
“Tuan Panda, kenapa kau selalu pergi ke Klub Sastra Klasik?”
“Kenapa? Yah ... jika kau tanya pastinya mengemis makanan.”
“Hah?”
Kamine terdiam setelah mendengar jawabanku, aku mendorong kursi rodanya menuju depan ruangan Klub Sastra Klasik. Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, Kamine membuka pintunya secara tiba-tiba.
*Sreeek
Pemandangan yang kami lihat merupakan suasana musim panas yang hanya dirasakan pun sudah terasa. Musim panas akan datang, minggu depan adalah ujian penentuan di mana nilai kami menjadi penentu.
“Apa yang kalian berdua lakukan di sini? Di Klub Sastra ini tidak ada AC loh.”
Sahut Kazari seraya menarik kerah bajunya lalu mengibas-ngibaskan buku yang menjadi pengganti kipas. Meskipun jendela sudah dibuka, angin segar ini masih terasa kurang.
Kami berdua dipersilahkan masuk oleh Kazari. Aku menyerahkan Kamine kepada Kazari, sedangkan aku duduk seraya mengemis makanan kepada Kazari.
“Sesekali bawalah bekal, makanan yang kuberikan kepadamu pun tidak terlalu bernutrisi.”
Ucap Kazari seraya meletakkan sebungkus roti selai melon dengan sekotak susu di atas meja.
“Bekal ya, itu sudah terlambat karena liburan musim panas pun sudah dekat. Aku terlalu malas untuk membuat bekal, hanya sarapan pagi pun sudah membuatku merasa bersyukur.”
Ucapku setelah membuka bungkusan roti, mereka berdua terlihat terdiam menatap ke arahku.
“Jika tidak keberatan, aku yang akan membuatkanmu bekal Tuan Panda.”
“Memangnya kau bisa memasak? Ah, aku lupa bahwa kau anak sultan.”
Balasku atas perkataan Kamine. Ini memang kesempatan bagus, mengemis makanan hampir setiap hari ke Klub Sastra Klasik pastinya membuat Kazari terganggu. Mungkin, kehadiranku di Klub ini menjadi pengganggu.
“Yah ... jika kau tidak keberatan untuk membuatkan bekal unt-”
*Brakk
“Tidak boleh!”
Tiba-tiba saja Kazari menggebrak meja dan berteriak secara tiba-tiba hingga membuat Kamine dan aku sendiri kaget.
“Biarkan aku saja yang membuat bekalnya! Koala! Kau boleh datang ke klub setiap hari!”
“Uh ... kenapa?”
Aku mulai bingung kenapa Kazari terlihat memaksa. Kenapa dia terlihat kecewa? Jangan-jangan ... dia senang memberiku makan karena mereka menganggapku hewan peliharaan!? Karena panggilan namaku berupa nama-nama hewan, aku tidak sadar diperlakukan seperti hewan peliharaan!?
Kamine dan Kazari terlihat berdebat untuk menentukan siapa yang akan membuat bekalku. Hanya dengan keadaan ini, aku memang dianggap seperti hewan peliharaan mereka ... mungkin.
*Sreeek
“Permisi.”
Tiba-tiba saja, seorang perempuan datang ke ruangan Klub Sastra Klasik ini. Setelah melihat warna dasinya yang sama denganku dan Kamine, sudah dapat kusimpulkan bahwa dia satu angkatan dengan kami.
Rambut yang berwarna pirang dan panjang, beberapa bagian ujungnya memiliki bentuk seperti bor. Tunggu, memang seperti bor jika diperhatikan lagi. Matanya berwarna biru, sepertinya dia memiliki darah warga negara asing.
“Jarang sekali kau datang ke Ruang Klub, Sawatari Karen.”
“Maafkan aku Ketua, tetapi ... apakah kita punya anggota baru?”
Tanya dirinya kepada Kazari setelah meminta maaf lalu melirikku dan Kamine. Kazari menyangkalnya, dia mempersilahkan Sawatari untuk duduk terlebih dahulu lalu berbicara.
“Sawatari, kenalkan ... laki-laki yang sedang makan dengan tampang bodohnya itu ... Koala. Sedangkan yang di sampingnya itu Kamine.”
Sawatari cukup kebingungan karena namaku berasal dari salah satu binatang yang ada di dunia ini. Ia pun menanyakan namaku secara langsung. Sebelum mengatakannya, aku menghela napas terlebih dahulu.
“Namaku ... ઇબુસાકી વસંત સાથે, salam kenal.”
Setelah kuucapkan namaku, Sawatari dan Kazari menatapku dengan pandangan yang tidak mengerti sama sekali dengan ucapanku. Hanya Kamine yang mengerti dan ia menunjukkan senyuman manisnya padaku.
“Tunggu, apakah itu memang namamu?”
Tanya Kazari dengan panik, Sawatari pun menanyakan hal yang sama. Aku menjelaskan bahwa hanya beberapa orang saja yang dapat mendengar namaku dengan jelas, ngomong-ngomong apa yang kuucapkan namaku tadi benar-benar masuk ke dalam bahasa Jepang.
“Yah kesampingkan hal itu, mulai besok kau tidak boleh datang ke tempat ini lagi.”
Ucap Kazari setelah menghela napas, ia menatapku yang baru saja selesai minum.
“Kenapa? Ah! Apakah anggaran Klub Sastra Klasik habis olehku?”
“Bukan bego, kalian harus fokus belajar dalam ujian mendatang.”
Jawab Kazari, aku menatap ke depan di mana Sawatari tengah duduk di samping Kazari. Hal ini membuatku dan dirinya saling berpandangan mata.
“Huuuuuufffffft ... ”
Aku menghela napas cukup panjang hingga membuat Kamine dan Kazari terlihat penasaran.
“Sepertinya kau punya masalah tersendiri, sebagai teman baru ... kau boleh konsultasi padaku.”
“Begitu ya, Sawatari ... sebenarnya aku menyukai seseorang ... ”
Ketika kuucapkan kata terakhir, Kamine dan Kazari langsung teralihkan perhatiannya kecuali Sawatari yang tengah mendengarkan ceritaku dengan seksama. Dia hanya menganggukan kepala.
“Tapi aku bingung, apakah aku perlu menyatakan perasaanku padanya?”
Lanjutku disertai helaan napas, Kamine dan Kazari terus menatapku dengan rasa penasaran. Sawatari masih terfokus padaku.
“Siapa? Siapa orangnya? Aku pasti akan mendukungmu!”
“Sawatari Karen.”
Mereka bertiga yang ada di ruangan Klub Sastra Klasik ini langsung terdiam. Ketika aku melihat kembali reaksi Sawatari, dia kebingungan dengan pipi yang merona.
* * * * *
Sore hari, berjalan di lorong sekolah yang sangat sepi. Ketika aku melewati kelas yang diperuntukkan tata boga, terlihat Kifune tengah memasak sesuatu seraya melirik buku resep beberapa kali.
Kazari, Sawatari, Suzurikawa, dan Kamine sepakat untuk belajar bersama dalam menghadapi ujian mendatang. Karena hal tersebut, aku berniat untuk mengajak Kifune yang lingkup sosialisasinya masih berada di kelas.
*Sreeek
Kifune langsung menatap ke arahku yang baru saja menggeser pintu ruangan tata boga. Buku resep yang ia pegang diletakkan lalu mengelap tangannya ke kain lap yang sudah disediakan.
Menutup kembali pintu yang kugeser, menghampiri Kifune seraya bertanya dengan apa yang ia buat saat ini. Kifune langsung mengambil pensil dan catatan kecil yang ada di dekatnya, kemudian menunjukkan tulisannya padaku.
“Masakan rumahan ... ah, keluargamu mempunyai usaha toko roti. Jadi, kau berusaha untuk membantu keluargamu?”
Tanyaku, Kifune menganggukkan kepala lalu menunjukkan senyuman kecilnya padaku.
Kami berdua menyadari bahwa tidak ada angin segar yang masuk karena jendela tertutup dengan rapat. Kifune berinisiatif untuk membuka jendela tersebut, sedangkan aku meletakkan tas yang kubawa ke atas meja.
Kifune mengambil kursi yang ada di dekatnya, karena slot kunci jendela tersebut ada di bagian tengah jendela dan tinggi Kifune tidak sampai.
Setelah meletakkan kursi tersebut di depan jendela, Kifune membuka slot kunci jendela dengan cepat sehingga jendela tersebut terbuka dengan cepat dan hembusan angin di lantai dua ini sangat kencang.
Pijakan yang ia gunakan berupa kursi goyah, aku langsung menyadari bahwa Kifune akan jatuh ke luar jendela. Dengan cepat, melangkahkan kakiku lalu mengulurkan tangan kananku.
Tetapi ... Kifune sudah jatuh terlebih dahulu dan tangan kananku sedikit lagi akan meraih kakinya. Ketika kusadari, aku langsung melihat ke bawah ke luar jendela.
Kifune terbaring di atas lantai yang terbuat dari batuan balok susun. Perlahan-lahan dari balik rambutnya, terdapat warna darah segar yang keluar.
Satu hal yang kutahu, aku tidak menyadari adanya kelopak bunga hitam yang mengelilinginya. Karena Synesthesia Petals tidak aku gunakan.
* * * * *
Polisi datang ke sekolah ini setelah kutelepon, mereka menginterogasiku sampai malam hari. Penampilan luarku memang dingin, namun di dalam diriku ingin menangis sejadi-jadinya karena kesalahku sendiri.
Beberapa murid yang mengetahui hal ini langsung mencapku sebagai pembunuh. Tentu saja, karena aku adalah orang terakhir yang bersamanya.
Dipukul oleh Ibu Kifune, perasaan seorang Ibu yang baru tahu anaknya meninggal dan orang yang terakhir bersamanya adalah aku. Emosi yang meluap mengarah padaku, dan aku disebut sebagai pembunuh lagi.
Polisi melepaskanku, karena mereka sudah menyelidiki tempat Kifune jatuh serta ruang tata boga. Sidik jariku tidak ada di manapun, mereka memang menduga Kifune jatuh setelah kesaksianku mengenai peristiwa Kifune jatuh ke luar jendela.
Polisi mengantarku ke rumah setelah larut malam. Aku mulai bingung akan kejadian yang baru saja terjadi, teman sekelasku baru saja meninggal tepat di hadapanku.
Perasaan lelah ini, membuatku perlahan-lahan tidur terlelap di atas kasur yang empuk dan dingin.
* * * * *
Pagi hari yang pucat, namun aku telah kehilangan seorang teman baru. Aku berniat untuk tidak berangkat ke sekolah saat ini agar situasi kembali aman, namun aku tidak bisa karena penebusan dosaku akan ketidak sadaranku mengenai kelopak bunga berwarna hitam tersebut.
Aku berangkat lebih pagi dari biasanya tanpa sarapan terlebih dahulu. Sekolah masih sepi meskipun ada beberapa murid yang sudah datang karena kebagian piket pagi.
Kelas yang sepi, tidak ada siapapun di ruangan yang sunyi ini. Segera berjalan menghampiri bangku milikku, meletakkan tasku lalu kembali lagi tidur.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki seorang diri. Pintu ruangan kelas ini digeser, suara langkah kaki tersebut mengarah padaku.
Sentuhan tangan seseorang di pundakku membuatku terbangun untuk mengetahui siapa yang mengangguku. Pastinya dia salah satu orang yang menganggapku sebagai pembunuh.
Tetapi, apa yang kulihat ini terlihat seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
Terdapat Kifune yang berdiri di sampingku seraya menunjukkan tulisannya padaku. Selamat pagi, itulah tulisan yang ia tunjukkan padaku.
Otakku langsung berpikir keras mengenai hal ini. Aku langsung menyentuh wajah Kifune, sentuhan lembut dan pipinya terasa dingin ini merupakan pertanda dia masih hidup.
“Kifune ... bukankah kau sudah meninggal?”
Tanyaku dengan wajah yang amat kebingungan dengan situasi saat ini. Kifune menggelengkan kepala, ia tidak mengerti dengan ucapanku. Setelah kusadari akan inti pokok permasalahan ini, segera mengecek ponsel milikku lalu terdapat kesimpulan yang aku dapatkan.
Hari ini adalah hari yang sama seperti kemarin. Dengan kata lain, waktu kembali terulang di mana Kifune masih hidup.
To Be Continue ....
Illustrasi Sawatari Karen