
Suara berisik dari bel yang ditekan beberapa kali membuat tidurku terganggu. Mau bagaimana lagi, mencoba untuk bangun meskipun kesadaranku belum sepenuhnya pulih hingga aku terdiam duduk dengan pandangan kosong.
Kaki yang menyentuh permukaan lantai terasa tidak dingin, suasana cukup panas dari biasanya. Faktor musim panas ini tidak membiarkanku untuk tidur seharian, berjalan seraya menggaruk perutku yang gatal dan menguap dengan memejamkan mata beberapa kali.
Berjalan menuju pintu depan, membukanya langsung dan terdapat seorang perempuan dengan rambut pirang mengenakan bando. Mengenakan gaun berwarna putih berenda, mengenakan thigh yang membuat pesonanya semakin dewasa.
“Sawatari? Apa yang kau lakukan di rumahku? Tunggu sebentar ... dari mana kau tahu alamat rumahku?”
Tanyaku seraya menggaruk perut yang gatal, bodo amat dengan penampilanku yang baru saja bangun tidur. Lagipula, yang membuatku terheran saat ini adalah kunjungan dari Sawatari di rumahku.
“Ka-karena aku pacarmu ... bukankah hal yang wajar untuk menjemputmu ... ”
Dia mengatakannya seraya menyembunyikan rasa malunya meskipun pipinya merona kemerahan. Ketika kulihat kembali wajahnya, dia benar-benar berjuang keras untuk memberanikan diri.
Tunggu sebentar, pacar? Apa dia menganggap serius bahwa dia pacarku?
“Sawatari, apa yang kukatakan padamu yang merupakan kau pacarku itu memang terjadi namun di pengulangan itu kita berdua bukanlah seperti yang kau pikirkan. Ingat, pengulangan di mana Kifune melakukan pengulangan itu tidak ada peristiwa spesial yang terjadi antara kau dan ak—”
“Tapi tetap saja! A-aku ... tidak percaya dengan apa yang kau katakan ... ”
Sialan, Sawatari yang berpegang teguh pada keyakinannya menjadi senjata makan tuan bagiku. Seharusnya aku tidak mengatakan hal-hal yang tidak perlu padanya, apalagi ... kenapa aku menjadi hoki seperti ini!?
“Maaf Sawatari, aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan.”
Kututup kembali pintu depan perlahan-lahan, namun Sawatari menahannya dengan menarik sela-sela pintu sekuat tenaganya dan tidak membiarkanku mengabaikan dirinya yang sudah bersusah payah menjemputku.
“Lagipula kenapa kau mau menjemputku? Geli tahu!”
“Kamine dan Kazari senpai menyuruhku untuk menjemputmu karena tahu bahwa kau akan mengabaikannya. Bukankah kau sudah diajak oleh Kamine untuk pergi ke pantai hari ini!?”
“Liburan dinikmati dengan rebahan! Lagipula di luar saat ini panas!”
“Aku akan mentraktirmu es krim!”
“Ok berangkat!”
Kulepas gagang pintu yang kutarik, membuat Sawatari yang menarik di sisi lainnya mengalami gaya dorong dan dirinya terjatuh dengan celana dalam yang terlihat jelas olehku. Tidak, jika dilihat lagi itu bukanlah celana dalam namun dia mengenakan pakaian renangnya di balik gaun miliknya.
“Masuk saja dulu, aku bersiap-siap dulu. Di luar panas, akan kubawakan sesuatu yang dingin.”
Ucapku seraya mengulurkan tangan kanan untuk membantunys berdiri, ketika Sawatari ingin mengangkat tangannya tiba-tiba dia menyadari suatu hal dan mengurungkan niatnya. Ia mengangkat tangan kirinya lalu meraih tangan kananku.
“Kenapa kau tidak menggunakan tangan kananmu? Ada yang salah? Sial, tanganmu lembut sekali.”
“Ka-kau memujiku!? Hal itu tidak akan berefek padaku. Yah ... tangan kananku ini kadang-kadang tidak bisa digerakkan.”
Memang seperti yang dia ucapkan, ketika Sawatari menahan pintu yang aku tutup dia menggunakan tenaga lebih di tangan kirinya. Tangan dominan yang ia pakai kadang-kadang tidak bisa digerakkan, dia menjelaskan bahwa hal itu terjadi semenjak dia duduk di bangku sekolah dasar.
Menyuruh Sawatari menunggu di lantai bawah setelah disuguhi air bening yang diberi es. Sedangkan aku kembali ke ruanganku untuk mandi gerak cepat hanya membutuhkan waktu dua menit. Pakaian yang kugunakan berupa kaos hitam dan celana hitam panjang, serta topi berwarna abu-abu tidak kulupakan karena sekarang cuacanya memang panas.
Memasukkan beberapa barang yang diperlukan ke dalam tas gendong milikku. Menoleh ke samping kanan, terlihat suatu benda di atas laci kecil dan itu membuatku teringat dengan barang milik adikku. Kuambil saja untuk Sawatari, benda ini dapat dipakai olehnya.
Pergi menuju ruangan tengah di mana terdapat Sawatari yang tengah memainkan ponsel pintar miliknya bersama Kolbi yang cari perhatian duduk di samping kirinya. Sepertinya dia mendapatkan beberapa pesan dari temannya.
Menghampiri sudut ruangan, mengambil satu mangkuk pakan kucing dan memanggil Kolbi serta Hanoman untuk memakannya. Baiklah, pajak pagi hari telah aku berikan kepada mereka berdua.
“Apa itu pesan dari temanmu?”
“Ya, ada pesan masuk dari Kamine serta Kazari senpai. Mereka berdua sudah berkumpul di tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.”
“Baiklah kita berangkat, sebelum itu pakailah ini.”
Kupakaikan benda yang kubawa kepada Sawatari, benda tersebut merupakan topik jerami pantai berbentuk bundar berwarna putih dengan pita yang mengikat di bagian atasnya.
“Musim panas adalah musuh bagi perempuan, aku heran karena kau tidak menggunakan topi untuk melindungi kulitmu yang indah itu.”
Ucapku seraya berjalan menuju kulkas dan mengambil susu kotak lalu menutupnya kembali. Teringat dengan gyouza sisa semalam, kumakan saja untuk mengganjal meskipun mulutku bau bawang putih. Ketika berbalik badan menatap sosok Sawatari yang duduk menundukkan kepala hingga wajahnya tidak terlihat, sepertinya aku terlalu berlebihan karena berbicara dengan nada yang menggodanya.
* * * * *
Di bawah teriknya matahari, berjalan di setiap bayangan pohon yang membuat panas dari teriknya matahari tidak terlalu menyengat. Sawatari yang ada di samping kiriku saat ini terlihat memikirkan sesuatu, yah ... pastinya setiap orang memikirkan masalah mereka meskipun dengan situasi yang tidak pas.
Eh!? Itu yang dia pikirkan saat ini?
“Mau bagaimana lagi, peristiwa langka seorang perempuan mentraktir laki-laki. Apalagi perempuan itu adalah pacarku ... maaf, aku kebanyakan bicara.”
Karena pembicaraanku ini, Sawatari menghentikan langkah kakinya lalu memukul perutku menggunakan tangan kirinya beberapa kali. Dia terlihat kesulitan membawa tas anyaman yang dia bawa menggunakan tangan kanan, kuambil tanpa meminta izin terlebih dahulu dan Sawatari memarahiku karena mengambil tasnya secara tiba-tiba.
“Sudah-sudah, tangan kananmu itu membuatmu kesulitan. Akan kubawa untuk sementara waktu.”
“Terima kasih ... ”
“Maa! Lihat! Ada yang sedang pacaran!”
Anak kecil menunjuk kami berdua dengan ucapannya yang membuat Sawatari menahan malu. Memang benar, apa yang dilihat oleh orang lain saat ini adalah kami berdua terlihat sepasang kekasih.
“Sialan, sepertinya ide bagus untuk menjadi pacarmu.”
“Tidak tahu malu!”
* * * * *
Di stasiun kereta, Kamine, Kifune dan Kazari serta Sakaguchi dan Senke telah menunggu kedatangan kami berdua. Kamine menatap tajam tas anyaman yang kubawa sejak aku tiba di tempat ini.
“Tuan Panda, tas milik siapa itu?”
“Sawatari, tangan kanannya kesulitan. Ngomong-ngomong kau kelihatan sehat-sehat saja, bagaimana dengan kedua kakimu?”
“Saking sehatnya aku bisa berlari lima kilometer saat ini juga.”
Tatapan mengintimidasi dari Kamine membuatku sedikit terganggu, Kazari yang bersama Sawatari dan Kifune tengah mendiskusikan posisi duduk. Sedangkan Senke dan Sakaguchi tengah membicarakan pantai yang dituju, lagipula kereta akan tiba sebentar lagi.
“Apakah ada yang salah Kamine? Kau terlihat gelisah.”
“Tentu saja! Ada banyak saingan di sekitarku dan mana mungkin aku mengabaikan hal ini!”
“Siapa yang kau maksud dengan saingan? Ngomong-ngomong aku lupa mengatakan hal ini, kau terlihat cantik menggunakan one piece.”
“Begitukah ... ”
Suara Kazari, Kifune dan Sawatari terdengar tengah menghampiri kami berdua dari belakang. Berbalik badan lalu mengulurkan tangan kananku untuk mengembalikan tas anyaman milik Sawatari.
“Ngomong-ngomong, kalian bertiga terlihat cantik dari biasanya.”
Ucapanku yang begitu tiba-tiba membuat mereka bertiga terdiam sebentar. Kifune dan Sawatari memerah tersipu malu, Kifune langsung protes seraya menunjukkan catatan kecilnya padaku.
“Tidak kusangka, kau akan menggoda kami bertiga secara bersamaan. Nyalimu kuat juga Koala.”
“Iya-iya ... ”
Mengusap kepala Kazari dengan lembut, hal ini membuat sifat arogannya hilang dan wajahnya memerah dan sepertinya dia menarik kembali kata-katanya.
* * * * *
Di dalam kereta, posisi dudukku saat ini bersama dengan Sakaguchi sedangkan di depan kami berdua adalah Kifune dan Senke. Posisi kami ditentukan dengan lotre, entah bagaimana aku berakhir seperti ini.
Di kursi selanjutnya di belakang Kifune terdapat Kamine yang tengah menatap kami dengan menunjukkan wajah kesal serta mengembungkan pipinya. Tentu saja, dia ingin ikut bermain Uno dengan kami berempat.
“Senke, pacarmu tidak ikut?”
“Dia ada sedikit masalah, meskipun aku menawarkan bantuan dia tetap menolaknya. Dari pada itu, kenapa kau tidak urus dirimu sendiri? Bukankah kau yang membutuhkan bantuan dari pada siapapun di sini?”
“Aku hanya remahan rengginang, semua orang tidak akan ingat dengan namaku. Jika aku melakukannya ... aku yang akan paling sedih karena meninggalkannya.”
“Rengginang? Ah, makanan dari Indonesia di mana kedua orang tuamu bekerja. Seperti biasa, kau menyembunyikan beberapa hal.”
Ya, Senke tidak cukup mengerti dengan apa yang kukatakan. Jika aku membuat orang lain mengingat namaku apalagi sosok keberadaanku, hal itu hanya akan membawa kesedihan.
To Be Continue ....