Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Rumit Sekali



Aku jatuh hati padanya, dia yang dimiliki oleh orang lain membuatku semakin ingin menggapainya lalu memeluknya. Namun, karena suatu hal membuatku tidak bisa mendapatkan dukungan maupun izin.


Sawatari Karen, itulah namaku. Setelah kasus yang melibatkanku dengan fenomena supranatural, keberadaan seseorang jika bersamaku selalu kedapatan sial.


Namun untuk hari ini, aku memberanikan diri untuk pergi ke rumahnya. Meskipun aku sudah berdiri di depan rumahnya, jari telunjuk tangan kananku tidak sanggup menekan tombol bel pintunya.


Sepertinya tidak mungkin, aku sudah mengirimnya pesan namun keberanianku selalu padam. Meskipun aku jatuh hati padanya, aku ingin melihatnya dan memegang tubuhnya.


Tanpa kusadari, bel pintu tersebut kutekan. Berniat untuk kabur dengan perasaan panik, namun seseorang telah membuka pintunya sebelum niatku untuk kabur datang begitu saja.


   “Sawatari? Kupikir kau tidak akan datang meskipun mengirimku pesan. Di luar panas, kan? Silahkan masuk.”


Sosok pria mengenakan kaos putih dengan rambutnya kucel serta celana panjang hitamnya terlihat tidak enak dipandang. Namun tatapan mataku tertuju kepada sosok yang ada di belakangnya, aku ... jatuh hati kepada kucing yang bernama Kolbi.


Ya ... tidak lain adalah kucing peliharaan milik Panda.


Panda mempersilahkanku untuk masuk, aku memiliki niat untuk mengembalikan topi jerami yang pernah kupinjam. Sekalian saja, aku ingin melihat sosok kucing yang bernama Kolbi di rumah Panda.


Ketika melepas sepatu milikku, terdapat sepasang sepatu yang kemungkinan besar ada seorang tamu yang telah berkunjung lebih dulu. Aku tidak ingin menjadi pengganggu, apa yang harus kulakukan?


   “Panda, apakah ada tamu?”


   “Hmm? Oh, Kamine dan Kifune berkunjung sekalian mengerjakan tugas musim panas. Akan kuambilkan minuman untukmu, masuk saja dan temui mereka berdua.”


   “Ba-baiklah ... ”


Aku heran, kenapa dia bisa santai dengan keadaan rumah yang dikunjungi beberapa perempuan. Apalagi dia tinggal sendiri, saking terbiasanya dia sampai lupa dengan hal itu?


Berjalan menuju ruangan tengah di mana terdapat meja dengan kaki penyangga pendek dan terdapat dua perempuan satu angkatan denganku tengah mengerjakan tugas musim panas habis-habisan.


   “Ah? Selamat datang Sawatari. Aku tidak menyangka kau akan pergi ke rumah Ib— maksudku Tuan Panda.”


Ucap Kamine yang menyadari kehadiranku, Kifune menunjukkan catatan kecilnya padaku namun karena cukup jauh aku tidak bisa membacanya dan sebagai gantinya kulambaikan tanganku.


   “Sawatari, bagaimana jika kita mengerjakan tugas musim panas ini bersama-sama? Bukankah itu akan lebih mudah?”


   “Maafkan aku jika mengecewakanmu Kamine, aku sudah hampir menyelesaikan semuanya.”


Suasana hening sebentar dengan tatapan kosong Kamine mengarah padaku. Dia menggebrak meja kayu yang digunakan sebagai meja belajar.


   “Sialan! Sudah ada pengkhianat!”


   “Apanya!? Tunggu!? Memangnya kau selalu bersemangat seperti ini?”


Meladeni ucapannya, duduk di bagian sisi yang kosong lalu Panda datang seraya membawa nampan berisi empat gelas es teh manis ditambah beberapa cemilan.


Sialan, Kolbi dan Hanoman mengikuti Panda kemanapun dia pergi dan kini dua kucing itu bersantai di atas sofa. Pemandangan dari sini sudah membuatku senang, keluargaku melarang untuk memelihara hewan peliharaan karena mengurusnya ribet.


Pecinta kucing sepertiku aturan keluargaku membuatku cukup muak. Namun dengan ini, aku bisa melepas penatku.


   “Gawat, sepertinya aku berada di situasi harem.”


Perkataan seorang laki-laki yang duduk di hadapanku membuat tatapan kami bertiga kosong mengarah padanya. Aku tidak menyangka dengan ucapannya yang penuh percaya diri.


   “Aku baru ingat, Sawatari ... apa kau tahu sesuatu dengan pembimbing Klub Sastra Klasik? Hingga sampai saat ini aku belum melihatnya.”


Ya, pertanyaan legenda yang bahkan aku sendiri tidak tahu.


   “Aku juga tidak begitu tahu, Kazari senpai tidak bicara banyak. Aku pernah melihatnya sekali, dia guru perempuan yang mengajar matematika di kelas dua. Tetapi sejak aku masuk ke Klub Sastra Klasik, dia tidak pernah hadir satu hari pun.”


   “Penyebab dari fenomena supranatural yang muncul mungkin saja sudah terjadi ketika Kazari senpai masih kelas satu. Fenomena itu sudah kucari penyebabnya hingga sampai sekarang, apakah mungkin ... di dunia ini memang ada sihir?”


Gumaman dari Panda membuat kami terdiam, fenomena supranatural yang ia gumamkan tadi memang terlihat seperti sihir. Tapi aku pun berasumsi, bahwa fenomena supranatural yang terjadi pada kami pasti ada penyebabnya.


Kamine dan Kifune melanjutkan tugas mereka. Panda menatapku terus menerus, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menghindarinya serta tatapannya itu membuatku terganggu.


   “Panda, kenapa kau menatapku terus?”


Sial! Jangan sampai tertipu apalagi tersipu karenanya! Sial! Dia mengatakannya dengan wajah bodohnya!


   “Tuan Panda, apakah orang tuamu akan pulang?”


   “Hmm? Tidak, mereka menyuruhku untuk pergi ke Jakarta bersama Adikku.”


   “Jakarta? Kebetulan sekali, pembimbing Klub Sastra Klasik sedang berlibur ke Jakarta ... Kazari senpai yang mengatakannya.”


Ucapanku membuat Panda terdiam sebentar lalu mengambil ponselnya namun tatapannya masih terfokus padaku. Sialan, dia benar-benar fokus menatap wajahku hingga ia dapat menelepon seseorang tanpa melihat layar ponselnya.


   “Chiyo, ini aku. Kakakmu yang tidak sayang padamu. Apa kau mau ikut pergi ke Jakarta?”


Panda menurunkan ponselnya lalu memperlihatkan layarnya kepada kami. Terlihat bahwa dia masih menelepon adiknya yang bernama Chiyo.


   “Aku ikut Kakak Laknat!”


Suara nyaring dari ponselnya membuat kami terkejut, tidak kusangka Adiknya lebih berbahaya dari pada dirinya apalagi adik perempuan. Dari yang kulihat, apakah hubungan mereka tidak baik atau malah sangat akrab?


   “Jadi begitulah, beberapa hari mendatang aku tidak akan ada. Kamine, Kifune ... tolong jaga Hanoman dan Kolbi untukku.”


Ucapannya membuatku sakit hati, dia membiarkan Kamine dan Kifune untuk mengurus hewan peliharaannya namun dia tidak menawarkannya kepadaku. Kesal, aku sangat kesal padanya.


   “Ada apa Sawatari, kau terlihat marah? Kalau kau mau kau bisa mengurus kedua kucingku. Kifune cukup sibuk dengan toko rotinya sedangkan Kamine harus kembali ke keluarganya, mungkin aku harus mengandalkanmu untuk saat ini Sawatari.”


Baiklah, aku maafkan.


   “Tunggu sebentar? Kenapa kau cengengesan seperti itu?”


* * * * *


Ini cukup aneh, berjalan bersama Kamine di bawah langit senja menuju stasiun terdekat terasa gelisah bagiku. Aku tahu, dia lebih dekat dengan Panda dari pada yang lainnya.


   “Sawatari, bisakah aku menanyakan sesuatu padamu. Namun untuk kali ini ... bisakah kau jujur padaku?”


   “Hmm? Jarang sekali kau menunjukkan wajah seriusmu itu? Biasanya kau menunjukkan senyuman kecilmu.”


   “Itu beda lagi ceritanya. Sawatari, karena kau dapat menyalin fenomena supranatural milik orang lain berarti kau dapat melihat apa yang dilihat oleh Tuan Panda. Apakah kau tahu mengenai sesuatu dengan kelopak bunga berwarna hitam? Tuan Panda pernah mengatakannya meskipun sedang bergumam sesuatu.”


Aku tidak bisa mengatakannya, jika aku mengatakannya maka apa yang disembunyikan oleh Panda selama ini akan sia-sia. Dia yang selama ini di kelilingi oleh kelopak bunga berwarna hitam, dihantui terus menerus oleh kematian.


   “Maaf Kamine, aku tidak begitu tahu maksudmu. Ngomong-ngomong, kau ini dekat dengan Panda namun kalian seperti sepasang kekasih.”


Ucapan dariku membuat Kamine menampakkan wajah yang tidak pernah kulihat. Aku tidak seperti Panda yang dapat mengerti situasi dan melihat isi hati seseorang dengan cepat.


   “Aku tidak dapat melakukannya, karena seharusnya ... aku sudah meninggal dari dulu. Aku tidak ingin dia terbebani olehku, aku ingin dia bahagia dan menikmati kehidupannya dari lubuk hatinya yang terdalam.”


Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya. Meskipun berpikir dengan keras dengan semua hal yang aku tahu, tetap saja tidak kutemukan jawabannya.


   “Hanya aku yang dapat mengingat namanya meskipun nama marga keluarganya. Hanya dengan itu, bukankah sumber masalahnya ada padaku?”


   “Mu-mungkin saja kau salah, Panda tidak mungkin menginginkannya. Jika ... ”


Jika Panda tidak melakukan sesuatu kepada Kamine sebelumnya, berarti Kamine sudah meninggal dari dulu dan namanya dapat kami ketahui dan dapat didengar dengan jelas.


   “Jika seperti itu bukankah jelas, Panda menyukaimu hingga dia melindungimu sampai sekarang?”


   “Apa kau tidak lihat wajahnya? Dia menyembunyikan semua emosinya agar orang lain tidak khawatir padanya. Tuan Panda yang kutahu saat ini, dia menderita.”


   “Kau salah, saat ini dia bahagia karena di kelilingi oleh gadis gadis cantik seperti kita.”


   “Ah!? Mungkin kau benar, aku tidak memikirkannya karena terlalu memikirkan Tuan Panda.”


Sialan, aku tidak mengerti jalan pikiran Kamine serta Panda.


To Be Continue ...