Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Gorila



Sepulang sekolah, aku menunggu di luar kelas Suzurikawa karena dia menyuruhku untuk menemaninya ke perpustakaan. Sebetulnya Suzurikawa lebih menyukai waktu sendiri dalam menikmati bacaan yang ia minati.


Mengintip ke dalam kelasnya, terlihat teman sekelasnya yang merupakan seorang laki-laki tengah menikmati percakapan yang lancar. Ketika kupandang mereka berdua, aku tidak iri sama sekali dan perasaanku biasa-biasa saja.


Lagipula, ada satu orang yang kucintai di dunia ini.


Setelah laki-laki itu pergi dari kelas ini, berjalan melewatiku tanpa melakukan kontak mata. Suzurikawa menatapku, senyuman kecil ia tunjukkan dan ia menyuruhku untuk menghampirinya.


   “Suzurikawa senpai, apa yang kau bicarakan dengan laki-laki tadi?”


   “Ekh? Kau penasaran? Jangan-jangan ... kau cemburu?”


   “Jidatmu, lekas bereskan barang-barangmu. Aku akan menemanimu ke perpustakaan.”


   “Terima kasih.”


Suzurikawa mengemas barang-barangnya ke dalam tas miliknya. Setelah dia selesai, aku langsung berbalik badan lalu berjalan menuju pintu kelas. Hanya saja, langkahku terhenti karena Suzurikawa menarik sebagian seragamku.


   “Tunggu, kau tidak ada niatan untuk membawa tasku?”


   “Huh? Oh ... aku ini menganut persamaan gender. Tidak ada yang namanya lady first di dalam kamusku.”


Setelah penjelasan singkat dariku, Suzurikawa terdiam menatapku dengan cukup kecewa. Ia menghela napas, mengambil tasnya dengan terburu-buru lalu berjalan mendahuluiku.


   “Kau marah?”


   “Mana mungkin!”


   “Dasar tsundere.”


   “Berisik bujang!”


* * * * * *


Berjalan melewati rak buku yang dipenuhi berbagai macam genre buku. Setiap dari penulis memiliki tujuan dan arti hidup ketika ia meggores coretan pada selembar kertas tipis. Berandalan sepertiku mengerti dengan hal sederhana itu.


Langkah kami berdua terhenti ketika sampai di rak buku yang selanjutnya dekat pojokan. Di pojokan ini terdapat tempat untuk membaca buku maupun belajar.


   “Hei ... apa yang kau cari di tempat yang membuatku mual ini?”


   “Mencari buku dari penulis yang aku sukai sekalian belajar sedikit. Kanari, apakah kau tidak suka membaca buku?”


   “Pada dasarnya memang tidak aku sukai. Tetapi, suatu saat dibutuhkan.”


   “Kapan?”


   “Mmm ... malam sebelum ujian dan ketika ulangan.”


   “ ... bukankah yang kedua itu kau curang?”


   “Di dunia ini setiap manusia melakukan kecurangan, apalagi dalam dunia bisnis. Untuk pelajar, pastinya menyontek adalah hal yang wajar.”


Suzurikawa menunjukkan wajah yang kecewa padaku. Padahal aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan, susahnya menjadi orang yang blak-blakan.


Suzurikawa mengulurkan tangannya ke rak buku paling atas. Ketika buku yang ia incar akan diraihnya, tinggi badannya tidak sampai meskipun ia sudah berjinjit. Karena wajahnya sudah memerah setelah berjuang begitu keras untuk meraih buku tersebut, kubantu dirinya untuk mengambil buku tersebut.


   “Ini.”


Ucapku seraya memberikan buku yang ia incar, Suzurikawa mengambil buku tersebut setelah mengatakan terima kasih. Langsung saja, ia berjalan menuju tempat untuk membaca buku yang difasilitasi dengan meja dan kursi.


Suzurikawa duduk di samping kananku, mengeluarkan buku catatan dan peralatan alat tulisnya. Membuka lembaran buku yang ia bawa tadi, sepertinya ia berniat untuk belajar di waktu sempit seperti ini.


Jika aku, pastinya kunikmati waktu sempit ini untuk tidur. Karena itu, efek dari kebiasaanku mulai membebani tubuhku dan perlahan-lahan mulai lelah. Perlahan-lahan menutup mataku, aku ingin tidur meskipun sebentar sekalian tidak mengganggu Suzurikawa yang tengah belajar.


Posisi duduk ini membuatku semakin menyatu dengan kursi yang aku duduki. Rasa nyaman ini membuatku semakin mengantuk, menghirup napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya kembali dengan lega.


   “Kanari, apakah kau tahu tentang ini?”


Karena suara dari Suzurikawa terdengar jelas tepat di sampingku, perlahan-lahan mataku terbuka. Menguap sebentar, menoleh ke samping kanan.



Aku langsung heboh seraya beranjak dari tempat dudukku.


   “Ti-tidak apa-apa, jangan khawatir.”


Memalingkan wajahku ke arah lain, senjata biologis milik Suzurikawa sangatlah berbahaya sekali. Untung saja, Suzurikawa sepertinya tidak menyadarinya. Aku kembali duduk, namun dengan posisi berhadap-hadapan seraya melihat ke arah lain.


   “Kau mendengar perkataanku yang tadi, kan? Apakah kau tahu tentang ini?”


Tanya Suzurikawa, dia menarik kepalaku untuk melihat buku yang ia letakkan di atas pahanya. Karena hal tersebut berbahaya, kuambil saja bukunya dengan cepat lalu meletakkannya di atas meja.


   “Yang mana?”


   “Yang ini.”


Ucapnya seraya lebih mendekat ke arahku hingga senjata biologisnya menyentuh tangan kananku. Langsung saja, aku beranjak dari tempat dudukku dengan dua tangan yang dikerahkan ke depan.


   “Kau kenapa? Sejak tadi apakah ada yang mengganggumu?”


   “Yah ... kau pastinya akan marah jika kujelaskan. Aku yakin seratus persen.”


   “Katakan saja, aku janji tidak akan marah.”


Karena ucapan darinya, maka aku tidak punya cara lain selain mengatakan apa yang aku pikirkan dengan lancar tanpa ada halangan. Menunjuk ke arah Suzurikawa yang duduk di atas kursi dengan tangan kananku.


   “Senjata bio- maksudku dadamu itu sungguh berbahaya, jangan bilang kau tidak menyadari yang tadi?”


Pertanyaan dariku membuat Suzurikawa terdiam dengan tatapan kosong. Perlahan-lahan ia menyadarinya dengan pipi merona kemerahan, ia beranjak dari tempat duduknya lalu menghantam wajahku amat keras.


Satu hal yang kusadari, tenaganya seperti gorila.


* * * * *


   “Tolong aku!”


Terbangun oleh mimpi di mana aku dikejar-kejar oleh Panda, Koala, dan satu lagi ... Gorila. Mimpi tersebut memang tidak menakutkan, tapi jika situasinya seperti itu maka siapa saja akan ketakutan.


Kusadari, ruangan sunyi dengan gorden terbuka di mana cahaya bulan memasuki ruangan ini melalui kaca. Tidak salah lagi, tempat ini adalah UKS sekolah setelah kuperhatikan dengan teliti kembali.


Ketika aku berniat untuk mencari tasku, di atas meja yang ada di samping kiriku terdapat tas tersebut. Dengan segera, aku mengambil tasku lalu segera pergi dari UKS. Namun ... pintunya dikunci.


Untung saja, UKS ini berada di lantai satu. Berbalik badan, berjalan menuju jendela yang ada di bagian pojok di mana aku tidur tadi. Kubuka slot kuncinya, kudorong jendelanya lalu kututup kembali setelah keluar dari UKS.


Dengan ini, aku dapat keluar dari ruangan yang terkunci. Berjalan menuju gerbang sekolah, suasana di sekolah ketika malam hari memang menyeramkan. Sedari tadi, pipi sebelah kananku sedikit sakit setelah menerima hantaman Suzurikawa yang membuat kesadaranku hilang.


Jika Suzurikawa menggunakan teknik tersebut ketika di kejuaraan bela diri, otomatis menang tanpa susah. Karena di rumahku hampir kehabisan bahan makanan, aku berniat pergi menuju pasar swalayan yang masih ramai.


Mengecek jam pada layar smartphone, masih ada banyak waktu meskipun sudah memasuki waktu malam. Dengan seperti ini, aku hanya berjalan santai menuju pasar swalayan sekalian pulang ke rumah.


Melalui jalan yang biasa kulalui pulang pergi seraya memasang indra pendengaranku lebih tajam dari biasanya. Bahaya di malam hari semakin meningkat, namun yang paling berbahaya adalah ... seorang perempuan yang berdiri terdiam seraya menatap kucing loreng yang diam di atas benteng beton.


Ya, tempat di mana biasanya Suzurikawa terdiam memperhatikan kucing loreng yang sudah tiga kali ini kejadian sama seperti ini terulang. Seharusnya Suzurikawa mengulurkan tangannya lalu jarinya digigit, namun ia pergi begitu saja setelah menghela napas.


Setelah Suzurikawa pergi cukup jauh, kuhampiri kucing loreng tersebut lalu melakukan hal yang sama seperti Suzurikawa. Langkah kaki yang pelan terdengar di belakangku, sosok siluet manusia terpampang jelas namun tidak bisa dipastikan siapa dirinya.


   “Selamat malam Kanari.”


Suaranya tidak salah lagi, dia adalah Suzurikawa Sayuki dengan pakaian tebal untuk menghangatkan tubuhnya dari dinginnya malam. Dengan kata lain, Suzurikawa Sayuki yang ada di hadapanku saat ini merupakan Suzurikawa yang lain.


Mengenakan syal yang dipakaikan pada badannya, mengenakan thigts hitam dengan pita yang dilingkarkan pada kerah pakaiannya.


Dia berjalan menghampiriku, lampu jalan menerangi dirinya lalu berjalan melewatiku. Kuperhatikan dirinya, ia mengulurkan kedua tangannya seraya berjinjit untuk meraih kucing loreng yang diam di atas tembok.


Aku terkejut, kucing loreng tersebut menurut kepada Suzurikawa. Ia mengelus-elus kepalanya, Suzurikawa yang ini akrab dengan kucing loreng tersebut. Berbeda dengan Suzurikawa yang biasanya digigit ketika berniat untuk menyentuhnya.


   “Bagaimana Kanari? Apakah ada petunjuk setelah menemui diriku yang satunya?”


Ia memeluknya hingga kucing loreng tersebut dapat bersantai di pangkuannya. Ketika aku berniat untuk menjelaskannya, suatu kejanggalan kusadari setelah kuperhatikan dua Suzurikawa Sayuki. Jika kejanggalan tersebut adalah penyebab dirinya terbelah menjadi dua, maka hal tersebut dapat dipastikan.


   “Suzurikawa senpai, mau menginap di rumahku?”


To Be Continue .....