
Sebentar lagi malam natal akan tiba, hubungan kami selama ini semakin dekat hingga aku pernah mengunjungi orang tuanya yang menyuruhku menjaga anak mereka dengan baik. Tentunya sebagai pria aku menjaganya.
Di jalan menuju distrik pasar swalayan, aku menggendong Kamine di punggungku. Menggunakan kursi roda cukup sulit untuk pergi ke berbagai tempat di musim yang amat dingin ini, sejak dimulainya musim dingin Kamine hampir selalu bersamaku.
“Ibusaki, sebelum masuk SMA lebih baik kau mencat rambut pirangmu itu. Sifat berandalanmu semakin melemah sejak aku bertemu denganmu, dan ngomong-ngomong ... akhir-akhir ini kantung matamu semakin menghitam.”
“Aku terlalu banyak bergadang untuk berlatih dan belajar di malam hari. Tentang rambut ini ... sepertinya aku memang harus mencatnya.”
“Benar juga! Selagi matamu berkantung seperti itu, bagaimana dengan nama panggilan berupa Panda? Panda imut loh.”
“Yah ... kau mau mau memanggilku dengan Panda, Semvak Fir'aun maupun yang lainnya ok saja. Yang penting tidak malu ketika memanggilnya.”
“Eh? Kalau begitu kau tidak malu ketika dipanggil?”
“Malu kenapa? Karena baru kali ini aku mendapatkan nama panggilan.”
Setelah mengucapkannya, Kamine diam saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Karena cukup membuatku khawatir, aku menoleh ke belakang dan melihat Kamine menahan rasa malunya dengan pipi yang merona.
* * * * *
Berjalan menuju tempat di mana toko buah milik Paman Macho berada. Kamine terlihat melakukan percakapan dengan topik yang menarik, mereka berdua sesekali tersenyum dan tertawa. Kupanggil mereka berdua seraya berjalan ke arah mereka, tatapan mereka terlihat cukup terkejut.
“Kau ... rambutmu itu ... ”
Ucap Paman Macho seraya menunjuk ke arah rambutku, ya ... aku mencat rambutku menjadi hitam sedikit kecoklatan jika terkena paparan sinar matahari karena ini adalah warna rambutku yang sebelumnya. Kamine tersenyum ke arahku, ia memujiku akan penampilanku yang lebih baik dari sebelumnya.
“Paman Macho kami pergi dulu, jaga distrik pasar swalayan ini selama malam natal.”
“Ya! Nikmati kencan kalian berdua!”
Paman Macho selalu mengatakan hal itu dan beberapa kali ini, Kamine terganggu akan hal tersebut. Bagiku tidak terlalu, biar apa kata orang yang penting aku sendiri tahu apa yang sedang terjadi.
“Kamine, kau kuat berjalan? Apa tidak terlalu membebanimu?”
“Tenang saja, aku akan memegang tangan kirimu seperti ini. Baiklah, hari ini kita pergi ke perpustakaan!”
“Perpustakaan? Untuk apa?”
“Nanti malam akan turun salju dan bertepatan dengan malam natal. Selagi ada waktu luang, lebih baik kau belajar untuk tes masuk nanti.”
“Dari caramu bicara seperti itu, sepertinya kau yakin sekali untuk bisa masuk sekolah itu Kamine.”
“Tenang saja! Aku akan membantumu!”
Kamine menyemangatiku, memang benar jika ada waktu luang lebih baik dipakai untuk suatu hal yang penting. Karena dorongan darinya, aku bisa sampai menjadi seperti ini.
* * * * *
Perpustakaan yang kami tuju memang sepi, lagipula sebentar lagi natal dan pastinya orang-orang sibuk untuk mempersiapkannya. Waktu luang di perpustakaan sepi ini, aku menghabiskan waktu untuk belajar bersama dengan Kamine.
Di samping kananku terlihat seorang gadis yang tengah mengerjakan soal matematika yang amat dia benci. Aku juga sama, kami berdua tidak terlalu pandai akan bidang pelajaran berhitung ini.
Jika saja mencari jawaban pada pilihan ganda, namun jawaban yang ditemukan tidak ada. Satu-satunya yang kupikirkan saat itu adalah jawaban yang mendekati, singkat, padat, dan tidak jelas. Kamine benar-benar tumbang menghadapi pelajaran matematika.
“Berjuanglah Kamine, akhir-akhir ini kesehatanmu mulai membaik dan tidak perlu pergi ke ruang sakit lagi. Jika terjadi lagi, aku akan menemanimu.”
“Terima kasih Panda, aku sangat menghargainya.”
Kamine memanggilku dengan Panda secara tiba-tiba, hal itu membuatku terkejut dan langsung memalingkan muka. Aku tidak tahu jika dipanggil dengan nama panggilan itu sangat memalukan.
“Ada apa Panda? Kenapa kau memalingkan wajahmu? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?”
Kamine menanyakan alasannya, ia semakin dekat lalu mendorong jari telunjuk tangan kirinya ke pipi kananku. Jarinya terasa dingin, aku benar-benar khawatir dengan kondisi tubuhnya saat ini.
“Kamine, masukkan tanganmu ke saku jaketku.”
“Kenapa?”
“Sudahlah, lakukan saja.”
Aku menarik lengan kirinya untuk dimasukkan ke dalam saku jaket milikku. Sepertinya dia sadar bahwa tangannya yang dingin dapat kurasakan, Kamine ingin berbohong tentang kondisinya saat ini agar aku tidak khawatir.
“Lebih baik kita pergi ke rumah lagipula sudah sore, akan kusiapkan kotatsu nanti.”
“Panda, sebetulnya akhir-akhir ini aku belajar memasak dan membuat kue. Ini adalah hasil terbaik yang pernah aku buat.”
Ucap Kamine seraya menunjukkan sebuah bungkusan kepadaku. Ia beranjak dari tempat duduknya, begitu pula denganku karena ia berjalan menuju jendela yang dari sini terlihat warna langit sudah berubah menjadi jingga kemerahan.
“Ma-maukah kau memakannya untukku!?”
Kamine menahan rasa malunya untuk memberikan kue yang dia buat. Pipinya merona dan dia terlihat menunggu jawaban dariku, tentu saja aku akan sangat senang menerima buatan tangan dari Kamine yang selama ini dia terlihat cuek meskipun ketika pertama kali bertemu.
Bungkusan itu kuambil, Kamine membuka matanya lalu melihatku tengah membuka bungkusan tersebut. Terdapat beberapa kue di dalamnya, mengambilnya beberapa lalu memakannya.
Rasanya cukup manis dan renyah di mulut, bagi orang yang tidak terlalu menyukai kue sepertiku, rasa seperti ini cukup pas. Kamine tersenyum ke arahku ketika aku mengatakan enak dengan kue yang dibuat olehnya, akhirnya kusadari suatu hal.
“Kamine ... jangan-jangan kau mengajakku ke tempat ini hanya untuk memberikan ini kepadaku?”
Pertanyaanku membuat Kamine terkejut dan tubuhnya bergidik, kini senyumannya terlihat dipaksakan dan perlahan-lahan memalingkan wajahnya. Sudah kuduga, sejak dulu dia tidak pandai berbohong bahkan dari sikap dan wajahnya sudah terlihat jelas.
* * * * *
Pada akhirnya, kami malah menghabiskan waktu di perpustakaan hanya untuk belajar bersama. Meskipun saat ini kami tengah menuju jalan pulang, beberapa saat lagi malam bersalju akan dimulai dan kami memilih berteduh di dalam kafe pinggir jalan.
Di jalan sebelumnya, Kamine menghangatkan kedua tangannya yang kedinginan dengan cara memasukkan tangannya ke dalam saku jaket tebalku. Karena alasan itulah aku lebih memilih untuk menghangatkan diri di kafe ini yang memiliki pemanas, menikmatinya dengan secangkir kopi adalah suatu kenikmatan yang hakiki.
Tetapi ...
“Panda, apa kopi itu enak rasanya? Aku belum pernah mencobanya karena selalu dilarang.”
“Tidak boleh, lebih baik kau meminum susu hangat. Bukannya aku menganggapmu anak kecil, bukankah kau yang memintanya sendiri untuk menikmati malam ini? Kesehatan nomor satu.”
“Baiklah ... ”
Kamine terlihat kecewa lalu ia memesan susu hangat ke pelayan yang tengah berjalan di dekat kami. Karena wajah itu sangat menggangguku, aku menawarinya kopi hitam yang sedang kunikmati ini.
“Satu teguk saja, ingat satu teguk dan jangan melebihinya.”
Cangkir kopi kudorong ke arahnya, Kamine menganggukkan kepala lalu menunjukkan senyuman kecilnya padaku. Akhir-akhir ini, aku ingin mengerti dengan senyuman kecil yang ia tunjukkan padaku.
Kamine mengangkat cangkir kopi yang disuguhkan olehku. Perlahan-lahan mendekatkannya ke mulut lalu meminumnya satu teguk, ia menurunkan kembali cangkir tersebut ke tatakannya.
“Pahit ... minuman macam apa ini.”
“Kau banyak mengeluh, filosofi kopi adalah salah satu sekian dari nikmatnya kehidupan yang pahit.”
Balasku seraya mengambil kembali cangkir kopi yang ada di depan Kamine. Susu hangat yang ia pesan telah tiba, ia meminumnya sedikit demi sedikit untuk menghilangkan rasa pahit dari kopi hitam yang ia minum satu teguk.
“Panda, sebentar lagi acaranya di mulai di alun-alun kota."
Ucap Kamine seraya melihat ke samping kanan di dinding sebelah atas, terpasang sebuah jam dinding yang menunjukkan jam sebelas lebih. Sebentar lagi mungkin akan turun salju, alasan Kamine mengajakku keluar karena dia belum pernah sama sekali menikmati malam natal di luar karena selama ini dia selalu dirawat di rumah sakit.
Karena waktunya sebentar lagi, kami berdua pergi menuju alun-alun kota dan aku menggendong Kamine di punggungku. Meskipun sudah malam, ada banyak orang di jalanan apalagi di dekat alun-alun kota yang di mana terdapat sebuah pohon natal berukuran besar yang dihias.
Benar saja, salju benar-benar turun ketika kami sampai di alun-alun kota. Kamine memintaku untuk mengubah posisinya menjadi pangkuan Tuan Puteri. Tubuhnya amat ringan, ia melengkarkan tangannya di leherku lalu mendekatkan wajahnya.
“Dingin sekali, aku hampir mati rasa. Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu ... Tuan Panda.”
“Tuan Panda? Yah apapun itu katakan saja.”
“Bolehkah aku tetap di sisimu?”
Ketika aku ingin sekali menjawab perasaannya, tiba-tiba pandanganku berubah menjadi hitam putih dan di sekitar Kamine terlihat beberapa kelopak bunga berwarna hitam. Aku sangat kebingungan, aku tidak pernah mengerti dengan kemampuan melihat perasaan orang lain seperti ini.
“Kamine ... aku ... ”
Ketika kuucapkan, tangannya yang merangkul leherku tiba-tiba melemah dan perlahan-lahan matanya tertutup. Tangan yang begitu lemah jatuh begitu saja, benar saja ... tiba-tiba Kamine tidak sadarkan diri dan ia benar-benar berbohong tentang kesehatannya.
To Be Continue ....