
Menggunakan kursi roda menuju rumah Ibusaki, Paman Goudai mengajakku makan malam di rumahnya dan kemungkinan besar ada yang ingin dibicarakan.
Malam ini cukup dingin, gang depan lalu belok kanan merupakan komplek perumahan Ibusaki. Tidak perlu terburu-buru, tenagaku akan terkuras dan hal ini akan membuatku berkeringat.
Terdiam sejenak, terdengar suara motor yang cukup berisik dan suaranya terdengar menuju ke arahku. Tidak salah lagi, motor tersebut ada di belakangku dan menyalipku dengan cepat.
Sosok pengendara motor besar itu seorang perempuan yang seluruhnya berwarna hitam dari pakaian, helm, sampai motor yang ditumpanginya. Namun ada keanehan, motor itu berhenti di depan rumah Ibusaki lalu mengeluarkan ponselnya.
Mencoba memanggil seseorang tetapi dia terlihat masih menunggu. Lagipula tujuanku adalah rumah Ibusaki, menghampirinya lalu menanyakan keperluannya di daerah ini.
Pengendara motor itu berjongkok di depanku karena tinggi kami berbeda, sehingga memudahkan kami melakukan pembicaraan. Meskipun begitu, dia belum melepaskan helm dari kepalanya.
“Aku mencari seseorang, apakah kau kenal dengan yang namanya Ibusaki Goudai?”
“Ya, bukankah rumahnya itu tepat di depan kita? Kenapa tidak coba untuk mengunjunginya dulu?”
“Kau memang benar, baiklah ... ”
Pengendara motor itu beranjak lalu berjalan menuju pintu rumah Ibusaki, mengikutinya dari belakang. Mengetuk pintu beberapa kali, beberapa kali yang kumaksud amat banyak dan tenaganya lebih dari perempuan biasa.
Gagang pintu ditekan, pengendara motor itu mundur selangkah seraya melepaskan helm yang masih dipakai. Rambut sepinggang digerai, Ibusaki yang membuka pintu melihat sosok tersebut dengan tatapan yang amat terkejut.
“Aku pulang.”
Tiba-tiba saja dia melemparkan helm kepada Ibusaki, mengerahkan tangan kanannya yang mengepal lalu berniat memukul Ibusaki ketika ia berniat menangkap helm tersebut. Namun, dia segera melompat setelah helm yang dilempar tertangkap dan menjaga jarak.
“Geh ... bisakah kau hentikan itu? Kamine bisa-bisa terkejut.”
Ibusaki menyimpan helm yang dipegangnya di lapisan lantai. Berdiri dengan segera lalu mempersilahkan kami berdua untuk masuk.
Bisakah mereka menjelaskan kenapa setiap pertemuan di keluarga Ibusaki diawali dengan pukulan? Apakah itu bentuk dari kasih sayang mereka?
“Kamine? Ah ... aku tidak mengenalimu karena cukup gelap.”
Ucapnya, lebih mendekat kepadanya hingga lampu yang ada di depan pintu menyinariku lalu pandangan kami berdua bertemu. Tidak salah lagi, wanita yang ada di depanku adalah Ibu dari Tuan Panda dan dia tetap awet muda meski usianya kepala tiga.
Rambut berwarna hitam yang sebagian kecoklatan membuat pesona muda miliknya amat cocok. Meskipun begitu, sedari tadi ibunya memukuli Ibusaki meskipun dihalau terus menerus.
“Aku tidak tahu Kamine akan datang. Sepertinya Ayah berulah lagi, masuklah ... ngomong-ngomong Bu, Chiyo sudah tiba beberapa jam yang lalu.”
“Onde mande, sepertinya keluarga kita kembali berkumpul seperti biasa di musim panas ini.”
Ucap sang Ibu seraya menunjukkan senyuman kecilnya. Ngomong-ngomong kebiasaannya yang mengucap onde mande adalah bahasa minang Indonesia dari kata ara-ara.
Tunggu sebentar, jika keluarga Ibusaki berkumpul ... perasaanku tidak enak.
* * * * *
“Aku memperbolehkan kalian bertindak seenaknya tetapi ... bisakah kalian minum-minumnya tidak terlalu banyak? Chiyo, katakan sesuatu.”
“Eh? Ah ... bukankah kebiasaan Ayah dan Ibu itu minum ketika berkumpul. Biarkan saja, Ibu sedikit tahan dengan alkohol dan biarkan saja sampai ******.”
“Punya adik gak punya akhlak. Ayah, bisakah kau menyingkirkan tanganmu dari ponselku!? Isinya tidak ada yang mencurigakan!”
“Eh? Padahal aku hanya bermain game di ponselmu. Akun game yang ada di ponsel rusak masih aman, kupinjam sebentar ponselmu.”
“Goblok! Ponsel jangan dilempar ketika baku hantam!”
“Onde mande, hari ini berisik sekali. Goudai, bisa kau ambilkan lagi bir yang ada di kulkas?”
A ... aku terjebak. Kacau sekali, rumah ini kacau sekali yang biasanya sunyi kini menjadi sangat ramai. Terlebih itu, aku tidak menyangka Ibu Tuan Panda masih cantik seperti dulu. Sebagai perempuan yang masih muda, ini membuatku sedikit iri.
Memperhatikan Ibusaki Chiyo, Adik dari Tuan Panda yang memiliki penampilan rambut pendek dengan poni menutupi mata kanannya dan mengenakan jaket biru seraya memegangi boneka hiu lalu bersandar di sofa. Jika dari sudut pandangku, dia terlihat tidak memakai celana namun celana pendeknya memiliki warna selaras yaitu biru.
“Ada apa? Sejak tadi kau melihatku?”
“Chiyo, aku penasaran kenapa kau memilih pergi dari rumah ini daripada tinggal serumah dengan Kakakmu?”
Entah kenapa, Chiyo terlihat marah dan tatapannya amat kelam. Memposisikan boneka hiu milik di depan, ia duduk dengan posisi bersila dan berniat untuk menjawab pertanyaanku.
“Alasan pertama yang paling membuatku kesal adalah puding dan es krim yang kusimpan di kulkas tiba-tiba hilang. Kejadian itu berulang kali terjadi, hingga aku muak dan pergi dari rumah ini lalu bersekolah di kota sebelah.”
“Tentu saja, apa yang dimiliki oleh Adikku adalah milikku.”
“Tentu saja, apa yang dimiliki oleh Kakakku adalah milikku.”
Ucap mereka berdua secara bersamaan. Ibusaki menunjukkan wajah kecut dan Adiknya tersenyum terkekeh mengejeknya, aku mengerti ... keluarga Ibusaki memiliki kebiasaan yang aneh menurutku.
“Sasan, sepertinya Ibusaki sudah memiliki pacar.”
“Eh? Bukankah pacarnya Kamine yang imut? Jangan-jangan ... dia ... ”
“Ya, sepertinya dia memiliki dua pacar dalam satu waktu. Iri sekali, masa muda memang yang terbaik.”
“Onde mande, kita harus merayakannya.”
“Bisakah kalian hentikan! Aku tidak punya pacar dan yang dimaksud oleh Ayah mungkin Sawatari! Kalian membuatku malu, aku pukul kalian!”
Bentak Tuan Panda seraya mengancam kedua orang tuanya, namun mereka berdua malah tertawa dan kembali melanjutkan acara minum mereka.
Ibusaki Sasara, Ibu dari Tuan Panda. Keluarga Ibusaki tidak bisa menyebut nama Tuan Panda, mereka heran entah apa penyebabnya dan pastinya adalah diriku sendiri dan aku sulit untuk mengatakannya.
Yang kutahu, kedua orangtuanya saat ini memiliki pekerjaan berupa penelitian di alam liar. Namun semenjak tenggelam di dunia penelitian mereka, kemampuan fisik pemimpin geng motor perempuan itu kembali ke keadaan normal seperti perempuan biasa dan akan kembali kuat jika emosinya tidak stabil.
“Benar juga, apakah kalian besok akan pergi ke pasar swalayan? Seperti biasa, menangani acara yang ada di musim panas.”
Ucap Tuan Panda yang ditujukan kepada kedua orang tuanya. Orang tuanya biasa menjadi pelopor dan panitia di acara musim panas tersebut, karena mereka tidak bisa menyerahkannya kepada orang lain dan satu alasan lagi yaitu Keluarga Ibusaki selalu dikecewakan jika menaruh harapan kepada orang lain.
* * * * *
Siang hari, duduk di kursi memanjang yang ada di pasar swalayan dan hanya ada Chiyo yang ada di sampingku. Aku tidak terlalu akrab dengannya dan sedari tadi dia hanya membaca buku dengan sampul buku yang ditutup kertas lain.
“Chiyo, bukankah kedua orang tuamu pergi begitu saja? Apa mereka punya urusan? Padahal aku sudah datang karena ajakan dari mereka.”
“Oh ... Ibuku sedang berkumpul dengan mantan anggota geng motornya sedangkan Ayahku melihat-lihat festival yang akan diadakan bersama perempuan bernama Suzurikawa Sayuki akan rekomendasi dari Kakakku.”
Ucap Chiyo yang menyebut Kakaknya Aniki. Begitukah, tetapi ... Chiyo berbeda dengan Tuan Panda serta kedua orang tuanya. Kemampuan fisiknya di bawah rata-rata namun dia lebih memilih mengasah otaknya, dia selalu juara kelas namun menghindari lomba kecerdasan karena merepotkan baginya.
“Chiyo, sepertinya kau tidak terlalu liar seperti anggota keluargamu yang lain. Apakah ada alasannya?”
Tanyaku, Chiyo melirik ke arahku lalu menutup bukunya. Dia memandang ke atas dan berpikir terlebih dahulu lalu tersenyum kecil ke arahku.
“Aku berniat untuk menjadi seorang Dokter. Beberapa kali mungkin sering, keluargaku terluka jika baku hantam apalagi kedua orang tuaku yang ada di alam liar melakukan penelitian. Jika mereka terluka, siapa yang akan merawatnya?”
Ga-gawat, Chiyo anak baik yang memperhatikan keluarganya. Dan juga, kepolosannya membuatku malu dan tidak sepertiku yang belum memiliki mimpi sama sekali.
Mimpi ya ... ti-tidak, aku malah membayangkan diriku menikah bersama Tuan Panda. Tidak boleh, kau terlalu menyombongkan diriku Kamine.
“Ngomong-ngomong, apakah Aniki dekat dengan perempuan yang ada di sekolahnya?”
Tanya Chiyo, sebelum menjawabnya aku menghitungnya terlebih dahulu lalu mengingat nama mereka satu persatu.
“Kazari, Sawatari, Suzurikawa, dan satu lagi Kifune. Dua senior dan dua satu angkatan, hubungan mereka sudah akrab dan beberapa kali kami berkumpul di rumah Tuan Panda.”
“Begitu ya, dia kembali ke kota ini. Karena acara ini tahunan dan sering kami lakukan, menurutmu ... ”
Chiyo meraih tangan kananku lalu menyebutkan nama-nama yang disebut tadi olehku dimulai dari Kazari berawal dari ibu jari.
“Dari kelima orang ini termasuk dirimu sendiri. Kira-kira siapa yang akan diajak oleh Aniki ketika festival musim panas nanti.”
Ucapnya seraya menunjukkan senyumannya yang memiliki arti tersembunyi. Wajar jika kami pergi bersama ke festival musim panas, tetapi jika benar dengan apa yang dikatakan olehnya mengenai Tuan Panda yang akan mengajak seseorang berarti ...
“Jadi apa yang ingin kau katakan adalah salah satu dari perempuan ini memiliki hubungan dengan Tuan Panda? Bahkan kau belum melihat mereka?”
“Aku tidak perlu melihat mereka. Karena dari wajahmu, aku dapat melihat berbagai informasi seperti yang dilakukan oleh Aniki.”
Senyuman kecilnya benar-benar membuatku curiga. Pemikiranku langsung mengarah ke setiap yang dilakukannya berhubungan dengan fenomena supranatural hingga Chiyo memiliki kemampuan, tetapi ...
“Kamine, kira-kira hal menarik apa yang akan terjadi di festival nanti?”
To Be Continue .....