Snow In Seoul

Snow In Seoul
SEOUL FIREWORK FESTIVAL



"Kang chul Oppa kenapa kau selalu memasang wajah cemberut seperti itu sejak tadi" kami berada di restoran menara namsan, baru saja aku menyematkan cincin pertunangan di jari manis Soo he.


"Wajahku memang sudah seperti ini sejak lahir. Aku tidak berniat untuk melakukan operasi, bagi ku wajah ini sudah tampan" aku mencoba berkelakar


" Berhenti melucu. Aku memperhatikanmu dari tadi, kau tidak tampak bahagia. Apa kau tak menyukai pertunangan ini"


"Aku hanya lelah, maaf aku tak bermaksud menyinggungmu"Ku lihat wajah Soo he cemberut, ia mengetuk-ngetukan garpu ke atas piring menimbulkan suara gaduh.


Beruntung sekarang hanya tersisa kami berdua, orang tuaku dan orang tua Soo he sudah pulang. Aku tidak berharap berada di sini bersamanya.


Melelahkan


Membosankan


En, apa yang sedang kau lakukan sekarang? Kau bahkan tak mengangkat telpon dariku, juga tak mengirim kabar kepadaku.


Kalau boleh jujur, aku ingin di sini bersama En. Di menara ini, aku ingin memasang gembok cinta dan membuang kuncinya sejauh mungkin, agar cinta yang ku miliki bisa abadi. Tapi aku justru terjebak bersama Soo he, memasang gembok cinta berinisial nama kami di saksikan oleh seluruh sanak famili.


Memalukan.


"Aku hanya memintamu untuk menemaniku makan malam, tapi wajahmu tampak sekali mengatakan jika kau keberatan" Soo he tersungut kesal


"Aku tidak keberatan Soo he, aku merasa sedikit lelah. Ku harap kau bisa mengerti"


"Lelah? hanya itu alasanmu, semenjak rencana pertunangan ini terjadi, setiap ku ajak kau keluar selalu itu menjadi alasanmu. Kenapa tak kau batalkan saja pertunangan ini"


Jika mampu aku pasti sudah melakukannya, hanya saja kita terikat atas dasar bisnis. Bisnis besar antara keluarga kita, Appa akan membunuhku jika aku sampai membatalkan pertunangan ini. Aku harus bertahan dan membuang hatiku hanya untuk kelangsungan bisnis keluarga.


"Wae?kenapa kau diam jadi benar kau berniat membatalkan pertunangan ini" Soo he berdiri dengan kesal, di siramnya wajahku dengan segelas wine. Dia pergi sambil meracau, dan sesekali menoleh kebelakang. Maaf Soo he, aku tak punya niat untuk mengejarmu. Aku pergi ke toilet untuk mencuci muka ku.


Syuut... duarr...


Apa itu? kembang api?


Ahh...


Aku lupa jika hari ada Seoul Firework Festival, pantas saja Soo he enggan di ajak pulang dan ingin terus di restoran ini bersamaku. Dari sini percikan kembang api itu sangat indah. Andai kau di sini, kita bisa melihat ribuan cahaya kembang api di langit malam.


***


Suara keras apa itu? aku tersentak dan bangun dari tidurku, kepalaku terasa sakit. Dimana aku? gelap? apa ini kincir angin raksasa? dan pria yang tidur di sampingku ini, siapa dia? apakah dia Sea ok? Aah.. di mana tasku, ponsel dan dompetku ada di sana.


"Sea ok bangun lah" aku menggerak-gerakan tubuh pria yang tidur di sampingku "Sudah berapa lama kita di sini. Aku pasti mabuk tadi. Air dalam botol mineral itu pasti soju. Kau sengaja ingin membuatku mabuk?'


Aku menatap keluar gerbong, ada percikan kembang api. "Wow, indahnya. Ada acara apa malam ini, kenapa banyak kembang api di langit?" kenapa Mr. setengah dokter itu hanya diam saja sejak tadi. Apa dia mabuk juga, jangan-jangan dia pingsan karena mabuk. Aku menoleh menatapnya


"Hari ini ada Seoul Firework Festival" Suara itu begitu asing tapi seperti ku kenali. Yang jelas itu bukan suara Sea ok.


"Siapa kamu?."


"Aish, apa kau lupa? apa kau akan mengusirku lagi dan menyuruhku memanggil Sea ok? seperti tadi?" Aku terlalu mabuk tadi sehingga aku melupakan semuanya.


Syuut... Duarr...


Sebuah kembang api besar melesat dan meledak di langit, berpijar sangat terang. Hingga samar-samar aku bisa melihatnya. Garis rahang sempurna, di lengkapi sepasang mata yang lembut, tersenyum ramah kearahku.


Dia? tidak mungkin? apa aku bermimpi? Kang tae jon ada di sini bersamaku. Kami berada di gerbong yang sama, dan hanya kami berdua.


"Berapa lama kita di sini?"


"Aku juga tidak mengingat dengan pasti. Sebelum tertidur tadi. Kita sudah berada di gerbong ini sebanyak sepuluh kali putaran"


sepuluh kali putaran??? selama itu? bearti aku dan dia sudah hampir dua jam bersama. Aku menyia-nyiakan pertemuan tidak terduga ini.


Aah.. menyebalkan.


Ohh andwe.... apa aku berbuat hal-hal yang memalukan saat mabuk tadi. Aku cenderung bertindak konyol saat mabuk. Kenapa pula dia masih disini? padahal dia bisa pergi kapan pun dia mau. Apa dia menjagaku?


Ahh, tidak-tidak, mungkin saja dia sengaja ingin melihat Seoul Firework Festival dari ketinggian kincir angin raksasa ini.


"Apa aku melakukan hal konyol tadi?" Kenapa juga aku harus bertanya seperti ini. Sudah di pastikan aku pasti melakukan hal-hal di luar nalar manusia, dulu saat bersama Kang chul aku juga melakukannya.


"Ani-yo, tidak terlalu konyol. Kau hanya melambai-lambaikan tanganmu keluar dan memanggil-manggil nama Sea ok"


"Tak apa asal aku tidak bernyanyi saja" Dia malah tertawa terbahak. Fix, bearti aku juga menyanyi tadi.


"Kau menyanyikan lagu Ring Ring Ring milik kami, berulang- ulang"


"Suaraku pasti keras dan cempreng. Kau pasti menderita karena suaraku?" aku mendesah, sudah terlanjur malu mau apa lagi? tak ada kata jaim lagi untukku.


"Kau pasti terganggu karena suaraku?"


"Ani yo" potongnya cepat "Aku terhibur dengan nyanyianmu"


Gerbong terhenti dan pintunya terbuka. sudah pukul 9 malam sekarang. Tae jon mempersilahkan aku keluar lebih dahulu, di ikuti olehnya. Cuaca dingin langsung menyerangku, aku merapatkan syal yang ku pakai. Tanganku terasa dingin. Dimana sarung tanganku, aish aku melepasnya saat makan tadi. Pasti sekarang ada di dalam tas, dan mudah-mudahan tas ku ada bersama Sea ok.


"Sudah larut, aku akan mengantarmu pulang"


"Gwencanayo (Tidak apa-apa), aku bisa pulang sendiri. Kau tak perlu khawatir" siapa juga yang khawatir padamu, kau terlalu percaya diri En.


"Ini sudah terlalu malam, sebaiknya kau menurut saja aku akan mengantarmu pulang" Tuhan, tolong selamatkan aku dari tatapan mata itu, jantung ku berdegup dengan sangat kencang. Ini bukan mimpi, aku benar-benar sedang berbincang dengan Tae jon.


"Aku benar- benar bisa pulang sendiri, kau pasti sibuk. Jangan buang-buang waktumu dengan mengantarku pulang" Tae jon melepas sarung tangannya dan memberikannya padaku.


"Baiklah, jika kau menolak tak apa. Pakai sarung tangan ini, cuaca terlalu dingin. Tanganmu nanti bisa membeku" dia memasangkan sarung tangan itu ke tanganku dan seketika itu juga semua jemariku terasa hangat."Kita berpisah disini, dan sampai bertemu lagi" dia mengusap lembut rambutku, sebelum akhirnya berbalik dan pergi. Sekali lagi aku bisa melihat punggungnya secara live.


Aku harus segera menuju halte bus, jika tidak ingin ketinggalan bus terakhir. Dimana Mr. setengah dokter itu? apa dia sudah pulang? meninggalkanku? yang benar saja.


Tak seharusnya ia meninggalkan gadis yang ia kencani sendirian. Apalagi tadi aku dalam keadaan mabuk. Aigo, mengapa aku benar-benar lupa tentang semua kejadian di saat aku mabuk. Apa saja yang sudah aku lakukan. Aish.. sungguh memalukan.


****


Mengapa juga aku memacu mobilku menuju arah taman hiburan. Apa aku sudah gila? Apa aku ingin menguntit En yang sedang berkencan?


Baka!!!!


Itu umpatan yang sering ia ucapakan. Dan aku memang bodoh. Aneh memang, dari sekian banyak kosakata bahasa jepang yang ku ajarkan padanya dia hanya menyukai kata itu.


Dia gadis yang berbeda, kami pernah bertemu Song jong ki saat berbelanja, sebagai pria aku mengagumi aktor tersebut. Namun En, dia bersikap biasa saja, dan hanya bergumam "Dia kapten Jin, Bigbos"


Hanya itu saja, dia bahkan tidak minta foto bersama. Padahal gadis-gadis yang ada di sana semua mengantri untuk foto bersama. Sikapnya berubah saat melihat Kang tae jon, Rapper di boyband blue itu sukses menarik semua perhatiannya. Wajahnya memerah dan berseri-seri jika sudah melihat Tae jon meskipun itu hanya lewat televisi. Di ponselnya ia mengoleksi foto-foto rapper itu, bahkan ia juga punya poster besar yang ia tempel di kamarnya.


Huhh, aku cemburu pada idol itu. Mungkin saja En selalu memimpikannya. Foto yang kami ambil di lift restoran. Kini menjadi walpaper di ponselnya.


"Kang chul oppa" aku tidak salah dengar kan? itu suara En, tapi dimana dia? beruntung aku memacu mobilku dengan pelan. Kini aku melihat dia melambaikan tangan ke arahku di halte bus sendirian.


"Apa yang kau lakukan di sini, dasar gadis bodoh" Dia tidak menjawab, justru langsung masuk ke dalam mobil. "Dimana teman kencanmu, kenapa dia tidak mengantarmu?'


"Oppa, dia mencampakkanku" aku tau saat ini dia sedang berkelakar.


Aku bisa mencium bau soju dari mulutnya saat ia bicara tadi. "Kau mabuk?"


"Tidak sengaja" sahutnya enteng


"Apa ada mabuk yang tidak di sengaja"


"Oppa aku lapar, sangat lapar ayo kita cari makan" dia selalu pintar jika mengganti topik pembicaraan.


"Kau mau makan di restoran Namsan" Dia menatapku, lalu berseru dengan keras "Gajja (Ayo) "


"Oppa, saat aku mabuk tadi dan berada di gerbong kincir angin raksasa. Tebak aku bertemu dengan siapa?"


"Kekasih teman kencanmu" jawabku asal.


"Aish.. bukan. Aku bertemu Kang tae jon. Dia menjagaku sampai aku sadar. Woww, dia benar-benar baik."


Sial.. kali ini aku benar-benar iri padamu Tae jon. Kau begitu spesial untuknya, lihatlah wajah yang terus tersenyum itu. Tae jon bisakah kau berhenti dan tidak bertemu dengannya lagi? Bisa kah kau menghindarinya saat kalian tak sengaja bertemu? Bisa kah kau mengosongkan ruang di hati En, dan memberikan ruang itu padaku? Bisakah kau lakukan itu Tae jon?


Payahh... Bertanya pada siapa aku.


Kini aku bersamanya di area gembok cinta, kami sudah selesai makan malam. Aku ingin mengajak En melihat kembang api. "Oppa, aku memakai syal milikmu"


"Syal?"


"Iya, syal yang tertinggal di apartemenku"


Syal itu...


****


"Syal itu hadiahku untuk Oppa. Aku sendiri yang merajutnya dan kini gadis murahan itu memakainya"


"Tertinggal di apartemen katanya. Rayuan apa yang di pakai gadis itu sehingga Oppa mau mengunjunginya di apartemennya"


"Jadi gadis ini adalah alasan utama Oppa bersikap dingin padaku"