengan jalan pikirannya, sepertinya dia mengira bahwa aku akan menciumnya ketika penjagaannya lengah. Dia mendekatiku lalu menarik kerahku dengan kedua tangannya.
“Ketika tidur, aku merasakan sentuhan di bibirku. Jangan-jangan kau!?”
“Entahlah.”
Kataku seraya mengalihkan pandanganku ke arah lain. Kazari yang masih bingung disertai malu, mulai mengguncang-guncang tubuhku dengan kerahku yang dia genggam.
“Katakan!? Apakah kau menciumku!?”
“Senpai, apakah kau tidak malu menanyakan hal itu? Sekarang pikir, apa yang akan aku lakukan ketika di dekatmu saat kau tidur?”
Pertanyaanku membuatnya semakin kebingungan. Rambutnya yang panjang dan berantakan, terlihat sedikit kusut. Situasi saat ini membuatku senang, saatnya pembalasan.
“Tetapi! Ketika aku bangun, wajahmu tepat ada di depanku. Jika bukan ciuman, apalagi!?”
“Kalau begitu, tadi aku berniat untuk menciummu ketika tidur. Namun Senpai malah bangun.”
“Be-begitu ya ... ”
Ia melepas kedua tangannya yang menggenggam dua kerahku. Ia kebingungan dengan rasa malu yang membuat wajahnya merah sampai ke telinga. Aku merapikan kembali seragamku, lalu pandangan kami berdua saling bertatapan.
“Tapi bo'ong.”
“Koala!”
* * * * *
Jam pelajaran terakhir merupakan pelajaran yang tidak terlalu berat. Sejarah dunia, pelajaran ini membuat wawasanku luas akan sejarah yang luput dari dunia. Seperti masa-masa Rennaissance di Eropa, Perang Dunia satu dan dua, lalu sejarah lainnya yang menurutku menarik.
“Jadi, karena menyangkut ruang lingkup mengenai sejarah. Bapak ingin kalian membuat kelompok yang isinya tiga orang, membahas sebuah topik yang di dalamnya mengenai masa-masa lampau. Topiknya bebas, pertemuan berikutnya akan kita presentasikan.”
Setelah guru sejarah yang usianya sudah mencapai kepala empat mengakhiri pembicaraannya. Bel sekolah berdentang beberapa kali, pertanda waktu pembelajaran sekolah telah berakhir. Aku memikirkan kata-kata guru itu mengenai kelompok yang berisikan tiga orang.
Ketika aku menoleh ke samping kiri. Kifune dan Sakaguchi terlihat menunggu suatu sinyal dariku. Seperti yang sudah kuduga, sepertinya tidak ada cara lain.
“Kukang, Kifune. Kita akan satu kelompok.”
Kifune dan Sakaguchi yang mendengar perkataanku. Mereka berdua Saling berpandangan mata lalu menganggukkan kepala pertanda setuju dengan ucapanku. Kifune menunjukkan catatan kecilnya yang memiliki makna persetujuannya satu kelompok denganku.
“Itulah Masbro!”
“Berisik Bujang.”
To Be Continue .....