
Langsung saja aku pulang ke rumah setelah memberi beberapa arahan kepada Paman Macho mengenai kasus orang hilang di kota ini. Tidak biasanya terjadi kasus yang begitu mencekam, karena itu aku berniat menyelidikinya.
Setelah kudapatkan laporan dari kiriman seseorang utusan dari Paman Macho, langsung saja kubaca seraya tidur-tiduran di bawah kotatsu yang hangat. Setelah cukup lama kupikirkan, memang kasus ini ada kaitannya dengan suatu hal dan kusebut dengan missing link.
“Benar juga, bukankah Suzurikawa senpai akan datang ke sini lagi. Bukankah ini sudah larut malam?”
Suzurikawa senpai mengatakan bahwa dia akan kembali lagi ke rumahku ketika waktu malam telah tiba. Namun, semenjak dari tadi tidak ada tanda-tanda kehadiran dirinya.
Kubaca kembali laporan, setelah memikirkan beberapa kepastian yang masih belum jelas tetap tidak menjurus ke suatu hal. Namun yang kutahu adalah tempat terakhir di mana beberapa orang hilang tersebut adalah di stasiun kereta yang ada di kota ini.
Dengan seperti itu, pelakunya merupakan penumpang yang ada di kereta. Hanya saja, bagaimana caranya agar dia tidak terlihat dan beraksi dengan mudahnya? Jawabannya hanya satu, waktu lengah dan tidak ada orang banyak yaitu waktu malam.
Dua missing link sudah kudapatkan, missing link yang ketiga adalah jenis kelamin. Orang-orang yang hilang sudah dipastikan diculik, dan kelamin mereka adalah perempuan semua. Jika seperti itu maka ... bangs*t.
Langsung saja meraih ponsel milikku yang ada di atas meja kotatsu. Memanggil Paman Macho yang kemungkinan besar ada di rumah saat ini.
“Ada apa Panda, malam-malam begini kau memanggilku?”
“Paman Macho! Kira-kira operasi stasiun di kota ini batas waktunya sampai kapan?”
“Huh? Jika tidak salah jam sepuluh malam, memangnya kenapa?”
Pertanyaan balik yang dilontarkan Paman Macho membuatku merinding melihat jam di layar ponselku menunjuk jam sebelas malam lebih. Sudah terlambat, Suzurikawa senpai ... tertangkap oleh bajing*n itu.
“Paman Macho, besok ... siapkan beberapa anak. Akan kutangkap pelakunya.”
Setelah mengatakannya, aku langsung menutup panggilan telepon tersebut lalu merenung memikirkan segala keadaan dan situasi yang terjadi. Kenapa Suzurikawa belum kunjung datang ke rumahku? Pastinya dia memakai kereta terakhir dan tertangkap oleh pelaku.
Suzurikawa yang satunya lagi pastinya sedang bersantai di rumahnya, jika ia mengetahui dirinya yang lain tentang keadaan saat ini. Akan menjadi tambah runyam, karena itu ... aku membutuhkan orang ‘itu’.
* * * * *
Esok harinya, Paman Macho mengirimkan video rekaman CCTV pintu masuk stasiun kereta ke ponselku. Yang kulihat jelas adalah Suzurikawa yang mengenakan pakaian tebal seperti di mana dirinya menginap di rumahku. Jam menunjukkan sembilan malam lebih, rentang waktunya adalah beberapa menit selang kejadian.
Sekolah masih belum berakhir, orang yang dibutuhkan sudah lengkap dan aku dapat bergerak kapan pun. Hanya saja kekhawatiranku terhadap Suzurikawa yang tertangkap semakin menjadi-jadi, bisa saja hal yang lebih parah terjadi.
“Kukang, setelah pulang sekolah ikut denganku.”
Ucapku seraya mengubah posisi dudukku menghadap Sakaguchi yang tengah membereskan beberapa buku.
“Boleh saja, memangnya ada apa?”
“Ikut saja, akan kutunjukkan suatu hal yang menarik.”
* * * * *
Seperti yang sudah direncanakan, aku dan Sakaguchi telah menunggu di stasiun kereta pada jam sembilan lebih tepat di mana Suzurikawa datang ke tempat ini. Kami berdua memasuki kereta terakhir, tujuannya adalah stasiun yang menuju dekat ke rumahku melalui jalan sekolah.
Paman Macho dan para bawahannya sudah menunggu di stasiun berikutnya, dengan seperti ini aku tidak akan terlalu khawatir. Sekarang yang menjadi masalahnya adalah mencari posisi tempat duduk, kami berdua duduk di dekat pintu.
Ada cukup banyak orang di gerbong ini, jika seperti ini aku tidak akan bisa mengetahui siapa pelakunya. Maka hal nekat yang kulakukan adalah menjelajahi setiap gerbong tanpa ada kecurigaan.
Setiap kami melewati beberapa orang, Sakaguchi bergumam seperti daging ayam, mie, bayam, miso, ramen dan makanan yang lainnya. Satu gerbong telah kami lewati, gerbong yang selanjutnya adalah tujuan kami.
Ketika kami berjalan di tengah-tengah gerbong, Sakaguchi langsung berhenti bergumam dan wajahnya menunjukkan ketakutan yang amat hebat. Perlahan-lahan ia menarik pundakku, dia mencoba membisikkan sesuatu padaku.
“Ma-masbro ... manusia, manusia ... ”
Hanya dengan satu kata tersebut, sudah dapat kupastikan hobi si pelaku. Ya, orang-orang yang hilang tersebut sepertinya sudah sebagian dimakan oleh bajing*n kanibal. Kami berdua segera duduk di kursi yang kosong, Sakaguchi membisikkan padaku siapa yang sudah memakan daging manusia, dia menunjuk pada seorang pria yang penampilannya biasa saja namun agak tinggi dariku.
Kaos merah dan celana jeans panjang, tempat yang bagus untuk menyembunyikan senjata kecil yang mematikan. Kemampuan Sakaguchi amat berguna, fenomena supranatural yang ia alami berguna di penyelidikan seperti ini.
Ingin sekali kuhantam wajah bajing*n itu, namun kutahan niatku setelah berpikir positif beberapa kali. Memanggil Paman Macho dengan ponselku, setelah tersambung aku tersenyum kecil.
“Tikus telah tertangkap, bersiaplah kalian semua.”
Apa yang kukatakan adalah isyarat bahwa pelakunya sudah kutemukan. Sisanya adalah gabungan Paman Macho pengatur kota ini serta para polisi yang sudah menjadi mitra kami.
Stasiun berikutnya sudah dekat dan beberapa penumpang ada yang berniat turun. Ketika pintu terbuka, aku langsung berdiri lalu berlari menendang pelaku penculikan tersebut dari belakang dengan tenaga yang amat hebat.
Paman Macho serta para bawahan dan polisi langsung menangkap pelaku kemudian memborgolnya. Warga sipil yang melihat kejadian ini langsung heran, maka si pelaku langsung diamankan ke luar kereta dan ditanyai olehku.
“Apakah kemarin malam kau bertemu dengan seorang perempuan mengenakan pakaian tebal dan syal?”
“I-iya, memangnya ada apa?”
“Saat ini di mana dia, yang jelas ... dia masih belum dimakan olehmu, kan?”
Apa yang kukatakan membuatnya ketakutan setengah mati, dia kebingungan karena aku tahu mengenai hobinya yang merupakan seorang kanibal. Namun, dia menjelaskan bahwa pekerjaannya adalah mencari organ tubuh manusia yang bagus dan diperjualbelikan.
Dorongan nafsu untuk mencoba daging manusia muncul beberapa waktu lalu, maka Sakaguchi dapat mendeteksi apa yang ia makan sebelumnya.
Hanya saja, perbuatan keji yang ia lakukan melanggar kemanusiaan tanpa memandangi mana yang benar dan yang salah. Karena itu, kutendang wajahnya dengan cara menyamping sehingga membuat semua orang terkejut lalu menahan tubuhku agar tidak lagi menghajar si pelaku.
Berjalan menjauh sehingga beberapa orang mulai lengah, karena satu tendangan belum cukup. Aku berbalik badan kemudian berlari lalu menendang sekali lagi wajah si pelaku sehingga ia terhempas dan membuat Paman Macho marah kepadaku.
“Jadi samsak sepertinya lumayan.”
* * * * *
Larut malam, aku menyuruh Sakaguchi untuk segera kembali dan aku mendapatkan informasi di mana posisi Suzurikawa yang kini diculik. Kukorek informasi sebelum meninggalkan stasiun, sehingga aku seorang diri yang pergi ke tempat tinggal si pelaku.
Berdiri di depan rumahnya dengan memasukkan kedua tanganku ke dalam saku jaket. Gerbang besi dikunci dan hanya ada tembok setinggi dua meter, kuloncati saja dengan keahlianku sebagai berandalan.
Semua pintu masuk dikunci dan beberapa gorden masih tertutup, waktu malam wajar jika gorden tertutup tetapi aku mencium bau darah. Bau darah tidak asing jika kita selalu menemuinya, kuhancurkan saja jendela yang berada di bagian samping rumah dan menyelinap ke dalam.
Menggunakan senter ponsel milikku untuk mencari tombol lampu yang berada di dinding rumah. Setelah kucari, ruangan yang kini kupijak adalah ruangan tengah dan cukup banyak kantong plastik berisi sampah.
“Tinggal sendirian, tidak aneh jika keadaannya seperti ini.”
Dengan segera kucari sebuah ruangan yang diberitahu oleh si pelaku, dia tidak akan berbohong karena aku sudah mengancamnya dengan pertaruhan yang tinggi. Setelah kucari beberapa ruangan, terdapat suatu ruangan terkunci di dekat ujung lorong.
Kutendang beberapa kali dengan sangat kuat, namun efeknya sedikit. Kucari beberapa peralatan berat, di dapur kutemukan sebuah kulkas yang isinya berupa organ manusia. Jika manusia yang jarang melihat kekejian seperti ini pastinya akan muntah, tetapi mentalku sudah kuat dan tidak ada waktu untuk menangisi yang sudah terjadi.
Mengambil palu di laci dapur, kuhantam pintu yang terkunci beberapa kali sampai gagangnya hancur. Setelah dirasa slot pintu melemah, kutendang dengan kuat beberapa kali hingga keringatku bercucuran.
Ya, usaha ini tidak sia-sia karena pintu yang terkunci sudah jebol olehku. Meraba-raba dinding, tombol lampu kunyalakan lalu kulihat sesosok perempuan duduk dengan dua tangan dan kakinya diikat menggunakan tali. Mulutnya disumpal menggunakan kain hingga ia tidak dapat berteriak, sosoknya masih lemah dan tidak berdaya menatapku dengan setengah sadar.
Kuambil pisau di dapur, kugunakan untuk membebaskan tangan dan kakinya dari tali yang membelenggu kebebasannya. Pakaian yang ia gunakan hanya pakaian dalam, jaket milikku kupakaikan padanya lalu menggendongnya di punggungku.
“Untuk sekarang tenanglah, aku akan membawamu ke tempat yang hangat ... Suzurikawa senpai.”
* * * * *
Satu hari berlalu, kubawa Suzurikawa menuju rumah sakit sehingga keadaannya perlahan-lahan mulai membaik. Karena hari ini jam pelajaran membuatku merinding akan papan tulis berisikan rumus fisika, jam istirahat aku pergi menuju rumah sakit untuk mengunjungi Suzurikawa.
Berjalan di lorong rumah sakit yang cukup panjang, menemukan sebuah ruangan dengan papan nama Suzurikawa Sayuki setelah diberi arahan oleh para perawat. Menghirup napas cukup dalam, setelah tenang langsung saja kubuka pintu geser ini dengan cepat.
*Sregg
Yang terlihat saat ini adalah Suzurikawa tengah mengganti pakaian piyama miliknya yang dibantu oleh seorang perawat. Kedatanganku membuat mereka terkejut sehingga perhatian mereka teralihkan padaku, tetap saja pakaian dalam Suzurikawa emang yahud.
“Silahkan lanjutkan saja, aku akan melihat dari sini tanpa membuat masalah.”
Bagi seorang penganut sesama gender dengan tingkat yang sama, ini adalah sopan santun dariku yang amat greget.
“Itu masalah buatku!”
Bentak Suzurikawa dengan pipi yang merona kemerahan. Aku kembali lagi keluar lalu menunggunya beberapa menit dalam mengganti pakaian. Perawat yang tadi membantunya pergi, aku memasuki ruangan di mana Suzurikawa menginap dan ia mengenakan piyama berwarna pink dengan motif bunga.
Berjalan menghampirinya, tiba-tiba saja ia langsung bersembunyi di balik selimut dan hanya sebagian kepalanya yang terlihat.
“Apa yang kau lakukan?”
“Soalnya ... rambutku berantakan, kusut, dan bau keringat.”
“Bodo amat.”
“Dihiraukan!?”
Duduk di atas kursi di sampingnya. Kami melakukan percakapan kecil yang membuat batin Suzurikawa tenang. Namun ia tetap menceritakan kejadian di mana dirinya diculik, ia tidak disiksa namun hanya dikurung di ruangan yang gelap.
Waktu berjalan hingga larut malam, Suzurikawa masih dianjurkan untuk menginap di rumah sakit ini dan biayanya ditanggung oleh Paman Macho. Aku harus berterima kasih padanya nanti.
Jika aku menginap di rumah sakit, hal tersebut hanya akan membuatnya merepotkan akan kehadiranku. Hanya saja, ia ingin mengatakan sesuatu dengan keraguan yang terus menghantuinya.
* * * * *
Pagi selanjutnya, aku pergi ke sekolah dengan biasanya dan Suzurikawa akan keluar dari rumah sakit nanti siang. Aku berniat untuk menjenguknya seorang diri, karena Suzurikawa yang satunya lagi tidak tahu menahu akan kejadian soal ini karena ditutup-tutupi oleh polisi dan orang-orang yang terlibat. Namun, aku semakin dikenal oleh para polisi karena dapat memecahkan kasus yang membuat mereka kebingungan.
*Sregg
“Panda!”
Suara temanku yang greget yaitu Senke membuat orang-orang yang di kelas ini teralihkan perhatiannya. Namun, Senke terlihat serius dan ia kelelahan dengan napas yang terengah-engah.
“Kamine ... Kamine sudah keluar dari rumah sakit!”
Perkataannya membuatku terdiam, wajahnya amat serius dan itu membuatku sadar bahwa apa yang ia katakan memang benar. Meski jam pelajaran akan dimulai, aku pergi dari sekolah kemudian segera pergi menuju kota sebelah menggunakan bus di mana dirinya dirawat.
Di sekolah ini, terdapat seorang perempuan yang tidak masuk sejak awal tahun pelajaran. Perempuan tersebut berada di kelas Senke Fukuhara, dan orang itu adalah ... orang yang sangat penting bagiku.
To Be Continue ....