Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Honami



Terbangun di pagi hari, mengecek ponselku yang berisik karena alarmnya menyala hingga membuat gendang telingaku merasa keenakan. Hari yang sama, pengulangan kembali terjadi.


Aku berniat untuk tidak pergi ke sekolah, karena hanya ada satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara memanggil teman masa kecilku yang mengalami fenomena supranatural. Hanya saja ... hubungan kami cukup rumit dan aku selalu menghindarinya.


   “Kifune dan Sawatari bisa tewas, tetapi jika ada dia ... mungkin semuanya bisa dicegah.”


Aku ragu untuk memanggilnya, ia mempunyai prinsip give and take yang cukup menyusahkan dan itu harus setimpal dengan apa yang dipertimbangkan. Tanpa sadar, aku menekan nomor teleponnya lalu memanggilnya hingga beberapa detik ia mengangkatnya.


   “Ada apa Penguin? Pagi sekali kau menghubungiku? Ah ... jangan-jangan kau merindukan teman masa kecilmu ini? Jangan begitu, kau harus bertindak lebih dewasa lagi Penguin. Jika tidak, kau akan selalu sendiri dan tidak mempunyai pacar, ah! Jika seperti itu maka aku bisa menjadi pacarmu jika ma—”


   “Bisakah kau diam dulu Honami!? Bahkan kau lupa dengan namaku!?”


   “Ahaha maaf, ketika aku mencoba memanggil namamu entah kenapa otakku langsung asing sehingga sulit sekali untuk mengucapkannya. Jadi ... ada apa kau pagi-pagi sekali menghubungiku? Apakah kau punya masalah?”


   “Ya ... aku tidak bisa menyelesaikannya seorang diri, ini mengenai fenomena supranatural.”


   “Begitu ya ... jadi tidak ada cara lain selain meminta bantuanku. Ngomong-ngomong ada beberapa kesepakatan jika kau meminta bantuanku. Pertama, siapa pacarmu saat ini?”


   “Huh pacar? Tidak ada, karena statusku saat ini seorang Jomblo maka ada beberapa perempuan yang dekat denganku. Kazari, Suzurikawa, Kifune, Sawatari, dan satu lagi Kamine.”


   “Kamine? Ah ... jadi dia yang telah merubahmu dari seorang berandalan barbar menjadi siswa barbar. Baiklah, kapan kita bertemu?”


   “Apa kau ada waktu sekarang? Mungkin cukup berat bagimu untuk meninggalkan kelas yang mengejar menjadi murid teladan.”


   “Tidak apa, nilai hanya sebuah angka namun membantumu akan selalu teringat. Baiklah, kita bertemu di stasiun dekat rumahmu jam sembilan.”


   “Baiklah, sampai jumpa Honami. Hati-hati.”


   “Terima kasih Penguin.”


Honami menutup panggilannya, hanya dia harapanku yang dapat menyelesaikan masalah ini entah bagaimana pun caranya. Untuk sekarang, aku harus bertemu dengannya lalu menghubungi Sawatari.


Aku terdiam ketika melihat layar ponselku yang di mana nomor milik Sawatari tidak ada. Aku lupa, pengulangan terjadi sehingga aku tidak mempunyai nomor miliknya yang seharusnya kami sudah bertukar.


   “Apes bener ... ”


* * * * *


Sesuai jadwal yang ditentukan, aku datang ke stasiun yang dekat dengan rumahku meskipun jaraknya dua kilometer sehingga aku berangkat terlebih dahulu agar tidak telat. Tetapi, Honami sudah menungguku menggunakan seragam sekolah yang ada di timur, jaraknya tidak jauh dengan sekolahku karena sekolah tersebut dekat dengan rumahnya.


Seorang perempuan seumuran denganku dengan warna rambut berwarna pirang dan rambutnya bagian kanan kiri dibuat simpul rumit seraya aksesoris yang menempel membuat penampilannya imut. Warna matanya layaknya apel dan senyumannya membuatku teringat dengan masa laluku bersamanya.


Honami menyadari kedatanganku, ia mengisyaratkan padaku agar menghampirinya menggunakan isyarat tangan kanan. Aku segera menghampirinya dengan cara berlari.


   “Maaf Honami, sudah membuatmu menunggu.”


   “Santai saja, ngomong-ngomong bagaimana dengan penampilanku terakhir kita berpisah ketika kelulusan SMP.”


Karena ucapannya, Aku mengamatinya dari atas kepala sampai ujung kakinya dan ada beberapa perubahan. Meski gaya rambutnya tidak berubah sama sekali, dia lebih cantik sejak terakhir aku bertemu dengannya.


   “Kau tambah cantik dan ... dadamu tambah besar saja.”


   “Ahaha ... entah kenapa pujian darimu membuatku senang dan kesal. Baiklah, saatnya membantu teman masa kecilku yang kesulitan.”


   “Sambil berjalan aku akan membahasnya, ikuti aku.”


Aku berinisiatif menarik lengan kirinya, ketika kutarik tangannya secara tiba-tiba. Honami terlihat kesakitan dan ia menahannya seraya menunjukkan wajah yang sedikit terkejut. Aku teringat dengan fenomena supranatural yang menimpanya, dengan cepat kulepaskan tanganku.


   “Maaf Honami, aku lupa dengan tangan kirimu ... ”


   “Itu bukan salahmu, seharusnya aku yang meminta maaf karena kau yang harus menanggungnya.”


Luka tersebut menyebabkan syaraf di tangan kirinya ada yang rusak, sehingga tidak dapat bergerak dengan baik namun tidak terlalu mengganggu kesehariannya. Saat itu pula, kelopak bunga hitam yang menyelimuti Honami diserap olehku karena aku yang mencegahnya.


Sambil berjalan, aku membahas semua yang pernah kulalui dari awal tentang Kifune dan Sawatari yang terlibat dan mereka berdua tewas pada pengulangan. Honami cukup paham dengan keadaan yang rumit ini meskipun caraku menjelaskan padanya dapat dibilang mustahil.


   “Jadi, Kifune yang menyebabkan pengulangan dengan cara kematian dan Sawatari Karen dapat meniru kemampuan tersebut namun ia terlibat dan sebaliknya dia yang tewas. Ini seperti kasus Kucing Schrödinger.”


   “Kucing Schrödinger, benar juga ... paradoks tentang hidup mati pada kucing yang di dalam kotak dengan cairan racun dan radioaktivitas.”


   “Nah ... seperti itu, gejala fenomena supranatural terjadi karena jiwa manusia yang tidak stabil dan ia mengalami sesuatu. Tentang Kifune, apakah dia merasa terganggu akan sesuatu ... ”


   “Terganggu ya ... terganggu ... ”


Aku mulai memikirkan tingkah Kifune, ekspresi, serta pertemuan kami di masa lalu dan ia tidak ingat dengan itu. Berarti hanya ada satu jawabannya, kenapa fenomena supranatural itu terjadi kepada Kifune.


   “Honami, aku ... ”


   “Jadi kau sudah mendapatkan jawabannya meskipun tanpa aku bantu. Tetaplah tenang sambil mengatur napas, bukankah itu yang selalu kau lakukan?”


   “Ya, terima kasih ... ”


Honami mendorongku untuk cepat pergi meskipun tujuan kami sudah cukup dekat. Honami mengerti dengan keadaan saat ini dan ia tidak bisa memaksakan keegoisannya, maka dia membiarkanku pergi untuk menyelesaikan dulu masalahku.


* * * * *


Aku terburu-buru pulang ke rumah lalu menggunakan seragam sekolah kemudian pergi ke sekolah. Meskipun sudah siang, aku masih dapat menghadiri kelas walau dari pagi tidak absen terlebih dahulu.


Untungnya terdapat seorang paman yang pernah mencopet dan kuhajar. Aku yang terburu-buru memintanya mengantarkanku ke sekolah menggunakan sepeda motornya, ini lebih cepat dari pada aku harus berlari lagi.


Cukup beberapa menit menggunakan motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Gerbang sekolah tertutup, maka kupanjat benteng sekolah dengan bakat alamiku yang sejak dulu memang seorang berandalan.


Beberapa menit jam pelajaran akan dimulai, aku segera pergi ke kelasku dan secara tidak sengaja terdapat Sawatari yang menarik lenganku ketika terburu-buru.


   “Ada apa? Apakah ada yang gawat?”


Tanya Sawatari, dia pun tidak ingat dengan kejadian di mana pengulangan ketiga dia tewas. Aku menyuruhnya untuk mengikutiku menemui Kifune, di kelasku terdapat orang yang kucari tengah membaca buku.


Seisi murid di kelasku menatap heran ke arahku karena masuk siang bukannya pagi. Kuhiraukan semua tatapan itu serta Kamine, Senke dan Fukuhara yang tengah membicarakan sesuatu dan langsung saja aku berjalan cepat menuju Kifune yang ada di bangkunya.


   “Kifune, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”


Ucapku, Kifune menganggukkan kepala lalu menutup buku bacaannya kemudian mengambil catatan kecilnya beserta alat tulis berupa pensil. Aku pergi menuju taman sekolah diikuti oleh Kifune, karena atap sekolah sudah terlalu mainstream.


Seperti biasa, aku duduk di kursi kayu yang memanjang lalu menyandarkan tubuhku karena lelah. Aku mempersilahkan Kifune duduk di samping kiriku, ia menunjukkan catatan kecilnya mengenai keperluanku dengannya.


   “Kifune ... apa kau sedang memikirkan sesuatu, jika boleh tahu ... apa yang kau harapkan?”


Tanyaku padanya, Kifune terlihat terkejut dan ia ragu untuk menjawab pertanyaan dariku. Ia mulai menulis di catatan kecilnya cukup lama, lalu menunjukkannya padaku.


   “Aku memikirkan tentang bagaimana jika aku bisa kembali ke masa lalu untuk mengetahui kecelakaan yang menimpaku. Karena kecelakaan itu, aku tidak bisa mengingat dengan jelas masa laluku hingga melupakanmu ketika masa kecil.”


Setelah membacanya, aku tahu penyebabnya kenapa waktu kembali terulang dan inilah jawabannya. Hanya ada satu cara untuk menghilangkan fenomena supranatural ini, aku menarik lengan Kifune lalu berjalan menuju ke luar gerbang.


Kifune tidak menunjukkan protes namun ia menanyakan tujuanku menggunakan catatan kecilnya. Aku tersenyum ke arahnya lalu sedikit menggeser kepalaku.


   “Kifune ... kita kencan.”


To Be Continued .....