Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Kerang Hijau Tanpa Tuan



Pantai, liburan musim panas pastinya sebagian orang akan melepas jenuhnya untuk pergi ke tempat seperti sekarang ini.


Duduk di atas kursi kayu memanjang, seraya menikmati es krim yang ditraktir oleh Sawatari di bawah naungan payung berukuran besar. Hanya menggunakan celana biru untuk berenang, aku cukup malu karena beberapa orang apalagi dominan perempuan melirik ke bentuk tubuhku yang terbentuk.


   “Mau gua pukul ya?”


Itulah yang aku pikirkan ketika menyadari beberapa orang menatapku. Senke dan Sakaguchi tengah menyiapkan payung dan membentangkan karpet pantai di pesisir pantai, mereka terlalu rajin di cuaca yang panas ini.


   “Panda, apa yang kau lakukan di sini?”


Tanya seseorang, menggigit es krim yang kunikmati lalu menoleh ke samping kiri dan terdapat sesosok perempuan yang memiliki penampilan lebih hebat dari sebelumnya. Sawatari, dia mengenakan pakaian renang berjenis bikini tali berwarna hijau bermotif melon.


Terdiam menatap sosoknya cukup lama, dia membungkus melon miliknya dengan pakaian renang bermotif melon. Apakah ini salah satu dari konspirasi yang ada di dunia?


   “Kenapa kau menatap ke arah dadaku!?”


Sawatari berpaling seraya menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Menghabiskan sisa es krim yang dipegang, membuang stick es krim ke dalam tong sampah di samping kananku dengan cara melemparnya.


   “Mau bagaimana lagi, dadamu memang besar. Mataku langsung otomatis mengarah ke milikmu, senjata pemusnah para perjaka.”


   “Bukankah kau juga perjaka!?”


   “Mau aku pukul? Sedari tadi kau meninggikan suaramu, santai saja. ngomong-ngomong di mana yang lainnya?”


   “Sebentar lagi mereka datang, aku ingin sekali melihat pakaian renang Kazari senpai. Jika tidak salah, dia membawa baju renang berwarna hitam, seperti yang diharapkan dari Ketua Klub Sastra Klasik.”


   “Kau sehat? Sama-sama perempuan mengatakan hal itu ... jangan-jangan kau penyuka sesama jenis?”


   “Mana mungkin, aku tidak sehina itu.”


Jawab Sawatari, pemikiran rasionalnya membuatku menikmati percakapan ini. Apalagi menggodanya, sungguh membuat hari-hariku semakin dipenuhi asupan nutrisi dalam artian lain.


   “Aku pergi duluan, bilang kepada mereka untuk pergi ke tempat yang ada payung berwarna hijau itu.”


Ucapku seraya menunjuk letak payungnya, Sawatari menganggukkan kepala pertanda ia mengerti. Berjalan menuju Sakaguchi dan Senke, mereka berdua terlihat membicarakan sesuatu dengan serius.


   “Apa yang sedang kalian berdua bahas?”


Tanyaku seraya mengambil posisi duduk bersila di sisi Sakaguchi, mereka berdua tengah membahas mengenai acara yang akan dilakukan nanti malam. Karena malam ini akan menginap, menikmati pemandian air panas tidak ada salahnya, bukan?


   “Ngomong-ngomong Panda, nilai ujianmu kemarin di atas nilai merah. Kau terlalu santai sebagai siswa, meskipun kita kelas satu sebentar lagi kita akan menjadi senior.”


Ucap Senke, nilai mereka berdua lebih baik dariku karena menghadapi ujian sebelumnya mereka lebih serius dan giat dalam belajar. Sedangkan aku? Sesekali belajar, sesekali berlatih di malam hari dan begitu seterusnya hingga nilaiku hampir mendapatkan nilai merah.


   “Apa yang kalian berdua harapkan di musim panas ini? Tentunya pacar, kan?”


Pertanyaan Sakaguchi yang penuh semangat apalagi melihat wajah riangnya membuat kami kesulitan untuk mengatakan kenyataannya. Musim panas ini, aku lebih mengharapkan agar fenomena supranatural yang ada di dekatku tidak terjadi lagi meskipun aku sedikit tahu akan penyebabnya.


   “Maaf menunggu.”


Ucapan seseorang di belakang kami membuat kami bertiga menoleh ke belakang. Sakaguchi terpana melihat sosok para gadis mengenakan pakaian renang dan dia tidak bisa mengalihkan pandangannya, kulihat dari samping kiri ke samping kanan berulang kali dan pemandangan ini memang amatlah langka.


   “Kalian terlihat manis sekali.”


Ucap Senke seraya menunjukkan senyuman kecilnya. Kamine yang terlihat memiliki tubuh yang belum matang, namun ketika mengenakan pakaian renang maka penilaian setiap orang padanya akan amat berbeda.


   “Kalian cocok sekali, terlihat amat mesum.”


Ucapku seraya memberi jempol kepada mereka, Sawatari yang memegang bola melemparnya kepada yang mengarah ke wajah. Dengan cepat, kutahan laju bola tersebut dan kulempar balik kepada Sawatari hingga ia terjatuh karena wajahnya terhantam.


   “Maaf, tubuhku bergerak sendiri.”


* * * * *


Menatap Sakaguchi, Senke, Kamine, serta Kifune dari kejauhan terlihat menikmati bermain di laut. Bermain bola voli di laut memanglah epic, tapi pernah tidak melihat sosok perempuan yang meminta untuk mengoleskan tabir surya ketika tidak tahu harus berbuat apa.


   “Koala, bisakah kau mengoleskan ini padaku?”


Ucapnya seraya melepaskan pakaian renangnya, mengernyitkan dahiku untuk menerima tawarannya atau tidak. Tetapi karena aku lelaki sejati, kuterima tawarannya namun menyerahkan tugas itu kepada Sawatari yang tengah duduk di samping kananku.


Kamine terlihat melambai-lambaikan tangannya padaku seraya mengapung di atas permukaan air laut menggunakan balon karet berbentuk lingkaran. Kazari terlihat mengembungkan pipinya lalu menyuruh Sawatari untuk mengoleskan tabir surya kepadanya.


Naik ke atas permukaan, sosok gadis cantik yang tengah menikmati waktu santainya memegangi tangan kananku dan membiarkannya agar tanganku memegangi balon karet miliknya.


   “Bukankah kau tidak bisa berenang Kamine? Apa yang akan terjadi jika ombak besar menghantammu?”


   “Tenang saja, aku tenang karena kau ada di sini.”


Ucapannya membuatku amat malu, Kamine mengatakannya dengan senyuman kecil yang mempesona. Mendorongnya sedikit ke sisi agar kami tidak jauh dari kelompok Sakaguchi dan yang lainnya.


Memandang Kifune yang berbeda dari biasanya, pakaian renang berwarna biru tua yang ia kenakan terlihat manis. Anehnya, Kamine mencubit tanganku yang semakin lama semakin sakit.


   “Bisakah kau hentikan itu? Dan jangan melihatku dengan tatapan kecewa seperti itu.”


Ucapku, tanpa kusadari Sawatari bergabung bersama kami dan ia malah menghampiri kami berdua dari pada Kifune dan yang lainnya.


   “Ada apa Sawatari? Tuan Panda, bisalah kau membawaku ke tepian?”


Tanya Kamine, tanpa basa-basi perlahan-lahan mendorong Kamine ke tepian yang dibantu oleh Sawatari. Sepertinya dia ingin membicarakan tentang sesuatu, terlihat dari wajahnya yang mengurungkan niatnya.


   “Ada apa Sawatari, kau terlihat kebingungan?”


   “Ada yang ingin aku bicarakan, namun situasi saat ini tidak mendukung sama sekali.”


Jawab Sawatari, meski begitu dia terlihat sangat khawatir dan kemungkinan dia mendapatkan masalah. Jika ini menyangkut dengan fenomena supranatural, maka aku harus menyelesaikan masalah ini sebelum orang lain terkena dampaknya.


Hanya saja ... terdapat ombak besar yang tiba-tiba saja menghantam kami dari belakang. Sialnya lagi, genggaman tanganku yang memegangi balon karet Kamine terlepas dan ini membuatku panik.


Setelah dapat bertahan dari hantaman ombak, melihat ke sekitarku dan terlihat Kamine selamat karena terdorong oleh ombak meskipun dia jatuh tersungkur ke gundukan pasir bekas anak kecil membuat istana pasir.


   “Ketidakberuntungan, jika aku selalu bersamamu selalu sial.”


Ujar Sawatari yang ada di belakangku seraya membenarkan posisi pakaian renangnya bagian atas. Aku masih terpikirkan dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya, hingga aku tidak sadar sampai memandangi dadanya cukup lama.


* * * * *


Malam hari, sesuai janji kami bertemu di luar penginapan yang memiliki fasilitas pemandian air panas. Konon, pemandian air panas ini terdapat hantu yang bergentayangan dan rumor ini menyebabkan penginapan ini dijauhi namun ada yang berani berendam seperti kami.


Berjalan menuju sebuah tempat di depan penginapan, tempat ini hanya ada kursi kayu yang memanjang dan sebuah payung yang telah dipasang sejak siang mula. Terdapat seorang gadis berambut pirang yang menunggu kedatanganku, ia terlihat kedinginan dan kuberikan jaket yang kupakai saat ini juga.


   “Apa kau belum berendam? Kau kedinginan.”


   “Ya, tapi apa yang akan kukatakan saat ini lebih penting dari pada diriku sendiri. Langsung saja pada intinya.”


Sawatari beranjak dari tempat duduknya, dia menatapku dengan sorot mata yang penuh kekhawatiran. Menelan ludah, ini seperti pengakuan cinta.


   “Panda, kau dan yang lainnya ... akan mati.”


Hanya dengan kalimat itu, otakku langsung mencerna dan perutku terasa sakit. Memegang kedua pundaknya, aku meminta penjelasan lebih detail kepadanya.


   “Sebetulnya aku telah melewati hari ini karena meniru kemampuan yang dimiliki oleh Kifune. Besok, kau akan terbunuh bersama Kazari senpai dan Kifune. Pengulangan terjadi ketika di pantai tadi, saat itu aku kebingungan dan hanya kau yang bisa kuberitahu tentang hal ini.”


   “Aku tidak menyadarinya, kapan itu terjadi?”


   “Besok siang, bus yang akan kita tumpangi mengalami masalah dan menabrak pembatas yang membuat kita terjatuh. Namun karena kau sudah menyadarinya, kau membantu Sakaguchi serta Kamine keluar dengan cara membuka pintu bus secara paksa. Kifune dan Kazari senpai membantuku untuk pergi bersama Senke dengan cepat. Hasilnya ... kalian bertiga tewas, setelah itu waktu terulang kembali.”


   “Jika bus yang akan kita tumpangi kita lewati dan menaiki bus selanjutnya, mungkin kita bisa selamat. Tetapi ... jika kita tewas dengan cara lain, berarti penyebabnya salah satu dari kita. Mungkin saja Kifune, bisa kau ingat apa yang terjadi ketika pengulangan belum terjadi.”


   “Kami berendam seperti biasa dan menikmati pemandian, namun sebelum tidur kami menceritakan diri kita masing-masing.”


Kusadari penyebabnya, menceritakan masa lalu membuat penyebab kelopak bunga berwarna hitam muncul. Entah apa alasannya, tetapi penyebabnya memang ini.


   “Kamine menceritakan tentang kejadian di mana dia mengalami koma. Kifune menceritakan masa lalunya yang bertemu dengan seorang laki-laki di taman ketika mereka masih kecil. Serta Kazari senpai, dia menceritakan tentang kejadian di mana ketika ia jatuh di jembatan ada seorang laki-laki yang membantunya untuk tidak menyerah.”


Dari semua penjelasannya, semua cerita itu menjurus kepada satu orang. Dengan kata lain, mereka semua menceritakan satu orang yang menjurus kepadaku yaitu aku sendiri.


Namun jika aku penyebabnya, berarti kelopak bunga berwarna hitam yang selama ini mengelilingiku mungkin masuk akal.


To Be Continue ....