
Kami menaiki mobil yang berbeda Kang chul pergi dengan Hei-ji. Sementara aku pergi bersama Dong sik. Kang chul bilang di harus mengurus beberapa pekerjaan, dan meminta Dong sik mengantarkan ke toko roti tempat yang nantinya akan menjadi ladang nafkahku.
Kang chul membuka kan pintu mobil untukku. sebelum menutup pintu mobil, Kang chul mengelus rambutku "Jadi lah anak penurut. In-ha akan membantumu di sana" aku mengangguk cepat dan memasang senyum penurut.
Hanya tersisa aku dan Dong-sik, Dong-sik adalah pemuda pendiam. Sejauh pengamatanku Dong-sik hanya bisa berinteraksi dengan Kang chul dengan Hei-jin. Selebihnya dia akan diam.
Kang chul memanggilnya dengan sebutan 'Hyung' itu menandakan kalau dia lebih tua dari Kang chul. "Apa kau lebih tua dari Kang chul? " aku mencoba memulai percakapan ku dengan Dong sik. Karena dari tadi, seonggok pemuda yang mirip samsak ini hanya diam saja. Kaca mata hitam yang terus bertengger di hidung bangirnya. Ahh.. dia justru terlihat layaknya mafia-mafia Hongkong yang ada dalam flim Jacky chan.
Apakah si Dong sik Hyung menjawab. Huhh.. dia hanya mengangguk. seberapa mahal sih suara pria berpakaian hitam ini. Jas, celana, dasi, sepatu sampai kacamata hitam semua. Apa dia baru pulang melayat?
Dia dan Kang chul memiliki hubungan yang aneh. Bagaimana mungkin mereka saling memanggil dengan cara yang di luar kewajaran menurutku. Kang chul memanggilnya dengan sebutan Hyung, sementara Dong-sik sendiri memanggil Kang chul dengan sebutan Sunbae. Sebenarnya di antara mereka siapa yang lebih senior? Benarkah Dong sik berusia lebih tua dari Kang chul. Entahlah, itu urusan pribadi mereka .Ku harap sekarang kami lekas sampai ke Bakery, agar aku tidak terkurung terlalu lama dengan kaleng sarden hitam ini.
"Kau sudah menikah? " Ahh.. kenapa pula aku bertanya, paling juga di kacangin lagi. "Belum"
Hahh.. dia menyahut dengan satu kata saja, tapi lumayan lah akhirnya dia bersuara juga. "Kau sudah lama bekerja bersama Kang chul Oppa"
Mobil berhenti "Kita sudah sampai, turunlah" Hmm.. sebaiknya aku menulis sebuah catatan yang besar di ingatanku dengan memakai huruf kapital " JANGAN PERNAH MENGAJAK SI HYUNG KALENG SARDEN HITAM MENGOBROL"
Si kaleng sarden hitam itu menurunkan barang bawaanku dan membawaku masuk ke dalam Bakery. Woww.. Bakery ini kah tempat itu? aku pernah melihat toko roti ini dalam beberapa drama korea yang ku tonton. Daebak!!!
"In-ha, dia karyawan baru. Sunbae bilang kau harus mengurusnya dengan baik" gadis bernama In-ha ini cukup menarik. Tubuhnya cukup tinggi dan berisi, menurut analisa mataku, In-ha sepertinya seumuran denganku.
"Senang bertemu denganmu" Aku membungkukkan tubuhku. Hei-ji dulu bilang ketika kita meberikan salam, harus di iringi dengan membungkukkan badan. "Senang bertemu denganmu juga" sahutnya ramah.
"In-ha, aku harus segera menyusul Sunbae. Ingat jaga gadis ini baik-baik" Dong sik segera pergi meninggalkan ku dengan gadis bernama In-ha ini. Aku masih berdiri dengan senyum mengembang sambil memegang koper.
"Taro kopermu di sana, di sudut ruang sana" In-ha menunjuk arah pantry. Di sana ada sudut yang terlindung lemari pekakas. Ada sebuah ruang kecil di sana, sebuah kasur lantai terhampar di sana. Mungkin itu kamar.
Whatt..
Kamar...?
Untukku..
Sebuah ruang berdinding lemari perkakas, di lengkapi kasur lantai usang.
"Ya tuhan, meskipun aku orang miskin di negeriku sendiri. Namun di sana aku memiliki kamar yang layak dan nyaman. Oppa, apa mungkin kau akan memperlakukanku dengan tidak berperasaan seperti ini di negerimu?" jerit bathinku
"Segera cuci muka dan ganti pakaianmu dengan ini" In-ha memberiku pakaian seragam Bakery. "Apa aku harus bekerja sekarang? aku baru saja sampai dan.. "
"Dan apa ? bukankah kau datang untuk bekerja? apa kau ingin bermalas-malasan hanya karena Sunbae yang membawamu kemari? " .Ya tuhan, jika saja aku tidak memerlukan pekerjaan ini, sudah ku jambak rambutnya itu.
"Baik lah" ku raih seragam yang ia berikan, aku langsung menuju kamar mandi. Setelah siap aku keluar dan bertemu gadis lain Ia mengenakan seragam yang sama denganku. "Anyong, kau kah karyawan baru itu? " aku tersenyum dan mengangguk.
"Namaku Cha-ok, salam kenal" ia mengulurkan tangan kanannya, aku langsung menyambut uluran tangannya. "Namaku En, senang berkenalan denganmu dan mohon bantuannya" Cha-ok memberitahuku kalau ada enam karyawan yang bekerja di Bakery termasuk si nenek sihir In-ha. Ada Yoo-bi, Saen-bi, Hwang jung, dan Ho sang, dua karyawan laki-laki dan empat karyawan wanita. Hmm.. maksudku sekarang lima termasuk aku.
Cha-ok mengajariku banyak hal tentang toko roti ini. Aku bisa beradaptasi dengan baik dan sekarang.
"Ya tuhan, perutku lapar sekali" lirih aku bergumam. Aku belum makan apapun sejak turun dari pesawat tadi.
Nenek sihir itu tidak menawariku makan sama sekali. Aku benar-benar lapar sekarang, sungguh cacing-cacing di perutku sudah meyanyikan lagu dangdut sedari tadi.
"Kau kenapa? " In-ha tiba-tiba muncul "Aku lapar" buang semua gengsi dan sebaiknya jujur. Aku tak mau menahan lapar sepanjang hari.
"Ikut aku ke pantry ,akan ku siapkan makanan" seandainya aku dari tadi saja mengeluh lapar, mungkin aku sudah makan sekarang. Aku duduk di meja makan, menunggu In-ha yang nampaknya sibuk menyiapkan sesuatu. Kini di hadapanku ada semangkok nasi, sepiring kecil sayur dan sepotong tahu.
"Ini makan siangmu, Mrs. New"
Hahh.. Cuma segini, sedikit sekali. Ya tuhan, ini hanya akan mengganjal seperempat lambungku saja. "Cepat kau makan dan segera kembali bekerja" Dia melenggang pergi, tidak taukah dia jika mendadak aku membencinya. Lebih benci dari rasa benciku pada mantan yang pernah mencampakan aku saat SMA. Aku makan dengan perlahan menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutku. Aku berharap makanan itu lama-lama bertambah banyak dan meskipun aku sudah mengosongkan isi mangkuk putih ini, tetap saja aku merasa lapar.
"Aku mengerti" dan setelah nenek sihir itu pergi semua terasa sepi. Yang terdengar hanya suara perutku saja, aku mendapat porsi yang sama untuk makan malam. Aku menuju pantry dan mencoba mencari sesuatu di kulkas. Di sana ada tahu, ayam dan beberapa potong daging.
Ku lihat isi magic com, tak ada nasi yang tersisa. Mataku menyapu mengelilingi pantry berharap menemukan karung beras, tapi aku tak menemukan apapun. Bahkan kompor gas di sini, tak mau menyala meski aku sudah berusaha membuatnya menyala.
Aku benar-benar tidak bisa tidur dalam keadaan lapar seperti ini. Aku hanya memikirkan nasi kuning, soto dan rawon. Perutku semakin memberontak. Ah.. bodohnya aku, sekarang aku berada di toko roti. Ini adalah toko dengan banyak makanan, dan aku kebingungan mencari makanan. Aku kembali ke dalam toko, mengambil dua roti ukuran sedang dan satu roti ukuran besar. Aku membawanya ke kamarku. Ahh, kamar? apa pantas tempat ini di sebut kamar? bahkan kasur ini sangat berbau apek.
Aku tertidur setelah perutku merasa kenyang. Tubuhku juga terasa sangat lelah. "Hey Mrs. New apa kau boss baru di tempat ini, cepat bangun dan buka toko ini" In-ha menggedor-gedor pintu Bakery dengan keras, ia melakukan itu berulang-ulang kali. Hingga akhirnya Indra pendengaranku menangkap suara gaduh itu.
.
Aku terbangun dengan kepala terasa berat. Aku terlalu lelap dalam tidurku, bahkan aku tidak sempat bermimpi. Namun aku justru terbangun dan harus bertemu degan mimpi terburuk. Suara nenek sihir itu membuat perutku mual.
Aku membuka pintu Bakery dengan liur yang masih menempel di pipiku. "Kau pikir toko ini milik mu hah!!!. bukankah aku sudah bilang untuk bangun seawal mungkin bla bla bla bla" maaf In-ha kepalaku terlalu sakit untuk fokus pada ocehanmu. Lebih baik aku mandi dan bersiap bekerja. Aku melenggang pergi dan masuk kedalam kamar mandi meski In-ha masih terus berteriak-teriak tak jelas.
Aku keluar dari kamar mandi dengan memakai seragam Bakery. In-ha malah menyambutku dengan kasar, ia berkali-kali. mendorong mundur tubuhku, hampir saja emosiku jebol dan membalasnya dengan tendangan putar andalanku. Beruntung logikaku masih berjalan dengan baik. "Kau mencuri roti dari etalase? kau pikir kami tidak menghitung jumlah roti yang ada di sini" kau pernah nonton the walking dead? wajah In-ha kini tampak seperti zombie-zombie yang ada di sana.
"Tadi malam aku tidak bisa tidur karena lapar. Meski terus mencoba memejam mata tapi sungguh aku tidak bisa tidur dengan perut kosong"
"Ya, setelah kenyang kau tidur seperti **** dan tidak ingat untuk bangun" aku hanya menunduk dan mengamati jari-jari kakiku yang masih basah. "Kau tak akan mendapat sarapan dan makan siang" ucapnya bengis, sebelum meninggalkanku.
Nenek sihir itu sungguh teguh dalam pendiriannya. Dia benar-benar tidak memberiku sarapan ataupun makan siang. Hwang jung mendekatiku saat suasana sedang sepi, nenek sihir itu sedang ada di pantry. Ia memberiku sesuatu berbentuk segitiga berbungkus plastik bening. Ini Gimbab nasi yang di kepal dan di berikan isian daging dan di bentuk segitiga lalu di bungkus nori. "Gomawo" aku sungguh terharu, atas perhatian kecil yang di berikan oleh rekan-rekan kerjaku ini. Setidaknya gimbab ini bisa sedikit mengurangi rasa laparku, dan memperpanjang kelangsungan hidup cacing-cacing penghuni perutku.
Pukul delapan malam akhirnya aku mendapat makan malam. Kali ini juga nasi dengan lauk terpisah, ada telur gulung dan kimchi sawi putih. "Apa menu makan malammu? " Kang chul muncul dan duduk di depanku.
Aku menatapnya dengan bola mata yang siap meluncurkan air terjun "Oppa, kemana saja kau? kenapa baru menemuiku sekarang?"
"Kau kenapa ?Apa kau tak betah berada disini?Apa kau ingin pulang ke Indonesia? " wajah tampan itu memancarkan kekhawatiran yang nyata tanpa rekayasa.
"Liat aku, si nenek sihir In-ha itu terus menyiksaku. Bahkan hari ini dia tidak memberiku sarapan dan makan siang. Aku juga harus tidur di belakang lemari perkakas di sudut pantry. Kenapa kau memperlakukan ku seperti ini Oppa? mana janji yang kau ucapkan, kau bilang akan melindungiku? "
Kang chul menutup mulutku dengan kedua tangannya. "berhentilah berbicara, bagaimana aku akan memberi penjelasan jika kau terus bicara. Ayo ikut aku" dia menggandeng tanganku dan membawaku menuju toko menemui In-ha yang sedang berbincang dengan Saen bi.
"Apa kau memperlakukannya dengan buruk In-ha.?" suara Kang chul dengan suara berat dan bergetar. "Tidak, Sunbae. aku memperlakukannya sama seperti karyawan yang lain" In-ha berkilah.
"Benar kau tidak memberi dia sarapan dan makan siang? "
"Dia mencuri Sunbae, dia memakan tiga roti dari etalase"
"Jangankan tiga roti, menutup toko ini pun dia berhak. Dia tidak mencuri In-ha, dia Manager baru tempat ini. Kau malah memperlakukannya seperti cleaning servis" ketegangan ini cukup menyita perhatian para pelanggan yang datang. "Maafkan aku, Sunbae. Aku tidak tau jika dia adalah Manager baru tempat ini, sungguh aku tidak berniat jahat padanya. "
In-ha menatapku, ingin rasanya aku menjulurkan lidahku kearahnya, tapi aku akan terlihat terlalu kekanak-kanakkan. Sebaiknya aku membawa Kang chul pergi sebelum dia tambah mengamuk. Aku menarik lengannya membawa dia keluar dari toko. "Berhentilah mengomel dan ajak aku makan. Aku benar-benar kelaparan sekarang"
"Kau pasti tersiksa selama dua hari ini? " mata itu memandangku teduh.
"Sudahlah aku tak mau membahas ini lagi. Aku sangat lapar, ayo kita makan" Aku kembali menarik lengannya menuju mobil merah yang terparkir di depan Bakery. Aku tau itu pasti mobil Kang chul, karena aku melihat Hyung kaleng sarden hitam di balik kursi kemudi.
Aku masuk kursi belakang dan di ikuti Kang chul, Kang chul membantuku memasang sabuk pengaman. Oppa memang type idaman cewek-cewek pecinta drama.
"Hyung, bawa kami ke restoran langgananku" mobil melaju melintasi jalanan kota Seoul, dengan background lampu-lampu kota dan gedung-gedung pencakar langit, malam ini tampak Indah.
"Kau tau Oppa, bisa jadi aku kemaren berlayar karena sangat lelah"
"Maksudmu? berlayar kemana? kau mau pulang? " Kang chul berpaling dan menatapku.
Aku menyandarkan tubuhku dengan nyaman "Aku ingin berlayar ke hatimu" dan aku tertawa saat ku lihat wajah Kang chul bersemu merah karena malu. Padahal ini bukan pertama kali aku melakukan rayuan receh untuk Kang chul.