
Jam istirahat pertama dimulai, memikirkan menu yang akan kumakan di kantin nanti seraya membereskan buku pelajaran yang ada di bangku milikku. Kamine yang ada di kelas sebelah datang ke kelasku, ia mengajakku untuk makan siang bersamanya.
*Bruk
Terdengar suara suatu benda yang dijatuhkan di bangku milikku. Ketika menoleh ke sisi yang lain, terdapat Kifune yang meletakkan sebuah bekal makan siang seraya menunjukkan catatan kecilnya padaku.
Makanlah Panda, aku membuatkan ini untukmu.
Tunggu sebentar, apa maksudnya ini dan kenapa Kifune membuat bekal makan siang untukku? Bukankah ini sedikit aneh?
“Ada apa Kifune? Kenapa kau membuat bekal untukku?”
Tanyaku kepadanya dengan sedikit mengerutkan dahi. Kifune segera menulis jawabannya di catatan kecilnya, lalu menunjukkannya padaku bahwa dia masih percaya bahwa aku ini adalah pacarnya.
Aku sungguh lupa, ini menjadi bumerang bagiku namun karena ini juga Kifune mendapatkan kenangan agar waktu tidak terulang kembali. Agar tidak menyakiti perasaannya, aku menerima bekal yang ia buat lalu meminta maaf kepada Kamine yang mengajakku makan siang.
“Maaf Kamine, aku sungguh minta maaf.”
“Tidak apa Tuan Panda. Aku akan sarapan bersama Senke, sampai nanti Tuan Panda.”
Kamine pergi seorang diri kembali ke kelasnya. Fukuhara yang ada di belakangku menghampiri kami berdua dengan suasana yang canggung namun Kifune terlihat menikmati suasananya.
“Jarang sekali Kifune membuatkan Masbro bekal. Untukku mana?”
Tanya Fukuhara kepadaku dan Kifune. Aku hanya bisa tersenyum dipaksakan untuk menanggapi pertanyaan lalu Kifune menunjukkan catatan kecilnya berupa penolakan.
“Seorang bujangan dibuatkan bekal makan siang ya ... entah kenapa kalian berdua seperti sepasang ke—”
Sebelum Fukuhara mengakhiri kalimatnya, secara reflek memukul perutnya dengan cepat sehingga serangan kejutan yang tidak kusadari membuat Kifune terkejut. Namun dengan ini juga beberapa murid di sekitar tidak terlalu mendengar percakapan kami, bagaimana bila mereka tahu bahwa tentang aku merupakan pacar Kifune adalah kebohongan yang dibuat-buat.
“Kita pergi ke tempat lain Kifune.”
Ucapku seraya mengajaknya dan meninggalkan Fukuhara yang tersungkur seraya menahan rasa sakit dan napas yang sesak karena pukulan mengenai perut.
* * * * *
Di taman sekolah, bekal makan siang yang dibuat Kifune normal-normal saja dan terlihat enak. Kifune mempersilahkanku untuk mencicipinya terlebih dahulu, kuambil telur gulung lalu kumasukkan ke mulutku.
“Mmm ... telurnya lembut dan rasa asinnya mulai terasa se—”
Mulutku yang tadinya mengunyah kini terdiam. Aku takut untuk menelan telur gulung yang sedang kumakan, rasanya semakin aneh dan entah kenapa aku seperti ditarik oleh sesuatu. Jika aku telan, kemungkinan saja aku bisa mati!
“Ah!”
Seruku seraya menunjuk ke samping kiri karena Kifune duduk di samping kiriku. Ketika ia menoleh ke samping kiri karena tindakanku, dengan cepat kumuntahkan kembali telur gulung yang kumakan ke belakang lalu pura-pura menelannya setelah Kifune menoleh lagi ke arahku.
Bagaimana rasanya? Enak?
Catatan kecil miliknya ia tunjukkan kepadaku, kutanggapi dengan senyuman kecil seraya menganggukkan kepala. Aku yakin, bekal makan siang bisa dijadikan senjata untuk melumpuhkan musuh dengan cepat. Entah bahan apa yang ia campur ke telur gulung ini, meskipun terlihat menawan namun rasanya sudah seperti ditunggu oleh Dewa Kematian di ujung sungai.
Ketika aku terfokus kepada Kifune, terdapat dua perempuan yang kukenal tengah berjalan menuju ke arah kami berdua. Kami pun saling menatap karena menyadarinya.
“Koala? Apa yang kau lakukan di sini?”
Tanya Kazari seraya menatap bekal makan siang yang ada di pangkuanku. Sepertinya dia menganggap kami berdua tengah menikmati makan siang, ia pun mengajak Sawatari pergi dari sini karena menjadi pengganggu bagi kami.
“Tu-tunggu sebentar Kazari-senpai! Sawatari!”
Seruku seraya meninggalkan bekal makan siangku bersama dengan Kifune. Aku segera menghampiri mereka berdua lalu mulai berbisik-bisik agar tidak diketahui oleh Kifune.
“Tolong aku, jika seperti ini aku bisa mati keracunan!”
“Racun? Tetapi aku melihat kalian berdua tengah menikmatinya?”
“Menikmatinya jidatmu! Memangnya Kifune sedang makan? Lihatlah dia!”
Kami bertiga menoleh ke belakang dan terlihat Kifune meletakkan bekal makan siangnya lalu membuka bungkusan roti dari pada memakan bekalnya. Kazari dan Sawatari menelan ludah karena apa yang aku katakan sepertinya benar.
“Kau harus tanggung jawab dengan nyawamu Koala.”
“Benar, seperti yang dikatakan Ketua.”
“Tunggu sebentar, kapan kalian kenal? Kalian berdua terlihat akrab?”
Kazari curiga dengan hubungan kami berdua. Pengulangan yang berulang kali membuatku malas untuk menjelaskan hubunganku dengan Sawatari.
“Kazari-senpai, aku ini pacar Sawatari ... ah.”
Aku keceplosan, Kazari terkejut dengan mulut yang menganga serta Sawatari wajahnya mulai memerah dan berbalik badan seraya menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Pintaku kepada Kazari, ia pun menghela napas lalu menganggukkan kepala akan permintaan egoisku. Ia berjalan menuju Kifune yang tengah menikmati roti lapis yang mungkin saja berasal dari toko keluarganya.
Selang beberapa lama, Kazari kembali seraya menghela napas lega. Aku cukup penasaran dengan apa yang dibicarakan mereka berdua.
“Kazari-senpai, apa yang kau katakan padanya?”
“Oh ... itu mengenai ujian yang akan datang. Karena itu aku mengajaknya untuk belajar bersama.”
“Oh begitukah ... ide yang bagus. Ngomong-ngomong hanya kalian bertiga yang belajar bersama?”
“Ngg ... apa yang katakan? Aku baru saja ingin memberitahumu. Kamine datang kepadaku lalu mengajakku belajar berkelompok, ngomong-ngomong tempatnya di rumahmu.”
“Oh ... di rumahku. Tunggu sebentar, bisa kau katakan lagi?”
“Tempatnya di rumahmu nanti malam.”
* * * * *
Malam hari yang dingin ...
Bersantai di atas sofa seraya menonton acara televisi mengenai berita. Sambil tidur-tiduran, memakan makanan ringan berupa keripik kentang ditemani segelas susu hangat.
Ketika aku meraih ponselku untuk mengecek pesan yang masuk. Terdapat pesan dari Kamine bahwa dia sudah sampai dan kini ada di depan rumahku, aku segera keluar rumah dan sosok perempuan tersebut tengah menungguku seraya memegangi ponselnya yang baru saja mengirim pesan.
“Kau datang sendirian ke sini? Ke mana pelayanmu?”
“Aku membiarkannya pulang.”
Menghampirinya lalu membantu Kamine masuk ke rumahku dengan cara menggendongnya gaya tuan puteri. Aku baru saja sadar bahwa Kamine juga seorang perempuan, dia melihat ke arah lain ketika wajah kami berdua dekat.
“Maaf Kamine.”
“Ti-tidak apa ... ”
Berjalan memasuki lalu membiarkan Kamine istirahat di sofa yang sebelumnya kupakai untuk bersantai. Segera kembali lagi ke luar untuk mengambil kursi roda yang tertinggal, namun terdapat dua orang yang baru saja datang. Mereka berdua adalah Fukuhara, Senke, dan Kifune.
Kupersilahkan mereka semua masuk, aku tidak tahu berapa orang yang diundang oleh Kamine untuk belajar berkelompok. Mempersiapkan beberapa makanan ringan serta minuman untuk mereka yang baru saja datang seraya menunggu yang belum datang.
Seperti yang sudah kuduga, mereka terpaku melihat barang-barang antik dan buku-buku pada rak yang dikirim orang tuaku dari Jakarta. Bahkan saking antiknya, Kifune memberitahu bahwa beberapa barang yang dikirimkan dari Indonesia merupakan kerajinan serta hasil budaya yang tersebar luas dengan keanekaragamannya.
Ketika aku mengawasi mereka yang tengah melihat-lihat rumahku. Kamine terlihat kedinginan dan ia menggosok-gosokkan tangannya beberapa kali. Kuhidangkan susu hangat untuknya seperti minumanku sebelumnya, kesehatannya nomor satu dibandingkan yang lain.
Bel rumah menyala dua kali, dengan cepat berjalan menuju depan rumah lalu membuka pintu yang terkunci. Terdapat Sawatari, Kazari dan Suzurikawa yang datang, para murid teladan yang paling diharapkan.
Kupersilahkan mereka masuk dan Kazari serta Suzurikawa memberiku bingkisan kecil berupa makanan. Sawatari menungguku yang tengah mengunci pintu, sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu.
“Jadi ... apa yang terjadi? Pengulangan sudah tidak terjadi dan aku penasaran dengan apa yang kau lakukan.”
“Ceritanya cukup panjang, bahkan kau sendiri tewas karena keteledoranku. Maaf Sawatari.”
“Aku tewas? Pantas saja terasa ada yang aneh ketika pengulangan yang kemarin terjadi. Aku merasa seperti dilahirkan di dunia yang baru, jadi pengulangan itu terjadi karena aku tewas. Dan ... ada hal menarik apa ketika pengulangan di mana aku tewas?”
Tanya Sawatari, aku menghela napas terlebih dahulu lalu berjalan mendekatinya dan membisikkan sesuatu yang pasti membuat dia terkejut.
“Di pengulangan itu ... aku menjadi pacarmu. Sawatari Karen.”
Pada akhir kata, kutiap telinga Sawatari dan ia langsung menghindariku dengan wajah yang memerah. Padahal aku hanya bercanda sedikit meskipun benar dengan apa yang kukatakan. Namun dengan ini, fenomena supranatural yang melibatkan Sawatari serta Kifune telah selesai.
Berjalan menuju ruang tengah di mana semua orang tengah menunggu kedatangan kami berdua. Para senior mulai memulai pembelajaran lalu mengajari para junior, apalagi Suzurikawa.
Kamine tersenyum kecil ke arahku, kuhampiri dirinya lalu duduk di samping kanannya karena dia terlihat ada masalah.
“Ada apa Kamine?”
“Ehehehe ... ini sedikit mengingatkanku tentang sosok dirimu. Lalu ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Tentang apa?”
“Tuan Panda ... tidak ... ”
Ketika ia ingin mengatakan tentang isi hatinya. Kamine cukup ragu untuk mengatakannya, aku mengelus kepalanya dan menasehatinya agar tidak terlalu memaksakannya. Namun Kamine tetap ingin mengatakannya ...
“Ibusaki ... aku ... ”
To be Continue ....