Synesthesia Petals

Synesthesia Petals
Keluarga Ibusaki



Bos besar, Ayah Ibusaki kupanggil seperti itu karena ada beberapa alasan yang pantas akan panggilannya. Nama lengkapnya adalah Ibusaki Goudai, aku tidak begitu tahu tentang ibunya namun mereka berdua adalah orang yang hebat menurut pandanganku.


   “Maaf Kamine, aku meminjam kafe manisan Jepang ini sebagai kafe biasa. Tapi tidak kusangka, Anakku benar-benar pergi ke tempat ini.”


   “Ahahaha ... Paman bisa saja, aku hanya memiliki firasat.”


Itu bukanlah firasat atau apa akan diriku yang tahu Ibusaki berniat pergi ke tempat ini. Namun aku memiliki mata-mata di kota ini, mereka ada di berbagai tempat dan aku bisa meminjam kemampuan mereka.


   “Meski begitu Paman, kenapa kau kembali?”


   “Ada beberapa alasan, ngomong-ngomong kalian berdua saat ini kelas satu, kan?”


   “Anak sendiri kau tidak tahu kelas berapa dia. Ya, aku dan Ibusaki kelas satu namun di kelas yang berbeda.”


   “Begitukah ... ”


Paman Goudai mengelap tangannya yang basah setelah mencuci tangan ke lap dapur. Ia menghirup napas terlebih dahulu, mengambil sebatang rokok namun aku menghentikannya karena tempat ini dilarang untuk merokok.


   “Aku akan mengatakan ini kepadamu saja, karena kau yang hanya dapat mengingat nama dan menyebut nama Anakku. Kamine, apakah kalian berdua mengalami fenomena supranatural?”


Tatapannya begitu serius, aku menelan ludah karena Paman Goudai dapat menebaknya. Mencoba untuk menyangkal perkataannya, namun Paman Goudai dapat mematahkan segala hal yang aku ucapkan dan semua itu menjurus pada fenomena supranatural yang kami alami.


   “Kenapa Paman mengetahui semua ini?”


   “Tentu saja, karena aku juga mengalami fenomena supranatural itu. Tapi semenjak usiaku semakin tua, perlahan-lahan kemampuan yang kudapatkan menghilang. Begitu juga dengan istriku, kenangan yang hilang pergi bersamaan seperti mengayunkan tongkat dengan sekuat tenaga.”


Paman Goudai jujur, keluarga Ibusaki memiliki kebiasaan jujur namun ada niat tersembunyi di baliknya. Dan terutama di keluarga Ibusaki, setiap dari mereka selalu dikecewakan.


Paman Goudai mulai menceritakan tentang dirinya yang semasa bersekolah mengalami fenomena supranatural. Fenomena supranatural yang dialaminya adalah menimpa kesadaran orang lain sehingga dia dapat mengendalikan tubuh orang lain, secara tidak sengaja kemampuannya lepas kendali dan ia merasuki ketua geng motor perempuan yang saat ini adalah istrinya.


Perlahan-lahan mereka berdua semakin dekat dan mengetahui satu sama lain hingga Paman Goudai memberanikan diri untuk melamarnya. Terdapat satu syarat, Paman Goudai hanya harus baku hantam melawan geng motor yang lainnya.


Tentu saja dia menang satu lawan satu. Entah alasan macam apa itu, sejak awal mereka berdua sudah kuat apalagi berdua menjadi berandalan di sekolah yang sama.


Akhirnya aku tahu bahwa silsilah keluarga Ibusaki memiliki kemampuan fisik di atas rata-rata. Ibunya mantan geng motor sedangkan sang Ayah merupakan berandalan yang memiliki cita-cita seorang petarung.


Paman Goudai pun menceritakan beberapa teman perempuannya mengalami fenomena supranatural. Karena hal itu, dia meneliti fenomena supranatural yang mereka alami dan mendapatkan kesimpulan ketika menginjak bangku kelas tiga.


Kemampuan supranatural ini muncul karena sebuah atau sesuatu yang ada di kota ini. Aku menceritakan tentang Ibusaki, tentangku, Kazari Amagase, Suzurikawa, Sawatari, dan Senke yang mengalami fenomena supranatural. Aku tidak begitu tahu tentang Kifune dan Sakaguchi, kemungkinan besar mereka berdua juga sama mengalami fenomena supranatural.


Paman Goudai menyimpulkan penyebab satu persatu kenapa fenomena supranatural dapat mereka alami secara singkat.


Tuan Panda, dia yang memiliki pikiran rasional dan logika bahkan kemampuan deduksinya yang tinggi membuat penalarannya dapat melihat perasaan orang lain karena dia sendiri menjadi sensitif akan perasaan diri sendiri dan orang lain. Aku sendiri, kesendirianku selama ini yang hanya dikelilingi oleh tidak mempercayai orang lain hanya dikelilingi kucing membuatku dapat berkomunikasi bahkan mengubah orang lain.


Senke, dia yang dapat merasakan kebahagiaan orang lain dan berpikir rasional akan hubungan yang dia lihat memiliki kemampuan memotong takdir seseorang. Suzurikawa, dia yang membenci sifatnya yang lain menyebabkan dua kepribadian dalam dua tubuh yang berbeda memiliki wujud yang sama.


Kazari, dia ingin mencurahkan isi hatinya dan berjuang sendiri untuk dimengerti maupun mengerti orang lain selama ini sehingga kemampuan mendengar suara dengan jarak jauh dan mendengar suara yang kecil bahkan halus mempunyai peranan agar dia dapat mengandalkan orang lain.


Sawatari, dia yang bingung ingin bertindak seperti apa hanya bisa melampiaskan beberapa emosi hingga menahannya dan kemampuannya untuk meniru kemampuan orang lain karena dia sendiri ingin memiliki kehendak tanpa ada paksaan.


Setiap orang yang aku sebutkan adalah orang-orang yang mengalami fenomena supranatural. Setiap dari kemampuan yang didapatkan memiliki timbul balik, seperti Tuan Panda yang memiliki penglihatan hitam putih dan Kazari yang akan tuli sebentar setelah menggunakan kemampuannya.


   “Kenapa Paman menceritakan ini padaku? Bukankah kepadanya akan lebih baik?”


   “Aku hanya dapat mengandalkan kemampuan Anakku. Aku sebagai Ayahnya yakin, dia dapat memecahkan fenomena supranatural di kota ini dan membuat mereka melangkah maju daripada diam. Sepertinya aku berbicara terlalu banyak, Kamine ... tolong awasi Anakku yang bodoh itu.”


Setelah mengatakannya, Paman Goudai pergi melalui pintu dapur seraya membawa manisan Jepang yang ada di kafe ini sebagai oleh-oleh.


   “Kolbi, bisakah kau menyuruh kucing yang lain untuk mengawasi Ibusaki?”


Ya, Kolbi yang aku maksud adalah kucing peliharaan Ibusaki yang usianya sepuluh tahun. Aku dapat berkomunikasi dengannya dan dia adalah Pemimpin kucing liar yang ada di kota ini.


Kolbi keluar dari bawah meja lalu melompat ke atas kursi dan ke atas meja. Menghampirinya lalu duduk seraya mengelus-elus kepalanya.


   “Tanpa kau suruh aku sudah melakukannya, aku memilih manusia itu karena dia peduli dengan kucing yang lain hingga aku datang sendiri ke tempatnya. Ngomong-ngomong, dua betina yang bersamanya saat ini terlihat bahagia.”


Ucap Kolbi, mendengar kucing dapat berbicara membuatku merasa seperti orang gila. Tapi memang benar seperti yang dikatakan olehnya, Kazari dan Suzurikawa yang saat ini tengah menikmati waktu mereka di kafe ini terlihat bahagia.


Apakah mungkin ... Paman Goudai mengalami masa-masa seperti ini? Jika seperti itu ... ada kemungkinan Ibusaki memilih salah satu perempuan yang ada di dekatnya sebagai pasangan hidupnya?


Jika saja aku ... tidak mungkin, betapa sombongnya aku menganggapnya seperti itu. Aku sudah tidak pantas, aku yang pernah melupakannya. Jika Senke tidak menggunakan kemampuannya, mungkin saja aku tidak akan bersama Ibusaki dan tidak akan pernah bertemu dengannya.


   “Dari tadi ... kenapa pemilik kafe masih belum kembali?”


Dan ...


Kenapa Sawatari ada di rumah Ibusaki malam-malam seperti ini? Ah, sepertinya Sawatari memikirkan hal yang sama sepertiku kenapa malam-malam seperti ini aku ada di rumah Ibusaki.


   “Malam-malam seperti ini kenapa kalian berdua pergi ke rumahku? Ayahku sedang pergi keluar bertemu teman lamanya, jadi santai saja.”


Ucap Ibusaki seraya mengambil beberapa jus kemasan lalu menuangkannya ke dalam gelas yang telah dipersiapkan. Ia membawa dua gelas kepada kami berdua yang tengah duduk di lantai dengan dudukan sebuah bantal.


   “Kolbi, memangnya Sawatari biasanya datang malam-malam seperti ini?”


Bisikku kepada Kolbi yang tengah bersantai di sampingku, dia mendengkur dan wajahnya amat bahagia.


   “Oh ... betina itu membawa Hanoman ke sini, beberapa kali dia hanya membahas Hanoman yang ada di rumahnya saat ini dengan bahagia meski Tuanku hanya mendengarkan ceritanya.”


Aku mulai mengerti dengan keadaannya, intinya beberapa kali ini Sawatari pergi ke rumah Ibusaki. Ini cukup berbahaya, bagaimana jika tetangga menganggapnya sebagai hal-hal yang aneh.


   “Kamine, apa yang biasanya kau lakukan dengan Panda?”


   “Eh!? Ah!? Itu ... ”


Mana mungkin aku menjawabnya dengan jujur! Bagaimanapun, aku harus mengalihkan pembicaraan ini.


   “Biasanya dia menginap, yah ... meskipun sudah jarang.”


Woi Ibusaki ******! Jujur ada batasnya dan kenapa waktunya sangat pas dengan pembicaraan ini!? Maafkan aku Sawatari, aku tidak ingin melukai perasaanmu namun malah sebaliknya.


   “Begitu ya ... yah, Kamine memang membutuhkan bantuan karena dia kesulitan untuk berjalan dan rumahmu memang dekat.”


Sawatari mengatakannya tanpa ada rasa curiga, pikiran polosnya membuatku merasa berdosa. Ibusaki membawa segelas air bening lalu duduk di samping Hanoman yang tertidur di sofa.


Meminum jus yang telah ditawarkan oleh Ibusaki, betapa sulitnya mengatur waktu yang pas agar aku bisa pulang. Dari pada itu, kenapa Sawatari bisa santai saja di rumah seorang laki-laki!?


   “Meskipun kau menginap, tidak mungkin kalian berdua di satu kamar?”


*Pfffttt


Jus yang kuminum hampir saja kumuntahkan kembali. Menoleh ke arah Ibusaki, sepertinya dia sedang berpikir untuk mengatakan sesuatu dengan cepat meraih bantal yang aku duduki lalu melemparnya ke wajah Ibusaki.


   “Dia pernah manja tidur se—”


*Brug


Untungnya pas, menutup mulut Ibusaki saat ini adalah hal terpenting. Lagipula, kenapa Sawatari bisa dengan sepolos itu mengatakannya? Siapapun tolong aku!


Sentuhan lembut dari binatang berambut yang ada di sampingku membuatku menatap matanya. Ia berjalan menuju Sawatari lalu tiduran di pangkuannya, tentu saja Sawatari yang menyukai kucing hanya terfokus padanya.


Kolbi sangat membantu ...


*Tok-tok


   “Punten Gofud!”


Aku tidak begitu mengerti dengan bahasa tersebut apalagi suaranya terdengar tidak asing. Ibusaki pun menunjukkan wajah tanda tanya, ia segera pergi ke depan lalu membuka pintu.


Beberapa detik kemudian, datang Paman Goudai yang membawa beberapa makanan dan minuman yang dibawa oleh Ibusaki.


   “Ah!? Kamine dan gadis tidak dikenal ... ohho, Anakku melakukan hal yang sama ketika aku muda. Sepertinya buah memang tidak jauh dari pohonnya, nikmati makanan yang kubawa aku ingin istirahat doeloe.”


   “Memangnya kau baru pulang dari mana? Dengan kemeja kotor seperti itu?”


Tanya Ibusaki dengan bahasa tidak sopan seperti teman sendiri. Paman Goudai terbingungkan dengan pertanyaan darinya, dan ia menyadarinya.


   “Tentu saja berolahraga sedikit dengan baku hantam melawan orang-orang brengsek.”


Ah sudahlah, aku sudah malas untuk melihat kejujuran mereka yang tanpa disaring terlebih dahulu dalam mengolah kata-kata.


   “Kenapa tidak mengajakku?”


Anaknya sama-sama ******! Siapa saja, tolong keluarkan aku dari situasi ini!


To Be Continue ....