Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Mungkin Masalah



Tidur di waktu istirahat siang, waktu luang yang amat berharga bagiku. Hanya saja, terdapat gangguan dari seseorang yang mencoba mengganggu tidur siangku.


   “Tuan Panda, hei ... bisakah kita makan siang sekarang ... ”


Kamine yang duduk di atas kursi roda dan berada di samping kananku. Mencubit-cubit pipiku lalu mengacak-acak rambutku.


   “Bukankah kau sudah lapar? Ayolah ... ”


   “Berisik, seharusnya kau berada di kelas bersama Senke. Belajarlah sedikit karena kau tidak pernah masuk sekalipun.”


Ucapku seraya memiringkan wajahku sehingga menatap wajahnya. Namun, ucapanku dibalas dengan pipi yang menggembung.


   “Seharusnya—”


Ketika aku ingin mengucapkan suatu hal, perutku tiba-tiba berbunyi nyaring. Ucapanku memang tidak ingin makan siang, namun perutku sudah demo minta makan.


   “Baiklah, kita makan siang terlebih dahulu. Kifune, Kukang! Mau ikut bersama kami!?”


Panggilku kepada mereka berdua yang sedang berbicara di depan kelas. Mereka menolak ajakanku dengan tergesa-gesa, entah apa yang ingin mereka sampaikan dan aku tidak mengerti.


   “Tuan Panda, mereka berdua sepertinya menganggap kita berdua sepasang kekasih.”


   “Oh ... begitu ya. Kifune, Kukang! Kami berdua tidak pacaran! Santai saja!”


Karena teriakanku, mereka berdua terkejut dan apalagi para murid di kelas ini pun terkejut. Baru saja aku mengerti, mereka semua menganggap kami berdua pacaran.


   “Yang benar saja, ini bukan karena fenomena supranatural, kan?”


   “Mana mungkin, coba lihat.”


Tiba-tiba saja, Kamine merangkul tangan kananku yang membuat seisi murid di kelasku teralihkan perhatiannya. Seorang murid yang telah lama tidak pergi ke sekolah karena sakit, tiba-tiba saja dekat dengan berandalan sepertiku maka akan terdapat suatu kecurigaan.


   “Kami ini tidak pacaran, hanya saja bertunangan.”


Seisi kelas terdiam sambil mencerna dengan apa yang dikatakan Kamine. Kuka- maksudku Sakaguchi langsung teriak-teriak tidak jelas dan Kifune memberikan dukungan kepada kami berdua dengan menunjukkan tulisannya kepada kami.


   “Jaga ucapanmu kampret.”


Ucapku seraya melirik tajam ke arah Kamine. Sialnya, dia menunjukkan senyuman licik dengan rencananya yang sudah berjalan lancar.


* * * * *


Tentang Suzurikawa yang kepribadiannya terbelah menjadi dua individu. Salah satu dari mereka merasa ada sesuatu yang kembali, setelah kucek Suzurikawa yang ada di rumah sakit. Keberadaannya hilang seketika, namun ingatanku ketika bersamanya masih ada.


Dengan seperti itu, dua Suzurikawa telah kembali menjadi satu entah apa penyebabnya. Yang jelas, fenomena supranatural yang dialaminya terlihat sudah selesai.


Dan sekarang, Suzurikawa terdiam berdiri di hadapanku karena melihatku yang berjalan bersama Kamine dibantu dengan tongkatnya. Kamine tidaklah lumpuh, hanya saja kedua kakinya lemah namun ia dapat berjalan-jalan untuk waktu yang sedikit.


   “Kanari, siapa dia?”


   “Oh, dia Kamine. Tem-”


   “Aku pacarnya.”


Ucapanku dipotong oleh Kamine, kami terdiam sebentar hingga Suzurikawa menyadari ucapannya dan menyebabkan pipinya merona kemerahan.


   “Ja-jadi itukah hubungan kalian berdua.”


Ucap Suzurikawa yang perlahan-lahan melangkah mundur sedikit demi sedikit. Kampret, Kamine mulai menyebar gosip aneh dan kemungkinan besar dia sedang mencari suatu hal yang ingin ia ketahui.


   “Ngomong-ngomong Suzurikawa-senpai, bisakah kau membantuku mengajari Kamine. Sepulang sekolah nanti, bisakah kau datang ke rumah?”


Tanyaku dengan polos dan lugu. Baru saja kusadari, dua Suzurikawa yang telah menyatu ini pastinya ingatan dan kesadaran sudah sepenuhnya menyatu. Aku lupa jika Suzurikawa memiliki fobia terhadap laki-laki atau yang biasa disebut dengan Androphobia.


   “Bo-boleh saja, jika itu tidak mengganggumu.”


Jawabnya, kemudian dia pergi ke arah lain seraya melambaikan tangan kanannya. Namun aku harus waspada, bisa saja aku dihajar habis-habisan olehnya.


* * * * *


Karena Kamine terus-menerus mengikutiku. Akhirnya kami makan siang di ruangan klub sastra, di mana terdapat Amagase Kazari yaitu Ketua Klub Sastra tengah makan siang seperti kami berdua.


   “Koala, apakah dia Kamine yang pernah kau ceritakan padaku? Orang yang pertama kali mengalami fenomena supranatural itu?”


Tanya Kazari seraya menatap ke arahku yang tengah mengunyah roti selai stroberi. Setelah kutelan, aku berhenti sejenak lalu meminum susu kotak yang kubeli sebelumnya.


   “Ya, dia adalah cewek rese anak sultan.”


Kazari terdiam sebentar seraya memikirkan sesuatu.


   “Ngomong-ngomong Koala, bisakah minggu depan nanti kita pergi berdua ke suatu tempat?”


   “Ngg ... boleh saja, tapi aku ini bukan anggota klub sastra loh.”


   “Tidak apa tidak apa, aku suka dengan sifatmu itu.”


Kemudian Kazari tertawa karena jawabanku. Tunggu, apakah ada yang aneh? Dan kenapa Kamine menatapku dengan penuh dendam seperti itu?


   “Pergi ke suatu tempat hanya berdua? Bukankah itu sama saja dengan kencan. Tuan Panda, bisakah kau menjelaskannya padaku sedetail mungkin?”


   “Kalem euy, tatapanmu penuh dendam seperti itu.”


Kazari menyeruput secangkir teh yang disediakan di ruangan klub sastra ini. Setelah meletakkannya kembali, dia memanggil kami berdua sehingga perhatian kami teralihkan kepadanya.


   “Jangan salah sangka Kamine. Aku dan Koala adalah sepasang kekasih.”


Perkataannya yang datar namun memiliki makna yang dalam. Membuat suasana hening seketika.


   “Anjeng! Ketua Klub geblek perusak suasana!”


Seruku seraya berdiri dari kursi yang aku duduki. Kazari tersenyum kecil ke arahku, rencana yang ia susun sepertinya berjalan mulus untuk memanas-manasi Kamine.


Namun, Kamine tidak bereaksi apapun malahan dirinya menghela napas cukup panjang kemudian menatapku dengan wajah yang bahagia.


   “Baguslah, Tuan Panda ... terdapat seorang perempuan yang memperhatikanmu dan menjadi pacarmu. Kamine sangat senang, akhirnya Tuan Panda memiliki pacar yang cantik seperti Kazari-senpai. Tuan Panda tidak perlu mengkhawatirkanku lagi, aku ... ”


Inilah kesalahan yang pernah aku lakukan dulu. Setelah Kazari menyadari perkataannya yang dipercayai oleh Kamine yang ia niatkan untuk bercanda. Kazari meminta maaf sebesar-besarnya kepada Kamine, tentu saja dia berbohong terhadap semua hal dan Kamine malah kecewa karena Kazari berbohong.


* * * * *


Malam hari yang tenang sehingga membuatku ingin bermalas-malasan. Dua orang itu masih belum datang, mencoba untuk terlelap namun seseorang meneleponku.


Mau tidak mau, aku beranjak dari atas sofa lalu berjalan menuju ponselku berada lalu menerima panggilan tersebut yang berasal dari Ibuku.


   “Selamat malam, selamat datang di Betamart. Tidak menerima pesanan, silahkan datang ke toko terdekat.”


   “Kau anak yang kurang aja sekali. Nak, kami mengirimmu beberapa barang dari Jakarta. Mungkin akan sampai malam ini dan terdapat beberapa minuman keras yang bernama Ciu dari Ayahmu. Untuk adikmu, sepertinya dia akan tinggal sementara di rumah.”


   “Ayane akan pulang? Tiba-tiba sekali.”


   “Memangnya di rumahmu ada tamu?”


   “Ya, sebentar lagi dua perempuan cantik di sekolahku akan datang ke rumah.”


   “Aku tidak pernah mendidikmu menjadi seperti itu! Berani-beraninya kau membawa perempuan ketika kami per—”


*Tut


Aku langsung menutup panggilan telepon dari Ibuku. Ngomong-ngomong, aku sudah jujur namun masih saja dimarahi. Untuk berbohong pun cukup sulit, karena setiap dari mereka akan melupakan nama asliku.


Di keluargaku, yang masih bisa ingat dengan namaku hanya Adikku dan selain dari keluargaku adalah Kamine. Dia tetap memanggilku dengan panggilan Tuan Panda, entah apa tujuannya.


Setelah kutanya kedua orang tuaku, mereka tidak bisa melihat namaku meskipun sudah kutulis secara gamblang. Kata mereka, namaku tidak tertulis dengan jelas.


Yang terakhir kuingat, terdapat seorang perempuan yang memberikan kekuatan ini padaku. Namun, dia memintaku untuk mencari 'kebenaran' di dunia ini.


*Duk-duk


Terdapat seseorang yang mengetuk pintu rumahku. Dengan segera pergi ke depan rumah lalu terdapat dua perempuan yang kuundang ke rumahku, mereka berdua adalah Suzurikawa dan Kamine dan entah kenapa terdapat Kazari yang ikut bersama mereka berdua.


   “Tunggu sebentar, aku tidak pernah ingat mengundang Kazari-senpai.”


   “Maaf Kanari, aku dipaksa olehnya.”


Ucap Suzurikawa yang gugup, namun aku membiarkannya masuk karena dia telah membantu Kamine dengan cara mendorong kursi rodanya. Setelah masuk, aku langsung meminta tolong kepada Suzurikawa dalam mengajari Kamine.


Kazari keluyuran ke sana kemari, sepertinya dia cukup terkejut karena terdapat banyak barang antik di rumah ini.


Menutup kedua mataku perlahan-lahan, memejamkannya beberapa kali lalu membukanya perlahan-lahan. Dunia yang tadinya berwarna, kini berubah menjadi hitam putih. Namun, aku melihat perasaan tiga orang itu dengan memvisualisasikannya menjadi kelopak bunga berbagai warna.


Synesthesia Petals, merenggut warna dunia namun perasaan orang lain dapat dilihat olehku.


To Be Continue .....