
Gawat ...
Aku mulai dilupakan oleh orang lain. Kematian yang seharusnya terjadi malah sebaliknya, hal ini membuat keberadaanku menghilang di benak orang yang mengenalku.
Memang benar, orang yang meninggal pastinya akan dilupakan oleh orang lain dan hal ini baru kualami. Hal ini yang membuatku takut, dilupakan oleh orang lain lebih menyakitkan.
Duduk termenung di atas kursi kayu memanjang di taman malam harinya. Ke mana pun aku pergi, orang yang mengenalku tidak akan ingat dan hanya ingat wajahku namun namaku hilang.
Anugerah ini ... kemampuan melihat perasaan orang lain hingga kematian seseorang ... apakah ini kutukan? Tidak mungkin, menyelamatkan nyawa seseorang dengan mengorbankan diri sendiri bahkan tidak kusadari.
Asalkan Kamine tetap hidup dan sehat selalu, bagiku sudah cukup meskipun aku telah dilupakan olehnya. Itulah yang kupikirkan, namun kenyataannya ...
Aku tidak ingin dilupakan, aku ingin membuatnya ingat dengan sosok keberadaanku. Aku ingin berbicara dengannya, tertawa bersama, namun tragedi ini membuatku semakin terpuruk dan keputusan yang aku ambil sudah buntu.
Menemui Kamine untuk saat ini mungkin sia-sia, keberadaanku saat ini sudah lenyap di ingatannya dan satu-satunya cara adalah memecahkan kemampuanku ini.
“Kau belum pulang? Aku mencarimu ke berbagai tempat bodoh.”
Ucapan seseorang yang ada di belakangku membuat telingaku merasa familiar akan suara sedikit seraknya. Ketika menoleh perlahan-lahan, dia adalah Senke Fukuhara yang merupakan salah satu temanku.
“Senke ... apa kau masih mengenalku?”
“Dasar bodoh, namamu ઇબુસાકી વસંત સાથે. Loh? ઇબુસાકી વસંત સાથે, tunggu? Kenapa aku tidak bisa memanggilmu dengan benar?”
“Sudah kuduga, untuk saat ini panggil saja aku Panda. Jadi ... apa kau ada keperluan denganku?”
“Meski kau bilang begitu ... instingku berkata bahwa kau sedang ada dalam masalah. Kau berbeda seperti biasanya, orang yang bisa menyelesaikan masalah orang lain namun masalah diri sendiri tidak bisa diselesaikan. Karena itu ... kemampuanku tidak pernah kugunakan padamu.”
“Ah? Kau pernah mengatakannya. Memutuskan hubungan, fenomena supranatural yang kau alami itu membuatku kerepotan bersama Kamine.”
“Ya, pada saat itu juga ikatan orang lain dapat kuputuskan seperti memotong benang yang menghubungkan dua orang layaknya takdir benang merah. Sedangkan kau yang dapat melihat perasaan orang lain, kemampuanku dapat dikontrol hingga sampai saat ini berkat kalian berdua.”
“Maksudmu?”
“Untuk sekarang aku membutuhkan penjelasanmu terlebih dahulu Panda. Setelah itu kita selesaikan masalahmu.”
“Baiklah.”
Jawabanku membuat Senke menunjukkan senyuman lebarnya. Dia berjalan menghampiriku lalu duduk di samping kiri, aku mulai menceritakan kejadian ketika menyerap kelopak bunga hitam pertanda kematian hingga keberadaanku lenyap dibenak orang lain.
Senke yang telah melalui fenomena supranatural sebelumnya, tentu saja ia akan percaya dengan ceritaku. Apalagi ketika ia mencoba memanggil namaku, terdengar aneh dan tidak dimengerti sama sekali olehku bahkan orang lain.
“Aku bertanya-tanya, kenapa fenomena supranatural ini dapat kita alami dan mendapatkan kekuatan di luar nalar ini. Intinya aku mengerti, besok aku akan mengunjungi rumah sakit di mana Kamine dirawat. Apa kau ingin menjenguknya?”
Tawaran dari Senke kutolak, tidak menemuinya saat ini adalah pilihan terbaik. Saat ini, kemampuan milik Senke sangat kubutuhkan apalagi musim semi sebagai awal tahun pertama di bangku SMA akan dimulai.
Jika aku memulai hubunganku bersama Kamine dari awal ... tidak akan sama seperti pertemuan pertama. Hanya membayangkannya saja sudah menyakitkan.
“Aku serahkan padamu, Senke.”
* * * * *
Esok harinya ...
Senke mengajakku bertemu saat sore hari, taman kemarin malam di mana kami bertemu. Dia telah menjenguk Kamine dan mendapatkan beberapa informasi, terdapat kabar baik dan kabar buruk.
Tentu saja, aku pergi lebih awal setengah jam dari waktu yang kami berdua janjikan. Menatap langit senja kemerahan seraya menyandarkan tubuhku yang cukup dingin di bangku kayu taman.
Suara langkah kaki terdengar di belakangku, terlihat Senke kelelahan karena berlari ke tempat ini. Pandangan kami berdua bertemu, dia terlihat kecewa dan khawatir akan suatu hal.
“Maafkan Aku! Aku melakukannya tanpa izin darimu!”
Aku terkejut, tiba-tiba saja Senke bersujud di hadapanku dan ia terus meminta maaf padaku. Aku tidak mengerti sama sekali, berjalan menghampirinya lalu menarik kerah bajunya kemudian memukul wajahnya hingga ia terhempas.
“Aku tidak perlu minta maaf darimu, jelaskan apa yang terjadi ketika kau bertemu Kamine.”
Senke mengalirkan air matanya, ia benar-benar kecewa akan suatu hal. Dia mulai menceritakan kejadian di mana ia bertemu Kamine yang tidur seraya membaca sebuah buku, sebuah buku catatan di mana ia menulis segala hal yang terjadi ketika ia bahagia.
“Yo Kamine! Bagaimana keadaanmu?”
“Tentu saja, mana mungkin aku melewatkan acara menjenguk cewek cantik sepertimu. Aku membawakan puding dan apel untukmu.”
Senke menghampiri Kamine lalu menyimpan kantong plastik yang ia bawa di atas meja. Mengambil kursi yang ada di dekat jendela lalu duduk di samping kiri Kamine yang tengah membaca buku catatannya.
“Apa yang kau baca?”
“ ... ”
Kamine tidak menjawabnya, ia tetap membaca lembar demi lembar dengan ekspresi yang bingung. Setelah melihat wajah Senke yang tersenyum, Kamine mulai menanyakan suatu hal.
“Senke, apa kau mengenal dengan orang yang bernama Ibusaki?”
Pertanyaan tersebut tentunya membuat Senke terkejut, ia tetap mencoba agar ekspresinya tidak terbaca agar Kamine tidak menyadarinya. Dia menyangkalnya, Kamine menghela napas karena kecewa dengan tanggapan dari Senke.
“Aku tidak mengenal orang yang bernama Ibusaki ini. Catatan ini penuh dengan kenanganku bersama dengan orang yang bernama Ibusaki, aku penasaran ... siapa dia sebenarnya ... ”
Apa yang ia ucapkan membuat Senke semakin khawatir, ia pamit kepada Kamine untuk pergi ke toilet terlebih dahulu dan kembali lagi ke sini. Senke keluar dari ruangan inap Kamine, perlahan-lahan ia turun lalu menyandarkan tubuhnya di tembok lorong.
Tidak bisa melakukan apapun, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Memikirkan beberapa hal sebagai pilihan terbaik, namun efeknya akan berdampak sangat besar kepada Kamine.
Senke tahu, kesehatan Kamine semakin membaik dan kedua kakinya perlahan-lahan pulih dengan cepat.
Ia menunggu cukup lama hingga Kamine tertidur, mengintipnya dari sela-sela pintu dan ia mendapatkan ide untuk membuat Kamine bisa mengingat tentang Ibusaki yaitu aku.
Memasuki ruangan inap Kamine dirawat, ia menggunakan kemampuannya yang dapat memotong hubungan seseorang. Hubungan yang dipotong olehnya adalah hubungan Kamine denganku, syok karena tiba-tiba terjadi begitu saja membuat Kamine tidak sadarkan diri dan mengalami koma.
Itu kesalahan fatal, perawat dan dokter yang menanganinya bersusah payah untuk mencari penyebabnya. Koma karena suatu hal yang tidak diketahui, namun kondisinya tetap stabil.
Keputusan tergesa-gesa Senke membuat Kamine menderita, ia menunggu hingga hanya ada satu perawat yang tengah menjaganya. Senke menawarkan diri untuk menjagainya, tentu saja perawat tersebut yang sibuk menangani pasien lainnya menerima tawaran dari Senke.
Saat itulah dia menyadarinya, hubungan yang ia potong mulai ia sambungkan. Dengan seperti ini, ingatan Kamine bisa terulang meskipun keadaannya masih koma. Hubungan yang diulang membuat kenanganku bersama Kamine mungkin saja bisa diperbaiki.
Itulah kabar baik dan kabar buruk yang Senke katakan padaku.
Kami berdua duduk di bangku taman, sebelah kananku terdapat Senke yang masih menyesali keputusannya. Meskipun begitu aku lega, jika hubunganku bersama Kamine bisa diperbaiki meskipun membutuhkan waktu yang lama aku akan tetap menunggu.
“Senke.”
“Apa?”
*Duakk
Kutendang Senke yang baru saja menoleh hingga ia jatuh dari bangku taman. Aku memang kesal karena Senke terburu-buru dalam melakukannya, tetapi aku juga senang karena Senke dapat membantu masalah yang tidak bisa diselesaikan olehku.
“Dengan ini impas, kita bertiga dapat bertemu kembali. Meskipun membutuhkan waktu yang lama.”
“Tentu saja.”
Senke berdiri tanpa bantuan dariku, ia berjalan menghampiriku lalu memukul wajahku amat kuat hingga aku kehilangan keseimbanganku.
“Sialan, kita berdua memang tidak cocok sebagai sahabat.”
* * * * * *
Musim semi, Kamine masih keadaan koma dan awal masuk sekolah terasa hampa. Bertemu dengan Kazari Amagase yang berniat menjatuhkan dirinya di jembatan, berteman dengan seorang murid pindahan yang dulunya pernah bertemu denganku di masa lalu hingga ingatannya sedikit samar karena kemampuannya yang dapat mengulang waktu.
Sampai sekarang ini aku ... masih dapat melihat senyuman Kamine dari dekat.
“Ada apa Ibusaki? Kenapa kau senyum-senyum sendiri seperti itu? Kau dengar tidak? Musim panas ini kita akan pergi ke pantai bersama yang lainnya.”
“Aku dengar, sialan ... kenapa kau memutuskannya sendiri hingga mengajak Senke, Kifune, Kazari, Sakaguchi, Suzurikawa bahkan Sawatari.”
“Sayang sekali, Suzurikawa senpai tidak ikut karena ada acara. Jadi Ibusaki, apa kau setuju untuk pergi ke pantai?”
“Tentu saja, aku menolaknya.”
To Be Continue .....