
Jarang sekali, Panda mengirimiku sebuah pesan agar datang ke pasar swalayan yang dekat dengan rumahnya. Lebih tepatnya di pasar swalayan yang terdapat rumah Kifune, aku pernah mengunjunginya ketika pengulangan terjadi.
“Tunggu sebentar, apakah dia mengajakku kencan?”
* * * * *
Aneh sekali, para pemilik toko dan beberapa siswa sekolahku yang pernah terlihat berkumpul di tengah-tengah pasar swalayan. Terdapat dua orang yang menjadi pusat perhatian mereka, hal tersebut membuatku penasaran.
Melangkahkan kaki ke kerumunan tersebut lalu memaksa masuk, namun untungnya terdapat seorang ibu-ibu cantik yang membantuku menerobos kerumunan. Aroma tangannya familiar dengan adonan roti, sepertinya dia menjalani toko roti.
“Jika kau mencari anakku Kifune, dia sedang bersama dengan anak yang duduk di atas kursi roda itu.”
Hmm? Kifune? Ibu-ibu cantik ini Ibunya?
“Te-terima kasih telah membantuku.”
Tiba-tiba saja ia mendorongku ke tengah-tengah kerumunan, terdapat dua orang yang tengah sibuk mengurusi lembaran dokumen. Serta tiga orang siswi dari sekolahku, mereka bertiga adalah Kifune, Kamine, dan Suzurikawa.
Aku belum cukup akrab dengan Suzurikawa, meskipun dia teman dari Kazari yang sekelas dan memiliki keahlian baku hantam seperti Panda.
“Apa yang kalian lakukan di sini? Entah kenapa ramai sekali.”
Kataku seraya berjalan menghampiri mereka bertiga. Kehadiranku disadari oleh mereka, Kamine menjelaskan secara singkat bahwa ada rapat mendadak yang digelar oleh Paman Macho dan Panda.
Aku tidak tahu Paman Macho, tetapi Panda terlihat berpikir keras seraya melihat satu lembar dokumen. Menggaruk-garuk kepalanya lalu memperlihatkan dokumennya ke Paman Macho.
“Baiklah, sesuai pesan yang disampaikan pemilik kuil, kita akan mengadakan festival di kuil milik keluarga Suzurikawa.”
Suara nyaring yang dilontarkan oleh Paman Macho membuat keramaian di kerumunan ini semakin menjadi-jadi. Ekspresi yang ditunjukkan oleh Panda dapat kumengerti, sepertinya dia baru tahu bahwa Suzurikawa adalah anak pemilik kuil dan aku juga baru tahu.
“Seperti tahun lalu, di pasar swalayan ini kita mengadakan beberapa acara yang digelar oleh setiap pemilik toko. Anda sopan saya segan, anda rusuh saya pukul. Ya, sekian dariku.”
Ucap Panda dengan suara yang tidak terlalu nyaring sehingga jajaran paling luar tidak mendengarnya. Beberapa orang meneriakkan agar suaranya ditinggikan, namun Panda menaiki sebuah kursi lalu mengacungkan jari tengah kedua tangannya.
Kerumunan paling belakang mulai kesal akan sikapnya, dia pun turun kembali lalu mencoret-coret beberapa dokumen yang tersisa dan beberapa kali ia konsultasi dengan Paman Macho yang ada di sampingnya.
“Kamine, apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini?”
“Dua tahun lalu, Panda yang sedikit demi sedikit melakukan gerak gerik di balik layar. Dia menangkap penipu dan beberapa penyelundup, pencapaian yang ia lakukan selama ini memberikan keyakinan padanya. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah dia terpaksa menangkap mereka karena saat itu Panda selalu diremehkan, dia melumpuhkan musuhnya sebelum dapat bergerak.
Tunggu sebentar, apakah Panda memang sehebat itu?
“Dengan memiliki pengaruh di pasar swalayan ini apalagi dia memiliki rekan yaitu Paman Macho. Tuan Panda bergerak di balik layar sedangkan yang mengatur tempat ini adalah Paman Macho, kerja sama dengan pihak berwajib pun sudah dilakukan dari dulu.”
“Ngomong-ngomong, Paman Macho pernah membantu kuil kami dengan promosi lalu melakukan perbaikan. Baru kemarin aku tahu bahwa orang yang mendanainya adalah Kanari, dia kebingungan dengan uang penghargaan yang ia dapatkan.”
Lanjut Suzurikawa, kukira dia akan langsung pergi ke Jakarta setelah mengatakannya di depan kami. Tapi yah ... setiap orang mempunyai masa lalu yang berbeda dan perbedaan itu membentuk karakter pribadi yang seperti sekarang ini.
Fasilitas pasar swalayan dengan atap tertutup ini memang lebih bagus, musim panas ini mereka menyiapkan pendingin pada setiap toko sehingga pembeli tidak terlalu gerah dan malas berjalan ke sana kemari mencari barang yang diinginkannya.
Panda yang selesai melakukan bagiannya berjalan menuju ke arah kami berempat. Seperti biasanya, penampilannya sangat sederhana berupa kaos dan celana hitam panjang dengan gaya rambutnya yang sedikit berantakan.
“Terima kasih untuk bantuannya tahun ini Suzurikawa senpai. Dengan kata lain, Suzurikawa senpai akan tampil sebagai gadis kuil?”
“Begitulah, mulai tahun ini dan seterusnya mungkin akan diteruskan olehku. Dan satu lagi, bisakah kau cukup menjauh dariku.”
Jawab Suzurikawa dengan kedua tangannya yang gemetaran disebabkan oleh Androphobia yang diderita olehnya. Panda melangkah mundur lalu Kifune menghampirinya dari samping dan memperlihatkan catatan kecilnya kepada Panda.
“Benar juga, kau pindah ke pasar swalayan ini dan baru mengetahui hal ini ya. Kau bisa menanyainya nanti kepada Paman Macho, aku harus pergi ke suatu tempat. Kalian semua, sampai nanti.”
Di akhir kata yang diucapkannya, ekspresinya terlihat dipaksakan dan senyuman kecilnya itu tidak alami. Untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu, aku menyentuh tangan Kifune untuk menyalin kemampuan pengulangan miliknya dengan alasan ada semut yang hinggap di jarinya.
Panda terlihat pergi dari kerumunan lalu menjauh menuju keluar pasar swalayan ini. Hal ini membuatku penasaran, apalagi dia yang menyuruhku untuk pergi ke tempat ini namun dia pergi begitu saja.
Ucapku padanya, ia menanggapinya dengan senyuman kecil lalu membiarkanku untuk pergi. Kamine dan Suzurikawa terlihat membahas tentang suatu hal, aku harus pergi sekarang.
Mengikuti Panda dari kejauhan, dia pergi ke mesin minuman dan di dekatnya terdapat pohon besar rindang menutupi yang ada di pinggir jalan. Membeli kopi kalengan lalu duduk di atas kursi kayu yang memanjang di samping mesin tersebut, menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya di kursi tersebut.
“Apa yang kau lakukan di sini? Pergi begitu saja di kerumunan tadi.”
“Sawatari? Sampai-sampai kau mengikutiku, ada apa?”
“Apa yang kau katakan? Bukankah kau yang mengirimku pesan dan menyuruhku untuk pergi ke tempat ini.”
Panda mengernyitkan dahinya seraya melihatku lalu menutup kedua matanya dan dilanjutkan dengan menghela napas.
“Aku hampir lupa, tapi ngomong-ngomong ... rok pendek putih berenda dengan kemeja putih dilapisi dengan pakaian hitam ... gayamu hampir sama denganku yang dominan hitam putih.”
Sahut Panda, meskipun dia saat ini hanya mengenakan kaos hitam dan celana hitam panjang yang selama ini aku lihat beberapa waktu lalu.
Berjalan menghampirinya lalu duduk di samping kirinya, hembusan angin terasa menyegarkan di bawah pohon ini. Panda hanya diam menatap kopi kalengan miliknya seraya memikirkan sesuatu.
“Kau tidak meminumnya?”
“Akan kuminum, hanya saja untuk saat ini aku butuh tidur. Kemarin malam aku tidak bisa tidur, latihan di malam hari membuat tubuhku saat ini cukup pegal.”
“Alasan bodoh kurang tidur apa itu? Ngomong-ngomong, selama ini kau mengatasi fenomena supranatural ini sendirian?”
“Begitukah ... ”
Panda menyimpan kopi kalengan yang ia pegang di samping kanannya, perlahan-lahan ia mengatur napasnya lalu memberitahuku bahwa dia ingin tidur hanya beberapa menit saja.
Kamine mengirimkan sebuah pesan untukku, dia bertanya di mana saat ini keberadaanku dan dia pun menanyakan ke mana perginya Panda. Karena dijelaskan akan panjang lebar, aku memotret foto Panda yang tengah tidur bersandar dan mengirimkannya kepada Kamine.
Beberapa detik gambar yang kukirim padanya, ia menanggapinya dengan antusias bahkan menyuruhku untuk menemani Panda yang kurang tidur. Memang terlihat dari kantung matanya yang sedikit menghitam, jika kulihat lagi wajahnya ... dadaku berdegup dan perasaanku sedikit aneh.
Apakah ini cinta?
Orang sepertiku ini jatuh cinta, betapa sombongnya diriku ...
Aku terkagetkan dengan Panda yang tiba-tiba bersandar padaku, dia sangat dekat denganku bahkan aroma shampo dari rambutnya tercium harum.
Jika diingat lagi, aku tidak tahu dengan kebiasaan dan masalah privasinya, hobinya, bahkan orang yang disukainya. Meskipun demikian, aku tahu bahwa orang yang disukainya adalah Kamine.
“Kau salah Sawatari, perasaanku kepada Kamine telah hilang beberapa bulan yang lalu.”
Tunggu? Di-dia tidak tidur? Apalagi dia tahu dengan apa yang sedang kupikirkan saat ini? Apakah dia memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain!?
“Maafkan aku yang tiba-tiba bersandar padamu.”
Panda membenarkan posisi duduknya lalu menjaga jarak denganku. Dia menjelaskan tentang bagaimana dia tahu dengan apa yang kupikirkan dengan cara melihat kelopak bunga yang ada di sekitarku.
“Waktunya untuk kembali, aku harus mengurusi beberapa hal.”
Dia beranjak dari tempat duduknya sambil membawa kopi kalengan yang ada di sampingnya. Mengajakku untuk pergi bersamanya ke tempat Kamine dan yang lainnya, namun ada satu hal yang membuatku penasaran.
“Panda, siapa yang kau sukai saat ini?”
A-aku menanyakannya ... ingin mati rasanya! Sialan, kenapa aku malah menanyakannya!? Meski begitu, aku tidak tahu dengan apa yang dipikirkan olehnya dan hanya ini yang dapat kupastikan.
“Orang yang kusukai? Ah, tentu saja Kamine. Namun untuk yang nomor satu, namanya adalah Sawatari Karen.”
Eh ... huh? Tunggu ... apa yang ia katakan?
To Be Continue ...