Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Musim Yang Kejam



Seluruh tatapan para gadis mengarah padaku yang tengah duduk bersila dengan dua tangan yang disilangkan di perut. Sedangkan aku sendiri menguap, namun untuk saat ini aku tidak boleh tidur sama sekali.


   “Apa yang kau lakukan di sini Koala? Bisakah kau pergi dari ruangan kami?”


Tanya Kazari seraya menunjukkan wajah kecutnya padaku. Kifune menanyakan hal yang sama seraya menunjukkan catatan kecilnya padaku, sedangkan Kamine tengah menikmati cemilan malam yang dibawa sebelumnya oleh Sawatari.


   “Malam ini juga ... aku tidak akan pergi dari ruangan ini.”


   “Apa yang kau katakan? Lekas kembali, bagaimana dengan Sakaguchi dan Senke?”


   “Tenang saja, mereka sudah tidur ... kuberi obat tidur.”


Jawabanku akan pertanyaan dari Kazari membuat semua orang kecuali Kamine menunjukkan ekspresi kecut. Mengeluarkan dua buah kartu berupa kartu remi dan kartu uno, menawarkan beberapa permainan kepada Kazari dan yang lainnya.


Mereka setuju dengan usulan Kamine untuk memainkan kartu remi, mencari sang Joker dan memberi hukuman kepada yang kalah. Tidak terlalu melebihi batas, yang penting batas wajar kecuali pelecehan seksual.


Alasan satu-satunya untuk menetap di ruangan menginap Kamine dan yang lainnya adalah mencegah mereka untuk menceritakan masa lalu. Aku sudah membuat Sawatari untuk meniru kemampuan Synesthesia Petals milikku, dia hanya melihat kelopak bunga berwarna hitam yang hanya mengelilingiku dan ini masih aman.


Aku harus minta maaf besok, membuat Senke dan Fukuhara tertidur menggunakan obat tidur terlalu mainstream. Untuk sekarang fokus, aku tidak boleh tidur dan mencegah mereka menceritakan pengalamannya.


Sial, aku sedikit ngantuk ...


Keseimbanganku tidak stabil, tanpa sadar aku duduk bersandar kepada orang yang ada di samping kiriku yaitu Sawatari yang kini terkejut dengan pipi merona kemerahan. Dia mendorongku dengan kuat, Kifune mencoba menahanku yang ada di samping kanan dan gaya jatuh tubuhku dapat ditahan dengan pelukannya.


Sensasi empuk yang ada di belakang kepalaku ini membuatku semakin malu menjadi-jadi. Permainan dihentikan sebentar, aku menyuruh Sawatari untuk membeli kopi kalengan yang ada di lantai dasar.


Menyuruh Kamine terlalu berisiko, bagaimana jadinya jika kedua kakinya tidak bisa digerakkan dan liburan ini akan sia-sia saja. Sawatari adalah pilihan yang tepat, lagipula aku sendiri harus mencegah mereka.


Setelah Sawatari kembali, permainan berlanjut dan kemenangan pertama dimenangkan oleh aku sendiri sedangkan yang kalah adalah Kifune. Hukumannya mudah, membuatnya memijat punggungku yang kaku.


Permainan kembali dilanjutkan, awalnya hukumannya cukup ringan namun lama-kelamaan cukup berat di batas wajar. Kamine dan Sawatari menyerah karena mereka mengantuk, jadwal tidur mereka sudah lewat dua jam yang lalu.


Yang tersisa saat ini adalah Kifune dan Kazari, permainan ronde saat ini merupakan ronde terakhir. Kemenangan dimenangkan oleh Kazari, sedangkan kekalahan didapatkan olehku.


   “Jadi, apa perintahmu?”


   “Aku ingin kau menjawab pertanyaanku dengan jujur. Koala, apakah ada hal buruk yang terjadi?”


Tentu saja, Kazari sudah mengetahui dari awal akan sikapku yang berubah secara tiba-tiba. Kifune terbingungkan dengan pertanyaannya, baiklah ... menghela napas terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaannya.


   “Aku tidak bisa mengatakannya. Namun percaya padaku, bisakah kalian berdua tidur untuk saat ini. Akan kujelaskan besok, untuk saat ini sedikit ... ”


   “Baiklah, aku percaya padamu. Namun untuk kali ini, biarkan aku melakukan ini untukmu.”


Kazari yang ada di depanku merangkul wajahku lalu menariknya sehingga tubuhku tertarik dan terjatuh di pangkuannya. Sangat empuk, baunya amat harum dan mereka saat ini mengenakan pakaian tidur yang di sediakan di penginapan ini.


   “Apa yang kau lakukan senpai?”


Tanyaku seraya menatapnya dengan tatapan intimidasi, meskipun dia berniat menggodaku hal ini membuatku malu karena dilihat oleh Kifune yang duduk di samping kiriku.


   “Padahal aku berniat untuk melepaskan lelahmu dengan tidur di bantal pahaku, bagaimana? Kau tertarik?”


Tanya Kazari seraya mendorongku dan kembali ke posisi duduk. Tentu saja aku menerima tawarannya, namun kuurungkan dan beranjak dari tempat dudukku.


Menyuruh mereka berdua untuk tidur, tidur terlalu larut tidak baik untuk kesehatan. Asalkan aku mencegah mereka untuk menceritakan masing-masing masa lalu dari mereka, itu sudah cukup.


Menggeser pintu ruangan ini, berjalan di lorong menuju ruanganku yang ada di bagian pojok lorong. Langkah kaki yang kuangkat tidak terdengar sama sekali, terdapat sosok bayangan di pertigaan yang akan kulalui.


   “Bagaimana? Apakah ada yang terjadi?”


Tanya sosok tersebut, suaranya yang aku kenal membuatku menghela napas karena dia dapat lolos. Dia adalah Senke, berjalan menghampirinya lalu berdiri di hadapannya.


   “Mana mungkin kau meminum sebuah kapsul vitamin, bahkan kau menawarkannya kepada kami. Jelas-jelas itu membuat kecurigaan padaku, tapi Sakaguchi yang tidak terlalu memikirkannya malah meminum kapsul berisi obat tidur itu.”


   “Jika kau tahu sampai sejauh itu sepertinya percuma saja. Baiklah, aku tidak tahu apa yang kulakukan saat ini namun meminimalisir terjadinya perubahan sudah kulakukan. Tinggal melihat apa yang terjadi besok.”


Senke tersenyum kecil mendengar perkataanku yang ia pahami. Memukul dadaku dengan tangan kanannya, ia memberikanku kepercayaannya agar apa yang aku lakukan saat ini berjalan dengan lancar.


   “Jika ini menyangkut dengan fenomena supranatural, berhati-hatilah.”


   “Aku tahu itu.”


* * * * *


Nyamuk yang tengah menghisap darahku di bagian pipi, kutampar dengan kecepatan hebat meskipun keadaanku ini masih setengah sadar. Membuka mataku perlahan-lahan, di hadapanku saat ini terdapat wajah Sakaguchi yang amat dekat dengan wajahku.


Kuhantam wajahnya karena membuatku jijik apalagi menunjukkan ekspresi menikmati mimpi indah. Berguling-guling seraya memegangi wajahnya yang kuhantam, Sakaguchi berteriak kesakitan dan ia kembali tidur dengan wajah yang tertutup bantal.


Keberadaan Senke telah hilang semenjak aku bangun, sepertinya dia pergi ke lantai bawah untuk menikmati kopi yang diinginkannya. Ketika beranjak dari tempat tidurku, ponsel pintar milikku yang disimpan di samping bantal tiba-tiba menerima panggilan dengan baterai sekarat.


   “Nomor tidak dikenal?”


Kuangkat saja panggilan yang masuk tersebut, terdengar suara seorang perempuan yang memanggilku dengan Panda. Karena suara dari ponsel terdengar beda dengan kenyataan, aku tidak bisa menebak siapa yang meneleponku.


   “Panda, bisakah kau pergi ke lantai bawah? Kamine dan Senke tengah membicarakan sesuatu, jangan-jangan mereka tahu soal kalian yang akan tewas di kecelakaan nanti?”


   “Tenanglah, dari cara bicaramu saat ini sepertinya kau Sawatari. Senke dan Kamine tidak tahu soal ini, mereka hanya tahu aku terlibat di fenomena supranatural. Saat ini yang bisa aku percayai adalah kau Sawatari.”


Setelah mengatakannya, Sawatari tidak membalas perkataanku malahan terasa hening cukup lama. Terdengar suara batuk yang terdengar imut, apakah aku salah mengatakan sesuatu hingga dia bertingkah aneh?


* * * * *


Sawatari tetap memeluk tangan kananku hingga dadanya terasa empuk di tanganku. Kamine, Kifune, serta Kazari melihat kami dengan tatapan curiga yang terlihat kami seperti menyembunyikan hubungan dekat kami berdua.


   “Apakah kalian berdua pacaran?”


   “Sejak kapan Tuan Panda mengincar Sawatari?”


Tanya Kazari lalu dilanjut oleh Kamine, sedangkan Kifune menunjukkan catatan kecilnya padaku dan menanyakan hal yang sama seperti mereka berdua. Aku ingin menjelaskan situasi saat ini, namun Sawatari masih ketakutan.


Mendorong wajahnya untuk melepaskan tanganku, namun dia bersikeras serta tubuhnya bergidik ketakutan. Tentu saja, bus yang kami tumpangi sebelumnya tidak mengalami kecelakaan sama sekali dan pencegahan yang dilakukan olehku bisa dianggap berhasil.


   “Masbro, aku pulang duluan. Ada beberapa urusan mendesak, sampai jumpa.”


Sakaguchi pergi begitu saja meninggalkan kami, Senke pun pulang lebih awal karena memiliki acara dengan pacarnya saat ini. Sedangkan saat ini, Kazari serta Kifune dan Kamine tengah menenangkan Sawatari yang terus menempel padaku.


   “Bisa kau ceritakan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi pada kalian berdua Tuan Panda?”


   “Baiklah akan kuceritakan. Aku mengungkapkan perasaanku kepada Sawatari namun ia tolak.”


Pelafalan ucapanku terasa datar begitu pula dengan wajahku. Kamine serta yang lainnya terdiam melihatku dengan tatapan kosong, begitu pula dengan Sawatari yang menatapku bahkan wajahnya menunjukkan tidak mengerti akan situasi saat ini.


   “A-apa yang kau katakan!? Jangan mengigau dan memperkeruh suasana!”


Sawatari mendorong wajahku dengan kedua tangannya. Kamine memukul perutku, namun dia sendiri yang kesakitan karena memukul perutku yang sudah keras. Kifune hanya menanggapinya dengan senyuman manis, namun aura permusuhan dan intimidasinya amat terasa ancamannya.


Kazari melihatku dengan ekspresi wajah yang kecewa lalu menghela napas, ia pamit untuk pulang terlebih dahulu diikuti oleh Sawatari. Yang tersisa saat ini adalah Kifune dan Kamine, kami pergi menuju distrik toko swalayan sekalian mengantarkan Kifune pulang lagipula aku memiliki beberapa urusan di tempat tersebut.


To Be Continue .....