
Satu setengah tahun yang lalu ...
Pada saat itu aku sedang berlibur bersama keluargaku, kebetulan kedua orang tuaku pulang dari Jakarta dan Adikku pun pulang bersama mereka berdua. Saat itu menjelang musim dingin, udara di sekitar cukup dingin sehingga sebuah kotatsu dibeli sebagai perlengkapan menghadapi musim dingin hingga sekarang terpakai olehku.
Di suatu tempat dekat pantai, entah apa yang dipikirkan oleh kedua orang tuaku memilih tempat berlibur di dekat pantai padahal hawa udaranya dingin. Tapi aku tidak peduli, ini lebih baik karena aku dapat sedikit terbebas dengan pandanganku yang entah kenapa menjadi buta warna total namun aku bisa melihat suatu kelopak bunga yang menyelimuti setiap orang dan itu berbeda-beda warnanya.
Memikirkan segala hal secara tiba-tiba membuatku lelah, apalagi pandanganku bisa secara tiba-tiba kembali normal dan kelopak bunga yang kulihat menghilang.
Menatap ke luar jendela, gelap gulita diterangi cahaya lampu jalan dan beberapa lampu rumah membuat suasana sunyi tenang. Karena posisi saat ini tengah menunggu makan malam di restoran keluarga dekat tempat kami menginap, aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan untuk membuat suasana hati tenang.
Berandalan barbar sepertiku yang mencat rambutnya menjadi pirang entah kenapa membuatku geli sendiri. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menjadi nakal seperti ini, yang kuingat jelas adalah aku suka menghantam wajah orang-orang yang menantangku.
Tatapan yang kubalas terhadap lawan bicara maupun yang memperhatikanku pastinya kutatap tajam. Semakin lama, banyak musuh dan beberapa teman berandalan yang nasibnya sama sepertiku meskipun mereka hanya merokok.
Berbeda dengan sepertiku, aku mencari sesuatu yang dapat merubahku. Entah itu apa, aku ingin mendapatkannya dengan segala cara dan menghilangkan penyakit buta warna total yang tiba-tiba datang ini.
Ketika berjalan-jalan di sisi pematang laut, aku menaiki pematang tersebut lalu duduk seraya melihat laut dengan cahaya bulan purnama menjadi penerang. Saat ini juga, adrenalinku sudah mencapai batas dan aku ingin sekali melatih fisikku.
Menghela napas cukup panjang, godaan untuk berlatih harus kutahan karena saat ini aku sedang berlibur bersama keluargaku. Menggelengkan kepala, terdengar suara langkah kaki seseorang di belakangku dan seketika langsung menoleh ke sumber suara tersebut.
Karena cukup gelap, aku tidak bisa melihatnya cukup jelas namun dia menaiki tangga yang menuju suatu kuil kosong jarang dipakai meskipun masih diurus. Karena rasa penasaranku, beranjak dari tempat dudukku lalu berjalan membuntuti orang tersebut seraya menjaga jarak.
Tangannya memegang suatu tongkat, tongkat tersebut dijadikan alat bantu berjalan. Dan dari belakang pun sudah jelas bahwa dia seorang perempuan berambut panjang.
Semakin mengikutinya, tanpa disadari aku telah menginjakkan kaki di depan gerbang kuil dan menemukan perempuan yang dibuntuti olehku tengah duduk di tangga depan tempat koin untuk berdoa. Di sekitarnya terdapat beberapa kucing yang tidur, ada pula yang menghampirinya.
Membuntuti orang asing mungkin ide buruk, aku memutuskan untuk pergi dari tempat ini namun ... masa meninggalkan seorang perempuan di kuil kosong yang hanya ditemani beberapa kucing dan penerang berupa lampu saja membuat suasana semakin horor dan seram.
Tanpa kusadari, aku berjalan menghampirinya lalu berdiri di hadapannya. Pandangan kami berdua saling bertemu, aku ingin mengatakan sesuatu namun topik pembicaraan tidak dapat kutemukan satu pun. Gugup menghadapi seorang perempuan, itu adalah salah satu kelemahanku karena orang-orang di sekelilingku kebanyakan berandalan laki-laki penantang.
“Ngg ... anu ... itu ... apa yang kau lakukan di tempat sepi seperti ini?”
Tanyaku seraya mengusap-usap leherku, aku malu kepada diriku sendiri karena kelemahanku dalam menghadapi perempuan sangatlah buruk. Jika tidak salah, aku pernah membuat seorang perempuan membenciku dan gosip pun tersebar dengan cepat hingga aku dikucilkan hanya karena ketidak sengajaan.
“Kau bisa melihatku?”
Dia malah bertanya balik, apalagi pertanyaannya tidak masuk akal dan tentu aku dapat melihatnya dengan jelas.
“Tentu saja, malam-malam seperti ini berbahaya. Lekaslah pulang, ini untuk keselamatanmu.”
Ucapku seraya memasukkan kedua tanganku ke dalam saku serta menatapnya meskipun aku sudah mengira bahwa dia perempuan yang amat imut dan cantik.
“Kau baik ... terima kasih karena telah memperingatkanku tetapi aku tidak bisa pulang untuk sekarang.”
“Kenapa? Bukankah rumahmu ada di sekitar sini?”
Tanyaku, perempuan itu menggelengkan kepalanya lalu menghela napas sebelum menjawab pertanyaanku.
“Mungkin ini aneh dan lucu, aku bisa membuat seorang manusia berubah menjadi kucing. Entah sejak kapan aku juga tidak tahu, karena itu jika lepas kendali maka lebih memilih ke tempat yang sepi tanpa ada orang.”
Karena jawaban darinya, aku ingin sekali tertawa namun penjelasan darinya dengan nada santai namun serius tidak bisa kulakukan. Jika seperti itu, apakah dia mengalami keanehan sepertiku?
“Begitukah, cukup aneh bisa mengubah seseorang menjadi kucing. Ini cukup menarik.”
“Kau dengar dengan apa yang kukatakan? Kau tidak tertawa dengan penjelasanku yang tidak masuk akal?”
“Memang begitu seharusnya, tetapi aku tidak akan menertawakanmu. Jika apa yang kau katakan itu benar, bukankah kau kesulitan dengan cara hidup menghindari orang lain.”
“Huh ... aku tidak ingin mendengar kata-kata itu dari berandalan sepertimu. Mencat rambut menjadi pirang adalah pelanggaran, bukankah kau juga sama-sama menghindari orang lain?”
“Berisik, aku juga tidak ingin mendengar kata-kata itu dari seorang perempuan yang baru kutemui.”
Ucapku seraya menghampiri kucing yang ada di dekat tangga kayu. Mereka jinak dan tidak terlalu waspada terhadap manusia, apakah perempuan ini menjinakkan mereka? Berapa kali dia pergi ke kuil ini?
“Bisakah aku duduk di sampingmu? Berdiri dengan jangka waktu lama itu melelahkan.”
“Kenapa kau harus meminta izin dariku? Ini juga bukan rumahku, hanya sebatas kuil yang kosong. Jangan-jangan ... saking gugupnya kau tidak tahu apa yang harus dilakukan?”
“Kenapa kau bisa membaca pikiranku, bikin kesal saja.”
Menghampirinya lalu duduk di samping kanan perempuan tersebut yang memakai pakaian berlapis serta mantel yang menghangatkan tubuhnya. Perlahan-lahan, aku duduk semakin jauh karena dadaku berdegup kencang dengan seorang perempuan yang ada di dekatku.
“Kenapa kau semakin menjauh?”
“Ahahah santai saja, aku hanya ingin bersandar.”
“Oh ... begitu ya ... ”
Setelah percakapan singkat itu, suasana hening cukup lama dan sepertinya lima menit berlalu tanpa ada percakapan sama sekali. Sedangkan perempuan tersebut mengelus-elus kepala kucing yang tidur di pangkuan pahanya.
Si-sial! Saking gugupnya dengan situasi canggung ini, lidahku tergigit dan beberapa kata yang kuucapkan tidak terdengar jelas dan sedikit ngawur. Aku berharap dia dapat mengerti.
“Tidak perlu, meskipun pulang ... tidak akan ada yang menunggu kepulanganku.”
Dengan kata-kata yang terucap, aku langsung berkesimpulan bahwa perempuan yang ada di sampingku ini kesepian karena orang yang penting dalam hidupnya kemungkinan sudah ...
“Apa ... orang tuamu sudah ... ”
“Meninggal? Hanya ibuku saja dan itu juga sudah lama.”
“Maafkan aku karena membuatmu teringat.”
Setelah mengucapkannya, tiba-tiba pandanganku yang normal berubah menjadi hitam putih dan suasana malam ini membuatku kesulitan melihat karena semakin gelap saja. Namun, terdapat kelopak bunga berwarna merah dan hijau yang menyelimuti perempuan tersebut.
Jika tidak salah, kelopak bunga berwarna merah menggambarkan mengkhawatirkan sesuatu sedangkan hijau merupakan kondisi netral dengan perasaan yang stabil. Aku tahu karena aku sudah beberapa kali melakukan riset tentang hal ini.
“Apa kau sedang mengkhawatirkan sesuatu?”
Pertanyaanku membuat tangan kanannya yang tengah mengelus-elus kepala kucing terhenti.
“Dari mana kau tahu? Entah kenapa, berandalan yang tiba-tiba bersimpati dan peka terhadap perasaan seseorang membuatku merinding.”
“Aku hanya bertanya loh, aku juga tidak akan memaksamu untuk membicarakan masalah yang kau alami. Tentu saja, selamat untuk memikirkan jalan keluarnya.”
Setelah kuakhiri perkataanku, berdiri dengan tiba-tiba lalu berjalan menjauhi perempuan tersebut. Aku tidak peduli, siapa juga yang ingin menemani seorang perempuan asing dengan alasan tidak masuk akal seperti mengubah seseorang menjadi kucing, meskipun aku juga mengalami keanehan seperti tiba-tiba buta warna total.
“Tunggu! Jangan tinggalkan aku!”
Seru perempuan yang hampir saja kutinggalkan di kuil kosong ini. Aku berbalik badan, sosoknya yang berjuang berjalan ke arahku seraya memegangi erat tongkat sebagai alat bantu berjalan membuatku menghela napas.
Pasti sulit untuk berjalan dengan keadaan kaki yang tidak mau menuruti keinginan. Tidak sepertiku yang digunakan untuk kekerasan dan baku hantam.
“Ada apa? Kau takut sendirian?”
“Mana mungkin, bantu aku turun. Terlalu gelap dan aku tidak bisa berjalan dengan benar.”
Dengan tanggapan akan pertanyaan dariku, kata-kata pertamanya membuatku kesal namun perkataan seterusnya membuatku mengerti dengan keadaannya dengan fisik yang tidak mendukung.
“Baiklah, karena ini cukup sulit ... ”
Aku berbalik badan, mengubah posisiku berdiri menjadi berjongkok dan menyuruhnya agar kugendong. Tidak terlalu sulit menggendong seorang perempuan, kekuatan fisikku dapat mengatasinya.
“Eh? Tapi ... menggendong seorang perempuan yang baru kau temui apa kau tidak punya malu?”
“Ah sialan! Apa maumu!? Tanggapanmu sangat menyakitkan. Sudahlah, aku akan pergi.”
Ketika aku berniat untuk berdiri, tiba-tiba saja dia menjatuhkan tubuhnya di atas punggungku lalu melingkarkan kedua tangannya di leherku. Langsung saja, tanpa basa-basi aku berdiri seraya menggendongnya lalu menuruni tangga gelap disinari oleh senter ponsel milik perempuan tersebut sehingga mempermudah dalam turun tangga.
“Terima kasih. Namaku Kamine, itu nama depanku dan panggil saja.”
Dia memaksaku untuk memanggilnya dengan nama depan, lagipula dia pun tidak memberitahuku nama marganya. Meskipun aku mengatakan namaku padanya, mungkin dia akan menganggapku sebagai seseorang yang tidak penting.
“Namaku Ibusaki, nama marga sudah cukup, kan?”
“Ibusaki, sepertinya nama depanmu jelek sehingga tidak ingin memberitahukannya padaku.”
Perkataannya selalu membuatku kesal, aku ingin buru-buru pulang dan meninggalkan perempuan sialan ini. Perkataannya begitu menyakitkan, tetapi ... sepertinya aku mengerti dengan arti yang ingin disampaikannya kepadaku.
Beberapa menit kemudian, di bawah ujung tangga sudah terdapat mobil berwarna hitam yang masih menyala dan terlihat menunggu sesuatu. Kemungkinan aku salah sangka, apa mobil itu menunggu perempuan ini?
“Kamine, apakah mobil itu ... ”
“Ya, ini sudah seperti kebiasaan. Aku sudah dijemput.”
“Begitukah ... ”
Mengantarkannya menuju mobil jemputannya, membantunya masuk ke dalam mobil. Sebelum aku bergi, Kamine mengatakan sesuatu padaku.
“Selamat tinggal, Ibusaki.”
“Ya ... ”
Ucapan perpisahannya membuatku mengkhawatirkan akan dirinya, senyuman terakhir dan terindah yang pernah aku temui. Karena itu, aku memutuskan untuk mengenal dirinya lebih dalam.
To Be continued ...