
Seperti yang aku katakan, aku mengajaknya kencan dan Kifune menerimanya meskipun bolos jam pelajaran. Sepertinya dia ingin tahu alasanku mengajaknya kencan, namun aku tidak bisa mengatakannya tentang fenomena supranatural.
Bagi Kifune yang cukup tsundere dan tenang, aku mengajaknya mengunjungi kebun binatang. Tentu saja aku yang bayar, karena ini juga masalahku karena aku tidak bisa melepaskan diri dari pengulangan.
Kami berdua berkeliling ke sana kemari dan di taman ini hanya ada sedikit orang karena bukan hari libur. Kami berdua terlihat seperti pasangan, entah apa yang dipikirkan para pegawai di kebun binatang ini.
Kenapa aku mengajaknya kencan? Ini mengenai masalah ingatan. Jika Kifune mendapatkan kenangan yang lebih berharga dari pada masa lalunya, maka ia akan terus maju ke masa depan tanpa mengkhawatirkan masa lalunya yang menjadikan pengulangan.
Setiap kami mengunjungi salah satu hewan, sifat cerianya muncul lalu menuliskan hal-hal penting di catatan kecilnya. Ketika kami menemui panda, Kifune menatapku seraya membandingkannya dengan panda asli.
“Mirip ... ”
Tulisan yang ia tunjukkan padaku membuatku tertawa, entah apa yang membuatku mirip dengan panda. Kifune menarik lenganku menuju tempat lain, kini kami melihat koala yang sedang bersantai di dahan pohon.
Ia memperhatikan koala tersebut dengan seksama seraya menuliskan sesuatu di catatan kecilnya. Karena seharian mengunjungi berbagai tempat, jam makan siang tiba dan aku mengajaknya makan siang di kantin yang ada di kebun binatang ini.
Aku serahkan untuk memilih bangku kosong yang ada di luar. Kifune menunjuk meja kosong untuk dua orang, ia pun menarik lenganku dan senyuman kecil ia tunjukkan lalu sisi manisnya membuatku tersadar bahwa di balik perempuan yang pendiam pastinya ada manis-manisnya gitu.
Seorang pelayan laki-laki datang seraya membawa dua lembar daftar menu. Aku tidak melihatnya sama sekali dan membiarkan Kifune memesan terlebih dahulu. Ia pun kebingungan karena aku tidak menyentuh lembaran daftar menu tersebut sama sekali lalu dirinya memesan sesuatu seraya menunjukkan catatan kecilnya padaku.
“Salad buah dan pancake ya ... kalau begitu aku pesan yang sama, tolong ya.”
“Baiklah, mohon tunggu sebentar. Ngomong-ngomong kami punya diskon untuk pasangan pasutri seperti anda berdua, apakah anda berminat.”
“Oh itu pasti.”
Kifune memprotesnya seraya menunjukkan wajah yang kesal dan pipinya mengembung. Ia menulis sesuatu lalu menunjukkannya padaku.
Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau tidak menyangkalnya?
Pertanyaan dari Kifune membuatku tertawa kecil karena hanya masalah sepele bagiku, namun bagi dirinya pasti tidak. Aku menyentuh tangan kanannya yang tengah memegang catatan kecil.
“Meskipun kau lupa, sebenarnya kita berdua merupakan sepasang kekasih dan ketika pertama kali bertemu denganmu membuatku salah tingkah.”
Setelah menyelesaikan kalimatnya yang terucap. Perlahan-lahan wajah Kifune mulai memerah padam kemudian melepaskan tanganku lalu segera menulis sesuatu. Setelah dia yakin, ia menunjukkannya padaku.
Apa kau yakin? Maaf aku tidak ingat.
Kutanggapi dengan senyuman kecil. Untuk berjaga-jaga, Synesthesia Petals aktif dan membuat penglihatanku menjadi hitam putih. Ketika aku melihat ke arah Kifune, dia diselimuti oleh kelopak bunga berwarna merah dan beberapa kelopak bunga berwarna hitam pertanda kematian.
Bagaimana pun caranya, aku harus dapat mencegahnya dan tidak ada pengulangan lagi untuk ke sekian kalinya. Jika tidak bisa, hanya ada satu-satunya cara ketika menemui jalan buntu.
Pesanan kami berdua datang berupa salad buah dan pancake yang dilapisi dengan mentega serta madu. Kami berdua menikmati makan siang dengan menu yang sama, tentunya nomor satu adalah kebahagiaan Kifune.
* * * * *
Tak terasa, waktu berjalan terasa cepat dan aku juga lupa waktu karena seharian bersama dengan Kifune. Menjelang malam, aku mengantar Kifune menuju rumahnya yang ada di distrik pasar swalayan.
Setelah kuantar Kifune pulang, aku berbicara dengan Paman Macho terlebih dahulu mengenai masalah yang ada di distrik pasar swalayan ini. Hasilnya nihil dan tidak ada gangguan, maka setelah urusanku selesai yang ada di pikiranku saat ini adalah tidur untuk mengembalikan tenaga.
Di jalan menuju rumahku, di setiap langkah terdapat satu lampu jalan yang menerangi. Di ujung kegelapan, muncul seorang perempuan yang menggunakan pakaian hangat seraya duduk di atas kursi roda.
“Kamine ... ”
Aku segera menghampirinya lalu menanyakan keperluannya yang ada di wilayah ini. Ia menunjukkan senyuman kecilnya dan mengkhawatirkanku karena membolos bersama Kifune, menghela napas terlebih dahulu dan membuat tenang Kamine seraya mendorong kursi rodanya menuju rumahku.
“Mungkin kau tidak akan percaya denganku. Sebetulnya aku telah melewati hari yang sama untuk ketiga kalinya, hanya ada dua orang yang sadar tentang hal itu.”
“Jadi kau memutuskan untuk menyelesaikannya tanpa melibatkanku? Kenapa?”
“Kesehatanmu yang paling diutamakan, bagaimana jika kau jatuh sakit lagi? Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi.”
Kamine tidak menanggapi ucapanku karena ia juga sadar mengenai kejadian yang menimpa kami berdua. Ada beberapa alasan namun Kamine telah menyelamatkanku, dan aku menyelamatkannya dari kematian sehingga perlahan-lahan hubungan kami dekat.
“Ngomong-ngomong kau tidak pulang ke rumah? Pelayanmu mungkin saja khawatir.”
“Tenang saja Tuan Panda, aku telah bilang kepada pelayanku bahwa aku akan menginap di rumahmu.”
“Ngg ... boleh saja.”
* * * * *
Terbaring di kamarku sendiri seraya menatap atap yang membuatku tidak bisa tidur karena gugup jika saja waktu terulang kembali. Kamine yang tidur di kamar sebelah untuk tamu, mungkin itu tidak terlalu nyaman baginya yang merupakan anak sultan.
Mencoba untuk tidur seraya menghilangkan semua beban pikiran. Menenangkan diri hingga tidak sadar terdapat ketukan pintu, Kamine membuka pintunya lalu mengintip dari sela-sela pintu.
“Ada apa Kamine? Tidak bisa tidur?”
“Tuan Panda, aku takut jika saja waktu terulang kembali seperti yang kau katakan. Bolehkah aku tidur bersamamu?”
Pertanyaan Kamine sungguh berat, amat berat dibandingkan tanggung jawab yang lainnya. Karena kasurku memang cukup untuk dua orang, kugunakan bantal guling sebagai penengah dan memperbolehkan Kamine tidur di sisi lainnya.
Kamine mengerti, ia masuk ke dalam kamarku lalu menaiki ranjang yang sama denganku. Hatiku berdegup kencang dan sepertinya untuk tidur menjadi lebih sulit, ini memang bukan pertama kalinya aku tidur bersama Kamine tetapi tetap saja dia seorang perempuan dan aku laki-laki normal.
“Tuan Panda, apa kau sedang memikirkan sesuatu?”
“Ya, aku tidak bisa tidur karena terdapat seorang perempuan imut yang bersedia tidur di sampingku.”
“Hehehe ... terima kasih atas pujiannya. Tetapi aku tidak mengerti sama sekali, sejak pagi terdapat seorang siswi yang bernama Sawatari yang mencarimu.”
“Oh ... dia ya. Sawatari adalah orang yang satunya lagi mengenai pengulangan waktu. Entah kapan dia mengalami fenomena supranatural hingga dapat memiliki kemampuan itu, gadis yang malang.”
“Kau masih saja memikirkan orang lain, apakah kau lupa jika kau membuat kelopak bunga berwarna hitam milik orang lain yang kau maksud maka kau akan kena batunya.”
“Jadi kau sudah tahu ya, aku tidak bisa menyembunyikan apapun lagi darimu.”
* * * * *
Suara gitar nyaring yang berasal dari alarm ponsel milikku terdengar. Aku segera bangun dan menghentikan suara nyaring tersebut, ketika kuperhatikan lagi tanggal hari ini tidak salah lagi ... hari ini adalah hari selanjutnya setelah ketiga kalinya terjadi pengulangan.
Kamine yang seharusnya tidur di sampingku telah pergi. Dia meninggalkan catatan kecil bahwa dia harus pulang ke rumah setelah pelayannya menjemput pagi sekali, tidak ada cara lain selain sang anak sultan pulang ke rumahnya.
Segera pergi ke lantai satu lalu membasuh wajah di kamar mandi. Seraya melihat bayanganku sendiri di pantulan cermin, kelopak bunga warna hitam bertambah satu yang sebelumnya berjumlah lima.
“Sial ... ini mungkin gawat.”
To Be Continued .....