Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Bertiga Satu Kelompok



Aku tidak tahu entah sejak kapan. Kata menyerah membuatku merasa nyaman di dalam dunia yang sunyi ini. Aku kehilangan kata-kata, berlutut sebelum keajaiban yaitu penglihatan yang kugunakan menjalani hidup.


Fajar monokrom mulai bersinar. Namun, aku berharap hal itu tidak akan berubah. Selama kehidupan ini terus berlanjut, sekarang baguskah jika itu mimpi? Sekarang aku pun masih memimpikannya.


Bagaikan kembali pada hal yang terlupakan. Namun tetap saja, aku menyapu bersih kenangan lama. Bahkan masa lalu yang terus kusembunyikan, akan terus menjadi suram selamanya.


Sekarang, itu masihlah sebuah mimpi? Sadarlah, kau berjalan sendirian di jalan yang dipenuhi dengan duri dan segala hambatan. Namun kau mengerti, semua itu dapat dilalui dengan tubuh yang sudah lelah.


* * * * *


Perlahan-lahan kesadaranku mulai berkumpul setelah mendengar suara musik alunan piano sonata nomor sebelas. Suara musik karya dari seorang Pianis terkenal pada masanya, Mozart. Memejamkan mata beberapa kali, menatap dinding kamar yang berwarna putih.


Aku mencari ponsel pintarku yang sumbernya musiknya ada di dekat kaki. Karena terasa jauh, aku memilih bangun dan meraihnya menggunakan tangan kananku. Alarm ponselku akan berhenti jika digoyang sampai sepuluh kali.


Ketika alarm ponselku mati, aku berniat untuk tidur kembali akan tekanan kasur yang mengurungku melarang pergi. Hari libur seperti ini biasanya tidur sampai siang, namun akan buruk bagi kondisi saraf dan otot akan melemah.


Maka ketika terbangun saat siang hari. Kepala akan terasa sakit dengan badan yang terasa berat. Untuk meringankannya, dibutuhkan minum air bening yang banyak. Tubuh merupakan bagian terpenting, maka jagalah kesehatan dan tetap sehat dengan pola hidup sehat.


Kulirik jam dinding yang ada di atas pintu. Jam masih menunjukkan jam enam lebih dua menit. Karena hari ini cukup luang tanpa ada hambatan, aku meniatkan hari ini untuk menikmati hari-hariku di rumah.


Segera pergi menuju dapur karena ruanganku ini ada di lantai satu. Kamar yang ukurannya hanya 2x2 dan membuat siapa saja pengap. Namun bagiku, memiliki kamar sendiri sudah sangat berharga.


Membasuh muka sampai rasa ngantuk perlahan-lahan menghilang. Kutatap wajahku dengan kantung mata yang terlihat menghitam. Sepertinya kondisi tubuhku kekurangan cairan dan penggunaan bantal yang terlalu datar salah satu penyebab kantung mata.


Segera kembali ke dapur. Terdapat dua kucing yang menghadangku untuk pergi. Sepertinya, mereka berdua meminta pajak pagi hari ini. Dua wadah pakan, kuisi sampai penuh agar mereka berdua kenyang dan dapat bermalas-malasan sepanjang hari.


Menggunakan perlengkapan berupa seragam olahraga satu set lengkap. Menggunakan jaket di pagi hari ini akan hawa dingin menusuk pada setiap lapisan kulit. Untuk sekarang, lari pagi agar kondisi tubuh tetap terjaga dan sehat.


* * * * *


Satu kali lari biasanya kuat sampai dua kilometer tanpa henti. Berhenti sejenak di sebuah taman yang tidak asing bagiku, tempat ini merupakan tempat pertemuanku yang pertama dengan Kifune. Namun, aku sudah mengerti dengan apa yang dijelaskannya beberapa waktu lalu.


Ketika di rumahnya yang kini Ibunya memiliki usaha toko roti baru di distrik pertokoan. Aku menanyakan, ‘apakah kau mengenaliku?’ seraya memperhatikan reaksi Kifune. Aku sungguh terkejut, Kifune tidak mengingat masa lalunya seperti halnya kabut samar menghalangi pandangan.


Kifune menceritakan apa yang ia alami setelah pertemuan kami berdua di taman ini. Semakin beranjak dewasa, Kifune mengidap sebuah cedera yang merepotkan. Bisu memang sudah terjadi sejak lahir, namun suatu hal yang baru muncul setelah itu.


Cedera otak yang menyebabkannya. Ingatannya mulai kabur ketika kecelakaan yang menimpanya terjadi. Tujuan Kifune kembali ke daerah ini adalah untuk mengenang kembali jika saja ia dapat mengingat kesan yang membekas di hatinya.


Karena itulah, aku tidak punya hak untuk memaksakannya dalam segala yang bersangkutan dengannya. Kehilangan ingatan adalah suatu hal yang mengerikan, segala ingatan yang berarti akan hilang dan diri sendiri merasa terasingkan.


Karena itu, ketika pertemuan kedua kalinya di kelas saat Kifune pindah. Aku merasa bahwa dirinya berbeda dari yang dulu. Namun aku berterima kasih atas kebetulan ini, aku dapat bertemu kembali dengannya.


Duduk di kursi yang memanjang di taman. Menatap permainan kanak-kanak yang membuatku nostalgia akan kenangan masa kecil. Hanya mengingatnya saja, membuatku ingin menangis dan tertawa akan kebodohanku yang polos.


   “Manusia akan berubah seiring waktunya. Kesalahan akan terus ada di dalam diri sendiri. Namun tanpa kesalahan juga, manusia tidak akan maju dan melangkah lebih maju.”


* * * * * *


Ketika kembali ke rumah disertai langkah kecil yang mengiringi. Panggilan Panda terdengar, Ibuku menyuruhku untuk sarapan terlebih dahulu di pagi buta monokrom ini. Duduk di meja makan yang di atasnya telah disediakan roti lapis isi daging dan keju.


Memang sederhana, aku yang meminta menu makanan ini setiap hari libur karena asupan gizi dan protein dibutuhkan ketika istirahat. Kembali ke kamarku setelah mengucapkan terima kasih kepada Ibuku yang sibuk di dapur. Kuraih ponsel pintarku yang ada di atas meja.


Aku mendapatkan pesan dari Kifune. Isi pesan itu mengenai kerja kelompok yang akan dilakukan hari ini. Sungguh aku lupa mengenai janji itu, padahal Sakaguchi sudah mengingatkanku kemarin malam.


Dengan alasan itu, aku mempunyai kegiatan baru pada jadwal yang ditetapkan. Untuk sekarang, membenahi diri dan berangkat pada waktu janji yang ditentukan. Sepuluh pagi, itulah waktu yang ditetapkan agar kami bertiga berkumpul di suatu tempat.


* * * * *


Mengenakan pakaian kasual berupa kaos abu-abu dilapisi dengan jaket hitam yang cukup tipis. Menggunakan celana panjang jenis chino warna hitam. Penampilanku saat ini sudah paling bagus menurutku.


Tempat janji kami ada di sebuah taman kota yang tidak jauh dari lokasi rumah kami bertiga. Di sepanjang jalan langkah yang kuayunkan, setiap manusia melewatiku mencari nafsu duniawi yang terlihat dari tingkah. Jawaban yang tidak pasti, tanpa disadari ada di dalam diri sendiri.


Pada ponsel pintarku, jam menunjukkan waktu sembilan pagi lebih lima puluh menit. Ketika taman kota terlihat dari kejauhan, dua orang itu datang lebih awal dan tengah membahas suatu hal. Kuayunkan kedua kaki yang terasa ringan, kupanggil nama panggilan mereka berdua.


   “Masbro! Di sini!”


Sakaguchi memanggilku seraya melambai-lambaikan tangan kanan mereka. Setelah kami bertiga berkumpul, Kifune menunjukkan tempat selanjutnya yang akan disinggahi. Perpustakaan umum, itulah tempat tujuan kami bertiga.


Aku melirik Sakaguchi dan Kifune yang beranjak dari kursi kayu memanjang. Sakaguchi memakai pakaian kasual dengan celana jenis jeans panjang, bagian atasnya mengenakan kaos berwarna merah. Sedangkan Kifune, ia mengenakan seragam sekolahnya dengan lengkap.


* * * * * *


Kifune memilih perpustakaan umum sebagai tempat kerja kelompok kami. Fasilitas berupa pendingin, Wi-Fi, dan tempat bersih sudah disediakan. Meskipun masih pagi, perpustakaan umum ini sudah dikunjungi oleh beberapa orang.


Posisi duduk kami terpisah. Aku duduk sendirian di beberapa bangku yang kosong ini. Sedangkan di depanku, terdapat Kifune yang di samping kirinya terdapat Sakaguchi. Entah kenapa, suasana hati mereka berdua terlihat bagus.


   “Aku memilih materi yang berkaitan dengan Alexander The Great.”


Sakaguchi mengajukan materi sejarah dunia yang akan kami gunakan sebagai presentasi. Kifune mengusulkan akan sejarah sindrom rambut putih yang berkaitan dengan Marie Antoinette. Sedangkan aku, sebetulnya sudah kupikirkan matang-matang namun tetap saja masih ada yang bagus.


   “Albert Einstein.”


Perkataanku membuat Kifune dan Sakaguchi cukup terkejut. Karena tiga topik kami bertiga berbeda dalam ruang lingkup waktu dan jenisnya. Walaupun begitu, aku cukup tahu tentang tiga tokoh terpandang itu.


Alexander The Great, Alexander III dari Makedonia. Lebih dikenal sebagai Alexander Agung Raja Kekaisaran Makedonia. Pada usia tiga puluh tahun, dia memimpin sebuah kekaisaran terbesar pada masa sejarah kuno. Membentang mulai dari Laut Lonia sampai pegunungan Himalaya.


Marie Antoinette, Ratu Prancis terakhir sebelum Revolusi Prancis. Dia lahir di Austria dan anak kedua dari belakang Maria Theresa, Francis I, Kaisar Romawi Suci. Yang menarik dari Marie Antoinette adalah Marie Antoinette syndrom.


Pemutihan rambut yang terjadi secara tiba-tiba. Sindrom ini berdasarkan penyamatan bahwa rambut Marie Antoinette dari Prancis berubah sangat putih setelah dia ditangkap dalam pelarian ke Varennes ketika Revolusi Prancis pecah. Perubahan rambutnya terjadi pada tiga kondis terpisah, terdapat kabar bahwa pemutihan rambutnya berasal dari depresi berat.


Albert Einstein, seorang Ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai Ilmuwan terbesar abad ke dua puluh. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi perbembangan mekanik kuantum, mekanika statistika, dan kosmologi.


Ketika aku memikirkan ketiga tokoh itu sedangkan Sakaguchi dan Kifune tengah berdebat. Pandanganku tertuju pada Kazari yang di hari libur ini mengenakan seragam sekolah lengkap, seperti halnya Kifune.


   “Kazari Senpai! Sebelah sini!”


Seruku dengan suara nyaring dan mengganggu pengunjung lainnya. Meskipun Kazari sudah menoleh ke arahku, dia kembali memalingkan wajahnya dan terlihat masih marah. Apakah dia masih marah ketika peristiwa kemarin di taman sekolah?


   “Waah ... kami tidak bisa mengerjakan soal ini. Kuharap ada seorang Senpai yang mau membantu. Hah ... padahal aku sangat kesulitan, apakah ada yang mau membantuku.”


Aku sengaja mengeraskan sedikit suaraku agar telinga Kazari semakin panas mendengarnya. Seperti yang kuduga, dia gregetan ingin ke tempatku namun keinginannya ia tahan.


   “Oh! Kazari Senpai! Maukah kau membantu para junior yang kesulitan ini! Senpai yang baik hati dan tidak sombong.”


Ucapanku membuatnya terpaksa akan keadaan ini. Ia menghampiri kami bertiga dan duduk di samping kananku. Dengan segera, ia menanyakan soal apa yang membuat kami bertiga kesulitan.


Aku memberitahunya akan tugas kelompok sejarah dunia. Kazari pun pernah mengalami hal yang sama dengan kami. Di kelas satu, dia juga mendapatkan tugas yang sama sepertiku.


   “Jika tidak salah, kelompok kami membahas tentang pertempuran Laut Guadalkanal. Biasa disebut Pertempuran Kepulauan Savo Ketiga dan Keempat. Menurut sumber Jepang sebagai Pertempuran Laut Solomon Ketiga.“


   “Oh ... topik itu cukup menarik karena mencakup Imperial Japanese Navy. Bagaimana pendapat kalian berdua?”


Tanyaku kepada Kifune dan Sakaguchi yang mendengarkan penjelasan Kazari sampai selesai. Mereka berdua menyetujui usulanku, lagipula topik seperti ini jarang diambil oleh orang lain.


   “Terima kasih Senpai, aku berhutang padamu. Untuk itu, aku akan mendengarkan permintaanmu.”


   “Mmm ... kalau begitu ... ”


Kazari mendekatkan mulutnya ke telinga sebelah kananku. Napasnya terdengar jelas olehku, perlahan-lahan dia membisikkan permintaannya padaku.


   “Besok luangkan waktumu.”


Hanya dengan kalimat pendek itu. Aku mengerti dengan perkataannya, namun ... apakah dia mengajakku kencan?


To Be Continue ....