
Menatap kosong dari balik kaca, seorang perempuan yang sebelumnya dipangku olehku kini terbaring dengan peralatan medis yang terpasang di tubuhnya. Membenturkan kepalaku, aku sangat menyesal karena tidak menyadarinya.
Menurut dokter yang selama ini selalu mengurus kesehatan Kamine, ia mengatakan bahwa kondisinya saat ini cukup kritis dan mungkin malam ini akan melewati masa-masa sulitnya. Hanya dengan mendengar penjelasannya yang sulit diterima, aku ... memukul diriku sendiri.
Kini aku mengerti bagaimana rasanya akan kehilangan seseorang yang berharga di kehidupan nyata. Orang yang dekat dan selalu ada, aku tidak bisa melakukan apapun untuknya meskipun aku ada di dekatnya.
Sialan, aku tidak bisa tenang dengan keadaan pandanganku yang berubah menjadi hitam putih ini. Sialan! Jika saja kelopak bunga hitam itu tidak muncul, Kamine tidak akan menjadi seperti ini!
Karena pikiranku yang sudah berpikiran negatif, aku menyalahkan segala hal kepada diriku sendiri. Duduk di kursi bagi orang yang menunggu, seorang suster memberiku selimut jika saja aku menginap malam ini di rumah sakit.
Itu memang tujuanku untuk bermalam di rumah sakit, aku tidak bisa meninggalkam Kamine seorang diri. Keluarganya sedang menuju ke rumah sakit ini, namun memakan banyak waktu untuk pergi karena rumah baru Kamine yang ada di daerah ini berjarak cukup jauh dari rumah kedua orang tuanya.
Masalah saat ini, senyuman kecil yang selalu ditunjukkan Kamine padaku mungkin untuk menyembunyikan kesehatannya agar aku tidak khawatir padanya. Dia sangat baik, benar-benar baik.
Tidak ada waktu untuk bersedih, aku harus mencari jalan lain agar apa yang dikatakan oleh dokter tidak terjadi. Masalah utamanya adalah kemampuanku ini yang dapat melihat perasaan orang lain, jika saja kelopak bunga hitam itu pertanda kematian ... maka penyebabnya pasti ada.
Aku hanya harus menjadi korban saat ini, tidak ada cara lain lagi untuk menyelamatkan Kamine yang mempunyai penyakit sejak kecil.
Menunggu keadaan rumah sakit sunyi dan perlahan-lahan penghuninya semakin berkurang. Lorong yang kulihat saat ini sedikit gelap, penerangan lampunya minim karena sudah malam.
Beranjak dari tempat dudukku, menyimpan selimut yang diberikan oleh salah satu suster kepadaku. Berdiri di depan pintu ruangan Kamine dirawat, perlahan-lahan menekan gagang pintu yang tidak dikunci.
Wajah Kamine terlihat mengalami mimpi buruk dalam tidurnya. Berjalan menghampirinya lalu berdiri di samping kirinya, menggenggam tangan kirinya agar tekadku semakin kuat untuk melakukan tujuanku.
Jika saja ... jika saja tanda kematian dapat kuserap, bukankah hal baik akan terjadi?
Kelopak bunga berwarna hitam yang mengelilingi Kamine perlahan-lahan menghilang satu persatu. Rasanya sakit, sekujur tubuhku seperti diberi tekanan hebat akan gaya gravitasi yang berbanding terbalik.
Hingga seluruh kelopak bunga hitam itu menghilang seluruhnya, kini giliranku untuk melihat sosok diriku sendiri pada pantulan cermin. Ya, aku dapat melihat beberapa kelopak bunga hitam mengelilingiku namun sedikit.
Aku merasa pusing dan bisa saja kapanpun dapat tumbang. Keluar dari ruangan Kamine dirawat lalu berbaring di kursi bagi yang berkunjung di rumah sakit. Menyelimuti tubuhku yang cukup kedinginan dengan selimut, aku mencoba untuk tidur karena kepalaku benar-benar pusing.
* * * * *
Seseorang menggoyangkan tubuhku, mataku cukup kabur untuk dibangunkan Dengan paksa namun kulihat seorang perawat di rumah sakit ini memaksaku untuk bangun. Ketika kusadari, aku terbangun di lorong rumah sakit dan beberapa perawatan sudah sibuk untuk mengurusi pekerjaan menyelamatkan nyawa.
Sudah pagi, malam hari sudah terlewati dan pikiranku langsung dipenuhi oleh Kamine. Aku mencoba untuk bangun lalu meninggalkan selimut yang kugunakan di kursi bekas tidurku.
Berjalan untuk melihat kondisi Kamine dari balik kaca, keajaiban mungkin berpihak padaku. Sosok gadis itu tengah menatap ke samping kiri di mana ia melihat ke luar jendela, dalam hati sangat senang karena Kamine sudah sadar kembali.
Tentu saja aku segera masuk ke dalam ruangannya lalu menyapanya yang tengah melamun. Mengambil kursi lalu duduk di samping kirinya.
“Bagaimana keadaanmu Kamine? Kau sudah baikan?”
Pertanyaan yang aku lontarkan membuat Kamine terbingungkan akan suatu hal. Ia menghirup napas dalam-dalam lalu menatapku dengan tatapan asing.
“Mmm ... boleh aku tanya satu hal? Anda ... siapa?”
Waktu terasa berhenti bagiku, jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya dan keringat mulai bercucuran. Segala hal kemungkinan langsung mengisi segala pikiranku, mungkin saja ... Kamine mengalami amnesia?
“Bi-bisakah kau berhenti bercanda, mana mungkin kau lupa denganku.”
“Aku serius, siapa kau?”
Perjuanganku terlihat sia-sia, pandanganku tiba-tiba kabur karena air mata yang tiba-tiba keluar dari kedua mataku. Aku benar-benar bingung dengan keadaan saat ini, aku hanya bisa menundukkan wajahku agar tangisanku tidak ia lihat.
“Tu-tunggu!? Kenapa kau menangis? Apakah ada yang salah!?”
Kamine mulai panik, aku menutupi wajahku lalu segera beranjak dari tempat dudukku dan berbalik badan. Aku ingin mengatakan suatu hal, namun mungkin saja suaraku akan terdengar menyedihkan.
Berjalan keluar dari ruangan ini, Kamine hanya diam tanpa membalas ucapanku dan hanya melambaikan tangannya saja. Berjalan di lorong yang terasa panjang ini, aku kehilangan harapan tentang Kamine yang melupakanku.
Jika Kamine mengalami amnesia, masih ada jalan untuk memulihkan ingatannya. Sebelum itu aku harus pulang terlebih dahulu, keadaanku saat ini benar-benar menyedihkan.
* * * * *
Sebelum pulang, aku mampir terlebih dahulu ke toko buah Paman Macho yang ada di distrik toko swalayan. Meskipun masih pagi, pasar ini sudah dipenuhi oleh orang-orang yang melakukan kegiatan jual beli.
Kulihat pria kekar botak tengah menata buah-buahan yang segar di depan tokonya. Berjalan menghampirinya lalu menyapanya, dia melemparku dengan satu buah apel.
“Ada apa? Wajahmu terlihat menyedihkan sekali.”
“Sialan, bahkan Paman Macho bisa mengetahuinya. Ngomong-ngomong kau masih mengenalku?”
“Tentu saja, kau bisa dikatakan Pahlawan di distrik toko swalayan ini. Mana mungkin aku tidak tahu dengan namamu, Ib ... Ibus ... tunggu sebentar ... ”
Paman Macho terlihat kebingungan untuk memanggil namaku, apel yang kugenggam jatuh ke permukaan lantai. Ini benar-benar tidak nyata, mungkin saja aku masih bermimpi dan aku harus bangun sekarang.
Dengan secara reflek, aku memukul pipiku sendiri dengan tangan kanan yang bertenaga. Tentu saja Paman Macho yang melihatku sedang memukul wajahku kedua kalinya langsung menghentikan pergerakan.
“Apa yang kau lakukan bodoh!?”
“Aku harap ini mimpi! Sialan!”
Teriakan nyaringku membuat Paman Macho terdiam, beberapa orang yang ada di sekitarku menatap heran dengan apa yang sedang terjadi denganku. Aku menahan diri dan memaksa untuk tenang, Paman Macho menyuruhku untuk duduk terlebih dahulu dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Tentu saja kulakukan, aku duduk di atas kotak kayu yang di dalamnya berisikan beberapa buah segar. Paman Macho siap mendengarkan ceritaku seraya duduk di samping kananku di atas kotak kayu.
“Kamine, kau tahu perempuan yang selalu bersamaku?”
“Nona muda yang selalu bersamamu? Dia yang biasanya menggunakan kursi roda atau tongkat itu?”
“Ya, kemarin malam dia jatuh pingsan dan aku membawanya ke rumah sakit. Pagi tadi, dia lupa tentangku. Paman Macho, ada yang ingin kupastikan. Bisakah kau mendengar apa yang akan kuucapkan saat ini.”
“Tentu saja, aku akan membantumu sebisa mungkin.”
Jawaban dari Paman Macho membuatku tenang. Aku menganggap fenomena ini sudah menyimpang, kemampuanku serta Kamine yang mengalami amnesia adalah fenomena supernatural.
“Paman Macho, namaku adalah ઇબુસાકી વસંત સાથે.”
Tu-tunggu sebentar, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang aku ucapkan barusan. Padahal yang tadi itu adalah namaku, namun yang terdengar terasa berbeda.
Dari reaksi Paman Macho, dia benar-benar mendengarkan apa yang aku ucapkan dan dia tidak mengerti sama sekali dengan namaku yang kuucapkan. Akhirnya aku mengerti dengan keadaanku saat ini.
Tanda kematian Kamine yang aku serap membuatku dilupakan, namaku tidak bisa dimengerti namun keberadaanku masih ada. Situasi ini membuatku tersudut, aku benar-benar kebingungan untuk mengatasi masalah ini.
Aku mencoba untuk menelepon Senke Fukuhara, menyuruhnya untuk menyebut namaku tetapi ia tidak sanggup karena ia benar-benar lupa tentang namaku. Ketika kuucapkan namaku, dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang aku ucapkan.
Masih ada harapan, aku hanya harus melakukan hal itu tanpa ada keraguan lagi.
Meninggalkan Paman Macho sendirian meskipun ia bingung karena aku tiba-tiba saja lari begitu saja. Aku harus membuat Kamine ingat denganku, meskipun ingatannya lenyap bagaimana perasaannya?
Akan aku kabulkan permintaanmu Kamine, aku akan tetap di sisimu.
To be continue ....