
Seharusnya aku menjemput mereka berdua, tetapi ... apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dikatakan oleh Kanari ... apakah dia benar-benar menyukai Sawatari?
Apa yang harus aku lakukan ... malah aku bersembunyi di balik pohon yang ada di belakang mereka berdua saat ini. Seharusnya aku datang saja dengan normal, namun setelah mendengar perkataan Kanari tadi malah membuatku bimbang.
“Ah, tapi yang kukatakan tadi bohong.”
Suasana di antara mereka terasa berhenti sebentar, Sawatari membentak Kanari yang berniat bercanda dan memukuli punggungnya dari belakang seraya pergi menuju distrik pasar swalayan.
“Sudah kubilang aku bercanda dan berhenti memukul punggungku.”
“Bercandamu kelewatan tahu!”
“Pipimu sampai memerah seperti itu, sialan ... manis sekali.”
“Berisik!”
Mereka berdua pergi begitu saja, keluar dari balik semak-semak dari balik pohon kemudian duduk sebentar di kursi kayu memanjang yang sebelumnya mereka berdua duduki.
Terdapat pesan masuk yang kudapatkan dari Kazari, dia menanyakan letak keberadaanku saat ini dan dia juga menanyakan waktu luangku. Karena aku tidak bekerja di restoran keluarga saat ini dan kuil pun masih mempersiapkan acaranya, aku memiliki cukup banyak waktu luang.
Jika dipikir-pikir lagi, setelah aku berteman dengan Kanari, phobia yang aku derita yaitu Androphobia sedikit demi sedikit dapat aku kendalikan. Meskipun beberapa kali aku menghajar secara tiba-tiba.
A-apa yang kupikirkan!? Aku sebagai seniornya dan dia sebagai juniorku seharusnya tidak ada hubungan semacam itu. Tunggu sebentar, tapi bukankah ada hubungan wajar antara senior dan junior? Lagipula kami ini berteman dan tidak ada maksud lain.
* * * * *
Gawat ...
Hari sudah sore dan beberapa papan kayu ini belum dibawa ke kuil, apakah aku harus membawa barang berat ini sendirian apalagi jarak dari pasar swalayan dan kuil cukup jauh. Aku tidak boleh mengeluh, hanya segini saja pasti cukup mudah.
Meski aku sudah mencoba mengangkat empat papan kayu yang cukup panjang dan tebal, ini terlalu berat bagi seorang perempuan sepertiku. Terlebih lagi aku harus pulang sebelum larut malam, apa yang harus kulakukan ...
“Biar kubantu Suzurikawa senpai, mau kau bawa ke mana papan ini?”
Seorang remaja laki-laki tiba-tiba mengangkat empat papan kayu tersebut dengan mudahnya lalu menahannya dengan pundak sebelah kanan. Kanari, apa yang dia lakukan di tempat seperti ini? Apalagi rapatnya pun sudah lama selesai.
“Apa yang kau lakukan di sini Kanari? Bukankah kau sudah pulang bersama Kamine dan Sawatari?”
“Aku menyuruh mereka berdua untuk pulang terlebih dahulu, Kifune memintaku untuk memindahkan beberapa barang berat di toko roti miliknya. Hanya ada dirinya dan Ibunya, mau bagaimana lagi.”
“Begitu ya ... tetapi ... bisakah kau menjaga jarak denganku, aku bisa saja memukulmu tiba-tiba dan bau keringatmu cukup menyengat.”
Ah ... gawat, aku keceplosan berkata jujur tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Apakah aku membuatnya kesal?
“Begitu ya ... maaf ... aku memang bau.”
Kanari mengatakannya dengan wajah datar seperti tidak memperdulikan perkataanku seraya memalingkan wajahnya ke samping kanan. Dia melangkah mundur menjaga jarak denganku, maafkan aku dan mulutku ini yang tidak bisa diajak dikompromi.
* * * * *
Meskipun waktu malam baru saja tiba, kami berdua dapat membawa empat papan kayu tersebut walaupun Kanari yang membawakannya untukku. Setelah menyimpannya di gudang bersama dengan barang lainnya, aku menyuguhinya teh hangat di depan tangga kuil yang dibuat di rumah milik Kakakku dekat kuil.
Waktu berlalu begitu saja, lampu jalan yang ada di sekitar kuil mulai menyala dan habis gelap terbitlah terang. Sepertinya aku terlalu merepotkan Kanari, dia pasti kelelahan karena mengurusi berbagai hal sebelumnya.
“Kanari, maafkan aku karena merepotkanmu.”
“Santai saja, aku melakukan hal ini karena ada yang ... tidak, sepertinya tidak perlu. Dan juga ... apakah kau harus menjaga jarak dan duduk sepanjang satu meter?”
Memang, situasi ini cukup canggung namun tidak enak karena Kanari sudah membantuku. Namun jika posisi dudukku cukup dekat dengannya, aku bisa saja membantingnya.
“Jika tidak salah, tahun lalu di kuil ini ada perempuan cantik yang menjadi gadis kuil. Apa kau mengenalnya?”
“Oh? Itu Kakak perempuanku, beberapa bulan kemarin dia menikah dan dirinya mempercayakanku sebagai penerus gadis kuil. Jika kau melihat Kakakku menari di kuil, apakah melihat tarian bagian pertama atau kedua?”
“Hmm? Saat itu aku datang bersama Adikku dan kedua orangtuaku. Ketika melihat tarian itu sepertinya di bagian akhir. Saat itu ... sosok Kakakmu itu cantik sekali, aku sampai terpesona olehnya.”
“Ahaha ... tariannya memang bagus.”
Eh? Bagian akhir? Tunggu sebentar ... saat itu aku menggantikan Kakakku yang kelelahan dan bagianku sebagai penggantinya ada di bagian kedua. Berarti ... apa yang dia tonton adalah diriku sendiri yang dia sangka adalah Kakakku?
Ma-malu sekali ...
“Ada apa Suzurikawa senpai? Kenapa kau menutupi wajahmu dengan kedua tanganmu?”
“Ti-tidak apa! A-aku hanya teringat masa lalu.”
Kanari meletakkan kembali gelas keramik ke tatakannya, ia pamit pulang karena hampir larut malam dan dia juga belum makan. Aku ingin menawarinya untuk makan malam di rumah kami, namun keberanianku tidak cukup untuk mengatakannya.
“Kalau begitu aku pulang dulu, terima kasih atas tehnya.”
Setelah mengatakannya ia berbalik badan lalu berjalan menjauh menuju gerbang kuil. Ada yang ingin kukatakan namun tidak sempat, Kanari yang membantuku akan masalah di mana diriku yang lain disebabkan oleh fenomena supranatural itu membuatku menerima sisi diriku yang aku benci.
Huh ... betapa menyedihkannya aku ...
* * * * *
Esoknya ...
“Suzurikawa, tolong urus pelanggan yang ada di meja nomor empat.”
“Baik!”
Setelah dari dapur untuk menyimpan nampan, mengambil catatan pesanan yang sebelumnya kusimpan kemudian bergegas pergi menuju meja nomor empat. Namun, pemandangan ini pernah kulihat ketika aku bertemu dengannya.
Kenapa ... kenapa mereka berdua ada di tempatku bekerja? Kazari dan Kanari, kenapa mereka berdua malah berkumpul di tempatku bekerja!?
“Sayuki, aku memesan yang biasanya.”
“Suzurikawa senpai, tolong es kopinya dan satu porsi nasi goreng.”
Menghela napas sebentar, mengambil catatan di saku milikku kemudian menulis pesanan mereka berdua. Karena saat ini aku bekerja, melayani mereka berdua adalah tujuanku saat ini.
“Silahkan tunggu sebentar.”
Restoran keluarga ini memiliki tiga pelayan, termasuk diriku sendiri di antara dua orang tersebut. Es kopi serta nasi goreng dan pesanan Kazari telah diselesaikan, segera kubawa ke meja di mana Kazari dan Kanari tengah menunggu.
Sesampainya, terlihat Kanari tengah mengerjakan tugas musim panasnya yang dibantu oleh Kazari. Ah, aku teringat dengan tugas musim panasku yang belum selesai.
“Maaf menunggu ... ”
Meletakkan es kopi serta parfait stroberi pesanan Kazari di meja lalu membungkukkan badan.
“Silahkan dinikmati.”
Mengubah posisiku dari membungkukkan badan menjadi berdiri lurus, Kazari menyuruhku untuk bersikap santai kepada mereka berdua lagipula sekarang ini waktu santai sehingga tidak ada banyak orang yang datang.
“Ngomong-ngomong, kenapa kalian berdua malah berkumpul di tempat ini?”
“Aku yang merekomendasikan tempat ini, Koala meminta bantuanku untuk tugas musim panasnya.”
Ah ... benar juga, Kazari merupakan salah satu murid pintar dengan nilai tinggi meskipun peringkatnya ke dua puluh pada saat ranking umum kemarin. Tunggu sebentar, saat itu aku melihat papan ranking kelas satu tapi aku tidak tahu siapa nama asli Kanari dan berapa peringkatnya.
“Kanari, kemarin kau ranking umum ke berapa?”
“Jika tidak salah sekitar enam puluh empat, aku tidak terlalu bodoh hanya saja pura-pura bodoh tapi kebablasan.”
Jika diingat kembali, aku memang mengingatnya tapi kenapa papan namanya terlihat dicoret dan hurufnya tidak jelas. Kenapa susah sekali hanya untuk mengetahui namanya saja?
“Aku dengar kau akan pergi ke Jakarta, apakah ada keperluan yang mendadak?”
Tanya Kazari, Kanari tiba-tiba saja berhenti mengerjakan tugasnya lalu meletakkan pensil yang ia gunakan di atas buku yang terbuka.
“Aku tidak jadi, keadaan di Jakarta saat ini penuh dengan masalah banjir dan beberapa hal lainnya. Dari pada itu, aku diseret oleh Paman Macho sebagai penanggung jawab kedua dari panitia festival musim panas di kuil Suzurikawa senpai.”
“Begitu ya ... ”
Kazari menanggapinya seraya menatap wajahku dan ia mulai memakan parfait stroberi yang dipesan olehnya. Sedangkan Kanari, ia mengambil porsi nasi gorengnya dan perlahan-lahan memakannya seraya membaca buku.
“Benar juga, Suzurikawa senpai ... jika kau butuh sesuatu untuk kuil bilang saja padaku. Aku akan membantumu sebisa mungkin.”
Tersenyum kecil untuk menanggapi semangat dari juniorku. Pergi menuju dapur, aku tidak ingin memperlihatkan wajahku saat ini kepada mereka berdua.
Karena selama ini ... aku tidak pernah merasa senang sampai seperti ini ...
* * * * *
Keluar dari restoran keluarga pada malam hari, menatap langit yang tertutup sedikit awan sehingga bintang yang bersinar tidak terlalu terlihat.
Aku harus segera pulang untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnnya. Sepertinya aku harus menginap di rumah Kakakku yang ada di kuil, lagipula besok pun akan diadakan latihan menari.
Berjalan di pinggir jalan yang cukup sepi, menuju bagian kota dan tempat ini masih ramai dipenuhi orang-orang. Telah banyak yang berubah sejak beberapa bulan yang lalu, kepribadianku yang lain pun sudah sepenuhnya kumengerti.
Berjalan melalui komplek perumahan akan lebih cepat, jalan taman yang biasanya kulalui mungkin akan sedikit sepi dan cukup menakutkan. Tidak boleh sampai membayangkan yang aneh-aneh, apalagi hantu dan yang lainnya.
Di persimpangan depan, terdapat seseorang yang berjalan menghampiriku. Semakin ke sini, lampu jalan yang terang meneranginya dan wajah yang kukenal menatapku cukup heran.
“Kanari?”
“Suzurikawa senpai?”
Karena terdapat sedikit waktu, Kanari ingin membicarakan sesuatu padaku sehingga perjalananku untuk pulang terhenti di taman ini.
Duduk di bangku taman, aku menjaga jarak samping duduk hampir di ujungnya. Maafkan aku Kanari, penyakitku masih belum sembuh dan mungkin tanganku akan sangat berbahaya malam ini.
“Apa kau baru pulang dari kerja sambilanmu?”
“Ya, aku berniat untuk pergi ke rumah Kakakku yang dekat dengan kuil. Dari pada itu, apa yang kau lakukan di perumahan ini?”
“Mencari makan malam setelah mengantarkan obat kepada Kamine, mengantarkan Kolbi kepada Sawatari, dia ingin memelihara salah satu kucingku maka kuberikan padanya.”
“Kau baik sekali, aku minta maaf ketika pertama kali bertemu denganmu dan melukaimu. Tubuhku tiba-tiba bergerak sendiri.”
“Santai saja, lagipula jika kejadian itu tidak pernah terjadi ... aku tidak akan pernah berbicara berdua denganmu seperti ini ... ”
Di akhir katanya, Kanari terlihat menyadari suatu hal lalu memalingkan wajahnya dengan cepat. Karena aku penasaran dengan apa yang terjadi, Kanari bersedia untuk mengatakannya.
“Saat Suzurikawa senpai ada dua, Suzurikawa yang satu menginap di rumahku dan ... ”
“Tu-tunggu!? A-apa yang kau lakukan dengan diriku yang lain!? Jangan-jangan— kau melakukan hal-hal yang tidak senonoh!?”
“Woi Ngawur! Dia hanya menginapku lalu membaca buku yang ada di rumahku! Aku tidak melakukan sesuatu pada dirimu yang lain!”
Kanari terlihat serius meskipun wajahnya tersipu malu, sepertinya ada suatu hal yang terjadi ketika dia bersama dengan diriku yang lain. Mungkin juga, karena sisa perasaan dari diriku yang lain bersama dengan Kanari.
Perasaan nyaman ini ... aku mengerti, perasaan nyaman ini adalah perasaan diriku yang lain ketika bersama Kanari.
“A-ada yang ingin kutanyakan padamu Kanari, apa kau benar-benar menyukai Sawatari?”
A-apa yang kukatakan!? Lagi-lagi mulutku bertindak seenaknya!? Tetapi, Kanari terdiam ketika kutanyakan hal tersebut padanya.
“Aku mengerti, sepertinya pembicaraanku dengan Sawatari terlihat ketika di mesin minuman ya. Itu bohong, aku ingin mempermainkannya hingga hubungan kami akrab tanpa canggung. Lagipula kami satu angkatan, mungkin saja aku akan bergantung padanya ketika di situasi sulit.”
Aku lupa, jalan pikiran Kanari tidak bisa ditebak begitu saja. Tetapi jika seperti itu, berarti dia masih menyukai Kamine? Apa alasannya? Apakah ada yang terjadi di antara mereka berdua?
Tiba-tiba dering ponsel terdengar, Kanari mengambil ponselnya lalu mengecek pesan yang masuk. Dia mengusap wajahnya lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.
“Maaf Suzurikawa senpai, aku harus segera pergi. Sepertinya aku harus mengantarmu dulu, lagipula sekarang sudah malam.”
Aku menolak tawarannya, terlihat dari tingkahnya sepertinya ada urusan penting yang mendesak. Membuatnya mengantarku pulang hanya akan merepotkannya saja, itu akan membebani pikiranku.
Kanari pamit untuk pergi dan ia berlari meninggalkan taman ini dengan cepat. Aku tidak sempat untuk menanyakannya tentang Kamine, jika begitu ...
To Be Continue .....