
Terdapat omongan para warga sekitar bahwa musim ini akan ada banyak kunang-kunang yang muncul ke permukaan. Bagi warga sekitar mungkin biasa saja, tetapi bagiku yang hampir tidak sama sekali melihat kunang-kunang adalah peristiwa langka apalagi akan ada banyak.
Keluargaku tidak ada yang tertarik sama sekali, mereka memilih untuk diam di penginapan yang kami sewa apalagi Adikku sudah tidur setelah bermain seharian sampai mampus. Menjelang malam, aku pergi ke luar dan berniat untuk kembali ke penginapan sebelum waktu makan malam.
Pertemuanku yang kemarin dengan seorang perempuan yang bernama Kamine mungkin hanya kebetulan saja. Kuil yang kemarin cukup jauh dari sini, langit perlahan-lahan gelap dan lampu di pinggir jalan satu persatu menyala menyinari jalanan.
Sambil berjalan, mengenakan jaket hitam yang kubawa lalu memasukkan kedua tanganku ke dalam saku jaket karena hawa dinginnya cukup membuatku bergidik. Menurut omongan warga, kunang-kunang yang muncul biasanya di daerah perbukitan dekat dengan danau kecil yang tidak jauh dari situ terdapat rawa.
Karena itu, aku harus menaiki sebuah tangga yang menuju perbukitan ditemani dengan senter dari ponsel yang kubawa. Sambil memperhatikan langkah kakiku, suasana hening di sekitar pepohonan lebat ini membuatku merinding.
Di saku jaketku terdapat sebungkus roti keju enak yang kuambil dari penginapan, ini kujadikan pengganjal sebelum makan malam tiba.
Sesampainya di atas, suasana sudah gelap dan aku hanya bisa bergantung pada senter ponselku saat ini. Namun karena terus menerus dipakai, ponselku sudah panas dan mau tidak mau kumatikan sebentar.
Gelap ... sangat gelap, aku dapat melihat sesuatu namun tidak terlalu jelas. Bodo amat, lebih baik aku menunggu di bawah pohon seraya menunggu tanda kunang-kunang muncul ke permukaan.
Menunggu cukup lama, hanya ada satu sampai tiga kunang-kunang yang terlihat oleh kedua mataku. Mungkin bukan di sekitar sini, habitat kunang-kunang lebih ke tempat yang cukup lembab dekat danau ataupun rawa.
Menyalakan kembali senter ponselku, tetapi karena menarik perhatian kumatikan saja. Bagaimana bila menjadi pembicaraan warga sekitar tentangku? Lebih baik mencari aman saja.
Kuharap begitu ...
*Dukk
Aku menabrak sesuatu, entah apa yang kutabrak hingga aku terjatuh dan segera meraih ponselku untuk melihat benda yang kutabrak. Ketika senternya kunyalakan, terdapat sosok perempuan yang memegangi kepalanya seraya mengeluh kesakitan.
Ketika dia melepaskan tangannya, sosoknya dapat kulihat jelas dan dia adalah perempuan yang kutemui kemarin di kuil. Kamine, itulah nama dari sosok perempuan yang kutabrak tadi.
“Bukankah kau ... Ibusaki?”
“Namaku memang itu, apa yang kau harapkan dari itu?”
Segera beranjak lalu mengulurkan tangan kananku untuk membantunya berdiri, kulihat tongkat miliknya yang menjadi alat bantu berjalan kuambil. Entah kenapa, dia terlihat kesal seraya mengernyitkan dahinya lalu menggapai tanganku hingga ia dapat berdiri.
“Apa kakimu baik-baik saja? Bahkan kemarin pun kau sedikit kesulitan.”
“Tenang saja, lagipula bagaimana caranya membawa kursi rodaku ke atas sini? Lebih baik kutinggalkan di bawah.”
“Begitukah, sampai nanti.”
Ketika aku berbalik badan dan berniat meninggalkannya, Kamine menarik jaketku dan perasaanku mulai tidak enak karena aku mulai diseret ke permasalahannya.
“Mbakyu Kamine ... apa kau ada urusan lagi denganku? Bisakah kau lepaskan tanganmu dari jaketku?”
“Tidak mungkin, apa kau punya urusan di tempat ini?”
“Tentu saja, tidak sepertimu yang pergi ke tempat ini tanpa alat penerangan dan kau berniat turun tapi tidak bisa karena kesulitan dengan kondisimu, kan?”
Kataku seraya diakhir kalimat berbalik badan untuk melihatnya, tetapi Kamine terlihat ingin menangis karena ucapanku tepat dengan kondisinya. Dia kesal karenaku, menghela napas sebentar lalu mencari jalan keluarnya.
“Kau mau kuantar ke bawah? Lagipula aku ada beberapa urusan di tempat ini.”
“Katakan dulu urusanmu di tempat ini.”
“Huh? Jika kukatakan pastinya kau tertawa.”
“Katakan saja.”
Karena Kamine memaksa akan urusanku di tempat ini, aku memalingkan wajahku lalu mengatakan tujuanku yang berupa melihat kunang-kunang di tempat ini. Tentu saja, reaksi Kamine tertawa terbahak-bahak melihat berandalan sepertiku yang cukup kekanakan.
“Kau sudah puas, kan? Aku akan mengantarmu ke bawah.”
“Aku ikut denganmu, jemputanku masih lama dan jika aku diam di bawah sendirian bukankah akan berbahaya? Meninggalkan seorang perempuan cantik sepertiku?”
“Cantik?”
“Anak Sultan memang beda. Baiklah kita pergi.”
Ucapku seraya berjalan mendahului dengan tangan kiri memegang ponsel agar posisi senter ponselku dapat menjangkau daerah luas. Tetapi, Kamine berjalan cukup lambat dan tentu saja karena kondisi kakinya.
“Mau aku gendong?”
“Itu sangat membantuku, terima kasih.”
“Yes ... ***** pantat gratis.”
“Huh?”
* * * * *
Pipiku masih terasa panas akan tamparan Kamine. Aku ini penyuka beberapa fetish yang cukup umum. Layaknya paha, cewek yang sedang mengikat rambutnya dengan gaya pony tail seraya menggigit jepit rambut dan sebagainya.
Bagi penyuka fetish sepertiku, kejadian itu cukup langka dan bila saja peristiwa tersebut dialami. Wow ... suasana hati langsung nikmat.
“Kamine, kau tahu daerah sekitar sini, kan? Kau tidak nyasar, kan?”
“Diamlah sebentar, aku cukup ingat dengan tempat ini.”
“Sudah kuduga kita nyasar ... ”
Kamine yang kugendong seraya memegangi ponselku sebagai senter adalah tindakan yang tepat. Tetapi Kamine sepertinya tidak terlalu tahu tempat tujuanku dan mungkin saja benar-benar nyasar.
“Tidak ada cara lain, kita kembali Kamine.”
“Eh!? Tunggu!? Bukankah kau ingin melihat kunang-kunang?”
“Tentu saja ingin, tetapi kondisi saat ini sudah larut malam dan waktu makan malam pun mungkin saja sebentar lagi. Perempuan cantik sepertimu yang keluyuran di kegelapan malam seperti ini membuat khawatir saja.”
Ucapku seraya berbalik badan lalu berjalan kembali melalui jalan yang sudah dilewati. Dengan seperti ini, aku tidak akan nyasar kembali dan awal dari segalanya bisa kutemukan.
Seharusnya begitu ...
“Maaf ... sepertinya aku nyasar.”
“Ibusaki!?”
Teriak Kamine yang ketakutan dan dia sedikit meronta-ronta. Kemampuan fisikku masih dapat menggendongnya dengan jangka waktu yang lama, tetapi lain lagi ceritanya jika kami berdua tidak bisa pulang.
“Kamine, bisa kau matikan ponselku?”
Tanyaku, Kamine langsung mematikan ponselku dan cahaya dari senternya tiba-tiba mati dan kegelapan menyelimuti kami. Namun, cahaya bulan masih menjadi pilihan dan tentu saja ... apa yang kuprediksi yaitu kunang-kunang mulai muncul ke permukaan dan itu perlahan-lahan semakin banyak.
Tujuanku hanya saja, mengincar kunang-kunang yang bercahaya dengan ketinggian rendah dan terhalan beberapa rumput serta pepohonan. Karena aku tahu, kunang-kunang di sekitar itu berada di tempat cukup rendah dan akhirnya dapat kutemukan tempat di mana tangga yang menuju ke bawah dapat ditemukan.
Membutuhkan waktu cukup lama karena aku sedikit kebingungan dan mengandalkan instingku. Namun, Kamine terlihat menikmati keindahan kunang-kunang yang berterbangan ke sana kemari.
Perlahan-lahan menuruni tangga yang menuju ke bawah, namun Kamine memintaku untuk menurunkannya di tengah jalan. Dia dapat menuruni tangga namun perlahan-lahan tanpa bantuan apapun, ketika aku berbalik badan untuk melihatnya.
Keajaiban datang kepadaku ...
“Ibusaki! Lihatlah!”
Sosoknya yang diselimuti berbagai cahaya, membuatku terkagum akan senyuman manis yang ia tunjukkan begitu tulusnya. Pada saat itu juga ...
Aku ... jatuh cinta padanya ...
To Be continued .....