
Berjalan dengan santai di pagi hari. Mulut yang sibuk mengunyah roti gandum isi cokelat. Tangan kanan memegang susu kotak, sarapan sederhana yang tidak bikin kenyang.
Langkahku terhenti ketika melihat Suzurikawa tengah menatap seekor kucing di atas benteng beton rumah. Perlahan-lahan dia mengulurkan tangan kanannya, kucing itu merespon gerakan dari Suzurikawa. Kucing itu mengendus tangannya beberapa kali, kupikir itu akan aman saja.
*Caplok aja dah, aeng nggak tau efek suaranya
Jari telunjuknya dimakan oleh kucing berwarna loreng itu. Aku yang melihatnya, segera menghampirinya dengan panik. Akan tetapi, dia terdiam ketika kucing lorenf itu menggigit jarinya beberapa kali.
Aku memperhatikannya dari kejauhan seraya menghabiskan roti gandum yang dijadikan sarapan. Meminum habis susu kotak dan menyimpannya di saku jaket sebagai tempat sampah darurat. Suzurikawa berteriak dengan suara yang imut, aku ingin menolongnya namun ragu.
Di setiap jalanan ini banyak sekali murid dari sekolah yang sama denganku. Untuk menghampirinya, aku harus mengabaikan pandangan orang-orang yang kini menatap tingkah imut Suzurikawa. Sial, dia terlalu imut sampai-sampai aku tidak tahan lagi dengan tingkahnya.
Dengan jalan cepat menghampirinya dari belakang. Meraih tangan kanannya dengan maksud menjauhkan jarinya yang digigit oleh kucing itu. Namun, reaksi Suzurikawa terlihat menatap kosong ke arahku bagaikan jurang putus asa.
“Ada apa Senior!? Kau sakit!?”
Ketika aku khawatir. Suzurikawa memukul perutku sangat kuat, dia menarik kerah seragamku dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya digunakan untuk menarik lengan kananku.
Dengan seperti itu, gerakan ini adalah bantingan yang ada di Judo. Karena tubuhku lemah tanpa tenaga yang mengalir, dengan mudahnya aku dibanting olehnya. Rasa sakit langsung menyebar bagian tubuh belakang.
Pada waktu yang sama, kami berdua saling bertatapan. Dia melepaskan genggaman tangannya dari kerahku, mundur selangkah menjauhiku. Segera bangkit karena cukup malu dilihat oleh banyak orang, namun Suzurikawa terlihat depresi terpintas dari wajahnya.
“Ada apa? Biar kulihat jarimu. Kau digigit oleh kucing loreng itu, kan?”
Tanyaku seraya menghampirinya. Namun Suzurikawa semakin menjauhiku dan akhirnya berlari meninggalkanku. Aku salah apa sampai-sampai diperlakukan seperti itu?
Apakah mungkin ... dia menyukaiku? Hahaha mana mungkin, dia Androphobia. Sadar dirilah jomblo.
* * * * *
Berjalan di lorong sekolah yang dipenuhi para murid. Melewati setiap orang dan tujuanku adalah kelasku. Aku memasuki kelas dengan pintu yang sudah terbuka lebar.
“Masbro! Ada surat untukmu.”
“Surat?”
Aku berjalan menghampirinya lalu Sakaguchi meletakkannya di atas bangku milikku. Kusimpan tas yang kugendong di samping kanan bangku. Sekarang, aku menghadapi sepucuk surat yang ditunjukkan kepadaku. Kuraih dan kubaca tulisan rapi disertai emoticon yang imut.
“Maafkan aku >_< ... Suzurikawa Sayuki.”
Aku tidak bisa berkata apapun tentang hal ini. Semua misteri dan puzzle yang ada di dalam pikiranku perlahan-lahan mulai menyambung. Ingatan, kebiasaan, sifat, dan tingkah.
Aku menyadarinya, Suzurikawa mengalami Androphobia yang tidak terlalu serius. Hanya saja, sifat baik yang dimilikinya itu adalah sifat alaminya. Perasaanku mulai terkoyak, napasku berat ketika menyadari suatu hal.
* * * * *
“Masbro ... Masbro, istirahat jam pertama sudah tiba.”
Suara seseorang yang mencoba membangunkanku seraya menggoyang-goyangkan bahuku cukup kuat. Perlahan-lahan memejamkan mataku berulang kali, tiba-tiba saja perutku mengaum. Wajar saja, sarapan dengan roti gandum tidaklah cukup.
“Masbro, kau selalu tertidur jika pelajaran kimia yang dibahas. Ngomong-ngomong ... kau bawa bekal?”
Tanya Sakaguchi seraya melihat wajah bodohku bangun dari tidur. Aku menggelengkan kepala, menguap dengan mulut yang menganga lebar. Karena aku dan Sakaguchi tidak membawa bekal, kami berdua memutuskan untuk pergi ke kantin.
“Kifune, kau mau ikut?”
Tanyaku seraya beranjak dari tempat duduk. Ia menanggapinya dengan gelengan kepala, memberitahukan sesuatu kepada kami dengan bahasa isyarat. Dia melakukan gerakan tangan kanan ke depan yang melingkar di area perut.
“Kifune ... kau hamil?”
Pertanyaanku membuat Kifune dan Sakaguchi terkejut. Sakaguchi melakukan jitakan cukup sakit di area tempurung kepalaku. Karena sakit, aku mengusap-usap kepalaku yang malang ini seraya meminta maaf kepada Kifune.
“Kalau begitu sampai nanti.”
Ucapku seraya melambaikan tangan kananku. Kami berdua segera pergi ke kantin sekolah yang ada di lantai satu, karena itulah kami berdua menuruni tangga. Sakaguchi tengah sibuk memikirkan makanan yang akan dijadikan makan siang.
“Masbro, kau mau beli apa?”
“Hmm ... nasi goreng.”
“Oh boleh juga! Aku akan memesan menu yang sama denganmu.”
Percakapan singkat yang membuat kami lupa akan medan perang di depan kami. Suasana kantin sekolah ramai, suara berisik memenuhi area kantin ini. Kami berdua mengantri di barisan yang tidak terlalu panjang.
“Kukang, kau mencatat materi kimia yang tadi?”
“Terima kasih.”
Pesanan kami berdua yang merupakan nasi goreng telah dihidangkan. Namun permasalahan yang kedua adalah mencari tempat duduk untuk menikmati makan siang kami. Ketika kuperhatikan satu-persatu para murid di sini, kulihat Kazari bersama Suzurikawa menikmati santapan siangnya.
“Kukang, ikuti aku.”
“Siap Masbro!”
Dengan gerakan gesit menghindari setiap murid yang menghalangi maupun melewati kami berdua. Sakaguchi duduk di samping kiriku, di hadapanku saat ini adalah Kazari dan di samping kanannya Suzurikawa yang saling berhadapan dengan Sakaguchi.
“Koala? Jarang sekali melihatmu di kantin.”
“Begitulah, ngomong-ngomong ... maafkan aku Suzurikawa Senpai.”
Ucapku seraya sedikit membungkukkan badan di posisi duduk. Suzurikawa menanggapinya dengan panik seraya menggerak-gerakkan kedua tangannya di depan layaknya penolakan.
“Kau menolak permintaan maafku? Kalau begitu kutraktir nasi goreng ini.”
Meski begitu, Suzurikawa tetap menolaknya dengan gerakan kedua tangan yang sama. Apa yang harus aku lakukan agar aku dimaafkan olehnya? Kalau begitu caranya. Hanya cara itu jalan satu-satunya.
“Masbro, apa yang kau lakukan?”
Aku beranjak dari tempat duduk, perlahan-lahan turun ke permukaan lantai. Meskipun aku dilihat oleh orang lain, rasa malu bercampur aduk dengan perasaan yang lain. Aku bertekuk lutut, kini aku bersujud agar permintaan maafku dapat diterima.
“Masbro! Kau terlalu merendahkan dirimu!”
Sakaguchi mencoba menghentikanku, namun aku menyuruhnya diam. Ini adalah urusanku, aku tidak boleh melibatkan orang lain terhadap masalahku sendiri.
“Mmm ... Koala, begini ... sebetulnya Sayuki bukannya menolak permintaan maafmu. Namun ia ingin menyampaikan bahwa hal tersebut tidak apa-apa dan bukanlah masalah besar.”
Karena perkataan dari Kazari menyadarkanku. Dengan segera bangkit segenap jiwa dan raga. Aku menanyakan hal tersebut kepada Suzurikawa seraya menatap wajahnya yang terlihat gugup.
“Apakah memang seperti itu? Suzurikawa Senpai?”
Tanyaku, Suzurikawa menanggapi pertanyaanku dengan anggukan kepala disertai wajah yang tersipu malu. Masalah selesai, aku kembali duduk dan segera memakan nasi gorengku yang mulai dingin.
“Masbro, kau kurang peka.”
“Koala, kau kurang peka.”
Ucap Sakaguchi dan Kazari secara bersamaan. Aku ingin menjawabnya, namun tidak bisa karena mulutku tengah sibuk mengunyah. Setelah menelannya, aku mengenalkan Sakaguchi kepada Kazari dan Suzurikawa.
Tak kenal maka tak sayang. Meskipun sudah kenal tetapi tidak disayang. Tak kenal maka tak sayang, kenalan dulu baru pendekatan.
* * * * *
Pembelajaran berjalan seperti biasanya. Karena hari ini luang dan aku mulai bosan di rumah. Lagipula aku tidak membawa sepeda, entah apa yang merusuki tubuhku.
Berjalan di lorong yang sunyi, senja jingga kemerahan memasuki jendela gedung sekolah lama. Ketika aku berniat untuk pergi ke ruang klub sastra, tidak sengaja pandanganku bertemu Suzurikawa yang tengah berjalan bersama Kazari.
Ketika aku ingin memanggil mereka berdua. Diriku sadar, aku bukanlah siapa-siapa bagi mereka. Keberadaanku hanyalah remahan rengginang di kehidupan mereka berdua.
Karena itu, aku tidak ingin terlalu memasuki zona nyaman yang jika kumasuki akan tidak seimbang. Lagipula, tidak akan ada yang peduli terhadap diriku. Langkahku terhenti, segera kembali menuju pintu depan sekolah dengan niat pulang ke rumah.
Pada saat itu, aku melihat sosok Kifune yang tengah menunggu seseorang. Mungkin saja dia menunggu pacarnya, aku mengucapkan perpisahan seraya melewati dirinya yang tengah bersandar pada dinding beton. Hanya saja langkahku terhenti, Kifune menarik seragamku.
Ia memperlihatkan catatan kecilnya padaku. Terdapat satu pertanyaan yang ia tunjukkan untukku. Sedari tadi kau terlihat gelisah dan kebingungan, apakah ada masalah?
Pertanyaan sangat tepat, lagipula aku hanya mengkhawatirkan masalah tentang Suzurikawa. Untuk sekarang masalah itu selesai, aku menjawabnya dengan singkat lalu segera berniat pergi. Kifune, dia tetap menarik seragamku dan menolak membiarkanku pergi.
“Ada apa?”
Tanyaku seraya melihat wajahnya yang cukup kesal ketika aku berniat untuk pergi. Meskipun aku memaksanya, Kifune tidak mau memberitahu alasannya kepadaku. Karena itu, kali ini kutinggalkan dirinya seraya melambai-lambaikan tangan kanan.
Semakin hari, semakin membuatku berbeda. Entah apa yang terjadi, aku tetap tidak tahu.
To Be Continue ...
Suzurikawa Sayuki