
Menuju titik tempat pertemuan bersama Amagase, tempat tersebut berada di kafe kecil yang ada di komplek perumahan dan tidak jauh dari pasar swalayan. Karena itu, aku memilih jalan yang ada di perumahan dan sudah kuduga cuaca hari ini amat panas.
Amagase mengajakku untuk bertemu, kemungkinan besar dia ingin menceritakan sesuatu ataupun berdiskusi dengan apa yang ia alami. Pertemanan perempuan itu amat rapuh seperti kertas basah oleh tinta hitam.
Ketika memikirkan makan siang, tiba-tiba saja dari samping kanan terdapat seorang pria yang melompat dari balik pagar dan tatapan mata kami berdua bertemu. Lebih parahnya lagi, ia mengeluarkan pisau dari saku jaket miliknya.
Tu-tunggu!? Apa dia akan menyerangku?
Melangkah mundur untuk menjaga jarak, namun pria tersebut mencoba mendekatiku dengan tangan kanan yang mengarahkan mata pisau kepadaku. Secara refleks, memegang tangan kanannya dengan kedua tanganku lalu menendang kakinya hingga keseimbangannya lalu membantingnya di jalan aspal ini.
Serangan seperti ini hanya cukup untuk mengejutkan tubuhnya, menarik lengannya lalu menginjak wajahnya beberapa kali.
“Hentikan Suzurikawa senpai!”
Tangan kasar dari seorang pria yang berdiri di belakangku menahan tanganku. Ia penuh dengan keringat hingga wajah lelahnya tergambarkan dengan jelas, ia menarik lenganku hingga tubuhku menempel padanya.
“Kau baik-baik saja?”
Tanya dirinya dengan pandangan mata kami berdua bertemu, aku menarik lengan kanannya dan melemparnya ke arah di mana pria yang kuhajar sebelumnya mengarahkan pisau kepada Kanari.
Gawat! Ini salahku!
Dengan segera mengerahkan tanganku untuk menarik tangannya, namun terlalu jauh. Meski begitu, Kanari merunduk lalu melakukan gerakan menendang memutar hingga pria yang berniat menikamnya dari belakang terjatuh.
Pisau yang digenggamnya terjatuh, Kanari menendang pisau tersebut lalu menahan gerakan pria tersebut dengan menindihnya dan memukulinya dengan pukulan cepat.
Beberapa orang datang dari dua arah berlawanan, salah satunya mengeluarkan borgol besi dan mengunci tangan pria itu yang membelakangi. Kanari berdiri dengan keringat yang berjatuhan, mengambil napas panjang lalu mengangkat pria yang ia tindih.
“Sisanya akan kami urus, terima kasih atas kerja samanya.”
“Ya, aku serahkan pada kalian.’
Percakapan singkat itu diakhiri dengan salaman antara Kanari dan seorang pria cukup tua yang merupakan pemimpin dari beberapa orang yang berkumpul menangkap orang yang kubanting.
Mereka pergi meninggalkan kami berdua, aku tidak begitu mengerti dengan keadaan saat ini begitu pula dengan Kanari yang tengah membalas pesan dari seseorang.
“Terima kasih Suzurikawa senpai, karena bantuanmu menangkap orang tadi cukup mudah. Aku berniat untuk mencoba beberapa serangan pukulan yang aku pelajari, tapi sepertinya kesempatan itu tidak akan datang dengan cepat.”
U-untung aku membantingnya, jika Kanari yang menanganinya mungkin saja akan babak belur. Tetapi, sepertinya dia mengerjakan sebuah tugas yang amat penting.
“Apa yang kau lakukan bersama orang-orang tadi?”
“Mereka hanya intel yang bertugas untuk menangkap buronan tadi yang kabur ke kota ini. Ketika aku kencing di toilet umum, buronan tersebut ada di sampingku dan pada akhirnya kami kejar-kejaran. Biarkan aku mentraktirmu, sesekali aku ingin makan siang bersamamu.”
Senyuman kecil yang ia tunjukkan kepadaku amat tulus tanpa ada niat tersembunyi. Seharusnya begitu, orang ini adalah Kanari mana mungkin dia tidak memiliki niat tersembunyi.
“Mentraktir ya ... ah! Kebetulan aku berniat untuk pergi ke kafe kecil, jika boleh ... ”
“Baiklah, bolehkah hamba ini menemani nona penyelamatku?”
Tanya Kanari seraya melakukan gerakan gemulai layaknya pelayan berkelas. Namun karena penyakit Androphobia yang kuderita bisa kumat, aku menjauhinya dan menjaga jarak hingga Kanari menunjukkan wajahnya yang kecut.
* * * * *
Berdiri di depan kafe yang dimaksud, kafe ini memiliki gaya tradisional dengan interior rumah bahan kayu dan menambah kesan estetika yang membuat terpukau.
Memasuki kafe dengan langkah pelan, terdapat seorang pelayan yang menyambut kedatangan kami dan orang itu adalah juniorku yang lain.
“Selamat datang! Apakah kalian terkejut?”
Sambutnya lalu menjulurkan lidahnya dengan mata kanan tertutup seraya tangan kiri mendekap tangan dipelukannya. Ini memang membuatku terkejut, Kanari terdiam sebentar lalu mengambil ponselnya dan mengambil gambar Kamine beberapa kali.
“Aku tidak menyangka kau bekerja di sini Kamine, coba lakukan beberapa pose lagi.”
Ucap Kanari, Kamine menanggapinya dengan tawa kecil lalu memperagakan beberapa pose hingga Kanari mengambil puluhan foto miliknya.
“Tuan Panda, bagaimana dengan penampilanku saat ini?”
“Sangat imut.”
Ucapnya, namun Kanari menanyakan tentang Amagase. Jawaban dari Kamine berupa gelengan kepala, ia belum melihat Amagase ada di kafe ini dan hanya beberapa pelanggan hingga kami berdua datang.
Berpikir positif, mungkin saja dia mengalami hambatan di perjalanannya. Kamine memandu kami menuju bangku yang tersedia, memberikan menu yang ada di kafe ini kepada kami berdua.
“Aku pesan dua menu ini dan minumnya segelas air bening.”
Kanari memesan dua menu masakan yaitu udon dingin dan tempura. Kamine menulisnya di catatan kecil, aku memesan minuman dingin dan menu yang sama seperti Kanari.
“Baiklah, menu yang sama ya. Silahkan tunggu sebentar, bos besar akan memasaknya untuk kalian.”
“Bos besar? Sepertinya aku pernah mendengar panggilan itu ... ”
Kamine pergi menuju dapur, sedangkan Kanari merenungkan perkataan Kamine dengan kedua tangannya menutupi wajahnya. Beberapa detik kemudian, ia menurunkan tangannya dengan wajah yang baru saja melihat mimpi buruk.
“A-apa yang terjadi Kanari!? Kau terlihat aneh!?”
“Ti-tidak apa, hanya saja ... ”
Kanari memalingkan wajahnya dan tidak ingin memikirkannya. Keadaan canggung ini berlanjut hingga pesanan kami berdua datang, bukan Kamine yang membawa pesanan kami melainkan seorang pria tua berkacamata cukup berotot mengenakan celemek dan sepertinya dia yang memasak.
Sebagian rambutnya sudah memutih dengan gaya under cut, orang tua yang memiliki gaya anak muda auranya memang beda.
“Silahkan dinikmati, jika berkenan ... bolehkah saya menanyakan suatu hal kepada anda, nona?”
“Bo-boleh saja ... ”
Entah kenapa, kelakuan paman ini sepertinya amat aku kenal dan familiar sekali. Kanari tiba-tiba mengepalkan tangan kanannya lalu memukul Paman tersebut dengan gerakan cepat dan kuat.
Tetapi, tangannya dapat ditahan dengan tangan kanannya lalu mendorongnya hingga Kanari tidak bisa melepaskan tangannya dari cengkeraman paman tersebut. Dilanjutkan dengan pukulan dari Paman tersebut yang mengarah ke wajah Kanari, tentu saja pukulannya telak dan mengenainya.
Baru kali ini, orang yang menyukai baku hantam dapat dikalahkan oleh Paman yang tidak diketahui identitasnya. Kanari beranjak dari tempat duduknya lalu menyiapkan posisi siap bertarung dengan dua tangan di depan.
“Apa yang kau lakukan di sini!?”
“Di kafe ini dilarang berteriak, kau akan mengganggu pelanggan yang lain. Dari pada itu, apakah kau tidak malu terdapat seorang perempuan yang melihatmu melakukan tindak kekerasan.”
Ucap Paman tersebut, Kanari tahu akan situasinya dan ia menurunkan kedua tangannya. Tetapi, Paman tersebut memukul kembali wajah Kanari hingga menabrak dinding kafe dan ia terluka.
“Dua pukulan itu adalah salam hangat dari orang tuamu, nikmati waktu kalian berdua.”
Paman tersebut meninggalkan tempat ini dan menuju dapur seraya melambaikan tangannya. Kanari bangkit kembali dengan menghirup napas panjang, ia meminta maaf kepadaku karena menunjukkan hal yang tidak sepatutnya.
“Dari pada itu Kanari, siapa orang yang tadi?”
Tanyaku, Kanari mengambil sumpitnya lalu memakan tempura sebelum menjawab pertanyaan dariku. Tetapi, aku benar-benar tidak mengerti dengan situasi tadi.
“Dia adalah orang yang melatihku, Ayah kandungku.”
Mencerna apa yang dikatakan olehnya, jika dipikir-pikir lagi sifat Paman tadi hampir sama dengan Kanari dan teknik bertarungnya yang terlatih tidak salah lagi. Meskipun begitu, wajah Kanari terlihat bahagia karena dapat bertemu kembali dengan Ayahnya.
“Hehehe ... dengan ini aku bisa baku hantam setiap hari dengan Ayahku.”
Ah ... dia punya maksud tersembunyi.
Amagase mengirimiku sebuah pesan bahwa dia meminta maaf kepadaku dan tidak bisa datang ke tempat ini. Kamine datang seraya menunjukkan senyuman kecilnya.
“Sepertinya Tuan Panda kalah. Kejutannya berhasil.”
“Matamu kejutan! Dia memukulku tanpa menahan kekuatannya! Orang tua macam apa itu!?”
“Sudah-sudah, intinya kau kalah. Dan dengan itu, menu yang kau makan harganya dua kali lipat.”
Aku sendiri tidak mengerti dengan hubungan keluarga Kanari, apalagi Kamine mendukung perlakuan Ayah Kanari kepada anaknya sendiri.
Perasaan mereka berdua merupakan ikatan keluarga yang erat. Bahkan, aku sendiri tidak dapat spontan menunjukkan bentuk kasih sayang kepada keluargaku.
Rasa yang tertinggal ini ... membuatku semakin yakin kepadanya ...
To Be Continue .....