
Pagi hari yang damai disertai suasana dingin yang menyelimuti. Bersepeda menuju sekolah dengan santai. Aku harap, hari ini tidak ada masalah yang melebihi batas minimum.
Untuk hari ini, aku membawa Kolbi ke sekolah yang tengah bersembunyi di dalam tas gendong. Dengan perasaan yang dibawa santai, melewati setiap jalur yang menuju ke sekolah.
Kupikir akan seperti itu. Ketika melewati jalan aspal yang kosong melompong hanya ada beberapa orang. Terdapat seorang murid laki-laki yang tengah ditindas oleh tiga orang berandal.
Sepeda yang ia gunakan untuk menuju sekolah dihentikan. Berhenti sejenak di dekat mereka, sebetulnya aku bersembunyi di sisi lain mobil yang parkir. Menguping pembicaraan mereka, tujuan mereka bertiga adalah meminjam sepeda yang digunakan oleh murid itu.
“Sudahlah, nanti aku kembalikan setelah kupakai.”
“Ta-tapi ... ”
Murid laki-laki itu masih mempertahankan pendiriannya. Dia melakukan hal yang benar. Jika ia pinjami sepeda miliknya, kemungkinan besar akan berakhir mengenaskan.
Aku menyalakan ponsel pintarku lalu mengumpulkan bukti dengan memotret mereka. Yang kubutuhkan bukan bukti penindasan. Tetapi, yang paling kubutuhkan adalah wajah dari mereka bertiga.
Melangkahkan kaki menuju mereka berempat seraya menuntun sepeda milikku. Kehadiranku diketahui akan suara dari roda sepeda. Dengan kalem, aku menawarkan sepedaku sebagai pengganti sepeda orang yang ditindas itu.
“Oh ... baik sekali kau. Baiklah, kami akan membawa sepeda ini.”
Wajah yang ia tunjukkan cukup memuakkan. Namun, aku tetap tersenyum dalam melewati masalah yang ada di hadapanku ini. Masalah pun selesai dengan sepeda milikku yang diambil oleh mereka bertiga.
Ketika aku berniat untuk pergi ke sekolah dengan jalan kaki. Baru saja kusadari, murid yang ditindas itu adalah salah satu dari teman sekelasku. Jika tidak salah, dia duduk di belakang Kifune.
“Terima kasih Panda. Dan maafkan aku karena menyebabkan masalah!”
Dia membungkukkan badan di hadapanku dengan segenap tenaga dan jiwa. Padahal, aku hanya melakukan hal kecil bagiku. Meminjamkan sepeda bukanlah masalah, jika tidak dikembalikan rebut saja dengan paksa.
“Santai saja, nanti juga kembali ... mungkin.”
Kataku seraya mendengar suara Senke yang memanggilku dengan Panda. Ketika menoleh, dia berangkat ke sekolah dengan sepeda yang di belakangnya terdapat kursi tambahan. Maka dari itu, aku meninggalkan teman sekelasku ini dan buru-buru menumpang lalu duduk di kursi belakang.
Caraku dalam melakukan suatu perbuatan diukur dengan apa yang dilakukan oleh pihak lain. Dengan seperti itu, aku menyamaratakan dengan apa yang aku hadapi. Tetapi, aku akan masa bodoh dengan suatu hal yang tidak bersangkutan denganku.
Suatu masalah tidak akan ada jika tidak dipertanyakan. Kalimat pendek yang klise, membuat siapa saja mengerti bahwa melarikan diri dari tanggung jawab adalah tindakan pengecut.
Karena itu, tinggal jalani saja dan apa adanya. Menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Sifat iri dimiliki semua orang, bahkan aku juga iri dengan apa yang tidak dimiliki olehku.
* * * * *
Bel istirahat pertama berdentang membangunkan tidurku. Memejamkan mataku beberapa kali, menyadari Kolbi telah hilang tanpa jejak. Ketika aku berniat mencarinya, dia masih saja tidur di dalam tas gendong yang disimpan di samping bangku.
Ketika aku melirik orang yang ada di belakang Kifune tengah memikirkan sesuatu. Tidak salah lagi, orang itu yang ditindas tadi pagi. Tubuhnya yang ramping dan terlihat letoy sama persis.
Rambutnya yang bergelombang berwarna hitam cukup panjang melebihi mata. Seragam yang ia kenakan juga ditambah satu lapis pakaian. Warna mata hitam, menunjukkan perasaannya saat ini.
Pandangan kami berdua saling bertemu. Aku berpura-pura tidak melihat dan kembali ke posisi bersandar pada kursi. Langkah kaki yang ringan terdengar di belakangku, namun aku menghiraukan suara itu.
“Panda, terima kasih karena telah membantuku. Aku akan berjuang semampuku dalam membayar hutangku padamu.”
Aku menoleh ke belakang. Murid yang ditindas tadi pagi terlihat ragu-ragu untuk berbicara denganku di kelas. Aku menghargai nyalinya, sepertinya dia juga termasuk dalam individualis di kelas ini.
“Ngomong-ngomong siapa namamu? Aku tidak terlalu ingat.”
“A-apa!? Padahal aku ada di dekatmu selama ini!? Baiklah, namaku Sakaguchi Shira.”
“Salam kenal, Sakaguchi.”
“Salam kenal juga, ngg ... Masbro.”
Baiklah, aku mendapatkan nama panggilan yang lain selain Panda dan Koala. Mungkin saja, Kifune yang duduk di depan Sakaguchi terlihat penasaran dengan kami berdua. Aku menyuruh Sakaguchi dan Kifune agar berteman, sehingga Kifune yang sendirian kini menjadi teman dengan orang di belakangnya.
“Sakaguchi, kau mengenal tiga orang yang tadi?”
Pertanyaanku ditanggapi Sakaguchi dengan gelengan kepala. Dia juga menjelaskan bahwa ia dipaksa agar sepeda miliknya dipinjam. Aku menghela napas cukup panjang, sepertinya ini akan menjadi masalah yang panjang.
“Untuk merayakan pertemanan kita. Bisakah kita makan bersama?”
Tanya Sakaguchi. Dirinya yang sebelumnya individualis dan cukup suram. Kini sosoknya berbinar-binar dan menyilaukan mata, kini yang kuketahui adalah dia tipe teman yang pengertian dan setia.
Dari sikap dan caranya berinteraksi denganku. Kemungkinan besar dia tidak punya teman lalu mengandalkan kepribadian yang cukup tertutup dalam pengasingan diri. Orang yang seperti inilah yang ingin aku tarik dari zona nyaman.
Hanya saja aku terlalu malas. Terlalu banyak orang yang seperti itu, bisa juga usaha mereka sendiri yang menentukan keinginan terpendam. Namun rasa takut, akan terus menghantui dan membuat seseorang tidak mau unjuk gigi.
Perintahku kepada Kifune membuat mereka berdua kebingungan. Kifune menggelengkan kepala dua kali disertai mimik wajah menolak. Namun, aku memaksanya dengan intimidasi dari pandangan mata.
Perlahan-lahan ia setuju atas suruhanku. Anehnya lagi, Sakaguchi bersiap-siap untuk menerima tamparan dari Kifune. Sial, tidak ada jalan untuk kembali bahwa aku hanya sedikit bercanda.
*Plakk
Aku cukup kecewa karena Kifune tidak menamparnya sekuat tenaga. Jika seperti itu, mungkin akan ada rumor dan gosip tentang mereka berdua. Membuat rumor tidak benar itu mudah ya, seperti virus yang ditanam dengan sengaja ke pihak korban.
“Kifune, sekarang cium dia.”
Permintaan macam apa itu!? Mungkin itulah yang dipikirkan oleh mereka berdua. Kifune menolaknya dengan memaksa dan wajah memerah. Menggunakan bahasa isyarat dengan kedua telapak tangan yang digerakkan ke samping.
Ketika menoleh ke arah Sakaguchi. Ekspresi yang ia tunjukkan padaku terlihat biasa saja malahan senang. Kupikir, mungkin dia tidak ingin kehilangan teman berharga di masa-masa SMA ini.
“Tidak jadi. Lagipula aku hanya bercanda.”
Mereka berdua menghela napas dengan lega setelah aku mengatakannya. Kifune mengambil bekal yang ada di kolong meja. Sedangkan Sakaguchi, ia mengambil tiga bungkus roti dari dalam tasnya.
“Sakaguchi, namamu terlalu panjang. Bolehkah aku memanggilmu dengan nama panggilan yang lain?”
Tanyaku, Sakaguchi yang tertarik dengan ucapanku menanggapinya dengan anggukan kepala. Aku mulai berpikir nama yang keren dari karakteristik Sakaguchi. Orangnya yang ramping dan terlihat letoy, sebuah nama terpikirkan olehku.
“Baiklah. Sakaguchi, mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan nama Kukang.”
“Parah! Tetapi tepat!”
* * * * * *
Sepulang sekolah mampir dulu melihat keadaan Senior Kazari yang ada di klub sastra. Ketika aku melirik di celah kecil pintu yang terbuka. Para anggotanya mulai hadir kembali, untuk sekarang aku pulang daripada mengganggu.
Sore hari langit berwarna jingga kemerahan, menuju tempat parkiran sepeda. Sekolah yang sudah sepi tanpa ada siapa pun. Kifune dan Sakaguchi pulang duluan karena ada beberapa urusan mendadak dan katanya penting.
Entah apa yang membuat mereka terkena masalah. Ketika aku menawarkan bantuan kepada mereka, aku ditolak mentah-mentah karena bau seorang jomblo. Karena teringat, aku mencium bau milikku dimulai dari bagian ketiak lalu lengan yang terselimuti jaket abu.
Aku tidak begitu tahu bau dari seorang jomblo. Bauku harum seperti biasanya, apakah parfum yang kugunakan berasal dari kalangan jomblo. Sepertinya, aku harus mengganti parfum yang kugunakan mulai sekarang.
Ketika tiba di tempat parkiran sepeda. Mencari-cari sepeda milikku jika saja dikembalikan. Namun hal tersebut merupakan kesalahanku, sepedaku hilang tanpa dikembalikan.
“Yah ... mungkin aku harus menghajar mereka besok. Untung saja foto mereka ada.”
Aku berniat mengirim foto tiga orang yang tadi pagi ke alamat telepon Paman Macho. Caraku dalam mencari informasi seseorang berasal dari Paman Macho yang dulunya penguasa daerah ini sebelum tobat. Anak buahnya yang berkeliaran dan untungnya sama-sama tobat, menjadi kartu as milikku.
Dengan koneksi yang kupunya, aku dapat menemukan tiga orang tadi hanya dengan mengirim fotonya ke Paman Macho. Semua informasi yang mencakup pihak target, didapatkan hanya dengan menunggu lima menit.
Ponsel pintarku mendapatkan pesan. Terdapat tiga foto yang mencakup informasi tiga orang yang kucari. Alamat mereka tidak jauh dari sini, sepertinya aku harus membersihkan tiga orang itu sekarang.
“Tiga alamat rumah, di antara tiga orang itu siapa yang tepat? Sepeda milikku pastinya dibawa oleh salah satu dari mereka. Sudahlah, labrak saja mereka bertiga.”
Dari pada mengambil jalan yang membingungkan. Labrak saja mereka bertiga sekaligus daripada buang-buang waktu sekarang ini. Tetapi, niatku langsung pupus ketika pandanganku ke depan menatap dua orang.
“Masbro! Kami menemukannya!”
Seru Sakaguchi seraya melambai-lambaikan tangan kanannya kepadaku. Ia bersama dengan Kifune membawa sepeda milikku kembali. Aku segera menghampiri mereka berdua lalu memeriksa keadaan tubuh Sakaguchi dan Kifune.
Tidak ada luka yang mereka berdua dapatkan setelah mendapatkan kembali sepedaku. Aku khawatir jika saja mereka berdua dihajar oleh tiga orang itu. Karena kekhawatiranku berlebihan, sepertinya sifatku ini tidak bisa dirubah.
“Jangan-jangan kenapa kalian berdua sibuk ada urusan mendadak. Apakah karena sepedaku?”
“Ekh!? Bagaimana kau bisa tahu!?”
Sakaguchi terkejut disertai Kifune yang mengangkat catatan kecilnya kepadaku. Aku menampakkan senyuman kecil setelah cukup lama. Dengan dua tangan ini, aku memeluk mereka berdua secara bersamaan.
“Terima kasih ... kalian berdua.”
Ucapan rasa terima kasihku tersampaikan kepada mereka berdua. Mungkin, inilah yang namanya mendapatkan teman seperjuangan.
“Masbro, kau bau seorang jomblo.”
To Be Continue ....