Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Ingatan



Malam yang ditunggu akhirnya tiba.


Terdapat pesan masuk ketika aku sedang minum air bening di kamarku seraya duduk di kasur. Pesan tersebut berasal dari Kifune, mereka telah tiba di tempat pertemuan dekat kuil dan ada dua orang yang masih belum datang.


Kolbi, kucingku yang tadi tidur kini terbangun dan menghalangi jalanku untuk pergi ke luar dari kamar. Ia mengeong, menutup mataku sebentar lalu membukanya perlahan-lahan hingga dunia berwarna hitam putih meskipun sudah malam.


Di sekelilingnya terdapat kelopak bunga, perasaannya dapat kulihat. Hanya saja kemampuanku ini hanya dapat digunakan kepada Kolbi, kepada kucing lainnya tidak bisa kulakukan.


Pemikiranku sempat sampai mengira Kolbi adalah manusia penjelmaan. Tapi sepertinya aku salah, mungkin kemampuanku sudah berkembang dan resiko penggunaannya pun pastinya besar.


“Baiklah, kau lapar, kan?”


* * * * *


Menggunakan kaos hitam dan celana hitam panjang. Malam ini tidak terlalu dingin, bergegas pergi menuju tempat pertemuan namun ada seseorang yang aku kenal tengah berjalan ke arahku dari arah berlawanan.


“Kaos hitam dan celana hitam, apakah itu kau, Panda?”


Setelah ia melewati kegelapan di mana lampu jalan tidak meneranginya. Sosok tersebut adalah Senke dengan pipi yang sedikit merah, lebih tepatnya dia terlihat sudah dihajar oleh seseorang.


“Kau baru saja baku hantam?”


Tanyaku seraya menunjuk wajahnya. Senke menyangkalnya seraya menyentuh pipi kanan yang merah, ia menjelaskan bahwa baru saja ia diputuskan oleh pacarnya lalu ditampar sebelum pergi.


Alasan mereka putus sungguh kocak. Senke jarang sekali mengajaknya pergi keluar dan dirinya juga sulit dihubungi, wajar saja ... bulan ini ponselnya sudah rusak empat kali karena keberuntungan miliknya direnggut oleh kemampuannya sendiri yang dapat memutus dan menyambungkan benang takdir.


Tanpa banyak basa-basi, pergi menuju tempat pertemuan yang dekat dengan kuil dan dari kejauhan sudah terlihat mereka sudah datang. Kamine, Kifune, Sawatari, Kazari, Suzurikawa, Sakaguchi, dan ... Chiyo.


Tunggu sebentar? Kenapa Adik laknatku ada bersama mereka?


Kedatangan kami berdua disambut oleh ucapan selamat datang sinis dari Chiyo. Melirik ke arah Kamine, sepertinya dia yang mengajak Chiyo pergi bersama-sama ke festival musim panas ini.


Mereka mengenakan yukata, hanya Chiyo dia mengenakan jaket dengan baju biasa dan rok yang membuat penampilannya amat imut. Kehadiran Adikku membuat Sawatari dan lainnya terasa ada suasana baru, aku harap mereka tidak menganggapnya sebagai gadis barbar.


“Apa yang kau lakukan di sini Tuan Panda? Kami tidak membutuhkanmu di sini.”


“Aku dibuang!?”


Kamine pun sudah akrab dengan yang lainnya. Menurut pepatah, persahabatan perempuan itu seperti kertas rapuh yang ternodai oleh tinta.


“Suzurikawa senpai, bagianmu untuk bekerja di kuil apakah masih lama?”


“Sekitar satu jam lagi, santai saja Kanari.”


Jawabnya dengan senyuman manisnya. Sawatari menatapku sedari tadi, mendekatinya lalu menanyakan alasannya dia terlihat marah padaku. Aneh sekali, padahal aku tidak melakukan apapun tapi kenapa aku merasa bersalah?


“Aku kira kau tidak akan datang, aku sedikit khawatir, ingat! Aku tidak khawatir sama sekali!”


Sawatari ngegas dengan pipi merona, menutupi rasa malunya dengan bersikap tsundere kepadaku sudah biasa. Tidak, malahan sifatnya itu memang sangat pas dengannya.


“Kenapa kau tiba-tiba ngegas? Intinya aku minta maaf, akan aku traktir nanti sebagai balasannya.”


* * * * *


“Chiyo, Ayah dan Ibu pergi ke mana?”


“Hmm? Mereka melakukan hal yang biasanya dilakukan. Ibu berkumpul bersama mantan geng motornya sedangkan Ayah berkumpul dengan sahabat perjuangannya. Padahal aku sudah mengajak mereka ke festival ini, berterima kasihlah kepada mereka karena festival ini tidak ada gangguan.”


“Kenapa kau yang merasa sombong?”


Chiyo menanggapinya tanpa menunjukkan ekspresi yang berlebihan, dia memukul pinggangku dengan cukup kuat meskipun tidak terlalu sakit.


“Aniki, di antara teman perempuanmu yang ada di sini. Yang mana pacarmu?”


“Pacarku? Mereka bukan pacarku.”


“Begitu ya ... ”


Jentikan jari tiba-tiba saja mengenai dahiku. Chiyo melompat terlebih dahulu sebelum menjentikkan jarinya, menutup wajahku dengan tangan kanan lalu mengusapnya.


“Apa yang kau lakukan Chi ... Ch ... ”


Aneh, aku tidak bisa mengingat nama Adikku sendiri meskipun aku sudah berusaha keras untuk menyebut namanya. Gejala ini seperti orang-orang yang tidak bisa menyebut namaku, jangan-jangan!?


“Sepertinya sudah waktunya untuk mengembalikan apa yang hilang darimu Aniki. Aku mengembalikannya kepadamu, sebentar lagi kau akan ingat.”


Adikku tiba-tiba pergi pamitan bersama Suzurikawa untuk pergi ke kuil. Yang lainnya tergantung, ada yang berniat jalan-jalan dan menikmati festival seraya menunggu peluncuran kembang api.


Meskipun hanya sekejap, aku mengingat sesuatu yang hilang dan itu adalah ingatanku sendiri yang aku lupakan. Seorang perempuan di masa laluku, aku dekat dengannya namun ada suatu penyebab yang membuatku melupakannya.


“Ada apa Panda, kau terlihat kelelahan?”


Tanya Sawatari seraya menyentuh pundakku. Wajah khawatirnya membuatku sedikit membaik, baiklah ... aku peluk saja.


“Haah ... nyaman sekali.”


Mendekap Sawatari yang ada di hadapanku, membiarkan kepalaku nyaman di dada miliknya yang lembut membuat kepalaku memantul. Nyaman sekali ...


*Dukkk


Perutku diserang oleh lututnya, sakit ... aku tidak mempersiapkan diriku terlebih dahulu untuk menahannya hingga kedua tanganku perlahan-lahan melemah mendekapnya. Bertekuk dengan kedua tanganku memegangi perut, namun ingatanku yang kulupakan perlahan-lahan dapat kuingat.


“Apa yang kau lakukan masbro, tiba-tiba saja memeluk seorang perempuan meskipun membuatku iri.”


Sakaguchi dan Kifune membantuku untuk berdiri, Sawatari pergi bersama yang lainnya dan Senke ikut bersama mereka agar aman.


Apa yang dilakukan Adikku kepadaku? Kenapa tiba-tiba saja aku tidak bisa mengingat namanya?


“Apa kau kurang sehat? Jika mau istirahat saja dulu.”


Penawaran dari Sakaguchi kuterima. Namun aku tidak ingin mengganggu rencana mereka, menyuruhnya untuk bersenang-senang tanpaku namun Kifune menolaknya.


“Baiklah, akan aku nikmati waktu yang kau berikan kepadaku masbro. Kifune, tolong jaga masbro.”


Ucap Sakaguchi lalu pergi menjauhi kami berdua dan menyusul Kamine serta yang lainnya. Sekarang hanya ada kami berdua, Kifune duduk di sampingku seraya menulis sesuatu di catatan kecilnya kemudian menunjukkannya kepadaku.


Apa yang terjadi padamu? Tiba-tiba memeluk Sawatari. Aku lebih terkejut bahwa Adikmu sangat manis, tapi sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat.


Ketika aku ingin menjawabnya, Kifune menarik catatan kecil miliknya lalu menghela napas cukup panjang. Apa yang sedang dipikirkannya?


“Aku sedikit kelelahan. Daripada itu, malam ini kau sangat cantik Kifune. Aku serius mengatakan ini.”


Ucapanku membuat Kifune terdiam sebentar dan memerah sedikit meskipun tidak terlalu kelihatan karena kurangnya penerangan. Dia mendorong-dorong pipiku, tingkah malunya sungguh imut.


“Dari pada itu Kifune, sebelumnya kau berbicara dengan Ayahku ketika dia memeriksa toko rotimu. Aku penasaran dengan apa yang kalian bahas saat itu.”


Kifune menuliskan jawabannya di catatan kecilnya. Cukup lama menunggu dan membutuhkan waktu lama, setelah dia menyelesaikannya catatan kecil tersebut diserahkan kepadaku dan ia menyuruhku untuk membacanya.


Ayahku bernama Wataru. Dia adalah teman lama Ayahmu dan mereka juga dulunya satu sekolah dan satu angkatan. Dia memberitahuku bahwa Ayahku tengah bekerja di suatu tempat, berhari-hari dia sibuk. Itu juga adalah salah satu alasan Ibuku bercerai dengannya, namun mengetahui Ayahku masih hidup dan bekerja keras sudah membuatku lega.


Begitukah ... Ayahku tidak pernah sekalipun menceritakan masa lalunya. Jika Ayahku dan Ayah Kifune satu angkatan mungkin ada yang mereka ketahui mengenai fenomena supranatural, tapi bisa jadi mereka tidak tahu dengan fenomena supranatural yang aku alami.


Membicarakan hal ini dengan Ayahku bahkan Ibuku hanya akan membuat mereka tertawa. Tapi jika Adikku, dia benar-benar mengalami fenomena supranatural apalagi diriku ini bisa membuatku melupakan namanya dalam sekejap.


Setelah membacanya, mengembalikan catatan kecil miliknya lalu kami berdua pergi menuju sebuah jembatan di atas sungai yang jernih. Suara berisik dari festival cukup terdengar sampai sini.


Kifune menanyakan kepadaku apakah ada masalah, aku tanggapi pertanyaannya dengan gelengan kepala. Hanya Kifune yang tidak tahu tentang fenomena supranatural yang kami alami, memberitahukan fenomena supranatural miliknya yang dapat mengulangi waktu adalah sesuatu yang membuat siapapun merinding apalagi terjadi jika kematian mendekat.


Terdapat suatu suara meluncur ke atas. Ya, sebuah kembang api telah diluncurkan dan aku malah membuang-buang waktu bersama Kifune yang seharusnya kami bersenang-senang bersama yang lainnya.


Sosok perempuan itu menepi ke jembatan lalu berdiri membelakangiku seraya memegang pengaman jembatan. Beberapa kembang api kembali diluncurkan dan kemeriahan tersebut membuat suasana di sekitar kami begitu meriah.



Hanya ada kami berdua di tempat ini. Kifune tidak memperdulikannya dan hanya menikmati pemandangan indah ini. Aku tahu itu, menemaninya di samping dirinya sudah membuat beban pikiranku sedikit ringan.


Aku ingin melupakan bagaimana caranya menghilangkan kelopak bunga hitam yang menyelimutiku ini dan masalah lainnya. Namun tanpa ada fenomena supranatural itu, aku tidak akan pernah berteman dengan orang-orang yang kini dekat denganku.


“Ini sangat indah, bukankah begitu?”


Kifune menganggukkan kepala serta senyuman tulusnya benar-benar membuatku hampir melupakan segalanya. Tidak kusangka, efek senyuman manisnya terasa bagaikan obat penyembuh hati.


Kifune menulis sesuatu, menunjukkannya padaku dan pada saat ini juga aku benar-benar terkejut dengan apa yang ia tulis.


Ibusaki, terima kasih.


To Be Continue ...