
“Jadi ... bagaimana dengan kasus untuk kali ini?”
Pertanyaan dari suara seseorang yang kukenal membuatku malas untuk menjawabnya. Aku yang tengah memandang langit di pagi hari dekat taman sekolah, terdapat Sawatari yang penasaran dengan yang kemarin.
Hari ini sudah terjadi pengulangan yang kedua kalinya, kematian Kifune tidak bisa dihindari dan segala cara yang kupikirkan buntu. Menyelamatkan orang lain di pengulangan yang tidak pernah ada akhirnya mustahil, bahkan hanya ada dua orang yang menyadarinya.
“Bolehkah aku duduk di sampingmu?”
Tanya lagi Sawatari, aku tidak menjawabnya dan ia berinisiatif duduk di samping kiri dan aku sendiri tengah merebahkan tubuhku yang lelah.
“Ngomong-ngomong ... kau menduduki bekas kotoran kucing.”
“Apa!?”
Sawatari terkejut akan pernyataan dariku, ia langsung beranjak lalu menepuk-nepuk pantatnya dengan tergesa-gesa. Aku melihatnya sebentar untuk melihat reaksinya yang terlalu berlebihan.
“Tertipu kau.”
*Plak
“Kyaa!”
Aku menampar pantatnya untuk melampiaskan emosiku karena mencari jalan keluar dari pengilang ini membuat otakku diperas sampai habis. Sawatari mengeluarkan suara yang cukup imut, benar-benar imut.
“Panda!”
* * * * *
Siang hari, Sawatari melakukan janji kecil padaku untuk makan siang bersama seraya mendiskusikan informasi yang didapatkan tadi pagi. Tentu saja, kami sarapan di taman sekolah seperti tadi pagi.
“Sawatari, kau sudah bertemu dengan Kifune tadi pagi?”
“Ya, meskipun aku hanya membantunya memungut uang koin yang terjatuh.”
Jawab Sawatari seraya membuka bekalnya, sedangkan aku membuka bungkusan roti isi selai kacang dengan ukuran besar. Tubuhku membutuhkan asupan glukosa untuk dapat berpikir lebih efisien, pengulangan ini benar-benar merepotkan.
Untuk berjaga-jaga, Synesthesia Petals kugunakan dan dunia langsung berubah warna menjadi hitam putih. Kulirik sebelah kiri, perasaan Sawatari terlihat jelas dengan kelopak bunga berwarna hijau dan kuning.
Bekal makan siang yang ia bawa terlihat lezat, tangan kiriku bergerak sendiri mengambil sepotong sosis dan hampir masuk ke mulutku meskipun ditahan oleh Sawatari yang menyadarinya.
“Sosis itu aku masak sendiri, bukankah kau sudah punya bekal sendiri!?”
“Tunggu Sawatari, aku hanya membantumu menghabiskan bekalmu.”
Sawatari tetap bersikeras agar aku tidak memakan sosis yang merupakan bagian dari bekal makan siangnya. Tetapi, tiba-tiba saja dia terdiam melihatku dan terpaku melihat sesuatu.
“Apa-apaan ini ... kenapa dunia menjadi hitam putih?”
Pertanyaan yang membuat kebingungan Sawatari membuatku tersadar akan suatu hal. Aku langsung memasukkan sosis yang kuambil lalu mengunyahnya dengan cepat seraya memegang tangan kanannya.
“Apa yang kau lihat Sawatari!?”
Tanyaku seraya menelan sosis yang aku kunyah. Sawatari menggelengkan kepalanya, ia juga tidak mengerti dan hanya menjelaskan bahwa dunia berubah warna menjadi hitam putih dan ia melihat kelopak bunga berwarna hitam menyelimutiku.
“Kau ... mempunyai kemampuan yang sama sepertiku?”
“Eh? Jadi ini salah satu fenomena supranatural?”
“Ya, sekarang kau atur napas hingga kau tenang lalu tutup matamu perlahan-lahan dan buka matamu kembali.”
Suruhku padanya, Sawatari menganggukkan kepala lalu mengatur napas terlebih dahulu hingga ia tenang. Menutup matanya dan kesempatan untuk mencuri bekalnya, Sawatari membuka matanya kembali lalu memejamkannya dua kali.
“Panda, dunia sudah kembali lagi berwarna. Apa maksudnya ini ... ”
Ucap Sawatari lalu terdiam melihatku yang tengah memakan sosis dari bekalnya. Setelah kutelan, aku memberinya jempol dan mengatakan enak sebagai tanda pujian dan apresiasi dariku.
“Panda!”
* * * * *
Ucapku seraya membuka pintu ruangan Klub Sastra Klasik tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Terdapat Kazari dan Kamine yang tengah meminum teh, tentu saja menggunakan anggaran dari klub sastra.
“Koala dan ... Sawatari?”
Kazari terlihat kebingungan ketika aku datang bersama Sawatari yang dikiranya tidak saling kenal. Kami berdua memasuki ruangan ini lalu aku memegang pundaknya lalu mendekatkan Sawatari padaku sehingga keseimbangannya tidak stabil hingga menyentuh dadaku.
“Perkenalkan, dia Sawatari Karen. Pacar baruku.”
Ucapanku membuat Kazari yang tengah meminum teh menyemburkannya kembali, sedangkan Kamine bertepuk tangan seraya mengucapkan selamat kepadaku.
“Kazari-senpai, kau jorok.”
Ucapku lalu Sawatari mendorongku jauh-jauh darinya, sudah pasti reaksinya seperti itu padahal aku hanya ingin membuat kejutan kecil kepada mereka berdua dan tidak sengaja Sawatari pun tidak tahu akan niatku.
“Sawatari! Apa kau benar-benar berpacaran dengan Koala!?”
“Tentu saja tidak Ketua! Dia berbohong! Mana mungkin aku berpacaran dengannya!”
Kubiarkan mereka berdebat terlebih dahulu sedangkan aku duduk di samping kanan Kifune yang tengah duduk di sofa seraya meminum teh. Beberapa menit kemudian hingga mereka kelelahan karena berdebat, aku sebagai penengah mencairkan suasana dengan memberi mereka berdua segelas teh agar tenang.
Kazari duduk di kursinya sedangkan Sawatari duduk di sebelah kanannya karena dia sebagai Wakil Ketua tentu berdampingan dengan Ketua.
“Karena ini sudah tidak asing lagi. Kazari-senpai, bisa kau sentuh tangan Sawatari beberapa detik saja.”
“Mmm ... untuk apa?”
“Lakukan saja ada yang ingin kupastikan.”
Jawabku akan pertanyaannya, Kazari dan Sawatari saling berpandangan mata lalu menganggukkan kepala. Kazari mengulurkan tangan kanannya lalu menyentuh tangan kanan Sawatari, beberapa detik kemudian ia melepaskannya.
Beberapa detik kemudian, Sawatari langsung memegangi kepalanya dan ia berteriak kesakitan karena berbagai suara orang-orang dengan radius satu kilometer dapat ia dengar. Aku langsung menghampirinya lalu memegangi tangannya, perlahan-lahan Sawatari mulai tenang dan telinganya terasa mendengung karena terlalu tiba-tiba.
“Jadi begitu ya ... kemampuan ini adalah meniru kemampuan hasil fenomena supranatural milik orang lain.”
Ucapku seraya menjelaskannya kepada Kazari dan Kamine. Kazari tidak menyangka bahwa Sawatari akan mengalami fenomena supranatural seperti dirinya yang dapat mendengar ucapan orang lain dari kejauhan.
“Aku punya ide ... ”
* * * * *
Seperti sebelumnya di sore hari sepulang sekolah, Kifune berada di ruang tata boga memasak sesuatu. Sawatari dan aku sendiri mendatanginya untuk membahas sesuatu tentang promosi Klub Sastra Klasik, dengan ini kami punya kesempatan.
Aku duduk bersandar di jendela yang di mana mengakibatkan Kifune jatuh lalu tewas. Sedangkan Sawatari membahas tentang Klub Sastra Klasik kepada Kifune, ia pun bersalaman sebagai perkenalannya sehingga dia dapat meniru fenomena supranatural milik Kifune yang dapat memutar balikkan waktu.
Butuh beberapa menit untuk melakukannya, setelah keperluan kami berdua yang dibuat-buat untuk mendekati Kifune akhirnya berhasil. Untuk berjaga-jaga, aku mempersilahkan Sawatari pergi terlebih dahulu ke rumah Kifune terlebih dahulu sedangkan aku menemani Kifune memasak.
Hanya menunggunya memasak sampai menghabiskan waktu sore. Sebelum menjelang malam, Kifune yang khawatir denganku mempercepat prosesnya lalu kami dapat pulang sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Pulang bersama seraya mengawasinya, tidak ada tanda-tanda mengenai kelopak bunga berwarna hitam yang menyelimuti Kifune. Ini membuatku penasaran sehingga menghubungi nomor telepon Sawatari, namun tidak diangkat olehnya.
Anehnya, dia tidak menjawabnya sama sekali meskipun sudah tersambung hingga aku meneleponnya daun kali tetap saja tidak dia angkat.
Kifune menunjukkan catatan kecilnya padaku. Ada apa? Kau terlihat gelisah? Itulah yang ditulis olehnya, aku membuatnya khawatir dan aku menutup panggilanku kepada Sawatari dan mungkin saja dia sedang ke toilet.
Sesampainya ke distrik pasar swalayan, aku mengantar Kifune pulang namun tidak dapat menemukan keberadaan Sawatari. Karena sudah malam, kupikir dia sudah lama menunggu dan akhirnya pulang karena membuang-buang waktu.
Namun aku senang karena dapat melakukan pencegahan. Penglihatanku kembali normal, kemudian berjalan menuju rumahku yang tidak jauh dari sini.
* * * * *
Menyeduh mie instan seraya menonton televisi, sudah malam dan aku tidak punya banyak waktu untuk memasak. Karena tayangannya membosankan, aku mengganti salurannya lalu terdapat berita mengenai kota yang kutinggali saat ini.
Aku hanya dapat terdiam menatap layar televisi tersebut yang memuat berita tentang tewasnya seorang murid di sekolahku. Meskipun disensor mayatnya, aku kenal ... rambut pirang dengan gaya rambut bornya amat kukenal dan tidak salah lagi ... dia adalah Sawatari Karen.
To Be Continued ......