
Berlari sampai mampus, mengatur pernapasan dengan teknik yang telah diajarkan kepadaku. Meski berlari dengan cepat beberapa kali, tubuhku tidak akan cepat lelah dan hal tersebut melupakan kelebihanku.
Aku telah mencari Kamine di rumah sakit, namun perawat mengatakan bahwa dia baru saja keluar dari rumah sakit ini. Maka satu hal yang dapat aku pikirkan hanya satu, Kamine sudah pergi ke tempat lain seorang diri dan hal tersebut amat membahayakan.
Karena apa? Dia imut dan membuat siapapun gemas, apalagi setelah kejadian fenomena supranatural yang menimpa dirinya dan cukup memperumit keadaan.
Di trotoar jalan, berlarian menuju suatu tempat yang memungkinkan dirinya pergi. Dalam beberapa menit, sosok yang kucari kini tengah menunggu di tempat penyeberangan jalan.
Dirinya tersenyum menghadap ke depan, duduk di atas kursi roda dengan kedua tangan yang menyentuh roda. Dari kejauhan, aku menghirup napas dengan lega karena telah menemukan dirinya.
Mengenakan pakaian cukup tebal, pagi ini cukup dingin dan aku juga mengenakan pakaian yang menghangatkan. Dirinya seorang diri, menunggu lampu lalu lintas yang berwarna hijau berganti menjadi merah.
Terdapat pengendara motor yang akan menghampiri dan melewatinya, namun aku merasakan bahaya darinya. Dengan segera, berlari ke arah sosok perempuan tersebut lalu melompat dengan akhiran menendang si pengendara motor yang membuatku merasa membahayakan.
Alhasil, si pengendara motor terhempas dan motornya masih berjalan lurus dengan sendirinya lalu menabrak pembatas jalan. Tanpa melihat keadaan si pengendara motor, aku segera menghampiri sosok perempuan tersebut lalu berdiri di hadapannya seraya saling bertatapan mata.
“Kamine ... ”
“Tuan Panda ... ”
Bertekuk lutut di hadapannya, kedua tanganku ingin meraih kedua pundaknya lalu memeluknya. Namun, Kamine malah menamparku dengan cukup kuat dan rasanya lebih sakit daripada pukulan biasa.
“Kenapa kau menamparku!? Apakah kau tidak ingin memelukku!?”
“Dasar bodoh! Mana ada orang yang melompat ke tengah jalan kemudian menendang pengendara motor!”
“Aku merasakan bahaya darinya!”
“Bacot!”
Aku langsung terdiam, dirinya yang sedang marah membuatku menciut. Menghela napas, aku menelepon Paman Macho agar anak buahnya dari kepolisian dapat membereskan masalah yang telah kulakukan.
Dalam beberapa menit, dua orang dari kepolisian terdekat datang lalu membereskan masalah yang kusebabkan. Jika tidak salah, dua polisi yang membereskan masalahku adalah anak penjual beras dan penjual ikan di toko swalayan di mana aku terkenal dengan panggilan Panda.
“Lihat, sudah selesai.”
“Dari mana kau mendapatkan pengaruh yang kuat? Apalagi kepolisian tunduk kepadamu.”
Tanya Kamine dengan tatapan yang menyipit, dia masih tidak percaya kepadaku. Berjalan ke belakang dirinya, aku berniat untuk berjalan santai bersama dirinya yang tengah duduk di atas kursi roda.
Berjalan santai seraya mendorong kursi roda, aku menceritakan hal-hal kocak yang terjadi setelah kami berpisah karena keadaan yang rumit. Sejak awal, Kamine tidak pernah masuk sekolah dimulai dari awal.
“Tuan Panda, bukankah sekarang kau masih ada pelajaran? Kau membolos hanya untukku?”
“Aku tidak membolos, hanya saja prioritasku adalah dirimu.”
Ucapku dengan datar tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Kamine mengerti dengan ucapanku, ia tersenyum kecil lalu dirinya terlihat senang meskipun wajahnya tidak terlihat.
“Ngomong-ngomong, kita akan ke mana?”
Tanya Kamine, aku pun baru memikirkannya. Setelah kutanya keadaan rumah Kamine, ia mengatakan bahwa keluarganya sedang ada urusan dinas dan tidak bisa menjemputnya. Sehingga, ia berinisiatif untuk pulang seorang diri.
“Dengan kata lain, kini di rumahmu sedang kosong?”
“Begitulah, ah ... jangan-jangan kau memikirkan hal-hal yang mesum.”
“Memang, aku berniat untuk menggendongmu lalu meraba-raba pantatmu setelah sekian lamanya.”
“Aku tidak menduga kau tidak akan berubah.”
“Dasar bodoh, laki-laki yang mesum secara diam-diam adalah laki-laki berbahaya dan dibalik itu dia choulai sampai mampus.”
“Berarti, kau yang jujur tidak berbahaya?”
“Mungkin iya.”
Kamine menyuruhku untuk berhenti di taman kota, kami berdua duduk di atas kursi kayu memanjang lalu memandangi langit yang sama.
“Tuan Panda, bisakah kau membantuku? Saraf kedua kakiku masih lemas dan caraku berjalan masih terasa sulit.”
“Sebentar ... ”
Mengambil dua sarung tangan dari kedua saku jaket yang kupakai, memakainya lalu berjalan menjauh dari Kamine. Perlahan-lahan, Kamine mencoba untuk berdiri dibantu dengan tongkat yang diselipkan pada bagian belakang kursi roda.
Berjalan perlahan-lahan, membuang tongkat yang digunakan sebagai alat bantunya. Gerakannya terasa kaku dan ia berjuang keras untuk berjalan ke arahku, namun ia tidak kuat lalu jatuh dipelukanku.
“Maaf Tuan Panda, bisakah kau melakukannya lagi?”
“Boleh saja, aku akan menemanimu sampai puas.”
Kami melakukan hal yang sama berulang kali hingga Kamine puas, tidak terasa hari menjelang sore dengan langit berwarna senja.
“Mau pulang sekarang?”
“Ya ... ”
Setelah mendengar jawaban dari Kamine, aku menelepon Paman Macho dan menyuruh salah satu anak buahnya untuk pergi ke taman yang kini kami berdua tempati. Tujuannya hanya satu, membawa kursi roda milik Kamine lalu diantar ke rumahku.
Ucapku seraya berjongkok di hadapan Kamine yang duduk di atas kursi kayu yang memanjang. Ia menuruti perkataanku, kedua tangannya memegang pundakku, ia menempelkan tubuhnya di punggungku.
Dengan segera, aku berdiri seraya dua tangan memegangi kaki bagian paha. Kedua tangan Kamine melingkar di leherku, sehingga posisi ini cukup lumayan.
“Kamine, boleh kupegang pantatmu?”
“Huh? Kau cari mati ya?”
* * * * *
Setelah kesepakatanku bersama Kamine, aku memutuskan untuk membawa pulang Kamine ke rumahku. Aku lupa untuk menjenguk Suzurikawa, namun akan kulakukan nanti setelah menceritakannya kepada Kamine.
Sebelumnya, kami berdua mampir sebentar ke toko swalayan untuk membeli bahan makanan makan malam. Merayakan Kamine yang keluar dari rumah sakit, para pedagang di toko swalayan tersebut memberiku sebagian barang dagangan mereka.
Kamine berjalan menuju ruangan tengah dibantu dengan tongkatnya, sedangkan aku sibuk menyalakan lampu di berbagai ruangan yang gelap. Ketika pergi menuju ruangan tengah, Kamine duduk di atas lantai tatami yang dilengkapi dengan kotatsu bekas dipakai semalam yang belum kubereskan.
“Rumahmu tidak ada yang berubah sama sekali, barang-barang antik ini masih kau terima dari kiriman orang tuamu di Jakarta?”
“Begitulah. Kau ingin minum apa?”
“Susu hangat seperti biasa, bolehkah aku membantumu?”
“Tidak boleh, bagaimana nantinya jika susu hangat yang kau buat meledak?”
“Eh? Kau mengkhawatirkan hal itu?”
Untuk kesekian kalinya, Kamine tidak boleh dibiarkan berdiam diri di dapur. Jika tidak, dia akan membuat makanan yang amat berbahaya. Kedua tangannya sangat terampil untuk membuat makanan yang seharusnya nikmat, menjadi racun yang terlihat nikmat.
Dari segi penampilan setiap masakan yang dia buat memang sempurna, namun rasa dari makanan yang dibuatnya amat amburadul layaknya nilai ulangan jeblok yang seharusnya nilai sudah bagus dengan belajar mati-matian namun harapan tidak seindah ekspektasi.
Setelah membuat dua susu hangat pada gelas mug yang sama, Kamine tengah menonton televisi dengan acara komedi. Tawa dan senyumannya membuatku merasa lega karena ia kembali pulih.
Duduk di dekatnya yang berada di kotatsu, meletakkan dua gelas mug di atas meja kotatsu seraya menonton acara televisi komedi. Untuk makan malam masih belum ada niatan, menikmati susu hangat yang dibuat adalah salah satu kebahagiaanku saat ini.
Baru saja kusadari, Kamine memperhatikanku dengan tatapan mata yang mengarah langsung padaku. Ketika aku berniat menyeruput susu hangat, tatapannya membuatku tidak betah dan seolah-olah ia ingin menyampaikan sesuatu dengan kode.
“Katakan apa yang kau inginkan, jika kau melakukan kode yang seperti itu maka akan kutampol kau.”
“Mmm ... biarkan aku duduk di pangkuanmu.”
“Untuk apa?”
“Bukankah aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan tanpa kode?”
Apa yang dikatakannya memang benar, aku mundur sedikit dari posisi dudukku saat ini lalu membiarkan Kamine duduk di atas pangkuanku saat ini.
Rambutnya tercium aroma harum bunga, apalagi wangi tubuhnya amat harum. Tangan kananku memegang mug, Kamine pun menyeruput susu hangat yang kubuat dan ia tersedak karena susu hangat yang ia minum masih terasa panas.
“Lidahmu terbakar?”
“Begitulah, hehehe ... ”
Pada akhirnya, aku tertawa karena tingkah Kamine yang terlihat memaksakan namun imut gitu.
Dua kucing peliharaanku masuk ke ruangan tengah, mereka berdua langsung mengelilingi kami berdua dan sudah terlihat bahwa kedua kucing peliharaanku ingin makan malam setelah kutinggal.
“Tuan Panda, apakah matamu baik-baik saja?”
Ketika aku berniat meraih salah satu kucing dengan tangan kiriku, aku terdiam akan perkataan Kamine.
“Ya, kedua mataku baik-baik saja meskipun kemampuan supranaturalku tiba-tiba saja aktif.”
“Meskipun begitu, aku mengerti bahwa kau sudah tidak bisa melihat warna dari dunia ini. Kemampuan supranaturalmu membuat dunia ini tidak berwarna, sehingga kau mengalami buta warna total.”
Ya, aku tidak menyangkalnya karena sejak awal aku memang buta warna total. Namun, kemampuan supranatural yang aku miliki dinamai dengan Synesthesia Petals dan memiliki kemampuan yang cukup keren.
“Jika tidak begitu, aku tidak akan pernah bertemu denganmu Kamine. Mungkin saja ... saat ini aku masih seorang berandalan, kau yang menyelamatkanku saat itu.”
“Benar juga, kau benar. Akan tetapi ... bisakah kau membayangkan dirimu berada di posisi di mana kau harus menerima kenyataannya?”
Pertanyaan selanjutnya dari Kamine membuatku menghela napas. Kenyataan yang selama ini kucari sudah kutemukan, diriku yang dulu amat menyedihkan sehingga aku melampiaskannya menjadi anak nakal.
Akan tetapi, semua itu dapat dirubah dengan kenyataan yang selama ini kau hadapi dengan pemikiran jelas tanpa ada unsur paksaan. Dengan sepenuh hati, kenyataan yang kau inginkan dapat terwujud.
Perlahan-lahan, aku memeluk Kamine dan memendamkan wajahku di rambutnya.
“Terima kasih Kamine ... ”
To Be Continue .....
Illustrasi Kamine