Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Kegalauan Sebelum Perang



   “Koala, apakah kau berniat menjadi anggota klub sastra?”


   “Tidak, sampai kapan pun tidak akan.”


   “Kenapa?”


   “Karena ... ruangan ini hanya menjadi tempat pelarianku.”


   “Huh ... hadapilah kenyataan. Dasar laki-laki payah, karena itulah kau tidak populer.”


   “Tunggu sebentar, itu tidak ada sangkut pautnya. Dan aku tidak perduli dengan itu.”


   “Lalu? Apa yang kau perdulikan?”


   “Coba kita lihat. Mungkin ... burung hantu yang tertawa dengan kedua matanya yang tertutup.”


   “Sungguh tidak berguna.”


Ruangan klub sastra dengan pencahayaan berupa sinar mentari yang memasuki jendela. Namun posisi kami berdua menghindari sinar mentari yang cukup menyengat. Kami berdua duduk saling bersebelahan.


   “Apa yang sedang kau baca?”


Tanyaku kepadanya, Kazari tidak menanggapi pertanyaanku. Dia malah tenggelam pada buku yang ia baca dan meresapi seluruh makna dan perasaan tercurah pada setiap lembar buku tersebut.


   “Ngomong-ngomong Koala, apakah kau suka membaca buku?”


Tanya Kazari dengan pandangan yang masih mengikuti setiap huruf pada buku bacaannya. Aku menoleh ke samping kanan, kutatap wajah seriusnya yang tengah membaca buku sastra klasik.


   “Tidak terlalu. Aku membaca buku karena aku butuh. Keinginan membaca buku pada diriku cukup minim, lagipula hanya buku yang kusuka dibaca.”


   “Contohnya? Pasti ada.”


Pertanyaannya membuatku memikirkan beberapa judul buku yang akhir-akhir ini kusukai. Buku yang pertama menceritakan seorang perempuan yang menyukai teman sekelasnya, namun bertepuk sebelah tangan. Buku kedua menceritakan tentang seorang perempuan yang cintanya bertepuk sebelah tangan terhadap Adik kelasnya.


   “Judul buku yang pertama adalah Love of Monochrome. Judul buku yang kedua adalah Half Summer. Dua buku itu ditulis oleh seorang penulis. Namun aku lebih suka dengan karya pertamanya.”


   “Seleramu bagus juga. Dua buku itu memiliki genre romantis. Tidak kusangka, orang tidak peka sepertimu membaca buku yang seperti itu.”


Sialan, apakah dia mengejekku? Apakah sebegitu parahnya perasaan tidak peka yang kumiliki?


   “Jangan salah, aku menghapal beberapa kata yang diucapkan oleh sang heroine. Contohnya ketika adegan pernyataan perasaan pada Love of Monochrome volume satu halaman seratus enam puluh sembilan. Kalimat yang dia gunakan membuatku tersentuh, tak kusangka dia akan ditolak dan akhirnya bertepuk sebelah tangan.”


Ketika aku membahas topik yang diangkat tentang buku pertama. Kulirik keadaan Kazari, ia memendamkan wajahnya ke buku yang ia baca. Yang kulihat, pipinya merona kemerahan dan entah kenapa ia terlihat senang.


   “La-lalu ... bagaimana kesanmu tentang dua buku itu?”


Tanya Kazari yang masih menyembunyikan wajahnya dari balik buku meskipun menghadap ke arahku. Jika dipikir-pikir lagi, kesanku tentang dua buku itu cukup sederhana. Hanya saja, kenapa Kazari menanyakan hal tersebut?


   “Yah ... menurutku ... itu buku yang bagus. Ada beberapa momen yang membuatku ingin menyemangati sang heroine utamanya. Dan ingin kuhajar si protagonis yang tololnya tidak ketulungan, padahal orang yang peduli terhadapnya adalah si heroine utama. Karya ini membuatku menangis.”


Ketika kutatap wajah Kazari lagi. Aku sungguh terkejut bukan main, tiba-tiba saja dia menunjukkan ekspresi yang terlihat memalukan tercampur bahagia dan senang. Pipi lembut yang merona kemerahan, membuatku terbingungkan dengan isi hati Kazari.


   “Koala ... apakah kau menunggu kelanjutan buku itu?”


Kazari menanyakannya seraya menatap kedua mataku. Karena cukup membingungkan, aku menjawabnya dengan anggukan kepala seraya menjaga jarak. Setelah kujawab, Kazari kembali membaca buku yang ia pegang namun pipinya merona kemerahan disertai menampilkan senyuman manisnya.


Sungguh aku tidak mengerti dengan jalan pikiran perempuan. Lagipula, kenapa dia menanyakan hal yang menurutnya tidak terlalu bersangkutan dengan dirinya. Biasanya dia egois, menggodaku, dan tiba-tiba diam seraya menunjukkan kode keras yang tidak kumengerti sama sekali.


   “Lalu ... apakah kau ada keinginan bertemu dengan penulis yang menulis buku itu?”


   “Jika aku tidak tertarik, maka aku tidak akan membaca buku itu. Di dalam diriku ada keinginan untuk bertemu si penulis buku itu. Hanya saja informasi minim sekali, tidak ada acara meet and greet.”


   “Jika kau bertemu dengannya. Apa yang ingin kau minta darinya?”


Pertanyaannya membuatku tertarik dengan topik yang dibahas kali ini. Jika bertemu dengan penulis yang mengarang cerita itu. Maka kemungkinan besarnya aku ingin bertemu dengannya meskipun satu kali.


   “Mungkin meminta tanda tangannya atau berjabat tangan. Bukankah itu normal jika di acara meet and greet.”


   “Be-begitu ya ... ”


Kazari kembali menundukkan kepalanya, membaca kembali buku yang dipegang olehnya. Sedangkan aku duduk dan berdiam diri di ruangan klub ini hanya ada satu tujuan. Menghabiskan waktu istirahat jam pertama, keinginan yang sederhana dariku.


   “Koala, sebenarnya ... ”


*Sreek


   “Panda! aku pinjam sebentar buku fisikamu!”


Senke tiba-tiba saja datang dengan napas yang terengah-engah. Aku memberinya izin dan memberitahu letak buku fisika milikku kepadanya. Senke berterima kasih kepadaku, ia kembali menutup pintu ruangan klub lalu segera pergi.


   “Tidak jadi. Tetapi suatu hari nanti ... akan kuberi tahu dirimu.”


Ucapannya membuatku penasaran dengan apa yang dibicarakannya. Namun aku akan menunggu waktunya, hingga dia mengatakan apa yang ingin dikatakannya kepadaku. Hingga saat itu tiba, aku hanyalah remahan rengginang di kehidupannya.


* * * * *


Istirahat jam kedua dengan hawa panas yang cukup menyengat. Mengambil buku tugas matematika pada kolong bangku beserta buku yang kupinjam dari Senke. Dengan sisa waktu istirahat, aku menyalin tugas yang akan dikumpulkan hari ini.


Karena aku akan fokus dalam melakukan pekerjaan yang penting. Segala ancaman, perhatian, panggilan. Itu semua akan aku abaikan dan fokus pada tujuan yang ada di depan mataku.


Jika seperti halnya ada yang berkelahi di hadapanku. Aku akan tetap menyalin tugas sampai selesai. Jika ada bencana alam, mau tidak mau aku harus berhenti karena orang lain juga akan melakukan hal yang sama sepertiku.


Dengan gerakan cepat, kusalin tugas matematika dengan wajah tanpa dosa. Kucoret beberapa angka dan rumus agar terlihat seperti berpikir dan memperdaya sang guru. Dengan seperti ini, adanya coretan akan membuat sang guru berpikir bahwa aku mengerjakannya dengan segenap jiwa dan raga.


Ketika hampir selesai menyalin. Sentuhan tangan seseorang terasa di pundak kananku. Gerakan jariku terhenti sejenak, menoleh ke samping kanan perlahan-lahan. Dia adalah Sakaguchi yang ingin menyampaikan suatu hal kepadaku.


   “Masbro, kau dicari Kepala Sekolah.”


   “Kepala Sekolah?”


Tanyaku, Sakaguchi menggunakan bahasa isyarat seperti menunjukkan sesuatu di belakangnya. Kulirik ke arah pintu yang ada di depan kelas, sepertinya tidak ada cara lain. Setelah itu, aku menyerahkan tugas salin menyalin kepasa Sakaguchi.


   “Tolong bantuannya Kukang. Aku pergi dulu.”


   “Tunggu Masbro! Kau serius menyerahkannya padaku!?”


Aku pergi meninggalkan kelas seraya menyerahkan tugas matematika milikku kepada Sakaguchi.


* * * * * *


Berjalan di bawah langit yang berwarna jingga kemerahan. Aku dipanggil oleh Kepala Sekolah karena hanya ada satu permasalahan. Namun, masalah itu kuselesaikan dengan cepat.


Pembelajaran berakhir begitu saja, jalanan sepi tanpa ada seorang pun. Kunikmati perjalanan ke rumahku dengan jalan kaki, hitung-hitung sebagai kesehatan fisik. Meskipun fisikku sudah bagus, latihan diperlukan agar kondisi tubuh tetap sehat.


Di tempat yang sama dan di momen yang sama. Suzurikawa mengulurkan tangan kirinya terhadap kucing loreng yang ada di tembok beton. Kucing loreng itu menggigit jari Suzurikawa, sepertinya bendera permusuhan sudah dikibarkan.


Aku menghampirinya, menarik lengan kanannya dengan risiko akan dihajar habis-habisan. Seperti yang kuprediksi, Suzurikawa langsung memukul perutku dengan tangan kiri. Kutahan pukulannya menggunakan tangan kiri yang nganggur.


   “Tenanglah Senpai! Ak—”


Tanpa kusadari, dia berhasil memukulku tepat di pipi kananku menggunakan tangan kanannya yang cukup bertenaga. Meskipun sakit, aku tetap menggenggam tangan kirinya agar tidak lepas dariku. Kutatap kedua matanya, menguatkan rahang gigiku dan merangkai kata-kata menjadi kalimat.


   “Aku hanya ingin akrab denganmu!”


*Bukk


Dia berhasil mendaratkan pukulan lurus yang bertenaga, perlahan-lahan keseimbanganku hilang. Terjatuh dengan tubuh bagian belakang yang terasa sakit. Kutatap wajah Suzurikawa yang terlihat mengkhawatirkan diriku.


Pukulannya sungguh hebat. Seperti yang diharapkan dari seorang mantan pemain Judo tingkat SMP.


   “Ka-kau tidak a-apa!? Ma-maafkan aku!”


Meskipun dia mengkhawatirkan diriku. Ia ragu untuk menyentuh tubuhku dengan tangannya. Mau bagaimana lagi, Suzurikawa memiliki ketakutan terhadap laki-laki yang biasa disebut Androphobia. Aku menyuruhnya untuk tetap tenang dan menyebutkan namanya.


   “Suzurikawa ... Sayuki. Kelas 2-B.”


   “Baiklah. Aku ingin akrab denganmu. Kau bisa memanggilku dengan sesuka hatimu.”


   “E-ehk!? Bu-bukannya itu seperti Amagase yang memanggilmu Koala. Te-tetapi—”


   “Mereka yang memanggilku dengan nama panggilan seperti itu. Adalah orang-orang yang dekat denganku. Karena itu Suzurikawa Senpai, aku ingin akrab denganmu. Yah ... meskipun ujung-ujungnya aku akan dihajar kembali.”


Menampakkan senyuman kecilku meskipun rasa sakit di wajahku sudah hampir hilang seluruhnya. Bangkit tanpa bantuan, menepuk-nepuk seragam belakangku yang cukup kotor.


   “Ka-kalau begitu salam kenal. Kanari.”


   “Nice name.”


Aku mendapatkan nama panggilan yang baru lagi. Kanari adalah nama salah satu dari jenis burung yang ada di dunia.


Karena senang, tak sengaja kupegang pundaknya dengan tangan kananku. Wajahnya kembali memerah dan mulai mengambil langkah meskipun kebingungan. Suzurikawa kembali memukul perutku, dilanjutkan dengan tendangan lurus yang membuatku terhempas.


Ketika kusadari, dia pergi begitu saja tanpa meminta maaf. Kubiarkan, lagipula sebelum dia pergi. Dia terlihat senang disertai senyuman kecil yang ia tampakkan, baru pertama kalinya kulihat Suzurikawa yang tersenyum.


   “Sialan ... imut sekali ... ”


To Be Continue ....