Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Pengulangan Pertama



   “Tuan Panda, kenapa kau selalu pergi ke Klub Sastra Klasik?”


Pertanyaan yang sama seperti kemarin, aku cukup bimbang menjawab pertanyaan Kamine dengan jawaban yang sama seperti kemarin bagiku.


   “Kenapa? Yah ... mencari pacar.”


   “Hah?”


Kamine terdiam setelah mendengar jawabanku, aku mendorong kursi rodanya menuju depan ruangan Klub Sastra Klasik. Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, Kamine membuka pintunya secara tiba-tiba.


*Sreeek


Sama seperti yang kemarin, kejadian yang sama dan hanya ada beberapa kejadian yang berubah. Kami berdua memasuki ruangan Klub Sastra Klasik, Kazari mempersilahkanku duduk dan ia menangani Kamine.


   “Apa yang kalian berdua lakukan di sini? Di Klub Sastra ini tidak ada AC loh.”


Sahut Kazari seraya menarik kerah bajunya lalu mengibas-ngibaskan buku yang menjadi pengganti kipas. Tidak ada yang berbeda dengan yang kemarin, apakah kemarin memang terjadi pengulangan waktu atau hanya mimpi?


   “Kazari-senpai, ada yang ingin aku tanyakan pa—”


Tunggu sebentar, jika aku bertanya hal ‘itu’ maka kemungkinannya akan besar terjadi pengulangan kembali. Aku harus mencari penyebabnya.


   “Kazari-senpai, bisakah kau menggunakan ‘itu’ untuk sekali ini aja? Ada yang ingin aku pastikan.”


   “Ehh ... telingaku baru saja kembali berfungsi. Tetapi karena kau memintaku pastinya itu sangat kau perlukan. Untuk kali ini saja, apa yang ingin kau cari tahu?”


Tanya Kazari kepadaku, Kamine bingung seraya menatapku karena topik pembicaraan yang kami berdua lakukan tidak dimengerti sama sekali olehnya. Karena Kamine tidak tahu, Kazari juga salah satu orang yang mengalami fenomena supranatural.


   “Kazari-senpai, orang yang bernama Sawatari Karen.”


Kazari terkejut dengan ucapanku, dia menanyakan kepadaku bagaimana caranya ia dapat mengenal Wakil Ketua dari Klub Sastra Klasik yang kini Kazari adalah Ketuanya.


   “Sawatari pernah membantuku, ada yang ingin aku tanyakan padanya saat ini.”


Tentu saja, apa yang aku katakan kepadanya adalah kebohongan. Karena aku dapat mengenal Sawatari Karen tidak lain di ruangan ini.


Kazari menganggukkan kepala, ia menutup kedua matanya lalu memfokuskan fenomena supranatural yang ia alami. Kazari dapat mendengar suara dengan radius 1 km, ruang lingkup sekolah ini dapat ia capai dengan mudah.


Setelah cukup lama menunggu hasil, Kazari membuka matanya kembali lalu mengambil napas panjang beberapa kali. Ia pernah mengatakan bahwa telinganya akan sakit dan beberapa menit hingga jam telinganya tidak bisa mendengar atau yang disebut dengan tunarungu.


   “Koala, sepertinya Sawatari sedang melakukan penyelidikan. Dia berada di kelasmu saat ini.”


   “Sawatari ada di kelasku? Untuk apa?”


Setiap sel yang ada di otakku langsung memaksimalkan potensi dan memikirkan gambaran yang ada di setiap kejadian. Aku langsung menyerahkan Kamine kepada Kazari kemudian kembali ke kelasku seorang diri dengan terburu-buru.


Sesampainya, terdapat Sawatari Karen tengah menunggu seseorang seraya berdiri di luar kelasku. Yang dapat aku pastikan adalah dia amat menarik perhatian orang lain, tentunya karena dia cantik dan mempunyai senjata biologis yang hebat.


Aku menghampirinya perlahan-lahan setelah mengatur napasku yang berat setelah berlarian di lorong sekolah.


   “Sawatari, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”


Ucapku seraya berdiri di hadapannya lalu kami berdua saling bertatapan. Dia cukup terkejut akan suatu hal, dia ingin mengatakan sesuatu namun mulutnya tidak bergerak sama sekali.


   “Ikut aku.”


Seraya menarik tangan kanannya, aku mencari tempat yang pas. Karena aku tidak terlalu banyak tahu lokasi yang bagus di sekolah ini, aku mengambil taman yang ada di depan sekolah di mana tempat Kazari dan Suzurikawa menghabiskan waktunya di sore hari.


Tetapi, Sawatari menarik tangannya kembali ketika kami berdua menuruni tangga.


   “Tunggu sebentar, kenapa kau menarik tanganku begitu saja?”


Tanya Sawatari, aku terdiam sebentar seraya memikirkan sesuatu.


   “Sawatari, sebenarnya aku menyukai seseorang. Tetapi aku bingung, apakah aku perlu menyatakan perasaanku padanya?”


Tanyaku seraya menatap matanya meskipun aku tidak berniat mengatakan hal ini. Namun reaksinya cukup memuaskan, Sawatari bereaksi dengan pipi merona kemerahan dan ia menghentikanku untuk mengatakan siapa namanya.


   “Sialan, kenapa hal yang sudah terjadi malah terulang kembali.”


Ucapnya seraya menutup-nutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena malu. Akhirnya kudapatkan miss link-nya, aku langsung meraih kedua tangannya lalu menatap wajahnya dari dekat.


   “Orang yang aku sukai adalah Sawata—”


   “Ja-jangan katakan!”


Sawatari langsung menutupi mulutku dengan perasaan malu yang menghantuinya. Tidak salah lagi, aku dapat menyimpulkannya.


Sawatari menjauhkan kedua tangannya yang menutupi mulutku. Ia mundur satu langkah, menghela napas perlahan dan membiarkan suasana tenang seperti ini terjadi secara alami.


   “Sawatari, apakah kau mengulangi hari yang sama?”


Dengan risiko ini, cukup terbayarkan dengan kenyataan dan informasi yang aku dapatkan.


Sawatari bingung dengan pertanyaanku, namun ia mengerti akan persamaan kami berdua yang saat ini dialami. Sawatari tidak mengatakan apapun, tetapi dia menganggukkan kepala.


   “Begitukah.”


Ucapku setelah menghela napas cukup panjang. Aku membiarkan Sawatari tenang terlebih dahulu, kami berdua duduk di tangga yang menuju lantai dasar dan membiarkan Sawatari yang menceritakannya sendiri.


Setelah cukup lama, ia bersedia untuk mengatakannya karena ia juga penasaran dengan apa yang terjadi saat ini. Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban, Sawatari mengambil napas lalu ia mulai membahas dari awal.


   “Seharusnya kau dijadikan tersangka utama karena kasus bunuh diri yang baru menimpa sekolah ini. Asuhara Kifune, seharusnya dia sudah meninggal kemarin. Tetapi, kami berdua berpas-pasan ketika waktu istirahat pertama dimulai. Pada saat itu aku tidak sadar, namun setelahnya aku tersadar, hari ini adalah hari yang sama seperti kemarin.”


Aku paham dengan apa yang dikatakannya. Namun aku tidak mengerti, kenapa hanya kami berdua yang tidak terpengaruh ingatannya setelah hari terulang kembali.


   “Ngomong-ngomong Sawatari, apa kau terkejut?”


   “Tentu saja bodoh! Mustahil orang yang sudah meninggal kembali hidup! Apalagi waktu kembali terulang!”


Teriaknya, perempuan yang merepotkan karena dia tidak paham dengan apa yang terjadi meskipun dia sudah mengalaminya. Karena itu, aku menjelaskan sedikit bahwa apa yang kami berdua alami saat ini adalah fenomena supranatural dan disebabkan oleh seseorang.


Hanya saja, Sawatari melihatku dengan tatapan yang kasihan dan ia sepertinya menganggapku bodoh karena terlalu banyak menghayal. Aku ingin memarahinya dan menampolnya, tetapi aku butuh kerja samanya jika Sawatari Karen yang menyebabkan waktu terulang kembali.


*Teng-teng teng-teng.


Bel sekolah kembali menyala, pertanda istirahat jam pertama sudah berakhir. Sawatari sepakat untuk membantuku, dia juga tidak ingin waktu yang sama terulang kembali. Untuk sekarang, aku harus menghadiri kelas dan memikirkan beberapa hal.


* * * * *


Dengan rasa takut yang menghantuiku, aku bergegas masuk ke ruang tata boga dan Kifune menatapku dengan rasa heran ketika hendak mencampur adonan tepung.


Berjalan menghampirinya dengan cukup pelan. Kifune menunjukkan catatan kecilnya kepadaku, dia menanyakan keperluan dengannya.


   “Kifune ... jaga dirimu baik-baik.”


Setelah mengucapkannya, aku segera pergi dari ruangan tata boga ini. Jika aku penyebab utama dirinya meninggal, maka lebih baik aku jauh darinya dari pada di dekatnya.


Keluar dari ruangan tersebut, menutup kembali pintu lalu menghela napas cukup panjang seraya menghadap pintu ruang tata boga. Berjalan melewati lorong sepi, aku berniat untuk pergi ke distrik pasar swalayan sebelum pulang.


Namun, terdapat Sawatari yang menghadangku di dekat taman sekolah yang dipenuhi tanaman hijau. Entah apa tujuannya, sepertinya dia telah menungguku cukup lama.


Ketika aku memandangi wajahnya, cukup terlihat bahwa dia kesal karena aku terlalu lama ada di sekolah.


   “Jika kau ada keperluan denganku telepon saja. Apakah kau segitu bodohnya hingga menungguku di tempat seperti ini?”


   “Aku tidak punya kontakmu bego!”


Seru Sawatari yang memarahiku, aku baru saja sadar tentang hal tersebut. Karena nantinya membutuhkan perkembangan tentang kasus ini, kami berdua saling bertukar kontak agar dapat menghubungi satu sama lain dengan leluasa.


   “Ngomong-ngomong, apa kau ada keperluan denganku?”


Tanyaku seraya memasukkan ponselku ke saku celana sebelah kanan. Sawatari menjawab pertanyaanku dengan anggukan kepala.


Sawatari berbalik kanan hingga roknya tersingkap sedikit. Sehingga, terdapat suatu ranting pohon yang mengangkat roknya dari samping.


Dirinya berdiri dengan terlihat keren, namun dari belakangnya yang kini terdapat aku sendiri tengah memandang ****** ******** berwarna hijau yang terangkat oleh ranting pohon kecil tersebut.


   “Sawatari, kau suka dengan matcha?”


   “Tentu saja, bagaimana kau ta—”


Sawatari menyadarinya ketika ia berniat berbalik badan ke arahku.


   “Jangan lihat!”


* * * * *


Sawatari mengajakku ke taman kota, namun aku merasa heran akan tujuannya karena hari sudah melewati waktu sore yang membuat perlahan-lahan dunia ini menjadi gelap.


   “Ngomong-ngomong, kenapa kau mengajakku ke taman kota meskipun sebentar lagi akan gelap?”


   “Aku ingin memastikan bahwa aku tidak mengulangi hari yang sama. Karena itu, kau yang tahu mengenai ini akan paham akan hal tersebut.”


   “Ah ... aku mengerti. Tetapi, lebih baik kita pergi ke rumahnya lalu mengintainya. Bagaimana dengan itu?”


Pertanyaan dariku membuat Sawatari terhenti yang tengah berjalan di depanku. Sepertinya dia baru menyadari arti dari ucapanku yang gampang dimengerti.


   “Apa kau tidak berpikir sampai ke situ? Bego.”


   “Berisik! Aku juga tahu akan hal itu!”


Bentak Sawatari setelah berbalik badan ke arahku. Apa dia suka teriak-teriak seperti itu? Dan terlebih lagi, sepertinya dia tipe tsundere yang agak bodoh gimana gitu.


   “Baiklah, kita pergi.”


Kataku seraya berjalan melewatinya. Sawatari segera menyusulku lalu berjalan di samping kananku, ia menanyakan letak rumah Kifune di mana.


Kujelaskan dengan singkat, lagi pula rumah Kifune berada di distrik pasar swalayan. Itu juga tujuan awalku sebelum Sawatari mengajakku.


* * * * *


Setelah kami berdua sampai di distrik pasar swalayan. Kami hanya menunggu kedatangan Kifune ke distrik swalayan ini, namun hingga larut malam pun kehadirannya tidak ada sama sekali.


Lokasi kami berdua saat ini ada di toko buah Paman Macho. Sambil menikmati jus buah, kami juga mencari informasi dari Paman Macho mengenai keluarga Kifune.


Hal ini sangat aneh, karena sudah hampir jam sembilan malam dan Kifune masih belum pulang. Akan semakin aneh jika dia belum pulang hanya karena memasak di ruang tata boga.


   “Sawatari, apa kau menyadarinya?”


   “Ya, Kifune belum terlihat sama sekali.”


Aku sudah bingung dengan keadaan saat ini. Kucoba telepon Kifune, namun panggilanku tidak diangkat olehnya. Kifune tidak akan segan menerima telepon dariku, dengan kata lain ...


Aku langsung bergegas kembali ke sekolah disertai Sawatari yang mengikutiku dari belakang. Namun karena lariku terlalu cepat, Sawatari menyuruhku untuk pergi terlebih dahulu.


Tetapi karena sudah gelap dan meninggalkan Sawatari di belakang sendirian akan lebih berbahaya. Aku mengambil posisi jongkok di depannya lalu segera menggendong Sawatari ketika ia lengah.


   “A-apa yang kau lakukan!?”


   “Kau tidak lihat? Aku sedang menggendongmu agar kau tidak tertinggal. Ngomong-ngomong, punyamu menekan punggungku dan itu rasanya aduhai.”


   “Berisik!”


Setelah ia memarahiku, langsung saja aku bergegas pergi menuju gerbang sekolah di mana letaknya di antara dua jalan yang berbeda dan dipisahkan dengan jalan raya. Menggendong Sawatari cukup melelahkan, namun aku tidak bisa mengatakan berat karena akan menyakiti hati seorang perempuan.


Ketika posisiku saat ini sudah dekat dengan sekolah, aku menurunkan Sawatari dan keringatku bercucuran cukup banyak. Seragamku basah dan untungnya tidak merembes hingga jas, mungkin Sawatari akan protes jika keringatku menempel di seragamnya.


Kami berdua berjalan cukup pelan menyusuri jalan trotoar yang diterangi oleh lampu jalan. Sawatari memegangi jas milikku karena ia takut ditinggal sendiri, dirinya yang bilang sendiri.


Ketika pandanganku terfokus ke depan, di depan gerbang sekolah yang terdapat suatu lampu jalan. Di tengah-tengah penyeberangan atau zebra cross, terdapat seseorang yang tergeletak dan itu sudah terlihat jelas cukup jauh dari sini.


Aku langsung menarik lengan Sawatari lalu berlari dengan tergesa-gesa. Namun sesampainya, aku langsung menghentikan langkahku lalu berbalik badan kemudian memeluk Sawatari seraya memendamkan wajahnya di dadaku.


   “Jangan lihat, tidak boleh kau lihat sama sekali.”


   “Tu-tunggu!? Apa yang sedang kau lakukan!?”


Sawatari mulai meronta-ronta agar lepas dari pelukanku. Ini akan sangat kejam jika ia melihatnya, karena seseorang yang tergeletak tersebut adalah Kifune dengan kepala yang mengeluarkan cairan berwarna merah dan terlihat jelas karena lampu jalan ini berwarna putih.


Aku sangat menyayangkan hal ini. Pikiranku mulai lelah dengan fenomena supranatural ini, meskipun aku tidak campur tangan. Namun, kematian Kifune tidak bisa dihindari meskipun aku menjauh darinya.


Jika seperti ini, maka penyebab bunga berwarna hitam yang menyelimutinya adalah ...


To Be Continue ....