
Keadaan saat ini membuatku sedikit kebingungan. Ada beberapa hal yang berada di luar nalar, karena yang dapat disimpulkan saat ini adalah Suzurikawa ada dua di dunia ini. Yang satu bersama dengan Kazari, sedangkan yang satunya lagi kini tengah makan siang bersamaku.
Suzurikawa senpai, apa kau punya kembaran? Mana mungkin aku mengatakan hal itu di depannya yang kini tengah menikmati steak hamburger. Untuk masalah ini, aku harus melakukan perumpamaan.
“Suzurikawa senpai, bagaimana menurutmu jika aku mempunyai kembaran? Apakah itu akan membuatmu bingung?”
“Kau mempunyai kembaran? Tentu saja itu akan membingungkan. Memangnya ada apa?”
Tanya Kazari setelah mengunyah dan menelan bulat-bulat. Jika aku ditanya seperti itu, maka kemungkinan jawabannya adalah sama dengan jawaban dari Suzurikawa.
Aku mulai menundukkan sedikit kepala, memikirkan beberapa kondisi yang masuk akal dan di luar nalar. Lagipula, ini bukanlah yang pertama kalinya bagiku.
Baru saja, aku menyadari bahwa Suzurikawa meletakkan kembali garpu dan pisau yang digunakannya sebagai alat makan. Minum terlebih dahulu sebelum bicara, kini tatapan lembutnya mengarah padaku.
“Apakah Kanari ... sudah bertemu dengan diriku yang lain?”
Sungguh pertanyaan yang sangat ingin kutanyakan padanya. Dengan menelan ludah karena terkejut, perlahan-lahan menganggukkan kepala. Setelah Suzurikawa mengetahui jawaban dariku, ia menghela napas dengan kedua mata yang tertutup.
“Jadi kau sudah bertemu dengan diriku yang lain ya. Akan kujelaskan, dua hari yang lalu ... Suzurikawa Sayuki menjadi dua di dunia ini. Aku juga tidak mengerti kenapa kesadaran kami menjadi dua, apalagi fisik kami terbagi dua dan sangat mirip.”
Ya, ucapan dari Suzurikawa dapat dipahami betul sepenuhnya. Fenomena supranatural, mungkin aku bisa menamai peristiwa ini dengan fenomena supranatural. Lagipula hal ini di luar nalar, mana ada kesadaran yang terbagi menjadi dua hingga membentuk individu yang baru.
Kasus yang biasanya terjadi adalah kepribadian ganda, namun kasus Suzurikawa saat ini berhubungan dengan fenomena supranatural. Aku bukan ahlinya menangani kasus seperti ini, namun aku pernah terlibat langsung dengan kejadian yang seperti ini.
“Begitukah, ngomong-ngomong ... Suzurikawa Sayuki asli yang mana?”
“Dibilang asli atau pun palsu, kami berdua saling menyadari bahwa kami berdua memang asli. Walaupun palsu, salah satu dari kami akan bertengkar.”
“Aku mengerti sejauh ini, untuk saat ini ... dua Suzurikawa senpai tidak mungkin tinggal bersama. Siapa yang tinggal di rumah?”
“Diriku yang satunya lagi, saat ini aku tinggal di suatu tempat. Aku tidak ingin mengatakannya padamu.”
Aku mengerti dengan perasaannya saat ini. Untuk memaksanya bicara hanya akan membuat dirinya benci kepadaku, untuk sekarang makan siang terlebih dahulu lalu memikirkan fenomena supranatural ini di lain waktu.
* * * * *
Kencan seharian bersama senior yang imut memang sangat melelahkan, namun amat menyenangkan. Setelah kencan, aku langsung pulang ke rumah lalu mencari informasi terkait Suzurikawa. Hasilnya nihil, aku tidak bisa menyimpulkan kasus kondisi di mana Suzurikawa menjadi dua.
Satu-satunya cara adalah meminta bantuan kepada Adikku yang memiliki pemikiran sehat secara rasional. Adik kebanggaanku yang lahir memiliki perbedaan rentang waktu satu jam, namun kusadari aku tidak memiliki fetish Adik perempuan.
Berbaring di kasur milikku yang empuk. Ponsel yang digenggam oleh tangan kananku kunyalakan, langsung saja menelepon orang yang kubutuhkan saat ini. Beberapa detik kemudian, telepon dariku tersambung padanya.
“Selamat malam Adikku yang manis, maaf mengganggumu waktu istirahatmu.”
“Tidak apa, lagipula aku sedang bersantai setelah mengerjakan tugasku. Jika Kakak menghubungiku, apakah ada masalah yang tidak bisa diselesaikan?”
“Sialan, intuisimu tajam sekali. Karena kau sudah mengetahui masalahnya akan langsung kujelaskan pada poin pentingnya. Apakah bisa, kesadaran seseorang terbagi menjadi dua dan menghasilkan individu yang sama dengan subjek yang melakukan pembelahan diri. Ngomong-ngomong, yang kumaksud adalah seniorku sendiri dan dia juga mengatakannya padaku.”
Setelah penjelasan dariku, tidak ada suara apapun yang dihasilkan dari telepon yang tersambung. Kutunggu jawaban dari Adikku, meskipun tidak sesuai harapan.
“Maaf Kak, aku tadi tidak mendengar perkataanmu.”
“Jangan alihkan perhatianmu ketika orang lain sedang meneleponmu!”
“Aku ingin berharap bahwa ini adalah mimpi. Hanya saja, ini memang kenyataannya. Jadi ... bagaimana menurutmu?”
Pertanyaanku dariku kemungkinan besar membuat anak sekolah SMP kelas tiga akan menjawabnya dengan tidak peduli dan bukan urusannya. Namun karena dia adalah Adik yang dapat kuandalkan, tidak seperti Kakaknya yang menggoda perempuan lain.
“Menurutku ... itu tidak mustahil. Menurut teori, manusia yang memiliki kembaran yang dihasilkan oleh suatu kejadian merupakan fenomena yang menyimpang. Menurut pakar, di dunia ini setidaknya terdapat tiga kembaran orang yang sama. Namun kata Kakak sendiri, senior Kakak mengatakan bahwa ia terbelah menjadi dua dengan kesadaran yang sama maka ingatan terbagi menjadi dua. Jika seperti itu, mungkin Kakak bisa melakukannya seorang diri.”
Ucapan terakhir darinya membuatku tersenyum kecil, bahkan Adikku sendiri menyerahkan masalahku sendiri agar dapat diselesaikan olehku. Memikirkan berbagai teori dan gejala fisiologis, tidak dapat kutemukan satu pun jawabannya.
Namun ada satu, bertanya pada Suzurikawa yang lain adalah hal yang tepat.
* * * * * *
Siang hari di sekolah pada waktu istirahat jam pertama. Langsung saja pergi menuju kelas Suzurikawa dan Kazari. Sesampainya, sosoknya tidak ada sehingga aku bertanya ke salah satu teman sekelasnya.
Kudapatkan informasi mengenai dirinya saat ini. Suzurikawa berada di gedung serba guna untuk berlatih teknik judo bersama anggota klubnya. Waktu istirahat pertama biasa digunakan sebagai latihan, istirahat jam kedua untuk bersantai dan sepulang sekolah sesuai jadwal.
Mau tidak mau, aku segera pergi menuju gedung serba guna seraya melewati kantin sekolah untuk membeli dua roti isi selai serta kopi kalengan rasa moca dan rasa cappucino. Sambil berjalan, aku menikmati dua roti isi tersebut dan penutupnya adalah kopi kalengan rasa cappucino.
Sesampainya di gedung serba guna yang berada di samping kanan sebelah lapangan besar. Aku mengintip sebentar di pintu masuk, Suzurikawa terlihat mandi keringat ketika berlatih judo bersama anggota klubnya. Karena tidak ingin mengganggunya, aku diam di luar dekat pintu masuk seraya memainkan game di ponselku.
Setelah lima menit berlalu, tidak terdengar lagi suara bantingan pada matras. Aku mengintip kembali, namun Suzurikawa sudah melihatku terlebih dahulu. Kemungkinan besar, terdapat salah satu anggota klub judo yang memberitahukan tentangku kepadanya.
Suzurikawa berjalan ke arahku seraya mengelap keringatnya dengan handuk putih. Memang beda, pemilik sabuk hitam memang memiliki kemampuan bertarung tingkat tinggi apalagi seorang perempuan dan dia juga seniorku.
“Maaf membuatmu menunggu, bukankah kau bisa menghampiriku jika ada keperluan denganku?”
“Melihatmu berlatih dengan serius, aku jadi tidak enak mengganggumu berlatih.”
“Begitukah.”
Aku memberinya kopi kalengan rasa cappucino yang ia sukai. Suzurikawa menerimanya lalu tersenyum kecil ke arahku, ia duduk di samping kananku lalu membuka penutup kopi kalengan.
“Apakah kau tidak khawatir jika saja ada rumor yang membicarakan tentang kita berdua?”
“Tidak perlu, lagipula ... Kanari akan senang dengan rumor yang menyebar tentang kita.”
“Terlihat jelas ya, yah ... aku memang akan senang jika digosipkan sebagai pacarmu. Namun sebelum itu ... aku ingin memastikan Suzurikawa senpai yang asli.”
Perkataan dariku membuat tangan kanannya berhenti mendekatkan kopi kalengan ke mulutnya. Ia menoleh ke arahku, menghela napas dengan wajah yang cukup khawatir.
“Jadi kau sudah bertemu dengan ‘dia’. Aku katakan padamu, aku adalah Suzurikawa Sayuki yang asli. Itu juga berlaku dengan Suzurikawa Sayuki yang terpisah dengan tubuhku. Sungguh aneh, baru kali ini aku mempunyai pengalaman seperti ini.”
Wajah yang ia tunjukkan ketika menjelaskannya dari awal sampai akhir. Bukanlah sebuah keputusasaan, namun setiap dari mereka berjuang untuk mendapatkan jati diri mereka sebagai Suzurikawa Sayuki.
Yah ... jika aku mempunyai pacar apalagi Suzurikawa Sayuki yang ada di hadapanku, otomatis Suzurikawa Sayuki yang satunya lagi akan menjadi pacarku. Dalam satu waktu, aku memiliki dua pacar dari seorang senior.
Kugapai pundak sebelah kiri, sehingga ia menoleh ke arahku secara reflek dan perlahan-lahan pandangan kami berdua saling bertemu.
“Tidak ada cara lain lagi, Suzurikawa senpai ... aku akan menyelesaikan masalahmu dengan bayaran berupa ... jadilah pacarku.”
To Be Continue .....